Married With Teacher

Married With Teacher
5


.


.


.


Pukul 20.00 


Semuanya tampak sudah berpindah tempat ke ruang tamu setelah mereka selesai makan malam. 


Sepertinya ini saatnya mereka membicarakan pernikahan. Melisa tampak gugup di tempatnya. Ia tak sanggup menatap Keland dan ia tak bisa berbuat apa-apa selain diam dengan fikirannya sendiri.


Apa pemikiran Kalend padanya? Apa yang difikirkan gurunya itu saat tau bahwa salah satu siswa nya akan menikah di saat masih sekolah? Bagaimana ia mengahadapi pria itu kedepannya saat disekolah? Ohh tolong lah dia...


"Jadi bagaimana Harr? Menurut mu kapan waktu yang tepat untuk menikahkan kedua putra/i kita?" Tanya Reksa pada Harry.


"Sebaiknya secepatnya Reks" Melisa terkejut mendengar jawaban ayahnya. Astagaaa... mengapa ayahnya sepertinya sangat mendesak sekali ingin menikahkannya? Kenapa dengan ayahnya? Tidak mungkin kan ayahnya menjualnya? 


Mata Melisa sudah berkaca-kaca.


"Bagaimana kalau 2 minggu lagi?" Ujar Rany semangat dan itu berhasil membuat jantung Melisa ingin lompat dari tempatnya.


"Sepertinya itu waktu yang pas, baiklah om sebaiknya 2 minggu lagi saja" kali ini yang berbicara itu Keland. Melisa menatap pria itu tajam. Bisa-bisa nya ia mengatakan itu, apakah ia tak sadar jika murid yang akan ia nikahi adalah siswanya sendiri. Murid yang tadi siang ia buat sial. Atau apakah Kalend memang tak mengenal wajah nya saat ini karna dia sudah berdandan terlalu cantik hingga pria oon itu dengan semangatnya ingin menikahinya 2 minggu lagi. Ingat dia itu muridnya Keland.... anak muridnya.....


Merasa di tatap tajam seperti itu Keland menoleh pada Melisa yang begitu terang-terangannya mengutarakan rasa bencinya lewat tatapannya itu yang begitu tajam seakan mampu membuat siapa saja yang di tatap terbunuh.


"Ada apa?" Tanya Keland pada Melisa. Datar.... sangat datar... pria itu berbicara sangat datar padanya, sementara barusan sekali pria itu mengutarakan pendapatnya pada ayahnya dengan sumringah.


Semua mata kini tertuju pada kedua makhluk yang kini saling tatap seakan-akan dengan tatapan itu mereka dapat berbicara.


"Pak... apa bapak tidak sadar siapa saya? Saya Melisa pak...Melisaa" tekan Melisa tajam, kini ia sedang tak sadar telah mengucapkan itu dan hal itu berhasil membuat kening semua orang berkerut heran.


"Saya tau" jawab Keland datar. Oh astagah, apa dia bilang tadi? Dia tau?? Lalu mengapa ia bersikap begitu seolah-olah ia tak tau apa-apa.


Melisa mangguk-mangguk kemudian berdecih kesal. 


"Lalu kenapa bapak masih mau nikahin saya? Saya itu murid bapak?" Ujar Melisa berhasil membuat semua orang di sana terkejut. Oh jangan lupakan, Melisa sekolah di sekolah keluarga Werrick. Dan saat ini pria itu sedang menjalankan perannya disana sebagai guru sementara untuk melihat bagaimana perkembangan sekolah tersebut dan bagaimana kelakuan para siswa serta guru disana.


"Jadi Keland masuk mengajar di kelas Melisa?" Tanya Rany terkejut, tak menyangka begitu jodohnya mereka.


"Ya, dan pria dingin muka karet ketat ini telah membuatku sial dihari pertama ia masuk, mengeluarkanku di jam pelajarannya dan memanggil orang tua ku, sangat tidak berperasaan" jawab Melisa spontan sambil berdecih sebelum ia tersadar apa yang telah ia katakan. 


Dan sekarang matanya sedang membola tak menyangka mulutnya begitu tak bisa diajak konfromi sehingga ia mengutarakan semua isi fikirannya secara tanpa sadar dengan emosi. Dan saat ini semua mata sedang menatap kepadanya dan juga Keland bergantian.


