
...Aku memang bukanlah yang sempurna untukmu. Tapi izinkan aku untuk menyempurnakan kekuranganmu....
..._Gery Mahardika_...
Suara deru mesin dari motor yang Ghea kenal terdengar nyaring di telinganya. Tak lama setelah suara itu berhenti, ia mendengar derap langkah yang menghampirinya bersama seruan dari suara berat yang tentu saja sangat ia kenal.
"Ya ampun, sayang." Gery menghampiri cewek itu yang kini tengah berdiri di depan westafel dengan tangan yang penuh busa sabun. Menyimpan kantong kresek berwarna putih di minibar "Kamu ngapain malah cuci piring segala? Kan udah dibilangin buat tiduran aja di kasur!" Cowok itu dengan sejuta perhatiannya menyimpan piring yang masih berada di tangan Ghea lalu membilas kedua tangan sang istri dengan air mengalir dari kran.
"Apa sih, Mas? Aku udah enakan kok. Udah gak lemes. Gak mual juga," ujar Ghea mencoba menjelaskan. Karena ia juga sangat bosan menunggu Gery yang tidak kunjung pulang. Padahal hanya membeli lontong sayur di taman kompleks aja nunggunya hampir satu jaman.
Gery tidak mengidahkan apa yang dikatakan Ghea. Cowok itu malah menuntun Ghea untuk duduk di kursi bundar minibar. Kemudian Ghea melihat pergerakan tubuh Gery yang membuka lemari kabinet. Mengambil dua piring dan dua gelas tentunya.
"Maaf, ya, kelamaan," kata cowok itu seraya membuka bungkusan yang tadi ia simpan di atas minibar sebelum menuangkan lontong sayur itu ke dalam piring.
Ghea hanya membalasnya dengan senyuman. "Abis ketemu cewek dulu ya, jadinya lama?" cibir Ghea setengah bercanda. Namun, entah mengapa candaan yang Ghea lontarkan itu membuat bahunya menegang. Seketika Gery mengangkat pandangannya dan menghentikan gerakan tangannya yang sedang menuangkan lontong sayur itu.
"Issshhh ..." Ghea tertawa geli sembari memukul bahunya. "Canda, Mas." sedetik kemudian cowok itu juga terkekeh. Wajahnya terlihat canggung.
Sedangkan Ghea menggelengkan kepalanya bersama tawa geli yang ia berikan. Merasa lucu melihat wajah Gery yang berubah dalam hitungan detik. "Ihh kenapa gitu banget sih mukanya?" Ghea melipat kedua tangannya di atas minibar itu sebelum kedua alisnya ia gerakan naik turun.
Gery menuangkan lontong sayur yang lain ke dalam piring. "E-emang kenapa muka aku?" Seraya menyodorkan makanan itu pada Ghea. "Makan dulu nanti keburu dingin," lanjutnya kemudian.
"Lah kamu sendiri kenapa gak makan, Mas?" heran Ghea karena melihat suaminya yang bukannya duduk ini malah berjalan ke arah westafel. Lalu Gery memutar kran air. Melanjutkan pekerjaan yang sedang tadi Ghea kerjakan sebelum ia datang.
Ghea hanya bisa menggelengkan kepalanya. Menggeserkan piring lontong sayur itu sebelum ia bangkit dari duduk.
"Mas, kenapa sih kita gak pake asisten rumah tangga aja?" Ghea memeluk punggung cowok itu dari belakang. Menempelkan pipinya pada punggung tegap Gery.
"Selagi aku bisa bantu kamu kenapa harus pake ART sih, Ghe?" Seraya membilas piring, Gery menarik kedua sudut bibirnya.
Ghea berdecak di balik punggung cowok itu. Karena bukan hanya satu atau dua kali saja Ghea menyuruh Gery untuk memakai jasa ART. Namun Gery tetaplah Gery dengan sejuta maunya.
