
...Aku akan selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik untukmu....
...Ghea Virnafasya...
...****...
Pokoknya, Di, kita harus menangin tender ini--”
“Taraaaa … ini dia bakwannya udah datang. Hehe …”
Kalimat pak Gery yang tengah membicarakan soal pekerjaan kantor dengan Adi terpotong karena Ghea yang lebih dulu datang dengan sepiring bakwan di tangannya. Ghea melangkah dengan senyum dan mata yang penuh dengan binar.
“Nih, bakwan ala Ghea nya. Cobain, ya, Mas Adi!” Ghea menyimpan piring berisi bakwan itu di atas meja kaca ruang tengah. Setelahnya Ghea duduk di samping Pak Gery.
“Wah, enak nih kayaknya,” sahut Adi yang langsung mencomot satu bakwan dan menggigitnya. “Auuwwhhh …” Seraya mengibas-ngibaskan tangannya pada lidah yang terasa terbakar karena bakwan yang masih panas.
“Ih, hati-hati, Mas Adi. Baru diangkat dari penggorengan itu!”
“Kamu juga cobain dong, Mas! Nih aku ambilin, ya!” Ghea pun mengambilkan bakwan itu untuk sang suami, bersama kedua sudut bibirnya yang tertarik lebar.
“Makasih,” ungkap Pak Gery mengambil bakwan dari tangan Ghea.
Senyum Ghea tak pudar sedetik pun. Ia memandang Pak Gery dan Adi yang sedang menikmati rasa bakwan buatannya. Cewek itu sedang harap-harap cemas, berharap bakwan buatannya bisa dinikmati. Apalagi ini bisa dibilang masakan pertama Ghea walau hanya sepiring bakwan biasa.
“Gimana, Mas, rasanya?” tanya Ghea berharap Adi dan Pak Gery menyukai rasanya.
“Ghe, ini bakwan seriusan lo yang bikin?” Adi bertanya dengan mulut yang penuh. Lidahnya sedang merasakan hal yang luar biasa di dalam mulutnya.
Kepala Ghea mengangguk. “Heeuh.”
“Pantesan aja, rasanya itu …”
“Kenapa, Mas, gak enak ya? Ya udah deh kalau gak enak mah jangan diterusin. Nanti perutnya sakit.” tangan Ghea yang akan mengambil kembali piring diatas meja kaca itu dicegah oleh tangan Pak Gery.
“Kenapa, Mas? Kan gak enak bakwannya.” Punggung Ghea kembali tegak lalu menoleh pada Pak Gery dan Adi yang sedang menggigit kembali bakwan itu bergantian.
“Enak bakwannya, Ghe,” sahut Adi sembari mengunyah bakwan yang ada di dalam mulutnya.
“Beneran, Mas?” Ghea bertanya tidak yakin.
“Heeuhh,” ungkap Adi lagi.
“Menurut kamu, Mas?” Kemudian beralih bertanya pada Pak Gery.
“Lumayan.”
“Ih, beneran gak enak dong.”
“Bukan gak enak. Aku kan bilangnya lumayan.”
“Yaudah, kalau gitu abisin ya bakwannya. Kalau kurang masih ada tuh di dapur. Entar aku ambilin lagi kalau masih kurang," katanya. "Kalau gitu aku mau mandi dulu."
"Gak barengan aja, Ghe, mandinya sama si Gery?" tanya Adi dengan mulut yang penuh.
Seraya memutar bola matanya, Ghea membalikan tubuhnya. Menaiki setiap anak tangga. "Gak mau. Mandi sama Mas Gery gak bakal sebentar - sebentar," ungkapnya jujur sambil terus melangkahkan kaki panjangnya itu.
Tentu saja kalimat Ghea mampu memancing Adi untuk tergelak dalam mulut yang masih penuh dengan bakwan. Entahlah, apa Adi memang menyukai bakwannya atau hanya bilang di depan Ghea saja. Karena setelahnya Ghea menghilang, pun Adi buru - buru berlari ke dapur. Memuntahkan bakwan yang sebenarnya tidak ia makan di westafel. Melainkan ia tahan di dalam mulutnya.
"Hah … Ger, serius asin banget." Barulah Adi jujur setelah ia kembali dari dapur.
Dan Pak Gery pun tahu itu. Namun, Pak Gery ingin Adi menghargai hasil jerih payah Ghea yang sudah menggoreng bakwan untuknya.
Adi meneguk kopinya untuk menghilangkan rasa asin yang masih terasa di lidahnya. Namun, sepertinya rasa itu tidak bisa hilang begitu saja dari lidahnya.
