Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 44


Ghea tidak tahu harus melakukan apa pagi ini. Dirinya termenung di depan cermin. Menampilkan keseluruh tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala. Dress berbahan katun di atas lutut ikut terpampang karena membungkus tubuh. Rambut hitam panjangnya kali ini Ghea kuncir satu.


Tangan bergantung di samping tubuh perlahan digerakan Ghea untuk kemudian mengusap perut besarnya. Tidak ada yang membuat Ghea bahagia sekarang ini selain anak di dalam kandungan yang berhasil dipertahankan.


Tanpa sadar, bibirnya tertarik lebar, memiringkan tubuh lalu menatap dirinya yang menyamping dari pantulan. Ghea menggerakkan tangannya naik turun di atas perut.


Senyumnya begitu tulus Ghea pancarkan. Mungkin ini hal pertama lagi setelah kepergiannya Papa wajah cantik itu selalu terlihat murung. Bahkan senyum pun seakan terpaksa.


Diembuskan Ghea nafas lewat hidung. Ngomong-ngomong ini adalah bulan ke delapan untuk kandungannya. Tapi, Ghea sama sekali belum mempersiapkan perlengkapan apapun untuk sang calon bayi. Kamar dan segalanya Ghea seolah melupakan. Ia terlalu larut dalam kesedihan.


Padahal sering kali Gery mengajaknya berjalan-jalan. Tetapi, selalu ditolak Ghea dengan dalih berbelanja online.


Mungkin sekarang tidak ada salahnya untuk Ghea menghubungi Gery. Meminta lelakinya itu untuk menemani. Walau nantinya cowok itu sibuk, Ghea akan meminta izin untuk pergi sendiri saja.


Lalu, dilangkahkan kakinya menuju nakas di samping tempat tidur, mengambil hand phone untuk kemudian mengirim pesan pada lelaki yang selalu berusaha membuatnya bahagia.


**


Di sisi lain.


Layar datar di atas meja terbuka. Dokumen-dokumen yang menumpuk membuat Gery sibuk dibuatnya. Ia membuka dokumen satu ke yang lainnya. Mempelajari lalu setelah itu atensi Gery akan beralih pada laptop berwarna silver dengan penampilan layar putih dan semua catatan-catatan pekerjaan.


Sesekali Gery akan menggaruk pelipis menggunakan jari telunjuk serta kerutan di dahi akan terlihat saat ada catatan tidak sesuai dengan yang seharusnya. Lalu, cowok itu akan mengesah frustasi.


“Mereka becus bekerja gak, sih?” pekik Gery menahan nafas seraya menarik punggung untuk bersandar. Kelopaknya dipejamkan sesaat untuk sedetik saja menenangkan semua pikiran jemu yang selalu bersarang di sana.


Semuanya tentanv Ghea.


Siapa lagi memangnya?


Wajah tampan bersama kelopak mata tertutup itu mendongak menatap ke langit-langit ruang kantor. Kedua tangan disimpan Gery di tangan kursi dengan nyaman.


“Aku kangen tawa kamu, sayang,” lirih Gery berucap.


Selama empat bulan terakhir, Gery memang belum lagi melihat mulut itu mengeluarkan suara tawa yang manja. Yang mampu membuat debar jantungnya menggila. Ghea memang tersenyum untuknya. Tapi, Gery tahu jika itu Ghea lakukan terpaksa.


It’s okay! Tidak masalah. Gery akan selalu berusaha membuat tawa di wajah cantik itu kembali ia dengar. Dan setelah itu Gery berjanji akan membuat rumah mereka selalu diisi dengan tawa Ghea seorang.


Sebelum pintu ruangan berukiran elegan itu diketuk dari luar untuk selanjutnya terbuka.


“Maaf, Pak.” Airin berdiri di celah pintu yang terbuka itu. Tangan berjari lentiknya memegang handle.


Gery menarik nafas sebelum membuka kelopak indahnya. Ia menarik dirinya dalam kesadaran dari bayang-bayang senyum dan wajah Ghea.


“Hem…” gumamnya sambil mendudukkan dirinya kembali tegak dan kepalan kedua tangan tertaut di bawah dagu. “Kenapa, Rin?” Suara itu selalu terdengar dingin.


“Saya Cuma—“


“Sebentar!” Gery menyela ketika hand phone yang tersimpan di samping laptop itu berkelip menandakan ada satu pesan masuk. Lalu tangannya terulur untuk meraih. Membuka lock hand phone itu kemudian.


