
.
.
.
Sebulan berlalu. Kini mereka sudah kembali sibuk dan mulai menjadi mahasiswa di universitas ternama. Keland pun sudah kembali pada perusahaannya untuk mengurus semuanya dan segala hal pun berjalan seperti biasa.
Melisa dan Keland masih sering bertengkar kecil hanya karna hal sepele, tapi tetap saja akan berbaikan kembali tak lama setelahnya. Bagaimana tidak? Tak satupun dari mereka yang tahan diam-diaman. Karna itulah selalu saja ada yang mengalah diantara mereka. Dan kebanyakan itu Keland, dia harus lebih bersabar menghadapi Melisa yang keras kepala.
"Kak, Dirsya kembali yah dari LA?" tanya Melisa tiba-tiba membuat Keland yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya pun berpaling menghadapnya.
"ia, kenapa?" tanya Keland
"Gak papa, tadi aku cuma dengar mama cerita sama aku. Katanya Dirsya yang akan ambil alih sekolah. Memangnya Dirsya tidak kuliah?" tanya Melisa penasaran.
"Ia, dari awal memang sekolah itu sudah aset Dirsya, hanya saja dia masih sekolah dan sibuk mencari ibunya makanya sementara aku yang menangani kemarin. Sekarang dia sudah lulus, berarti dia yang mengambil alih kembali. Dirysa nanti pasti kuliah, tapi dia bisa kok nanganin sekolah itu. Dirsya itu pintar," jelas Keland membuat Melisa mangguk-mangguk saja tanda mengerti.
"Oh yah kak, tadi di kampus kami di kasi tugas buat acara sosial gitu ke panti. Trus kami tadi ke panti peduli anak. Disana aku lihat ada bayi lucu kak, aku jadi ingin cubit-cubit, tapi di larang sama ibu pantinya. Padahal aku suka sekali sama bayi. Enak yah kak kalau punya bayi sendiri, bisa cubit-cubit sampe puas," ucap Melisa sambil terkekeh. Tak sadar jika Keland hampir tersedak mendengarnya.
"Memangnya kau sudah siap jadi ibu? Kau kan masih kuliah." ucap Keland membuat Melisa terdiam berfikir.
"Aku mau kak, kita bikin bayi yah. Please... " mohon Melisa membuat Keland menatapnya tak percaya. Melisa jadi bertingkah sedikit aneh.
"Kak-kakak gak mau yah bikin aku hamil? Ya udah kalau kakak gak sudi bikin aku hamil. Nanti aku cari orang lain yang bisa bikin aku hamil" ucap Melisa ngambek membuat Keland gelagapan seketika saat mendengar perkataannya.
"Aku mau... Aku mau" ucapnya kemudian dengan cepat tanpa sadar. Mana sudi ia membiarkan orang lain menyentuhnya Melisa hanya untuk membuatnya hamil? Itu tak akan pernah terjadi.
Melisa pun tertawa senang mendengarnya. Ia bahagia hingga ia naik ke pangkuan Keland kemudian segera mencium bibir suaminya.
Jujur, saat ini Keland merasa aneh dengan sikap Melisa yang tiba-tiba sangat agresif seperti ini. Tapi ia suka Melisa seperti ini.
Akhirnya kedua manusia itupun berciuman dengan sangat panas hingga......
"Dok hayyo dok cepat, tangani istri saya. Dia berdarah, kau harus menyelamatkannya" ucap Keland panik luar biasa kepada seorang dokter yang baru datang dan masuk ke ruangan UGD dimana Melisa di bawa. Sang dokter pun menyuruhnya keluar agar ia memeriksa Melisa yang saat ini terus meringis kesakitan. Kakinya berdarah, bukan darah kaki. Lebih tepatnya darah yang mengalir ke kakinya. Saat ini ia pendarahan entah kenapa.
"Dok, selamatkan istri saya. Kau harus menyelamatkanya. Dia tak boleh kenapa\-napa" ucap Keland terus sembari ia di giring keluar oleh beberapa suster karna sedari tadi ia tak mau keluar. Ia tak tega membiarkan Melisa yang terisak meringis kesakitan sendiri.
