
BTW ini maaf kalau gak ngefeel. Aku ngetik langsung Up aja tanpa edit dulu. Nanti kalau ada kesalahan tulis aja di kolom komentar. Biar nanti kalau udah sans aku revisi.
Happy reading ...
**
Sumpah demi apa pun. Saat ini Ghea hanya mampu mengerjapkan matanya aneh di depan wajah Pak Gery. Bersama dadanya yang berdesir hebat. Juga jari-jemarinya yang mencengkram kuat pinggiran kemeja Pak Gery yang ujungnya dimasukan ke dalam celana hitam formalnya.
"Gak perlu saya kasih alasan lagi kan ke kamu kenapa saya mau cepat-cepat menghalalkan kamu, Ghea?" Beritahunya saat bibir tebal merah itu melepaskan kecupan dari bibir Ghea.
Ghea masih bergeming. Ini seolah mimpi yang nyata. Dan tentunya Ghea tidak ingin bangun dari mimpi ini secepat yang ia pikirkan.
"Malam ini kita akan menikah. Papa dan Adi sudah mengurus semuanya," ujarnya lagi yang masih di anggap guyonan oleh Ghea.
"Om Jordan dan Tante Sora juga sudah setuju."
Oke. Stop!
Sampai ini Ghea sadar. Sadar saat nama Mama dan papanya disebut Pak Gery. "Setuju?" tanyanya dengan kening yang terlipat dalam.
Beberapa jam yang lalu saat bel istirahat sudah berbunyi. Pak Gery memanggil Ghea ke ruangannya dengan alasan nilai Ghea yang tidak sesuai.
Cewek itu menurutinya. Berjalan tegang di belakang punggung Pak Gery.
"Iya. Semuanya sudah setuju." Pak Gery menggiring Ghea untuk duduk di sofa panjang yang ada di ruangan itu.
Lagi-lagi Ghea hanya mampu mengerjap. Berusaha mencerna semua kalimat yang keluar dari mulut Pak Gery.
"Tapi, Pak. Kenapa ngedadak, sih?" Ghea coba bertanya. Otaknya sudah bisa mulai mencerna.
"Mas. Poin kedua!" Bukannya menjawab pertanyaan Ghea. Pak Gery malah mengalihkan pembicaraan. Kontan saja membuat Ghea memutar bola matanya.
Ia bukan merasa tidak senang bisa menikah dengan Pak Gery - cowok yang dari awal Ghea inginkan. Namun pernikahan yang mendadak ini membuat Ghea tidak bisa berpikir dengan waras. Ia mulai berspekulasi dengan semua pemikirannya.
Pak Gery memang belum bisa jujur jika ia menikahi Ghea mendadak seperti ini karena cemburu.
Rasanya gak keren aja, jika Pak Gery bilang seperti itu. Yang ada malah jadi bahan ledekan Ghea dan semua orang di rumah. Apalagi nanti Adi. Huh, cowok itu. Jika mengingatnya membuat Pak Gery ingin melayangkan kepalan tangannya saja.
Adi itu memang sejenis makhluk yang sangat berbahaya.
Bahaya, karena suka meledek Pak Gery.
"Tapi-"
"Kamu hanya mengikuti saja. Gak usah banyak pikiran apalagi banyak nanya!" Dan suara itu kembali pada asalnya. Datar.
Ck. Baru aja gue merasa terbang ke awan karena kecupan lembut tadi. Terus gue digiring duduk. Eh sekarang macan sudah kembali lagi. Gumam Ghea mencebik kesal
"Pokoknya semuanya sudah siap. Tinggal ijab qobul aja," ujarnya lagi dengan suara datar.
"Tapi, Pak." Ghea buru-buru meralat panggilannya saat mata Pak Gery melayang tajam ke arahnya. "Mas, aku gak mau, ah. Kan perjanjiannya juga pas aku udah lulus. Lagi pula masa cuma ijab qobul doang. Gak ada pesta atau resepsi gitu? Ya ampun gak keren lah kalau nikahnya kaya gini. Aku, tuh, maunya mewah gitu. Kan nikah seumur hidup sekali." Ungkap Ghea panjang lebar. "Itu juga kalau panjang jodohnya," katanya lagi. Wajahnya berpaling saat mengatakan hal itu. Tidak ingin melihat mata Pak Gery yang sudah seperti akan menerkamnya.