"Lo tuh ya, Ger. Kalau lo gak pelototin gue tadi, gak bakal nih lidah gue gak enak kayak gini." Karena saat Adi akan mengatakan jika bakwan buatan Ghea itu 'asin banget', mata Pak Gery langsung melotot tajam padanya. Seakan Pak Gery bilang 'awas kalau lo hina masakan bini gue'.
"Lagian lo udah tahu rasanya asin gitu masih aja dimakan. Heran gue."
Pak Gery masih diam. Ia seperti menikmati hasil bakwan buatan Ghea itu. Lihat saja setelah habis satu, Pak Gery kembali mencomot bakwan itu lagi.
"Serah lo dah, Ger. Elu abisin tuh bakwan asin. Gue balik, mau ke rumah Indah dulu. Besok awas jangan lupa, pelajari tuh materinya biar bisa menangin tender!"
Adi hanya menggeleng saja melihat Pak Gery yang tidak menggubrisnya sama sekali dan justru malah benar - benar menghabiskan bakwan di dalam piring itu.
"Udah gak waras si Gery." Cecart Adi seraya berlalu.
...****...
Pak Gery membuka pintu kamarnya setelah ia membereskan piring dan dua cangkir yang sudah kosong di atas meja kaca. Mencucinya di wastafel kemudian memasukkannya ke dalam lemari kabinet.
"Mas." Ghea terpekik. Menoleh karena suara pintu yang terbuka dari luar. "Ngapain?" tanyanya pada Pak Gery yang diam sesaat di depan pintu.
"Eh … gak. Itu Adi udah pulang," sahutnya lalu menutup pintu.
"Hah?"
Emang Ghea ada nanya? Kan nggak. Lalu kenapa Pak Gery memberitahunya? Biasanya juga suaminya itu selalu tidak konfirmasi apapun jika ada tamu yang sudah pulang apa baru datang.
"Oh …" setelah tidak ada kalimat yang terucap lagi, Ghea hanya menaik turunkan kepalanya. Kemudian melangkah ke arah lemari pakaian untuk mengambil piyama tidur juga **********.
"Mau kemana?" Ditanyalah cewek itu oleh sang suami yang akan masuk lagi ke kamar mandi. Kemudian Ghea menoleh. "Mau pake baju lah. Kenapa emangnya, Mas?"
Dengan santai Pak Gery berjalan seraya kedua tangan yang tadi berada di atas perut kini ia turunkan untuk dimasukan ke dalam saku celana yang hanya sebatas lutut itu. "Gak usah!"
Hah … maksudnya gak usah apa nih?
Ghea mengerutkan keningnya dalam seraya memeluk pakaian ke dadanya. Mengeratkan pelukan itu saat langkah Pak Gery semakin mendekat. Ghea panik. Oh tidak. Jangan sampai suaminya itu berubah menjadi serigala pemakan domba.
Ghea dapat melihat sorot mata Pak Gery yang kini sudah memancarkan aura gairahnya. Sedetik kemudian tubuh ramping itu direngkuh oleh tangan besar Pak Gery sampai pakaian yang Ghea peluk terjatuh ke atas lantai karena kaget.
Dan entah bagaimana bisa, kini tubuh ramping itu sudah terbaring di atas kasur bersama Pak Gery yang berada di atas tubuhnya. Menciumnya lehernya sebelum bibir seksi nan tebal itu memberikan gigitan-gigitan kecil di sana hingga meninggalkan bekas ruam merah.
Ghea mengeluarkan suara seksinya saat lidah Pak Gery memainkan puncak kepala dada Ghea yang sudah mengeras dan sudah tidak berpenghalang apapun. Pun dengan Ghea yang tidak ingat saat kapan suaminya itu menanggalkan handuknya.
Pak Gery menegakkan tulang punggungnya sebelum ia meloloskan kaos berwarna oranye itu melewati kepala. Kemudian melemparnya ke atas lantai. Lalu wajahnya kembali menunduk. Memainkan bagian sesuatu dari milik Ghea yang menjadi candu dan favoritnya.
Ghea hanya merasakan sesuatu yang selalu asing saat Pak Gery menjamahnya lalu menautkan semua jari - jarinya dengan jari Ghea dan menyimpannya di sisi kepala Ghea. Sampai pada saat puncak itu tiba, Ghea pun menarik wajah Pak Gery dan menyembunyikan wajah merahnya itu di bahu sang suami.