Bukannya apa-apa. Dengan keadaan Ghea yang sekarang ia hanya tidak ingin terus-terusan membuat suaminya ini kerepotan. Di setiap pagi ia yang seharusnya menyiapkan sarapan dan baju kantor untuknya bukan? Ini malah Gery yang melakukan semua itu.
Dari mulai sarapan, sampai mencuci piring kotor cowok itu yang melakukan. Lalu setelahnya pulang kerja, cowok itu juga jika sempat akan mencuci pakaian kotor dirinya dan Ghea.
Oh sungguh beruntung jadi Ghea ini. Ia jadi tidak ingin kehilangan anugrah yang sudah Tuhan kasih untuknya.
Mungkin di luar sana banyak cewek yang lebih dari Ghea. Tapi Ghea sangat bersyukur karena Gery memilih Ghea untuk menjadi pendampingnya.
"Tapi ini jadi nambah pekerjaan kamu, Mas." Gery melepaskan kedua tangan Ghea dari memeluk punggungnya sebelum cowok itu berbalik menghadapnya.
"Ini kan gak setiap hari aku kerjakan. Cuma sesekali doang kan," sahut Gery seraya menyingkirkan rambut Ghea yang menutupi dahinya untuk ia simpan di belakang telinga cewek itu.
"Tapi tetep aja ini bukan tugas kamu."
Karena tugas suami menurut Ghea hanya kerja saja.
Kerja siang dan kerja malam tentunya.
Tolong garis bawahi kerja malam yang Ghea maksud!
"Ini juga udah jadi tugas aku yang harus urus istri aku ini. Apalagi istri aku ini lagi hamil." Gery menjeda kalimatnya lalu ia mengarahkan tangannya untuk mengusap perut Ghea bersama dengan satu tangan yang lain menangkup sisi wajahnya.
Ghea tidak mampu untuk menyembunyikan senyumnya. Ia terharu dengan kalimat sederhana yang terlontar dari mulut suaminya ini.
"Isshhh ... Mas Gery ..." Lalu berhambur ke dalam pelukan cowok itu dengan Gery yang senang hati membalas pelukan itu tak kalah eratnya.
...****...
"Gimana sekarang kamu Ghe, masih suka mual sama pusing gak?"
Setelah tadi Ghea dan Gery sarapan lontong sayur, Mama Dian tiba-tiba datang sambil membawa kue kesukaannya. Katanya kangen dengan Ghea dan cucu yang masih di dalam perutnya.
Sekarang keduanya sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Masih, Ma. Cuma ya gitu pas bangun pagi aja. Kalau udah siangan suka ilang sendiri," jawab Ghea tersenyum senang karena diperhatikan oleh Mama mertuanya.
Sedangkan Gery, cowok itu sudah berangkat ke kantor beberapa waktu yang lalu. Katanya ada meeting dengan seorang klien dari Bandung untuk membicarakan perihal pembangunan resort villa di Bogor.
"Vitamin dari dokter Gita masih suka kamu minum kan?"
"Udah mau abis sih, Ma. Tapi jadwal kontrol kandungan lima hari lagi."
Ghea bukan hanya perlu bersyukur karena Tuhan sudah memberikan suami seperti Gery. Namun juga Ghea perlu bersyukur karena sudah dikasih Mama mertua yang sayang dan perhatian seperti Mama Dian.
Uh Ghea jadi merindukan Mamanya sendiri yang saat ini sedang menemani sang Papa mengurus sebuah rumah makan yang baru dibangunnya di daerah Rumah Sakit Hasan Sadikin Sukajadi Bandung.
"Pasti, Ma."
"Nanti minta Gery buat nemenin kamu! Jangan kaya kemarin tuh malah Adi yang nemenin. Emangnya ini anaknya Adi apa?"
Ghea hanya terkekeh mendengar gerutuannya Mama Dian.
Keduanya larut dalam obrolan dengan Mama Dian yang cerewet menceritakan segala hal ketika beliau mengandung Gery membuat Ghea merasa tidak bosan. Sesekali Ghea perlu meneguk air mineral karena dirinya yang kehausan akibat tergelak mendengar cerita Mama mertuanya ini. Sampai waktu tidak terasa sudah semakin siang lalu Mama Dian pamit pulang.
