Married With Teacher

Married With Teacher
Uncovered 2


...Jika sesuatu harus sudah terjadi, maka tidak akan yang bisa mencegah. Namun, yakin dan percayalah jika tanganku akan selalu menggenggam tanganmu....


...Gery Mahardika Putra...


...****...


“Ghe …,”


Suara itu lembut dan lirih. Pak Gery membuka pintu yang bertuliskan kepala sekolah di sana. Hal pertama yang Pak Gery lihat adalah tubuh Ghea yang terduduk di single sofa. Wajahnya menekuk dengan semua jari yang saling tertaut. Di sana juga ada Chacha yang berdiri di samping Ghea. Sesuai perintah dari sang bos, Chacha benar-benar tidak meninggalkan Ghea dan tidak membiarkan Ghea keluar dari sana.


Tidak tega. Benar-benar tidak tega melihat raut wajah Ghea yang muram. Pak Gery sangat menyesalkan, kenapa tadi saat Ghea berangkat sekolah tidak ia temani atau setidaknya Pak Gery yang antar lebih dulu sebelum menuju kantornya?


Tubuh Pak Gery lebih masuk ke dalam. Menghampiri Ghea dan langsung membawa cewek itu ke dalam dekap hangatnya. Lalu pintu itu segera Chacha tutup kembali karena diluar sana banyak murid yang ingin mengintip. Lebih tepatnya mereka kepo.


Mereka saling berbisik, tindakan apa yang akan dilakukan Pak Kepsek pada Ghea dan Pak Gery? Apa Ghea akan di DO dari sekolah dan Pak Gery tentu saja akan dipecat?


"Gak papa kan?" Pak Gery bertanya seraya mengusap belakang kepala Ghea.


Kepala Ghea menggeleng dalam pelukan itu.


"Maaf, Pak Gery, saya tidak bisa mencegah hal ini." Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Pak Kepsek setelah tadi hanya diam. Sebab beliau tidak berhak untuk menghakimi Ghea dan Pak Gery.


Kenapa sampai seperti itu?


Karena sudah dikatakan sebelumnya jika yayasan sekolah Garuda itu adalah yayasan milik keluarga Pak Gery. Yang artinya Pak Gery lah yang berkuasa untuk melakukan tindakan hal apapun.


Tolong catat!


Apa pun.


Lantas Ghea menjauhkan kepalanya yang menempel pada perut Pak Gery. Kemudian berpaling menatap Pak Kepsek dengan bingung.


Kenapa malah Pak Kepsek yang meminta maaf pada Pak Gery? Harusnya kan Pak Kepsek langsung saja memberi sanksi pada keduanya.


Pertanyaan itu singgah di kepala Ghea.


Pak Gery yang mengerti arti tatapan kebingungan Ghea, cowok itu berjongkok dengan satu kaki yang terlipat dan satu lutut menyentuh lantai..


"Ghe …" bibir Pak Gery bergetar memanggil seraya meraih kedua tangan Ghea.


Pun dengannya yang langsung mengalihkan atensinya. Lalu pandangannya menunduk menatap Pak Gery.


"Mas, Pak Kepsek kok malah minta maaf sama kamu?" tanya Ghea pada Pak Gery pelan. Lebih tepatnya berbisik.


Dan entah itu untuk mengalihkan rasa marahnya pada pelaku penyebar foto atau memang benar niatnya ingin bertanya demikian. Ghea justru kembali menunjukan wajahnya yang biasa saja. Seolah wajahnya itu berkata 'whatever kalau gue di DO dari sekolah. Tinggal pindah aja, gampang kan?'


Pak Gery membuka mulutnya. Ia akan menjawab. Namun, sebuah ketukan dari luar membuatnya urung dan menoleh pada daun pintu yang dibuka oleh Pak Ghani.


"Maaf, Pak, apa kami boleh masuk?" tanya Pak Ghani. Juga dua orang guru yang berdiri di belakang punggungnya. Mungkin mereka juga kepo akan tindakan apa yang nantinya diberikan oleh Pak Kepsek untuk suami istri itu.


Pak Kepsek tidak langsung menjawab. Dia malah mengalihkan pandangannya pada Pak Gery. Sebagai gestur bertanya dikasih izin apa nggak?


"Ya silahkan." Saat melihat mata Pak Gery mengedip.


Duh kedua cowok beda usia itu malah main kode-kodean segala. Membuat semua kepala yang ada di ruangan itu terlihat bingung.


Ada apa dengan Pak Gery dan Pak Kepsek?


Seolah di atas kepala mereka muncul tanda tanya yang besar.


Dan lebih parahnya, murid-murid yang ada di depan ruangan kepsek itu, yang kepo, semakin heboh saja ketika melihat Pak Gery yang berjongkok di depan Ghea.


"Anjirrrr, jadi bener si Ghea ada hubungan sama Pak Gery. Lihat noh doi pake berlutut segala. Busettt dah. Mana ada bininya lagi di dalem." Celetuk salah satu murid cowok dengan keras. Kepalanya yang menyembul dari balik punggung salah satu guru membuatnya dapat melihat suasana di dalam ruang yang selalu anti dimasuki setiap murid itu.


"Bakal rame dong. Si Ghea bakal di DO atau gimana nih jadinya?" Lalu yang lain ikut menimpali seraya kepala yang bergerak ke kanan dan ke kiri. juga dengan kedua kaki yang berjinjit agar dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di dalam.


Adalah cewek yang berucap pedas itu ternyata ketua dari fans klubnya Pak Gery yang fanatik. Pantas aja itu mulutnya gak bisa difilter. Udah seperti yang dikasih bon cabe level tinggi aja dej. Pedes gilaaaa.