"Soal resepsi gampang. Bisa di atur. Yang penting sekarang ijab qobul dulu."
Ghea mengerucutkan bibirnya sebal. Ternyata selain datar, cowok di depannya ini sangatlah keras kepala dan tidak mau mengalah. Gak ngerti banget sumpah sama jalan pikirannya. Ini waktu Tante Dian hamil Pak Gery. Dia ngidam apa, ya? Ngidamnya asam kali, ya. Jadi mukanya masam terus.
"Tapi kenapa ngedadak, sih? Alasannya, tuh, apa?" Ghea kembali bertanya. Kali ini ia tatap mata abu-abu itu dengan lekat.
"Kamu kenapa terus bertanya, sih? Tinggal nurut aja apa susahnya? Hem?"
Menekuk wajahnya. Dasar manusia tembok. Keras kepala. Hati batu. Jantung sapi. Nyebelin.
Tentu saja Ghea hanya mampu menggerutu dalam hatinya saja. Mana berani dia mengumpat Pak Gery dengan kata-kata kasar itu.
**
Di tempat lain.
Papa Dika dan Adi sedang dibuat kesal oleh Pak Gery.
Tentu saja. Keinginannya menikahi Ghea malam ini membuat Papa Dika dan Adi harus kerja keras mengurus segala macam surat-surat cinta dari Pak RT lalu menuju KUA.
Sedangkan Mama Dian dan Mama Sora sibuk mengurus kebaya yang akan Ghea kenakan. Tak lupa pakaian pernikahan untuk sang calon pengantin pria. Pak Gery.
Bukan hanya itu saja. Papa Jorda juga sibuk menghubungi kerabat-kerabatnya.
Dan untung saja ada Indah juga yang membantu acara mendadak nikah ini.
Selain membantu menghubungi kerabatnya Papa Dika dan Mama Dian. Indah juga membantu mendekorasi rumah Pak Gery.
Ternyata oh ternyata, acara ijab qobul itu bukan di kediaman Papa Dika atau pun Papa Jordan. Melainkan rumah Pak Gery sendiri.
"Anak kamu itu, Pa, dari dulu kalau udah ada maunya, detik itu juga harus dituruti kaya jajan siomay aja." Dengus Mama Dian seraya memilih kebaya untuk sang calon menantu bersama Mama Sora di ruang tamu.
"Ia. Sebelas dua belas sama kamu, Ma," jawab Papa Dika. Ia baru saja datang dari urus mengurus surat-surat ke KUA. "Bi, bikinin saya kopi pahit." Suruhnya pada ART rumah.
"Kok Papa malah ngatain Mama, sih?" dengus Mama Dian tidak suka. Jelas saja dikatain sama suami sendiri di depan calon besan. Kan malu-maluin.
"Bukan ngatain. Tapi itu paktanya, Ma." Papa Dika tidak mau kalah.
"Tapi-"
"Oke, Tan, Om. Stop, ya! Di luar lagi panas banget. Jangan dibuat panas lagi di dalam sini. Bisa kebakar entar ini ruangan lama-lama." Adalah Adi yang melerai. Jika dibiarkan pasti tidak akan kelar sampai dua hari dua malam. Kan Mama Dian sama Papa Dika kalau berantem adu mulut suka gitu. Gak tahu waktu.
Papa Dika menghela. Ia urut pangkal hidungnya. Lalu menyesap kopinya yang baru disuguhkan oleh Bi Nani. ART rumah.
"Gimana Pak Dika, apa semuanya sudah beres?" tanya Papa Jordan. Ia baru saja dari belakang habis menghubungi kerabat-kerabatnya.
"Mas Jordan. Sebentar lagi kita bakal jadi besan. Gak enak lah jika sapaan kita gak berubah. Ya gak Mbak Sora?"
Lalu Papa Jordan ikut duduk di sofa single yang ada di ruang tamu rumah Pak Gery itu.
"Iya. Benar, Mas. Gak enak juga kalau panggilannya masih Bapak dan Ibu. Udah kaya Bapak dan Ibu presiden aja," canda Mama Sora. Lalu semua orang yang ada di sana tergelak kencang. Guna menghilangkan rasa capek yang dibuat Pak Gery itu.
