Married With Teacher

Married With Teacher
Mempraktekan Adegan Dalam Drama


Di ruangan Pak Gery.


"Ger, keknya lo harus lebih jaga Ghea bae-bae, deh!" Adi memberi saran pada sang sepupunya itu. Duduk di single sofa menghadap Pak Gery yang juga duduk di sofa panjang. Keduanya saling berhadapan bersama raut wajah yang serius.


"Gue udah cari, tuh, cewek kemana-mana." Ada helaan nafas putus asa dari Adi saat mengungkapkan itu. "Tempat persembunyiannya yang dulu, apartemen dan rumah yang pernah dikontrak sama dia juga gue udah cek. Cuma gue gak nemuin jejaknya. Kek gak ada tanda-tanda gitu. Udah kaya jin dia gak bisa kena lacak, Ger." ungkap Adi lagi. Setelahnya, menyandarkan punggung pada sandaran sofa. Menggantungkan kepalanya di sana bersama mata terpejam erat.


Dalam pejaman matanya itu, Adi berpikir. Ia merasa gagal menjalankan amanah dari orang tuanya untuk menjaga Pak Gery. Namun, mata itu terbuka dengan cepat saat teringat tadi pembicaraannya dengan Ghea di koridor sebelum Pak Gery menyapanya.


"Ger?" panggilnya. Refleks kepalanya terangkat. Wajahnya pun kembali serius menatap Pak Gery.


"Hem." Pak Gery hanya bisa bergumam. Kepalanya menunduk. Kedua tangannya tersimpan di belakang kepala dengan kedua siku yang disimpan di atas paha.


"Ghea ada cerita sama lo gak? Waktu kemarin pulang dari restoran seafood?" Adi bertanya serius. Berharap Ghea sudah bercerita dan Pak Gery mengetahuinya.


"Gak. Kenapa emang?" Namun alih-alih Pak Gery mengetahui, cowok itu malah berbalik tanya pada Adi.


"Tadi Ghea cerita sama gue. Pas dia lagi bayar di kasir. Ada cewek yang tiba-tiba sok akrab sama dia. Katanya pernah ketemu juga waktu lo sama Ghea ke rumah sakit."


Kepala Pak Gery yang tadinya menunduk refleks terangkat. Matanya terpejam bersama deru nafas yang tidak beraturan.


"Di, dia …"


"Ya. Gue juga yakin jika cewek yang Ghea temui di kasir resto itu dia, Ger."


Pak Gery mendadak gelisah. Meraup wajahnya dengan kasar lalu ia tarik tangannya untuk mengacak rambutnya. Pak Gery terlihat frustasi.


"Terus gue harus apa, Di? Gue takut, tuh, cewek gila bakal nyakitin Ghea. Dan bahkan bisa jadi juga buat Ghea celaka. Gue gak mau itu sampai terjadi sama Ghea, Di. Gue takut. Gue gak tau sekarang apa yang harus gue lakuin? Dia, tuh, bahaya banget, Di," ujar Pak Gery. Ada nada yang seakan dia sekarang benar-benar putus asa. Buliran keringat di pelipisnya mulai mengalir melewati rahang yang selalu terlihat tegas di depan semua orang. Namun di depan Adi saat ini. Dia merasa lemah. Dia merasa takut. Dan raut takut itu terlihat kentara.


Adi pun juga tidak tahu harus berbuat apa. Jika berbuat sesuatu pun, harus berhati-hati. Karena 'dia' selalu tidak bisa ditebak dengan apa yang akan diperbuatnya. Dan tidak segan juga untuk melukai orang lain jika sesuatu yang dianggap miliknya itu disentuh.


"Dia gak waras, Di." Pak Gery menyahut lagi. "Di, apa gue harus sewa bodyguard aja, ya, buat ngejaga Ghea?" Bertanya pada sang sepupu. Berharap usulnya kali ini adalah satu hal yang tepat.


**


"Ghe, lagi apa, sih, kamu? Serius banget?" Pak Gery bertanya pada Ghea. Ia baru saja masuk ke dalam kamar, sesaat sebelumnya ia telah mengambil air minum ke dapur.


Ghea yang Pak Gery lihat sedang tengkurap di atas kasur seraya wajahnya menghadap layar laptop. "Lagi nonton."


