Married With Teacher

Married With Teacher
Akhir Dari Cerita Ini


Ini adalah hari ke 14 dimana Ghea belum membuka matanya. Bicara dan bercanda dengannya. Sangat sulit bagi Pak Gery menjalankan kehidupannya tanpa senyuman yang sudah biasa menemani hari-harinya. Sudah 14 hari juga ruangan berdominasi putih dan berbau obat itu menjadi tempat tinggalnya. Tidur di sana, di samping Ghea sambil membenamkan wajah ke ceruk leher cewek itu hanya untuk menyembunyikan air matanya. Agar tidak ada yang tahu bahwa Pak Gery saat ini benar-benar hancur.


Tidak ingin ada satu orang pun yang tahu bahwa raganya seakan telah mati melihat Ghea tidak kunjung sadarkan diri. Bahkan dengan Mama dan Papanya. Seolah mereka juga tidak boleh tahu dengan dirinya yang rapuh.


Malam ini cowok itu sedang duduk di kursi samping ranjangnya. Menatap pantulan gambar Ghea yang menjadi wallpaper di handphonenya. “Aku kangen, Ghe. Kamu kenapa gak mau bangun juga, sih?” Luruh sudah air mata cowok itu di depan gambar Ghea yang sedang ia pandang di layar handphone. Juga di hadapan tubuhnya yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Ranjang yang sama saat cewek itu baru dipindahkan dari ruang operasi. Juga peralatan yang asing yang masih terpasang di tubuhnya. Seakan hidup Ghea akan berakhir jika saja selang-selang itu terlepas dari tubuhnya.


Pak Gery menelungkupkan wajahnya bersama air mata yang membanjiri pipinya itu tepat di samping tangan Ghea yang terpasang selang infus. Meremas kuat sprei putih yang terpasang di ranjang. “Kamu gak bisa hukum aku kayak gini, Ghe. Aku gak kuat.” Semakin kuat rematan itu hingga spreinya kusut. Pak Gery terisak. Bahunya bergoyang. Bergetar. Demi apapun Pak Gery tidak bisa pura-pura kuat lagi.


“Bangun, sayang! Bangun!" isaknya lagi masih menyembunyikan wajahnya.


Namun, percuma saja Pak Gery memohon agar cewek itu membuka mata lalu menarik bibir untuk memberikan senyum indahnya. Dia tidak kunjung memenuhi permintaannya juga.


**


Pagi harinya Pak Gery terbangun karena mendengar suara samar di dalam ruangan tersebut. Ia beringsut. Duduk sambil mengucek kedua matanya sebelum mengurut pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Pak Gery menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil menarik nafasnya dalam. Malam ini cowok itu tertidur di sofa panjang sudut ruangan.


“Selamat pagi, Pak ganteng?” sapa seorang wanita yang memakai seragam serba putih. Dia adalah seorang suster yang membantu dokter untuk merawat dan menjaga Ghea selama koma 14 hari ini.


Pak Gery melihat suster itu tengah mengecek perkembangan Ghea. Mungkin. Karena Pak Gery melihat suster itu membawa sebuah buku catatan dan pulpen di tangannya lalu akan mencatat setelah suster itu mengecek sesuatu alat yang terpasang pada tubuh Ghea. “Pagi, sus.” Pak Gery lalu menegakkan punggungnya. Menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri seolah tengah meregangkan otot-ototnya.


Ketika suster itu akan mengambil handuk kecil dan sebuah mangkuk besar yang berisi air hangat, Pak Gery menyahut cepat. “Biar saya aja, sus,” katanya sambil berdiri kemudian berjalan ke arah susternya.


“Baiklah, Pak ganteng. Cie-cie perhatian banget, sih, sama istrinya.” Canda suster itu menyunggingkan tawanya. “Kalau gitu saya permisi, deh. Panggil aja, ya, kalau perlu sesuatu. Saya di depan, ya, Pak ganteng,” ucapnya genit kemudian keluar dari ruangan Ghea.