...****...
"Abis ini lo free. Paling besok pagi lo janji ada sarapan bareng kliennya Om Dika." seraya memberekan berkas-berkas di atas meja dan menutup laptop, Adi mengingatkan Gery agar cowok itu tidak terlambat seperti sekarang ini. Apalagi dengan alasan lupa.
Cek menyebalkan sekali sepupu Adi ini.
"Heh, lo denger gue gak sih?" Merasa Gery tidak mendengarnya Adi lalu melempar kentang goreng yang masih tersisa di atas piring.
Seraya menegakkan punggung, Gery mengguyar rambutnya yang sudah gondrong itu. "Iya-iya denger gue," katanya sebelum kemudian ia menyedot jus alpukat yang tadi dipesankan oleh Adi.
Usai memasukan laptop ke dalam tas, Adi menghabiskan kentang goreng yang masih ada. Mubadzir kan kalau gak dihabiskan. "Jangan iya-iya aja lo! Jangan pas gue ngomong masuk telinga kanan keluar telinga kiri!"
"Ck. Iya astaga iya," decak Gery. "Bawel aja lo udah kayak emak-emak." Lalu mencibirnya.
Untuk beberapa saat ke depan tidak ada lagi yang membuka suara. Di ruangan khusus restoran milik Papanya itu Gery mau pun Adi sibuk dengan dunianya masing-masing.
Adi yang menghabiskan kentang goreng dan Gery yang terus menyedot jus alpukatnya. Sampai pada di detik berikutnya, Gery membuka suara dengan ia yang tiba-tiba menanyakan sesuatu pada Adi.
"Di, lo capek gak kerja sama gue?" tanya Gery tiba-tiba. Membuat Adi mengerutkan keningnya heran. Sampai-sampai kepala cowok itu bergerak mundur.
"Maksud gue, gimana kalau lo merekrut sekretaris. Biar kerjaan lo juga ada yang bantu, kan?"
Jelas saja kalimat Gery barusan mengundang tanya bagi Adi. Pasalnya Adi sering kali menawarkan untuk sepupunya ini sekretaris, tetapi selalu dengan jawaban Gery yang menolak.
"Gak perlu sekretaris selagi lo bisa handle semua pekerjaan."
Begitulah kalimat yang selalu Adi dengar ketika Gery menolak.
Namun, mengapa cowok di depannya ini dengan sangat tiba-tiba meminta padanya untuk merekrut sekretaris?
Adi sampai mengerjap beberapa kali untuk mempercai hal ini.
"Heh. Gak usah kaget gitu napa mukanya!" ujar Adi sembari melemparkan bungkus rokok yang sudah kosong pada Adi.
"Bentar-bentar!" Pun dengan Adi yang mencondongkan wajahnya. Melihat mata Gery jika cowok itu sedang tidak bercanda.
"Ini gue salah denger atau lidah lo yang salah ngomong, Ger?"
"Taik lo." Gery memutar bola matanya. "Gue serius elahhh ..." lanjut cowok itu kemudian.
"Tapi tumben gitu lo minta."
Adi harus kembali memundurkan wajahnya tak kala ia mendapat delikan mata dari Gery.
"Oke-oke. Gue bisa aja, sih. Besok gue bakal minta ke HRD buat--"
"Gak perlu." Gery memotong kalimat Adi. Lalu dengan casual style cowok itu berkata, "Gue udah ada calonnya. Tinggal lo interview dia aja pantas atau nggaknya buat jadi partner kerja lo!"
To be continued ....
Note seizy :
Maaf telat update teman-teman sayang.
Jadi nihya kemaren beberapa hari tuh badan aku kurang sehat. So, buat semuanya tetap jaga kesehatan ya karena cuaca saat ini tuh lagi ekstrim banget.
Terimakasih karena sudah menyempatkan membaca cerita sederhana ini. Selalu sayang kamu semua aku tuh. ILY