"Oh... jadi yang manggil ayah kesekolah tuh nak Keland?" Tanya Harry akhirnya saat ingat Melisa tadi sempat mengatakan kalo dia dipanggil oleh gurunya ke sekolah.


"Ia om, maaf om... saya tidak tau kalo orang tua Melisa itu om" Keland yang menjawab sambil tersenyum.


"Hahhaha... tidak apa-apa nak Keland. Kalau begitu bagimana kalau sekarang saja kita selesaikan, karna besok kan om ada rapat dan kamu tau. Mungkin om tidak sempat ke sekolah. Sekarang coba jelaskan apa kesalahan putri saya?" Tanya Harry berhasil membuat Melisa mendongak kaget. Bagaimana ini?


"Putri om seharian sudah membuat saya emosi karna ketidak sopan'annya om" jawab Keland berhasil membuat semua orang terpancing ingin tau lebih lanjut lagi. Tak terkecuali adik Keland yang sedari tadi juga disana mendengarkan dengan seksama.


"Apa yang dia lakukan?" Tanya Harry kini tampaknya juga mulai serius.


"Pertama dia masuk terlambat di jam pelajaran saya seorang diri selama 20 menit, waktu yang begitu lama entah apa yang ia lakukan. Kedua, stelah masuk ia sudah tak sopan langsung menerobos masuk tanpa permisi. Ketiga dia sudah lancang memeluk saya di depan semua teman-temannya dan memanggil saya Sehun..." dan dipenjelasan Keland yang terakhir berhasil membuat semua orang tertawa membayangkannya. 


Malu. Satu kata yang ada di otak Melisa saat ini. Semua orang kini menertawakan kebodohannya. Melisa menunduk malu tak berani menatap siapa pun.


"Aduhhh sayanggg, kamu sangat lucu. Mama suka banget sama kamu" ujar Rany lembut sambil mengelus kepala Melisa yang memang sedari tadi duduk disampingnya. 


"Bukan hanya itu saja...." Melisa mendongak menatap Keland, apa lagi?? Bukankah memang hanya itu? Jangan bilang pria itu akan menambah-nambah kesalahannya.


"Apa lagi?" Tanya Melisa sepertinya emosinya sudah terpancing.


"Kau sudah membuat saya menunggu... kau terlambat saat saya panggil ke ruangan saya"


"Itu..itu kan..karna saya tidak tau dimana ruangan bapak...." jawab Melisa membela diri.


"Mengapa kau tidak bertanya?" 


"Bapak sudah mengusir saya saat itu dari kelas" 


"Tapi saya tidak melarang mu bertanya kan?" Pertanyaan Keland benar-benar sudah membuktikan bahwa guru memang tak pernah salah.


Semua orang kini tampak melihat pertengkaran sengit yang terjadi antara calon  suami-istri itu. Dan setelah dirasa Melisa tak berniat lagi menjawab pertanyaan Keland membuat mereka tertawa serempak untuk mencairkan suasana. Pertunjukan yang hebat.


"Hahahaha... nak Keland, sepertinya om sudah mengerti permasalahannya. Om minta maaf yah atas sikap putri om yang membuat kamu emosi seharian ini. Om percaya, suatu hari nanti kau dapat merubahnya menjadi lebih baik lagi. Om percaya sama mu. Sebentar lagi kau akan jadi suaminya, dan otomatis itu akan menjadi tanggung jawab mu untuk mengubah perilakunya. Om yakin, kau dapat melakukannya lebih baik dari om" ujar Harry membuat Keland menjawabnya dengan anggukan. keland memang sudah berjanji dalam hatinya untuk mengubah Melisa.


Sementara Melisa heran melihat mengapa ayahnya begitu percaya pada pria arogan itu? Ayahnya begitu mempercayai Keland melebihi dirinya sendiri. Hal itu membuat Melisa tertunduk tak tau harus bagaimana.


Pertemuan itupun menyisakan perbincangan yang begitu panjang. Mengalirlah perbincangan rencana pernikahan mereka kembali. Dan menentukan tanggal serta tempat acara, begitu juga tamu yang diundang. Hanya beberapa keluarga dan orang-orang penting saja karna Melisa masih sekolah.


....