Wajah Gery tampak bersinar. Seperti sinar matahari pagi yang masuk ke dalam kamar saat gordengnya ia buka. Kilatan mata itu berseri bahagia. Ia seperti remaja yang baru mengenal cinta.


Ghea


Kamu sibuk gak Mas? Aku ingin ajak kamu lunch di resto depan kantor kamu.


Mendapat kesempatan itu membuat Gery langsung menarikan jari di atas layar untuk mengetik balasan.


Gery


Tentu. Jika pun aku sibuk, aku akan meluangkannya untukmu. Emm … apa perlu aku jemput ke rumah?


Saking bahagianya Gery sampai lupa jika Airin masih mematung di sana. Memperhatikannya dengan perasaan yang lagi-lagi terluka.


Well. Airin mengakui jika perasaannya pada Gery bukan hanya sekedar mengagumi semata. Tetapi, rasa itu tubuh dengan sendirinya.


Airin tidak bisa menyalahkan hatinya sendiri. Kendati, semuanya timbul begitu saja tanpa Airin duga dan jujur, ia juga merasa kecewa sekaligus pada dirinya.


Mengapa bisa hati Airin menaruh perasaan pada lelaki yang sudah beristri. Seharusnya, Airin kubur dalam-dalam rasa itu, bukan? Tapi justru semakin dalam Airin mencoba mengubur, semakin dalam pula rasa itu timbul.


Airin berdehem pelan. Gery tersentak dari rasa membuncahnya. Cowok itu menggenggam hand phone seolah itu adalah tangan Ghea.


“Ah, sorry, Airin. Saya— eum … ya, ada apa?” Barulah Gery mengalihkan atensi lagi pada wanita dengan perut besar yang masih berdiri di ambang pintu.


Sama besarnya seperti perut Ghea.


“Maaf, Pak. Saya Cuma mau mengingatkan anda untuk hadir ke acara pameran lukisan yang di adakan di hotel Raffles.” Cengkraman jemari Airin di handle pintu mengencang. Buku-buku putih di jari pun sampai mencuat.


“Ya, Pak.” Tapi masih dapat Airin dengar meski keduanya berjarak. Airin terlalu peka oleh suara merdu yang selalu menggetarkan debar di jantungnya meski suara itu sering terkesan seperti es.


“Jam berapa?" Karena kalau sekarang, Gery akan rela membatalkan undangan itu demi lunch bersama dengan Ghea.


“Jam delapan malam,” ujar Airin. Dengan harapan Gery akan mengajaknya.


Sial!


Untuk apa Airin berfikir sampah seperti itu? Cowok yang duduk di kursi kebesarannya tidak akan mungkin mengajaknya. Memang, siapa dirinya?


“Hem.”


Dianggukan Airin kepalanya samar. Menutup pintu berwarna coklat tua itu, membekaskan luka serta kecewa. Sebab wajah Gery setelahnya hanya menatap layar hand phone meski bibir itu mengukir senyum.


Senyum yang Airin tahu bukan tertuju padanya. Dan mengetahui kenyataan itu membuat luka di hatinya semakin menganga lebar.


Airin perlu mengutuk dirinya untuk hal satu ini. mengagumi bahkan memendam rasa untuk lelaki yang sudah berstatus suami orang.


Ia duduk di kursi kerja dengan perasaan bersalah pada wanita dari istri lelaki yang ia sukai. Ghea.


Mengetukkan kening pada meja kerja bersama kedua tangan mengepal. “Bodoh kamu Airin…”


**


Cuaca Jakarta siang ini sedikit berbeda dari hari kemarin. Matahari nampak menumpahkan semua sinarnya dari atas langit. Semesta seolah mengerti bahwa ada rasa yang juga tengah mulai diterima tanpa adanya penyangkalan.


Mungkin, sedikit demi sedikit Ghea bisa menerima kepergian Papa dengan hati lapang serta ikhlas. Ia turun dari taxi online yang di ordernya. Melangkahkan kaki jenjang menuju pintu masuk restoran dengan perasaan berbeda pula.


Dirogoh hand phone yang tersimpan di tas kecil. Berniat untuk memberikan pesan pada Gery bahwa dirinya telah sampai. Namun, dengan tidak sengaja benda canggih terlepas dari genggaman kemudian jatuh ke atas lantai. Tepat di pintu masuk berbahan kaca tebal.