“Heh …” Bahu cewek bermulut pedas itu disentak oleh tangan seorang cowok yang tak lain adalah Reza. “Lu cewek bukan, sih? Mulut lo itu udah kaya gak sekolah aja tau gak.”


“Za, lo apaan, sih? Malu tahu dilihat banyak orang.” Ocy menyentuh bahu sang pacar. “Udah. Mending balik aja yuk ke kelas. Nanti kalau urusan Ghea udah kelar kita tenangin dia!” Kemudian membujuk.


“Uluh-uluh … ini nih, kayaknya bakal jadi calon cowok yang direbut pelakor,” sahutnya yang ditujukan pada Ghea.


“Cy, mending lu hati-hati sama sohib lu itu, deh! Jangan sampai nantinya pagar makan tanaman. Bisa-bisa lu gantung diri di gudang sekolah. Lihat aja kan sekarang, cowok lo bela-belain tuh pelakor daripada dengerin apa yang lo bilang?” ucapnya lagi dengan sangat sinis yang sontak membuat amarah Reza kembali tersulut.


“Mulut lo emang gak sekolah, ya.” Lalu Reza mengepalkan kedua tangannya kuat. Dan terlihat oleh Ocy saat pandangannya menunduk.


“Yang sekolah itu otak, oy. Makanya semua orang bisa mikir karena otak mereka sekolah. Bukan kaya pelakor itu yang otaknya memang gak sekolah.”


Oh sungguh, baik Reza, Pak Gery dan bahkan Tama yang selaku sahabat dunia akhirat Ghea, mendengar cewek itu menghinanya tentu Tama tidak akan terima. Walau kenyataannya Tama belum tahu gosip yang sekarang sedang hot itu benar atau cuma hoax doang.


“Mulut lu tuh, ya …” Kali ini Tama yang membela. Menunjuk wajahnya sebelum mengepalkan tangannya di depan wajah cewek itu. Tama tidak ingin hilang kendali lalu menonjok mulut tuh cewek.


“Ow ow owww …” Cewek itu menarik kepalanya ke belakang. So kaget aja gitu. “Takut gue, Tam.” cicitnya seraya mengangkat kedua tangannya ke udara.


Entah bagaimana awalnya, dan siapa yang memulai. Tiba-tiba saja semua murid yang ada di depan ruang kepala sekolah unjuk rasa seperti yang sedang demo saja. Mau itu murid cewek ataupun cowok, mereka seakan ingin Ghea dikeluarkan dari sekolah ini.


“Udah Do aja Ghea dari sekolah ini, Pak!”


“Sekolah kita tuh anti pelakor!”


“Pecat juga Pak Gery, Pak!”


Jika kalimat yang mengatakan Ghea harus keluar dari sekolah ini, dari mulut para siswi. Berbeda dengan kalimat yang ingin Pak Gery dipecat, itu keluar dari mulut para siswa.


Mendengar teriakan dari setiap mulut di depan sana membuat Pak Gery geram. Sudah dari tadi sebenarnya Pak Gery ingin bertindak. Sejak seorang cewek yang mencibir Ghea dengan kalimat-kalimat pedasnya. Karena Ghea yang menahan. Dan sekarang tidak lagi.


Pak Gery melepaskan tangan Ghea seraya berdiri. Ia berjalan dengan kedua tangan yang mengepal menuju depan pintu.


Kontan, tindakan Pak Gery yang demikian itu membuat beberapa guru yang ada disana dan Pak kepsek tentunya melipat keningnya dalam. Sudah was-was saja mereka dengan apa yang akan Pak Gery perbuat.


“Cha, lo tahan Mas Gery, gih!” Ghea menghampiri Chacha lalu memohon padanya dengan kedua tangan yang merangkul sikut Chacha. Jujur perasaan Ghea tiba-tiba saja tidak enak. Sampai keningnya mengeluarkan keringat dingin.


“Saya gak bisa bertindak apa-apa sebelum Pak Gery mengintruksi saya.”


Ghea hanya mampu menghela nafasnya bersama rasa takut menghimpitnya. Lalu dipererat lah pelukan tangan Ghea pada siku Chacha.


“Eh-eh, gue tuh aneh tau gak.” bisik salah satu murid lain pada temannya yang melihat kedekatan Ghea dan Chacha.


“Aneh napa, lo?” Yang ditanggapi oleh temannya itu.


‘Itu, tuh. Lo lihat deh Ghea sama bininya Pak Gery, Kok deket, ya? Sampai tangan si Ghea ngerangkul gitu. Jaman sekarang ya, kok ada pelakor yang akur sama istri sahnya?”


“Eh, iya yah.” Timpalnya yang dengan bingung harus jawab apa.


Kini Pak Gery sudah berdiri di depan semua murid. Menatap semua mata yang ada disana satu persatu lalu dengan gaya santainya mengantongi kedua tangannya pada saku celana kain berwarna hitam yang sangat pas menutupi kaki panjangnya.


...TBC...


Ya pokoknya gitu ya gengs ... Aku gak tahu bab ini bakal pada suka apa nggak. Tapi ya pokoknya itu aja yang ada di kepala aku mah. Maafkeun kalau kurang euh gitu. Ya gitu, kan aku bukan penulis hebat... hihiiii


Doain aja semoga nanti bisa jadi penulis kaya Bunda Asma misalnya. Walau tulisannya masih amburadul. Moga kedepannya bisa lebih baik ya gengssss. hihiiiiii


Seizy


si penulis rengginang yang gitu pokoknya ... Sayang kalian. Udah gitu aja. Tanpa akhir. Catet ya!!!!