Married With Teacher

Married With Teacher
Uncovered


...Hanya kamu yang akan menjadi prioritasku. Dan hanya kamu yang selalu menjadi hal utama bagiku....


...Gery Mahardika Putra...


...****...


Benar kata orang. Jika sebuah masalah yang datang pada hidup kita akan membuat diri kita menjadi dewasa. Sekecil apapun masalah itu selalu meninggalkan pelajaran yang sangat berharga.


Begitu pun dengan Ghea yang lagi-lagi masalah itu datang menimpa. Namun, itu semua tidak membuat dirinya down. Ia tidak terkejut lagi dengan apa itu yang namanya sebuah masalah. Tidak seperti sebelumnya saat Ghea melihat Pak Gery yang dipeluk oleh Dita. Yang auto membuat hatinya memanas. Kali ini Ghea benar-benar menanggapi masalah ini dengan kepala dan hati dingin.


Satu hal yang menjadi alasan cewek itu bersikap demikian. Jika Ghea ingin dan harus pantas menjadi seorang istri dari Gery Mahardika Putra. Apalagi dengan alasan Pak Gery yang selalu bilang sayang dan tidak ingin kehilangannya. Ghea yakin jika pernyataan itu bukan hanya sebuah bualan semata. Namun tulus dari hati dan keinginan suaminya.


...****...


Pagi ini saat Ghea turun dari mobil yang dikemudikan Chacha, cewek itu melihat anak-anak yang mengerumuni mading sekolah yang kebetulan terletak di lorong depan.


Ghea melipat keningnya dalam. "Ada apaan sih? Rame bener." Gumamnya pada diri sendiri. Seperti biasa, Chacha akan menunggunya di dalam mobil. Bodyguard ceweknya itu tidak diperkenankan keluar oleh Ghea atau nanti akan menjadi buah bibir lagi di sekolah ini.


Seraya berjalan pelan, Ghea menyampirkan tas ke punggungnya. Semakin dekat langkahnya di mading sekolah itu semakin terdengar juga kasak-kusuk anak-anak yang berdiri di sana mencibirnya.


Ghea diam karena tidak tahu apa yang mereka bicarakan.


"Sorry. Ada apaan sih ini? Rame amat? Masih sepagian ini juga." Ghea menyentuh bahu orang yang ada di depan sana. Permisi agar dia memberi dirinya celah untuk mengetahui hal apa yang membuat mereka heboh sepagian ini.


Lalu matanya membulat sempurna ketika tahu berita apa yang dipajang di mading. Lantas Ghea buru-buru mencabut semua foto dari sana. "Siapa sih yang lakuin ini?" Teriaknya. Meremat semua foto yang sudah ada di tangannya.


Pandangan Ghea mengedar mencari sang pelaku. Namun, tidak ada yang mengaku dan malah terdengar semakin sangat berisik mencibir Ghea. Mengatakan jika Ghea adalah seorang perebut suami orang atau zaman sekarang lebih dikenal sebagai pelakor.


"Gak nyangka gue. Astaga."


"Ghe, lo sekolah kan? Jangan jadi pelakor dong lo. Kaya orang tua lo gak ngedidik aja deh."


Stop!


Sedari tadi Ghea hanya diam karena memang tidak mengerti yang mereka katakan. Sesudah tahu apa penyebab mereka mencibir Ghea pun, ia masih diam karena Ghea pikir mungkin ini sudah waktunya semua orang tahu jika dirinya ada hubungan dengan Pak Gery.


Dan amarahnya begitu saja membuncah saat mereka membawa nama orang tuanya. Ghea tidak terima tentu saja.


"Ngefans sih ngefans aja kali. Kenapa harus main sosor gitu segala? Ciuman di dalam mobil. ***** banget deh."


"Gue kira selama ini lo gak punya pacar karena emang gak mau pacaran. Tapi baru tahu kalau niatnya mau jadi pelakor."


Karena yang mereka tahu istri Pak Gery adalah Chacha kan. Bukan Ghea.


"Stop ya lo semua! Gue bukan pelakor asal lo semua tahu." Tangan Ghea mengepal. Ia semakin meremat foto-foto yang digenggamnya.


Sebuah foto dirinya yang beredar saat Pak Gery yang menempelkan bibir padanya di dalam mobil kala itu. Kala dirinya belum menikah dengan Pak Gery. Bukan hanya foto itu saja. Lebih parahnya foto dirinya saat kemarin sedang berbelanja dengan Pak Gery di salah satu pusat perbelanjaan. Dan foto saat mereka makan. Saling suap dan saat Pak Gery yang mencium bibir Ghea ketika Ghea tengah memilih baju.


Satu pertanyaan yang melintas di kepala Ghea.


Siapa yang melakukan semua ini?


Mungkin kah Yura? Karena beberapa waktu lalu Yura yang mengancamnya.


Tapi setahunya Yura tidak tahu dan cewek itu tidak mungkin kan punya foto-foto dirinya dan Pak Gery. Apalagi ada foto dirinya yang saat itu hanya Reza yang punya. Tapi bukankah Ghea sudah menghapusnya dengan jarinya sendiri, ya?