Layaknya seorang suami yang memang harus menjaga dan mengurus istrinya yang sedang sakit, Pak Gery kembali menghampiri Ghea sambil membawa mangkuk yang berisi air hangat di tangannya serta handuk kecil yang mencelup di sana. “Aku lapin kamu dulu, ya, sayang,” sahut Pak Gery menyimpan mangkuk itu di atas meja nakas kemudian membuka kancing baju yang melekat di tubuh Ghea lalu melepaskannya dengan sangat hati-hati dan pelan. Jangan sampai peralat yang membantu Ghea itu terganggu oleh Pak Gery yang akan mengelap tubuhnya.


Dengan sangat telaten Pak Gery menyeka tubuh Ghea dengan handuk basah. dari mulai perutnya pelan-pelan. Lalu beralih ke atas dadanya. Saat mengelap bagian itu, Pak Gery berceloteh pelan. “Dada kamu makin kecil aja, Ghe. Tubuh kamu juga kurusan. Cepet bangun, ya! Nanti aku janji bakal masakin kamu terus biar tubuh kamu isi lagi. Gendutan kalau perlu.” Pak Gery terkekeh sambil menyeka tangan Ghea lembut. “Ini tangan kamu juga ototnya ilang, Ghe.” Lalu mencelupkan lagi handuk itu ke dalam air hangat di mangkuk.


Usai menyeka tubuh Ghea, Pak Gery mengganti baju Ghea dengan yang baru. Ia memakaikannya dengan sangat hati-hati lagi. Kemudian cowok itu mengusap pipi Ghea. “Kamu udah cantik. Sekarang aku mandi dulu, ya.” ucapnya pada Ghea seolah cewek itu akan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Sebelum Pak Gery ke kamar mandi, cowok itu mengecupnya. Dari mulai kening, pipi, hidung lalu berakhir di bibir Ghea. Saat Pak Gery mengecupnya di bagian itu, bibirnya bergetar tepat di atas bibirnya. Sebisa mungkin cowok itu menahan sesak di rongga dada. “Aku kangen.” Mungkin dua kata itu sudah sangat bosan untuk didengar. Namun, tidak dengannya. Walau seribu kali ia harus bilang seperti itu pun, cowok itu tidak akan pernah merasa bosan untuk mengungkapkan isi hatinya.


Lalu dengan gerakan pelan, Pak Gery menjauhkan bibir dari bibirnya. “Cepet bangun, ya!” katanya tepat di depan wajah yang hanya berjarak dua senti itu. Kemudian kembali mengecup dahinya.


**


“Ger, kamu bener gak papa?” tanya Mama Dian mengusap punggung tangan cowok yang sekarang tengah duduk di depannya ini. “Kalau kamu gak kuat, kamu boleh jadiin Mama sandaran kamu. Mama siap mendengar suara tangis kamu, Ger," kata Mama setengah bercanda.


Sungguh, mana ada perasaan seorang ibu yang akan baik-baik saja melihat putra kesayangannya dalam keadaan seperti Pak Gery saat ini. Mama Dian sama halnya dengan Pak Gery. Hancur. Bahkan lebih dari itu. Melihat putranya pura-pura baik-baik membuat nafas Mama Dian seakan sesak.


Pak Gery membalas usapan dari tangan lembut sang Mama. “Aku gak papa, Ma. Mama jangan sedih dong! Aku gak akan nangis juga. Emangnya aku bayi apa?” Kemudian Pak Gery terkekeh. Mencoba mencairkan suasana sedih yang sedang melingkupinya.


Mama Dian mengusap pipi Pak Gery dengan sayang. “Kamu jangan bohong sama Mama, Ger! Mama tahu kamu terluka. Sedih dan merasa putus asa melihat keadaan Ghea. Tapi Mama juga gak mau lihat kamu sakit, Ger. Mama ingin kamu kayak dulu! Gak rapuh dan selalu kuat.” Mama Dian tersenyum. “Jangan siksa diri kamu kayak gini! Mama gak mau kamu terlalu berharap lebih pada satu kenyataan yang akan membuat kamu terluka nantinya.”


Pak Gery menurunkan tangan Mama Dian dari pipinya sebelum cowok itu menggenggam kedua tangannya. “Mama kok ngomong gitu? Ghea bakal baik-baik aja, Ma. Aku yakin itu kok. Ghea pasti akan cepet sadar dan kembali sama aku. Mama doain Ghea, ya!”


