Married With Teacher

Married With Teacher
Dua Kancing Seragam Kamu Kebuka


Sesuai janji. Daku up lagi guyssss.


"Gheaaa …," jerit Ocy, saat melihat karibnya itu turun dari mobil sedan hitam milik Pak Gery. Yang sudah terparkir di parkiran sekolah.


Ghea menoleh. Ia berdecak sambil menggelengkan kepalanya pada Ocy. "Apa, sih, Cy? Eh, itu tolong kondisikan helm butut lo dulu, deh. Masih nyangkut di pala lo, tuh. Mau lo bawa ke dalam kelas apa?" Cibir Ghea yang melihat Ocy berlari ke arahnya dan tak melepaskan helm miliknya itu.


Ocy cengir. Saking bahagianya ia ingin menyampaikan kabar pada Ghea, sampai lupa sama helmnya yang masih nyangkut di kepala setelah memarkirkan motornya tadi.


"Hehe … tau, nih, helm kok nempel mulu, ya, sama pala gue?" Elaknya sambil melepas helmnya itu. Kemudian kembali lagi ke motornya untuk menyangkutkan helm pada kaca spion sebelah kanan.


"Gue lagi happy banget btw, Ghe. Pokoknya, gue bakal traktir lo makan sepuasnya hari ini," katanya dengan wajah yang berbinar seraya berjalan beriringan dengan Ghea. Melewati koridor sekolah yang sudah mulai ramai dengan para siswa dan siswi.


"Dihhhh, gaya lo, sumpah, udah kek miliarder aja, deh." Ghea mencibir seraya mencebikan bibirnya. Lalu dari arah berlawanan Ghea melihat Pak Gery sedang berjalan ke arahnya sambil menenteng tas kerja yang selalu menjadi temannya saat pergi ke sekolah. Entah apa isinya, pun Ghea tidak tahu. Yang pasti jangan obat terlarang aja. Kalau obat kuat boleh-boleh aja, lah. Eh.


Duhh, kan Ghea wajahnya jadi berubah merona saat Pak Gery semakin dekat berjalan ke arahnya.


"Elah, mentang-mentang bokap lo kaya, nyinyir gue terus lo." Ocy sepertinya tidak terima.


"Bodo. Emang faktanya bokap gue kaya. Yekannn?"


Wajah merah Ghea semakin tidak bisa terkendalikan lagi saat Pak Gery hampir sampai di depannya.


"Ya gak usah jahat juga kali lambe lo, tuh! Ngena banget tau gak, sih, Ghe sama jantung gue. Berasa patah hati lagi gue." Oceh Ocy meraba dada sebelah kirinya. Seolah jantungnya itu memang sakit.


"Bodo!" kata Ghea. Namun matanya tak lepas tertuju pada Pak Gery yang semakin dekat. Mungkin lima langkah lagi mereka akan berpapasan.


"Sumpah, ya, kalau lo ayam geprek, nih, udah gue makan, Ghe. Eh- Pak, selamat pagi?" Kata-kata Ocy berpaling saat ia berpapasan dengan Pak Gery. Guru killer namun seksi.


Ghea justru jadi salah tingkah. Cewek itu bungkam seribu bahasa. Mata indah menilik suaminya itu yang terlihat berbeda dari biasanya.


Jika biasanya Pak Gery ke sekolah akan memakai kemeja panjang dan celana kain panjang yang menutupi otot-otot dalam tubuhnya yang menonjol. Kali ini Pak Gery menutupi otot-ototnya itu dengan t-shirt berwarna abu muda yang dipadukan jas berwarna hitam. Kemudian Ghea menilik bawah Pak Gery. Kaki panjangnya itu terbungkus celana jeans bersama sepatu pantofel hitam yang membungkus telapak kakinya. Fix, Ghea gak ridho. Ia memberengut. Wajahnya berubah masam bersama bibirnya yang mengerut.


"Selamat pagi." Pak Gery menjawab sapaan Ocy. Seperti biasa. Datar tanpa ada senyum yang menghiasi bibirnya yang tebal dan seksinya itu.


"Waahhh …, Bapak, hari ini beda banget, Pak. Cakep. Udah kaya Kai EXO beneran. Bukan kawean." Celetuk Ocy memuji.


Pak Gery jadi teringat semalam saat Ghea kesal dan memanggilnya Kai kawe. Dalam hati Pak Gery ingin tertawa. Namun, ia hanya melipat bibirnya saja.


Sekilas, Pak Gery melirikan matanya pada Ghea yang terlihat masam bersama bibirnya yang masih mengerucut. Pak Gery dapat menebaknya jika Ghea tengah kesal.


"Terimakasih!" Satu kata itu Pak Gery ucapkan pada Ocy dengan datar. Kemudian Pak Gery hendak berlalu. Namun juga baru satu langkah, ia kembali memutar lagi tubuhnya.


"Eumm, Ghea," panggilnya. Mengangkat satu tangannya yang kosong ke arah Ghea. Seolah ia sedang memberitahu sesuatu pada cewek itu.