"Nonton apaan, sih? Jangan nonton terus dong, Ghe! Sebulan lagi ujian akhir semester loh. Belajar yang benar, biar dapat nilai A!" Pak Gery berkata seraya melangkah ke arah kasur. Lalu menyimpan gelas yang berisi air mineral itu ke atas nakas. Kemudian duduk di samping tubuh Ghea yang tengkurap.


“Santai dong, Mas. Punya suami guru ini kan. Gak belajar juga Mas pasti akan kasih aku nilai A ‘kan?” tanyanya tanpa menoleh pada sang suami yang sudah menunjukan raut wajahnya dengan kesal. Namun, masih terlihat sabar.


Pak Gery selalu ingat kata-kata Mama Sora dan Papa Jordan, jika menghadapi Ghea harus penuh dengan kesabaran.


“Papa harap kamu bisa jaga Ghea, ya, Ger! Kamu harus sabar-sabar ngadepin anak itu! Maklum, lah, Ger, Ghea itu anak Papa satu-satunya, jadi manja dan solehahnya agak berlebih.”


Begitulah sekiranya Papa Jordan menasehati Pak Gery sesaat setelah Pak Gery resmi menjadi suami dari Ghea.


Pak Gery menarik nafas dalam sebelum ia melanjutkan untuk menegur Ghea agar istrinya itu jangan banyak menonton.


“Gak akan, lah, Ghe. Aku harus profesional dong. Gak boleh pilih kasih,” jawabnya yang langsung membuat Ghea memalingkan wajahnya dari layar laptop. Menoleh pada Pak Gery yang sekarang tengah menyandarkan punggungnya pada hearboad seraya membaca buku.


Ghea beringsut, ia duduk menyila menghadap suaminya itu. Bibirnya mengerucut bersama wajah yang memberengut kesal. “Ihhh gak keren banget dong kalau gitu, Mas. Sama aja kaya aku gak punya suami guru. Gak ah, pokoknya kamu harus kasih aku nilai A. Ya ya ya,” rajuk Ghea padanya. Mengedip-ngedipkan matanya berulang untuk menarik perhatian Pak Gery.


“Gak bisa. Nanti kamu gak pinter dong kalau gitu.” Namanya Pak Gery, ya tetap Pak Gery. Yang susah untuk dikibulin. Yalah, Pak Gery terlanjur pinter untuk berhasil Ghea kibuli. Sama kaya Pak Ghani yang selalu lolos dari kibulan Ghea, jika guru itu tengah memergoki Ghea terlambat datang ke sekolah atau terlambat masuk kelas dan malah nongkrong di kantin atau warung batagor Mang Asep. 


“Aku tuh sebenarnya udah pinter, Mas, tapi aku terlalu tawadhu. Jadi, ya, gini. Gak sombong!” ujar Ghea bersama wajahnya yang jenaka. “Udah, ah, aku mau nonton lagi. Kamu jangan ganggu!” Kemudian wajah Ghea kembali lagi pada layar laptop yang masih memutar drama kesukaannya. Apalagi kalau bukan drama china yang menampilkan aktor Yang yang di layar datar itu.


Pak Gery hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Ghea. Tersenyum penuh arti melihat Ghea yang seperti sangat menikmati drama yang sedang ia tonton. Namun, tak berapa lama, Pak Gery mengingat sesuatu. Dan buru-buru menanyakan langsung pada sang istri.


“Hem, kenapa, Mas? Jangan nyuruh aku belajar dulu! Lagi tanggung, nih.” Ghea berkata tanpa menoleh. Ia seolah sibuk dengan kegiatan menontonnya itu.


“Kata Adi waktu kamu lagi di kasir resto seafood ketemu sama-”


“Ya ampuunnnn … Yang yang, so sweet banget tau gak, sih, Mas?” Ghea menyela. Ia keburu baper saat melihat adegan ciuman Yang yang dengan lawan mainnya di drama yang sedang ia tonton. Dengan kedua tangan yang menangkup sisi wajahnya seraya tersenyum penuh dengan dramatis.


Pak Gery menghela lagi, “kamu benar ketemu sama cewek yang waktu itu-”


“- Uuhhh Yang yang … bener-bener sweet banget. Nyiumnya pake perasaan banget, sih.”


“- Menyenggol bahu kamu di rumah sakit?”


“Yang yang itu perannya dingin banget, tapi pas sama ceweknya, du du du sweet banget, deh.”