“Pasti, Ger. Mama selalu mendoakan Ghea karena Ghea adalah putri Mama. Tanpa kamu minta pun, kamu dan Ghea selalu ada di dalam doa Mama. Tapi Mama hanya ingin kamu jangan terlalu berharap lebih! Mama gak mau kamu sakit apalagi terluka! Hem.”


“Iya, Ma.” seraya mengatakan hal itu, Pak Gery merogoh handphone di dalam saku celananya. Ia mendapat panggilan dari Chacha. “Bentar, ya, Ma.”


Mama Dian mengangguk, Pak Gery sedikit menjauh untuk menerima panggilan itu. Lalu kembali lagi pada Mama Dian saat cowok itu sudah menutup sambungan selulernya bersama wajahnya yang pucat pasi dan khawatir kentara di sana.


“Kenapa, Ger?” tanya Mama Dian yang merasakan kepanikan putranya.


“Ghea, Ma. Kita harus kembali ke ruangan Ghea sekarang!” Karena posisi Pak Gery dan Mama Dian kini sedang berada di kantin rumah sakit.


“Ghea kenapa, Ger?” tanya Mama Dian sambil mengikuti langkah kaki Pak Gery yang berjalan cepat. Bahkan bisa dibilang cowok itu berlari.


Tapi tidak bisa. Yang benar saja? Mana bisa Pak Gery tidak berharap demikian? Harapan itu selalu menjadi kekuatan bagi Pak Gery. Harapan Ghea bisa kembali sadar adalah hal yang selalu ia panjatkan di setiap doa di malam harinya. Tuhan tidak boleh menghancurkan harapan itu. Tidak! Pak Gery tidak akan membiarkan harapannya pupus.


Semakin dipercepatlah langkah Pak Gery menuju ruangan Ghea. Ternyata ketika Pak Gery sampai, sudah ada Chacha, Adi, Ilham dan kedua orang tua Ghea. Yang awalnya mereka ingin melihat keadaan Ghea. Namun saat sampai, mereka malah mendapati suster yang menjaga Ghea itu tengah panik sebelum kemudian dokter datang. Lalu Chacha disuruh Adi untuk menghubungi Pak Gery. Memberitahu cowok itu tentang keadaan Ghea yang tiba-tiba kejang.


Tidak butuh izin dari siapapun, Pak Gery menerobos pintu yang tertutup kemudian masuk. Namun ketika itu, matanya melihat salah satu suster tengah mencabut alat-alat yang tadi pun masih terpasang baik di tubuhnya. Sebelum Pak Gery pergi menemani Mamanya untuk sarapan dan meminta tolong pada suster untuk menjaga Ghea sebentar saja. Ghea masih dalam keadaan baik. Tapi sekarang?


“Kalian apa-apaan? Kenapa semua alat itu dilepas? Pasang lagi! Cepat!” hardik Pak Gery sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah suster tersebut. “Pasang lagi alat-alatnya sialan!” Kemudian Pak Gery mendekat. Ia emosi tentu saja. Mana mungkin Pak Gery membiarkan mereka seenaknya mencabut alat-alat tersebut sedangkan Ghea begitu membutuhkannya.


Suster itu terlihat bingung. Ia menatap dokter yang tadi sempat menolong Ghea. Berusaha mengembalikan keadaan Ghea sebisa mungkin sebelum alat detak jantung yang terpasang itu berbunyi nyaring.


Dokter itu tetap mengangguk. Memberi isyarat pada suster agar tetap mencabut semua alat bantunya.


“Kalian semua budeg atau gimana, sih? Cepet pasang lagi alat-alat itu!”


Mendengar keributan yang terjadi di dalam sana, semuanya tidak bisa menahan lagi rasa penasarannya. Ada apa? Itu yang ada di dalam pikiran mereka yang ada di luar. Terutama dengan kedua orang tua Ghea.


Seolah dokter itu sudah terbiasa dengan situasi. Sang dokter seakan tidak peduli dengan suara Pak Gery yang terus mengumpat sambil mengamuk. Adi dan Ilham yang menahannya pun tidak sekuat tenaga amukan Pak Gery.