Pak Gery sengaja tidak menyuruh orang lain untuk mengurus semuanya. Karena ia tidak percaya. Selain itu juga ada alasan keamanan untuk Ghea sendiri. Jadi Pak Gery menyerahkan semuanya pada Papa Dika dan Adi saja. Juga orang tua Ghea tentunya.
"Lagi pula ada-ada saja Gery ini, Om." Indah ikut menimpali. Setelah ia selesai mendekor kamar pengantin - kamar yang akan menjadi tempat bermalam Ghea dan Pak Gery. "Udah kebelet kali, ya. Gak tahan kayanya udah pengen main celup-celupan," ledek Indah yang membuat ruang tamu itu kembali berisik dengan suara gelakan dari setiap orang.
"Udah gak tahan mau main sembur-semburan dia mah, Indah." Suara siapa lagi itu yang ucapannya paling nyeleneh jika bukan Adi.
"Lalu, kapan kamu sama Indah cepet main semburan-semburannya, Di?"
Oke. Adi skatmat.
Cowok pecicilan itu tidak bisa lagi menjawab. Ia menggaruk tengkuknya seraya bibirnya yang nyengir kaku.
Berbeda dengan Adi. Indah justru melayangkan pertanyaan yang sama pada cowok itu. "Iya. Di, kapan kamu halalin aku? Kalau udah halal kan bisa sepuasnya main putar-putaran." Candanya dengan kekehan geli.
"Gak sabar juga apa kamu, In?" tanya Adi sembari mendekati gadis cantik dengan wajah oriental itu.
"Gak juga. Aku mah biasa aja. Kamu kali yang gak sabar?"
"Jujur. Aku, sih, iya."
Lalu gelakan itu terdengar lagi.
Dari siang sampai pagi mereka dibuat sibuk oleh sang tuan raja. Papa Dika apalagi, wajahnya sudah seperti benang kusut. Capek.
**
"Lo kenapa, Ghe? Tumben amat tuh muka ditekuk mulu. Udah kaya tikus kecebur comberan." Canda Reza. Ia heran saat melihat Ghea menghampirinya di kantin.
Sedikit demi sedikit Reza sudah bisa melepaskan perasaannya. Ternyata ia baru sadar jika persahabatan dengan Ghea lebih jauh indah dari pada bermimpi jadi pacarnya. Hati dan perasaan Reza rasanya juga sudah plong setelah mengungkapkan perasaannya. Bebannya terasa sudah lepas dari pundaknya itu.
"Gue mau married."
"What?"
Untung saja Reza sedang duduk sendiri saat ini.
Belum juga rasa terkejutnya hilang. Ghea sudah kembali bersuara. "Malam ini."
"Jangan gila lo, Ghe!" Refleks Reza berdiri seraya menggebrak meja kantin. Hingga beberapa orang yang sedang menikmati makan siangnya menoleh pada meja Reza dan Ghea.
"So-sorry, Ghe. Maksud gue bu-bukan gitu." Reza segera menjelaskan saat mata Ghea melayangkan tatapan menyalangnya.
Dipikir Ghea, Reza bereaksi seperti itu karena masih belum bisa merelakan. Namun bukan itu maksud Reza. Ia hanya terkejut.
Jelas saja. Siapa yang gak terkejut oleh pernyataan Ghea. Siapa saja yang mendengar pasti akan merasa terkejut kan?
"Lo ini lagi serius apa bercanda, sih?" Reza bertanya ingin lebih memastikan.
"Lima rius gue, Za. Kalau lo gak percaya juga. Serebu rius deh gue. Yakin," kata Ghea menganggukan kepalanya. Menoleh pada sahabat dunia akhiratnya itu.
Memicing curiga sambil mendekatkan wajahnya pada telinga Ghea. Reza berkata, "jangan bila lo hamil anaknya Pak Gery, Ghe?"
"Kampret, sialan ... lo, Za."
TBC
Siap siap buat part 40 nya ya. Yang ini ramein dulu. Biar aku semangat ngetik walau lagi sibuk-sibuknya juga. Tapi da aku teh tayang man teman. Jan lupa poin. Biar part 40 live di sini tanpa sensor. hahaha