
...Rasanya aku selalu ingin merasakan jantung yang berdebar seperti ini. Karena ini terlalu sangat menyenagkan hanya untuk dirasakan....
...Ghea Virnafasya...
...****...
Seharusnya sekarang ini Ghea dan Pak Gery sedang berjalan bergandengan. Saling menautkan jari lalu tenggelam dalam romantisnya cinta yang baru beberapa bulan ini terjalin. Seraya menelusuri pantai dengan deburan ombak besar dan angin yang bertiup kencang. Atau bahkan bermain pasir. Membuat sebuah istana atau melukiskan nama mereka di pasir yang akan berakhir diterpa air laut lalu kembali menuliskannya lagi.
Bukan justru berakhir dengan Ghea yang hanya duduk di bangku rotan panjang tepat dirinya yang berteduh dibawah pohon besar dengan daun yang rindang. Pak Gery berlutut di depannya. Bukan jenis berlutut yang kalian harapkan seperti apa. Pak Gery tengah mengobati lutut Ghea yang luka karena tadi saat ia akan menyebrang di parkiran sebuah motor dengan tiba-tiba saja menyerempetnya. Menyebabkan tubuh Ghea tersungkur di jalan aspal.
Yang Pak Gery sialkan. Kenapa ia tidak menarik saja pengendara itu. Memukulnya keras karena sudah berani membuat sebagian tubuh gadisnya terluka. Disengaja atau pun tidak.
"Ini bener gak papa?" Pertanyaan itu sudah kelima kalinya mungkin terucap dari mulut Pak Gery yang jawabannya selalu Ghea berikan dengan kalimat yang sama. "Gak papa, Mas."
Karena Ghea menolak untuk diajak ke rumah sakit.
"Aku khawatir loh ini," sahut Pak Gery seraya menempelkan plester pada lutut sebelah kirinya. Menutupi lukanya yang beruntung tidak seberapa itu. Namun tidak bisa dipungkiri juga jika kaki Ghea merasa terkilir. Cewek itu tidak ingin kencan sorenya ini gagal.
"Ih gemes deh aku tuh sama kamu." Ghea merapikan rambut Pak Gery yang terjatuh mengenai dahinya. "Gak papa. Udah dibilang kan."
Kepala Pak Gery mengangguk. Rasanya percuma juga memaksa Ghea untuk ke rumah sakit. "Yaudah." Dengan masih posisi yang berlutut di depan cewek itu.
Ghea menarik bibirnya untuk tersenyum, sebelum pandangannya mendapati sepasang kekasih yang masih mengenakan seragam putih abunya berjalan sambil bergandengan tangan. Terlihat begitu mesra di mata Ghea. Sesekali pasangan itu saling mengejar di sisi pantai.
"Asik banget ya kayaknya kalau lari-larian gitu?" Ucapnya. Masih dengan pandangan tertuju ke arah sepasang kekasih itu.
Lalu Pak Gery mengikuti arah pandang Ghea. Terdiam sesaat menikmati pemandangan yang jelas saja begitu menyejukan mata.
"Harusnya kita nikmati ini ya, Mas?" Pandangan Pak Gery kembali berpaling menatap wajah Ghea yang menekuk. Cemberut. "Maaf. Cuma bisa duduk aja kayak gini gara-gara kaki aku yang masih sedikit sakit untuk jalan."
Jari lentik Pak Gery meraih dagu Ghea untuk mengarahkan matanya menatapnya. "Kok jadi cemberut gini sih wajahnya? Gak papa cuma diem duduk gini juga. Yang penting kan berdua."
Saat ini Ghea merasa benar-benar beruntung memiliki suami seperti Pak Gery yang begitu sangat mengerti. "Tapi kayaknya asik main air gitu ya, Mas? Aku mau sebenarnya." Karena jujur, Ghea sangat jarang sekali bermain ke pantai. Atau lebih tepatnya setahun sekali juga tidak. Jadi ini lah tujuan Ghea kenapa sore ini sepulang sekolah Ghea mengajak Pak Gery berkencan ke pantai. Hanya untuk menikmati bermain air. Namun siapa yang akan menduga musibah akan datang?
"Jangan main air. Nanti basah seragam kamu. Gak bawa baju ganti juga kan?" Seketika hati Ghea mencelos. Ia berdecak setengah kesal. Tetapi yang dikatakan Pak Gery benar. Mau pulang dengan keadaan bagaimana cewek itu jika seragamnya basah?
"Jalan-jalan aja, gimana?"
Pak Gery gak salah nanya? Sudah tahu kan jika kaki Ghea sakit? Kok malah mengajaknya jalan-jalan?
"Mau aja sih … tapi …"
Ghea terkesiap ketika dalam berlututnya Pak Gery memutar tubuhnya. Menyerahkan punggung tegapnya itu pada Ghea. "Digendong. Mau gak?"
Tentu saja Ghea mau. Jarang-jarang kan Pak Gery menawarinya macam seperti ini?
"Yang benar saja kamu, Mas? Malu. Nggak ah." Ghea menepuk bahu Pak Gery dengan kekehan tidak percaya. Sebelum lagi kedua tangannya ditarik Pak Gery untuk melingkar di lehernya. Kemudian tubuhnya melayang bersama Pak Gery yang benar-benar menggendongnya.
Ghea tersentak. Kaget. Bersama kekehan pelan seraya terucap kata malu dengan pelan tepat di telinga cowok yang sudah melangkahkan kakinya ke tengah luasnya sisi pantai.
Pak Gery menggendongnya.