“Kamu harus hat-’


“Andai aja suami aku itu kaya Yang yang. Yang manis, romantis dan kalau-”


“Ghe, kamu denger aku ngomong gak, sih?” Pak Gery menyentakan bahu Ghea, sampai tubuh itu sontak menghadapnya. Ghea meringis.


“Apa, sih, Mas? Kok kasar gitu?”


Dalam matanya yang terpejam Pak Gery menarik nafas dalam-dalam, sebelum ia embuskan dengan kasar. “Kamu kalau suami lagi ngomong, itu, dengerin! fokus sama suaminya! Jangan fokus sama drama aja!” Pak Gery berujar dengan tegas, nadanya tidak tinggi. Namun tatapannya mampu membuat Ghea merasa terintimidasi.


“Ya-ya udah, maaf. Jangan ngambek gitu dong! Serem aku lihatnya. Udah kaya ultraman yang kerasukan setan, deh, Mas,” katanya seraya memalingkan muka. Gak mau melihat mata Pak Gery.


Pak Gery berdehem. Ia menangkup kedua sisi wajah Ghea. Memaksanya untuk melihat wajah suaminya.


Ghea mengikuti gerakan tangan Pak Gery yang menangkup sisi wajahnya. Namun Pandangannya menunduk dengan wajah yang Ghea tekuk. Mungkin Ghea merasa takut ditatap seperti itu oleh Pak Gery.


Pak Gery mengangkat wajah Ghea untuk mempertemukan pandangannya dengan pandangan Pak Gery. “Jangan cemberut gitu dong! Jelek tau!” Ini Pak Gery mencoba menggoda atau apa? Kok kedengarannya suara Pak Gery melemah dan terdengar romantis di telinga Ghea.


Apa Pak Gery lagi membujuk Ghea?


Ah, tau, ah, Ghea bingung. Namun ia tak ayal juga memandang wajah tampan suaminya itu.


Dalam beberapa saat hening mengambil alih. Keduanya hanya saling memandang dalam satu garis lurus. Sedetik kemudian Pak Gery memiringkan wajahnya.


“Ekhem … Mas Gery mau apa?”


Masih aja bertanya. Ya mau cium kamu lah. Masa mau nendang, sih. Iya, nendang bibir kamu pake bibir aku. Ingin sekali Pak Gery menjawab seperti itu.


“Katanya kamu pengen punya suami kaya aktor drama yang sedang kamu tonton itu? Ini aku lagi praktekin apa yang ada di dalam drama itu.” Namun bukan kalimat itu yang menjadi jawaban Pak Gery. Justru ia mengatakan kalimat yang tadi sempat Ghea katakan.


Ghea diam-diam melirik samar ke arah laptopnya. Dimana drama itu masih berputar. Dan sekarang justru menampilkan adegan dimana aktor Yang yang sedang memangku lawan mainnya ke atas kasur. Lalu aktor itu dengan cepatnya melucuti semua pakaian yang melekat di tubuh sang lawan main. Dengan begitu buru-buru Ghea memalingkan lagi wajahnya saat adegan ranjang itu berputar di dalam drama.


Dipikir Ghea, sebentar lagi adegan itu juga akan terjadi padanya karena sekarang pun wajah Pak Gery sudah berada dekat dengan wajahnya. Hingga dirinya bisa merasakan embusan nafas Pak Gery menyapu permukaan kulit wajahnya.


Dan Ghea pun tidak bisa menghentikan aksi bibir Pak Gery yang mulai memagut bibirnya. Menyecap bahkan melesakan lidahnya. Menyapu semua rongga dalam mulut Ghea.


Dan sialnya, Ghea sangat menikmati itu. Menikmati setiap sentuhan lidah Pak Gery di dalam sana. Menikmati setiap sentuhan bibirnya yang meluumat bibir bawah serta bibir atas Ghea. Tanpa sadar pun, lenguhan itu Ghea keluarkan dalam decapan.


Ternyata melihat drama seperti itu membuat gairah Pak Gery berkobar. Ia seakan lupa apa yang akan tadi ia bicarakan pada Ghea. Semua kalimatnya hilang begitu saja. Dan sekarang justru malah mempraktekan adegan di dalam drama.


TBC


Ya gitu deh guys. Aku gak bisa serius seriusan kalau buat cerita. Gak ada anunya tuh kek kurang asin gitu.