"Kenapa, Pak?" Adalah Ocy yang menjawab. Ghea kan kesal. Jadi diam saja. Masa bodo jika terlihat tidak sopan. Masalahnya Pak Gery udah buat Ghea merasa moodnya berubah.


"Eum … itu." Tangannya masih mengarah pada Ghea.


Yang terlihat bingung bukan Ghea. Tapi malah Ocy. Dia menoleh pada Ghea. "Ghea maksud Bapak?" Ocy bertanya.


"Hem."


"Ghea ke-" belum juga Ocy menyelesaikan kalimatnya. Pak Gery sudah memotongnya. Ck.


"Dua kancing seragam kamu terbuka," ujarnya. Lalu melengos pergi.


Ghea menundukan wajahnya refleks. Ia menganga dan buru-buru menutupnya dengan kedua tangan. Membuat Ocy tertawa di tempatnya.


"Diihhh marah sama gue? Yang begoo kan elu. Ngapain tuh kancing pake dibuka segala? Mau tebar umpan lo, njirrr?" Sekarang giliran Ghea yang kena cibir Ocy.


Ocy tergelak sambil memegangi perutnya yang mendadak kram. Saking asyiknya dia ngetawain sahabatnya itu sampai lupa juga siapa sekarang yang ada di belakangnya. Kemudian Ocy memutar tubuhnya dan-


Dukkk


Kepalanya terbentur pada dada cowok yang berdiri di belakangnya tadi. Ah sial.


"Mampuus lo, karma buat lo, Cy. Udah ngetawain gue."


"Hehehe …" Pelan Ocy mengangkat kepalanya. Lalu cengengesan bersama jantungnya yang berdebar. "Sorry!" cicitnya malu. Wajahnya pun memerah.


"Kenapa, sih, kayaknya ada yang asyik, nih?" Reza bertanya sambil membenarkan tas yang menyampir di bahu kirinya.


"Ada!" Refleks Ocy menjawab. Namun setelahnya menunduk. Menggigit bibir dalamnya bersama matanya yang terpejam erat. Ocy mengutuk kebodohannya sendiri.


Ocy, tuh, masih malu karena statusnya yang sejak semalam berubah.


Ya. Ocy menerima Reza. Udah lama juga kan dia memendam rasanya. Masa saat Reza nembak, Ocy malah nolak.


"Apa emang?" Reza bertanya lagi. Kini tangan kanannya tergerak merangkul bahu sang pacar. Duh salah tingkah Ocy makin menjadi aja ini.


Membuat Ghea bingung dengan keadaan di depannya. Ia mengerutkan alisnya. Lalu menunjuk Reza dan Ocy dengan jari telunjuk bersama mata yang memicing tajam. "Kalian …?"


"Ck. Gak usah dramatis gitu pake lihatin kitanya kali, Ghe. Iya. Kita udah jadian." Jujur Reza pada Ghea.


Ghea membuka rahangnya dramatis. Ekspresinya bagaikan yang sudah menang undian lotre saja. Heboh bener tuh cewek.


"Gak percaya!" ujar Ghea.


"Bodo. Emang kita butuh lo percaya? Kagak!" kata Reza.


"Sialan!" Satu tinjuan mendarat pada perut Reza dari Ghea. Tapi cuma pelan doang.


"Auhh …" Reza meringis sambil memegangi perutnya yang pura-pura sakit.


"Ghea, apaan, sih, lo?"


Aduh Ghea makin memutar bola matanya jengah. Tapi dengan kedua sudut yang tertarik membentuk sebuah senyuman. "Ceilehhhh lebay lo berdua. Ck. Jijik gue lihatnya." Ghea bergidik. Pura-pura mau muntah karena jijik melihat pasangan lebay yang baru itu.


"Sirik aja lo. Kalau mau sono lo minta sama suami lo!" Reza keceplosan.


Ghea memelototkan matanya pada Reza. Ocy mengerutkan keningnya.


Suami?


"Maksudnya? Suami? Ghea udah married? Kapan? Kok gue gak tahu?"


Omegat jangan sampai bocor. Sumpah itu mulut si Reza kudu di bawa ke bengkel ban deh biar gak bocor terus.


"Rezaaaa!" Ghea geram. Dan Reza dapat mendengar gigi Ghea gemerutuk. Ia mengerutkan bibirnya dan siap untuk menghabisi Reza jika Ocy atau siapa pun mendengarnya. Karena di sekitar mereka juga banyak murid yang lalu lalang masuk keluar kelas. Juga beberapa yang sedang nongkrong ngobrol, berdiri di sekitaran Ghea dan dua temannya itu.


TBC


Gak tahu kenapa walai like sama komennya dikit gak sebanyak novel novel laeenn nih, tapi nih, ya, daku tetap senang bisa menghibur kaleannn. kalau kalean bahagia daku juga ikut bahagia. Takdir daku mungkin ini ya. Belum naekkkk ke puncak nirwana. ahahah