Berjalan santai dengan kedua tangan yang menopang tubuh Ghea di punggungnya. Pak Gery menikmati momen itu dengan perasaan yang tidak dapat dijelaskan dengan untaian kata atau bahkan bahasa. Ini terlalu sangat membuncah rongga dada.
"Turunin, Mas. Malu diliatin banyak orang," pinta Ghea pelan. Pandangannya mengedar karena banyaknya pasang mata yang menangkap ke arahnya. Tetapi Pak Gery tidak memperdulikan itu.
"Gak papa. Biar mereka iri." Justru menyahut seperti itu. Seolah dunia ini memang hanya ada mereka berdua saja.
Ghea terkekeh semakin mengeratkan pelukan kedua tangan di lehernya. Bersama dagunya yang ia simpan di bahu kanan Pak Gery dengan pipi keduanya yang saling bersentuhan.
"Mas." Ghea memanggil.
Langkah Pak Gery terus berjalan santai. Menyisir sisi pantai. "Kenapa?"
Dalam langkahnya Pak Gery mengernyit. "Buat?"
Dagu Ghea beralih dari yang awalnya ia simpan di bahu kanan Pak Gery kini menopang di bahu kirinya. "Buat ngerasain debaran yang selalu menggila saat aku lagi sama kamu." Ghea terkekeh dengan kalimatnya sendiri. "Rasanya selalu aneh dan selalu membahagiakan. Makasih ya." Kemudian di kecuplah pipi kirinya lama.
"Makasih kamu selalu buat pipi aku kesemutan karena terus tersenyum." Lanjut Ghea kemudian.
Bukan hanya Ghea saja yang merasa jantungnya selalu berdebar. Pak Gery pun sama. Ia selalu merasakan hal itu sejak kali pertama ia melihat Ghea di bioskop waktu lalu. Saat itu Pak Gery yang baru beberapa hari pulang dari luar negeri.
Ngomong-ngomong soal itu Ghea belum tahu, ya. Jika Pak Gery yang sebenarnya sengaja menghampiri Ghea saat melihat kaki cewek itu yang menginjak kulit pisang. Secepat mata Pak Gery mengedip, secepat itu pula dirinya tidak ingin tubuh Ghea terjerembab di lantai. Jadi yang dilakukan olehnya adalah menjadi penopang untuk tubuhnya sampai sebuah tindihan itu terjadi.
Jika mengingat hal itu membuat Pak Gery tersenyum geli.
"Kenapa?" Kali ini Ghea yang bertanya karena melihat bibir Pak Gery yang tertarik lebar.
"Aku juga."
"Hah?" Sesepontan itukah Ghea bergumam karena tidak mengerti dengan 'juga' apa yang dimaksud Pak Gery.
"Selalu merasakan berdebar kalau lagi sama kamu. Apalagi kalau malam."
Lali keduanya tergelak dengan Ghea yang masih Pak Gery gendong. Dan langkah Pak Gery yang tidak berhenti menyisir setiap sisi pantai. Sesekali cowok itu menendang pasir hingga bertabur setengah ke udara. Sampai tidak terasa langit senja pun sudah mulai berubah hitam.
Biarkan lah keduanya merasakan debaran yang sama saat ini sampai pada nanti Tuhan akan memberinya cobaan dengan alasan Tuhan ingin Ghea dan Pak Gery selalu tetap sabar. Karena hidup memang tidak luput dari semua itu bukan?
Sampai pada Pak Gery memasukan mobilnya melewati gerbang rumah yang menjulang. Lalu pandangan keduanya terkesiap ketika menemukan dua orang yang sepertinya sedang menunggu kedatangannya.
"Wisshhh … pantes lama gue tungguin. Rupanya perginya sama Ghea." Serobot Ilham saat sang pemilik rumah itu keluar dari mobil. "Hai, Ghe." Lalu menyapa cewek yang berjalan dibantu Pak Gery yang memegangi kedua bahunya.
"Hai juga." Tersenyum ramah, Ghea membalas menyapa. Namun wajahnya sedikit canggung karena melihat siapa yang datang bersama Ilham.
"Ngapain lo ajak dia ke rumah gue?" Seraya bertanya pada Ilham dengan tatapan nyalang, Pak Gery mendudukkan Ghea di kursi yang terletak di sudut pintu masuk.
"Sans dulu, Bro!" Tangan Ilham menyentuh bahu kiri Pak Gery. "Gak izinin kita buat masuk dulu apa nih?"
"Nggak!"
Karena bisa jadi haram bagi dia menginjakkan kakinya masuk ke dalam rumahnya.
Ilham merasa tidak enak pada orang yang berdiri di sampingnya. Terlihat jelas dari Ilham yang menoleh padanya setelah kata penolakan dari Pak Gery.
"Lo bawa pergi dia dari sini sekarang, atau gue yang akan paksa dengan kasar?"
"Mas." Ghea menegur.
"Ham." Pak Gery menghela nafas beratnya. "Sekarang!" Tekannya karena tidak ingin Pak Gery meluapkan amarahnya yang selalu mencapai ubun-ubun ketika melihat wajah Dita yang sekarang tepat berdiri di hadapannya.
...TBC...
Hai aku menyapa.
Selamat sore menjelang malam?
Cuma mau minta sesuatu boleh?
Kalau boleh,
Boleh gak aku minta komentar positif kamu yang selalu buat aku semangat? karena aku lagi ingin baca komentar yang selalu buat aku merasakan berdebar saat baca komentar kamu.
Seizy
Si kang ngetik amatir yang semoga kamu merasa ikut debaran hebat saat membaca part ini. Komen and like. ILY