“Ghe,” sahut Pak Gery tepat di telinga Ghea tanpa menghentikan hentakannya.
“Hem …” Ghea hanya mampu bergumam bersama kedua mata yang terpejam.
“Jangan disembunyiin wajahnya dong!” Dan pelukan Ghea semakin erat pada leher sang suami.
“Kenapa, sih?” Ghea bertanya ditengah - tengah sisa pelepasannya. Namun cewek itu masih menyembunyikan wajah merahnya.
“Aku gak bisa lihat wajah cantik kamu kalau lagi pelepasan.” Dan Pak Gery pun terkikik dalam hentakan terakhirnya lalu melepaskan semua cairan itu di dalam milik Ghea.
“Ih, Mas …” Sumpah Ghea malu ketika Pak Gery mengungkapkan hal yang nyeleneh seperti tadi. Rasanya Ghea ingin sekali pindah ke planet lain saja.
...****...
pagi harinya.
Ghea masuk ke dalam dapur dengan langkah ringan bersama senyum yang mengembang di wajahnya terlalu lebar. Dia membuka kulkas lalu mengambil beberapa sayuran. Niatnya untuk sarapan pagi ini Ghea ingin membuatkan sup ayam untuknya dan sang suami tercinta tentu saja.
Lantas Ghea mengeluarkan bahan-bahan itu dari dalam kulkas. Namun saat ia akan mulai memotong-motong daging, matanya menangkap satu piring bakwan di meja wastafel. Sisa semalam mungkin.
Pun dengan Ghea yang penasaran dengan rasanya. Ia belum mencobanya sama sekali. Lantas yang Ghea lakukan adalah melangkah kemudian mencomot satu bakwan yang sudah sangat dingin itu lalu memakannya.
Lidahnya mencoba merasakan rasa bakwan yang menurutnya aneh itu. Ghea mengunyahnya dengan perasaan. Tak lama setelah yakin dengan rasanya, Ghea memuntahkan kembali bakwan yang sudah ia kunyah ke wastafel dengan cepat. Menyalakan keran air dan berkumur.
"Gila ... ini bakwan atau apaan dah? Asin banget sumpah. Ya Alloh, itu Mas Gery semalam ..." Ghea berlari seraya berteriak memanggil nama suaminya dari lantai bawah. Wajahnya merah menatap ke lantai dua tepat menatap pintu kamarnya yang terbuka.
"Mas ..., Mas Gery ..." teriaknya bersama dadanya yang kembang kempis.
Pak Gery yang sedang mengancingkan kemejanya di dalam kamar buru-buru keluar. Ia menuruni anak tangga sambil mengancingkan kemejanya. "Kenapa, Ghea?"
"Astaga, Mas. Kenapa kamu makan bakwannya semalam? Mana sampai habis sepiring lagi." cecar Ghea saat Pak Gery sudah sampai di undakan tangga terakhir.
"Itu bakwannya gak enak, Mas. Asin banget. Gak layak dimakan juga."
"Perut kamu gak kenapa-napa kan? Gak sakit kan, Mas?" Sumpah demi Tuhan Ghea panik banget. "Ke rumah sakit aja yuk, Mas! Aku takut perut kamu kenapa-napa soalnya. Yuk!"
Namun, bukannya menggubris. Pak Gery justru dengan santainya melangkah ke arah meja makan. Menarik kursi sebelum ia duduki.
"Mas. Yuk!" Rengek Ghea bersama wajahnya yang khawatir kentara di sana.
"kemana?"
"Rumah sakit."
"Buat apa?"
"Periksa perut kamu lah."
"Perut aku gak papa."
"Tapi aku takut." Ghea menghela. Ujung matanya pun sudah basah. "Lagian kamu kenapa sih makan? Udah tahu gak enak juga. Kenapa gak bilang aja kalau itu gak enak?"
"Aku bilangnya kan lumayan. Bukan gak enak."
"Tapi kenapa pake diabisin? Kalau perut kamu sakit gimana?"
"Karena itu yang buat istri aku. Jadi aku gak bakal kenapa-napa."
Ghea tak mampu menahan bibirnya untuk tersenyum. Ia merentangkan kedua tangannya lalu melingkarkan kedua tangan itu ke leher Pak Gery.
...TBC...
kwkwkwkw bab yang ini maaf ya gak jelas. mau dilewati juga gak papa sih karena gak ngaruh dalam scene cerita. Cuma selingan doang. Hihihiii
Seizy
Si penulis rengginang yang lagi nonton drama china jadinya ikutan baperrrr ...