"Bukan pelakor yang kaya gimana yang lo maksud itu? Udah jelas-jelas Pak Gery iti udah married. Udah punya istri. Masih aja lo keganjenan."


Terserah!


Ghea tidak ingin mendengarkan apa yang mereka katakan. Sudah dikatakan bukan jika mungkin ini saatnya mereka mengetahui hubungannya dan Pak Gery?


"Lo mau kemana *****?" Seseorang menahan bahu Ghea.


Ghea menoleh. "Lepasin gue!" Sergahnya menggerakan bahu yang disentuh. Bodo amat sama dia yang memanggil Ghea dengan kata itu. Ghea tidak peduli sama sekali. Yang sekarang Ghea pedulikan adalah satu.


Ghea harus menemui Reza dan Ocy.


Di percepatlah langkah Ghea menuju kelas sahabatnya itu. Meninggalkan mereka yang masih mencibir dan menghinanya. Sesampainya di kelas itu, Ghea pun memanggil keduanya.


Memanggil Reza dan Ocy yang sedang duduk bersampingan. Mungkin kedua sahabatnya itu tidak tahu berita di mading. Hingga mereka berdua sangat santai saat Ghea datang.


Menatap Reza dan Ocy bergantian dengan tatapan nanar. Kemudian itangannya mengepal dengan kuat.


Ghea harus sabar!


"Ghe?" Reza menegur yang refleks membuat Ocy berdiri lalu menghampiri. Merangkul pundak Ghea.


"Kenapa, Neng? Lesuh amat tuh muka. Ke yang nggak pelepasan aja." Ocy terkikik. Masih dengan raut bercandanya pada Ghea.


Ghea tidak menanggapi lelucon Ocy. Ujung matanya hanya melirik saja bersama perasaan yang benar-benar marah.


Tapi jangan!


Ingat!


Ghea harus belajar sabar dan berubah dewasa untuk lebih baik dan lebih pantas menjadi pendamping suaminya.


"Ghe. Diem mulu. Napa sih?" Tanyanya lagi. Dan Ghea masih diam tidak menyahut. Sampai pada ada satu orang siswa yang memanggil namanya. Kemudian menyuruh Ghea untuk menghadap kepala sekolah.


...****...


Pak Gery baru saja keluar dari gedung perusahaan Putra Group yang tak lain adalah perusahaan papanya.


Tadi pagi ia izin pada Ghea untuk absen mengajar. Pak Gery mengatakan jika ia harus ke kantor papanya. Katanya ada masalah yang harus Pak Gery selesaikan.


Ghea tidak banyak bertanya. Ia mengangguk lalu berangkat dengan Chacha dari rumah Papa Jordan. Dan saat mobil itu menghilang. Pak Gery pun tak lama berangkat ke kantor menggunakan mobilnya sendiri.


"Kenapa, Cha?" Pak Gery memiringkan kepalanya. Mengapit handphone di telinga dengan bahunya. Kemudian membuka pintu mobilnya. Namun Pak Gery mengurungkan niatnya untuk masuk dan justru malah berdiri di samping pintu mobil yang sudah terbuka itu bersama tangannya yang tersimpan di tepi pintu mobil.


Jantung Pak Gery rasanya terpompa cepat saat Chacha mengatakan jika Ghea sedang dalam masalah di sekolahnya. Pun kini cewek itu berada di dalam ruangan kepala sekolah.


"Kamu jaga Ghea ya, Cha! Saya kesana sekarang. Jangan biarin Ghea keluar dulu dari ruangan itu!"


Tanpa ba bi bu. Pak Gery menyalakan mesin mobilnya setelah ia duduk.di kursi kemudi lalu menutup pintunya. Melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi meninggalkan area parkiran khusus perusahaan. Pak Gery sama sekali tidak memikirkan keselamatannya. Yang sekarang ada di dalam kepalanya hanyalah nama Ghea. Bagaimana agar Pak Gery cepat sampai di sekolah. Memeluk Ghea. Menenangkan istrinya itu dan mencari tahu siapa dibalik semuanya.


Sepanjang perjalanan ke sekolah Pak Gery hanya berpikir, bagaimana Ghea sekarang. Sedih apa nggak. Kecewa apa marah. Apa dia bisa tahan dengan cibiran anak-anak lainnya. Apa dia bisa menahan air matanya agar tidak sampai keluar.


Itu saja yang ada di kepala Pak Gery. Tidak ada yang lain.


...TBC...


Geng maaf kemarin gak update. Soalnya apa? Soalnya aku sempat ragu karena ini konflik lagi. Takut kalian bosen bacanya walau ini bukan konflik Pak Gery sama Ghea khusus. Tetep aja kan kalau yang gak suka banyak konflik mah ... ya gitu deh. hehe


Maaf guys aku gak mungkin ubah alur gitu aja seperti kemauan pembaca gimana. Tapi aku bakal pastikan kok jika end nya akan happy.


Seizy


Si penulis rengginang yang sayang kalian tanpa akhir.