Sedangkan Mama Sonya dan Papa Jordan hanya bisa pasrah melihat satu persatu alat bantu yang terpasang di tubuh Ghea dilepas. Mama Sonya hanya bisa menangis di dalam dekapan sang suami.


“Di, bilangin sama mereka kalau Ghea akan kembali. Hanya dia cuma butuh bantuan sedikit dari alat-alat itu!” Pak Gery berontak. Namun Adi dan Ilham tetap mencekal kedua tangan dan kedua bahu cowok itu. “Bilangin, berengsek! Pasang lagi cepat alatnya!”


“Ghea, kamu bangun dong! Buktiin ke mereka kalau kamu bisa bangun!” Pak Gery tidak dibiarkan mendekat sama sekali ke ranjang Ghea.


“Ghea kamu jangan kaya gini dong! Bercanda kamu itu gak lucu! Kamu udah janji kan mau nemenin aku terus! Bangun, sayang! Bangun!”


“Ger, kamu gak boleh gini. Kamu masih inget kan Mama tadi bilang apa? Kamu juga udah janji sama Mama bakal baik-baik aja, Ger.” Mama Sonya mendekat. Mencoba menenangkan putranya itu. Papa Dika sedang berada di perjalanan. Sesaat setelah Mama tadi menghubunginya, Papa Dika bergegas ke rumah sakit. Meninggalkan semua pekerjaannya di kantor.


“Mana bisa aku baik-baik aja, Ma. Mereka ngelepasin semua alat-alat itu. Ghea bakal baik-baik aja kalau mereka pasang kembali alat itu, Ma. Ghea bakal bangun lagi, Ghea udah janji sama aku bakal terus nemenin aku, Ma.” Pak Gery masih belum menerimanya. Atau bahkan tidak akan menerimanya. “Ghe, bangun dong, sayang! Kamu gak mungkin ingkari janji kamu kan, Ghe?”


Seolah tenaganya sudah habis, Pak Gery terus menatap wajah Ghea yang pucat. Membiarkan dirinya masih dipegang erat oleh Adi dan Ilham.


“Tolong catat waktu kematiannya, sus!” ucap dokter.


Bagi semua orang mungkin tidak akan rela. Separuh jiwanya telah diambil. Namun, kita bisa apa dengan takdir yang sudah Tuhan garis bawahi. Jika jodoh dan maut hanya Tuhanlah yang bisa menentukan. Dan inilah akhir dari kisahnya.


Kemudian ingatan Pak Gery kembali berputar pada kejadian dimana pertama kali Ghea menabrak dirinya di bioskop lalu kemudian saat dengan sengaja Pak Gery mengikuti cewek itu sepulang dari supermarket sampai Ghea yang mengira Pak Gery dengan sengaja datang ke sekolahnya padahal cowok itu adalah pengganti guru baru di kelasnya.


Sampai pada ia memaksa Ghea untuk menikah dengannya saat hari itu juga. Kemudian Ghea membawa cintanya hingga sampai menutup mata untuk selama-lamanya.


..._SELESAI_...


Note :


Aku gak bakal bilang apa-apa. Cuma mau bilang makasih aja sama semuanya yang udah nyasar ke cerita yang sederhana ini.


Maaf kalau endingnya mengecewakan. Tapi percayalah jika kamu baca extra partnya pasti akan lebih menegangkan atau bahkan bisa lebih dari kata itu.


Dari awal aku udah kasih note kalau aku gak mungkin ubah ceritanya. Maaf kalau kamu kecewa. Tapi jangan pernah bilang nyesel, ya, udah nyasar ke cerita ini.


Nanti aku bakal kasih extra part dua bab mungkin atau bisa juga lebih dari itu. Aku senang kalau ada yang mau nunggu extra part cerita ini di update. Tapi kalau gak ada pun, bakal tetep di update kok. Hihiii


Seizy


Kang ngetik amatiran yang tentunya tidak akan ada apa-apanya tanpa kamu semua. Aku mau kaburrrr dulu. Tunggu nanti malam extra partnya ya! Hihiiiiiiiii ILY