“Maaf,” kata si pelaku. “Gak sengaja,” lanjutnya lagi sambil memasukan hand phone miliknya ke dalam kantong saku formal. Lalu pelaku itu membungkuk mengambilkan hand phone Ghea.


Ghea mematung. Sedikit kesal. “Terima kasih.” Namun, kekesalan itu segera Ghea hilangkan dan berganti dengan bibir mengukir senyum kecil, saat hand phone miliknya sudah berada kembali di tangan dengan si pelaku yang mengambilkannya dari lantai sebagai perminta maafnya.


“Sekali lagi maaf, saya nggak sengaja.” Dia. Pelaku itu seorang cowok dengan wajah rupawan. Menampilkan wajah ramah serta senyum yang tersungging di sudut bibir.


“Iya. Tidak apa-apa,” kata Ghea berusaha bersikap baik di hadapan orang ini.


Kemudian, maya cowok itu turun pada perut Ghea yang besar. “Bener loh, kamu gak papa? Perut kamu atau—“


“Saya tidak apa-apa.” Ghea menyela cepat, mengeluarkan nafas dari rongga paru-paru. Ditarik lagi Ghea kedua sudut bibirnya hingga senyum terlihat walau itu samar-samar.


Dianggukan kepala cowok itu sembari tersenyum kemudian.


Ck. Sepertinya cowok ini begitu murah senyum. Tapi, Ghea tidak tertarik dengan senyum itu. Kepalanya fokus pada ingatan wajah cowok ini yang seakan familiar. Sepertinya Ghea pernah berpapasan dengan cowok ini. Tapi dimana? Ghea lupa.


“Bagus deh kalau kamu gak papa. Biar saya juga gak digebukin orang-orang sini karena sudah menyakiti wanita hamil. Hehe…” Lalu cowok ini tertawa lagi berusaha membuka lelucon yang tidak Ghea tanggapi. Malah Ghea menggelengkan kepala dan berdecak. Dilangkahkan kaki masuk ke dalam restoran lalu menghubungi Gery bahwa ia sudah sampai. Duduk di meja kosong dekat dengan jendela yang menampilkan pemandangan luar kemudian.


Seorang waiter menghampiri meja Ghea lalu menyodorkan buku menu kemudian. “Mau pesan apa, Bu?" tanyanya tersenyum ramah.


Yang dibalas tak kalah ramah dari Ghea dengan senyum tersungging. “Hot chocolate aja dulu, ya, Mbak. Makanannya nanti saya panggil lagi. Saya lagi nunggu seseorang dulu soalnya," kata Ghea tersenyum manis. Membuat siapa saja yang melihat senyum itu pasti akan merasakan keteduhan luar biasa.


“Biak, Bu.” Waiter itu mengangguk dan berlalu kemudian.


Tatapan Ghea setelahnya beralih keluar jendela. Di sana, selain terik dari sang surya terlihat nyata, gedung bertingkat tinggi pun terpampang jelas bersama lambang besar yang menjadi logo dari perusahaan Putra Grup. Ghea tersenyum menatap lambang perusahaan berwarna perak dengan diukir indah itu. Sangat jelas terlihat dari tempatnya Ghea duduk.


“Permisi, Bu." Seorang waiter yang berbeda menghampiri. Membawa cangkir berbahan keramik du atas baki. “Pesanannya, Bu,” ucapnya lagi seraya menyimpan cangkir berisi coklat panas.


“Terimakasih," sambung Ghea. Tidak lupa juga ia berikan seulas senyum menawan.


Diraih gagang cangkir mungil untuk kemudian Ghea sesap isinya. Ia harus meniupnya lebih dulu karena coklat itu masih mengeluarkan uap panas. Setelahnya, dipejamkan mata Ghea. Ia tidak buru-buru menyimpan kembali cangkir. Namun, yang Ghea lakukkan adalah menghirup aroma dari coklat yang begitu menenangkan emosi pikirannya. Damai serta rileks seketika menjalar di tubuh melewati setiap saraf dan aliran darah di nadi.


Kelopak itu masih menutup dan Ghea masih menghirup aroma coklat panas tersebut. Dirinya terkenut saat pipinya tiba-tiba mendapat kecupan hangat.


.


.


.


.


To be continued