Setelah sampai di luar ia tak bisa tenang. Terus saja ia mondar\-mandir tak jelas. Ia menyesal, ini semua salahnya. Apakah ia terlalu kasar tadi hingga Melisa berdarah seperti itu? Arghhhh.... Mengapa ia tak bisa menahan diri?
"Keland, bagaimana keadaan Melisa? Mengapa ia tiba\-tiba masuk rumah sakit semalam ini?" orang tuanya datang, dan yang bertanya tadi adalah sang ibu yang panik.
Memang tadi ia sempat menghubungi mereka karna ia panik dan tak tau mengapa Melisa tiba\-tiba berdarah ketika mereka sedang melakukan itu.
"Aku tidak tau ma, kita tunggu dokter saja" ucap Keland lemas. Ia sangat takut sekarang, ia tak akan pernah mamaafkan dirinya jika terjadi sesuatu pada Melisa.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Keland cepat.
"Boleh ikut saya pak?" tanya sang dokter. Dan Keland pun dengan cepat mengangguk kemudian mengikuti langkah sang dokter. Sepertinya dokter tersebut menuju ke ruangan pribadinya.
"Maaf pak Keland, apa boleh saya bertanya apa yang kalian lakukan hingga nona Melisa seperti ini?" tanya sang dokter sukses membuat wajah Keland memerah sempurna. Apakah ia harus menjelaskan detailnya?
Padahal dokter itu tau, hanya saja ia ingin memastikan sendiri.
"Tadi kami berhubungan dok. Tapi biasanya tidak seperti ini," ucap Keland akhirnya. Ia tak mungkin berbohong, ini semua demi kesehatan Melisa.
"Berhubungan intim saat hamil muda seperti ini agak berbahaya. Di tri semester pertama ini tak disarankan karna bisa menyebabkan keguguran, apalagi jika terlalu keras. Beruntung nona Melisa cepat di bawa kemari dan ia hanya pendarahan kecil, tapi bisa saja ia kehilangan nyawa nya juga. Karna itu lah saya sarankan agar kalian bisa menahan diri setidaknya hingga usia kandungannya 4 bulan" jelas sang dokter berhasil membuat Keland terdiam mencerna setiap perkataan sang dokter.
Hamil? Melisa? Ia masih belum paham.
Apakah maksudnya Melisa hamil anaknya? Hamil?
Astagaa Melisa hamil, ia sangat senang karna pada akhirnya ia sadar kembali. Melisa hamil, ia tak menyangka dan ia sangat bahagia. Ingin sekali ia teriak dan melompat bahagia kini, sebentar lagi ia akan jadi seorang ayah. Mereka akan jadi orang tua, dan itu sangatlah berita yang menakjubkan.
"Istri saya hamil dok? Ya Tuhan aku akan jadi ayah" teriaknya tak sadar membuat sang dokter tersenyum sendiri melihat tingkah konyolnya. Bukan kali pertama ia melihat calon ayah akan berekspresi seperti ini, apalagi calon ayah anak pertama. Tapi baru kini ia melihat wajah Keland yang tentu saja ia tau pengusaha hebat ini selalu menjadi topik hangat, dan saat ini bertingkah konyol di hadapannya, menurutnya itu langka.
"Lalu apa yang harus saya lakukan dok? Katakan apa saja yang harus saya lakukan untuk istri saya?" tanya Keland menggebu\-gebu bahagia.
"Kau hanya perlu menemaninya dengan setia dan menjadi suami siaga pak Keland, penuhi semua ngidamnya, jangam biarkan istri anda terlalu lelah dan banyak fikiran. Agar bayi anda selalu sehat, dan bawalah ia cek kemari setiap bulannya" ucap sang dokter sembari tersenyum, dan Keland pun dengan semangat mengiyakan.
"Dan tolong jangan ulangi lagi kegiatan kalian tadi hingga usia kandungannya cukup" ucap sang dokter mengingatkan membuat Keland pun jadi tersenyum kikuk bercampur malu.
Semua yang mereka lakukan tadi kan agar membuat Melisa hamil, dan ia tak tau jika ternyata Melisa sudah keburu hamil dulu. Pantas saja Melisa bersikap aneh dan jadi agresif tadi.
....