Married With Teacher

Married With Teacher
Hasil Mahakarya Pak Gery


Ghea berjalan menuruni anak tangga. Kaos oblong lengan panjang dan celana jeans pendek yang hanya menutupi sebagian pahanya. Bahkan sampai tidak terlihat Ghea memakai celana kalau saja atasan kaos yang ia kenakan panjangnya tidak sampai sebatas paha. Rambut dikuncir ekor kuda memperlihatkan lehernya yang jenjang. Kalung bandul berinisial G pun melingkar, menghiasi leher itu.


"Nasi goreng?" Pak Gery menyendokkan nasi goreng. Menuangkan itu ke dalam piring. Lalu menyimpannya di depan kursi makan yang selalu menjadi tempat Ghea duduk.


"Kamu yang buat?" Ghea bertanya. Dalam hati bilang, uh sweet banget. Namun, sebisa mungkin ia tahan bapernya itu. Ingat! Ghea lagi marah. Walau hatinya gak bisa nahan juga.


Ghea harus tahu alasan Pak Gery, kenapa dirinya harus pakai jasa bodyguard segala.


"Ya. Emangnya siapa lagi? Gak ada penghuni lain di rumah ini selain kita berdua." Uh jutek sekali Pak Gery menjawabnya. Apa dia niat untuk membalas Ghea?


Pak Gery duduk di kursinya. Meraih sendok dan garpu. Lalu menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya.


Ghea memutar bola matanya malas. Duduk di kursi makannya. Namun, bukan untuk sarapan yang sudah disediakan Pak Gery. Justru Ghea mengeluarkan handphone dari saku jeans pendeknya dan malah memainkan handphone tersebut.


Gak sopan memang Ghea ini. Seakan jiwa bar-barnya kembali lagi.


Pak Gery menghela pelan. Mencoba untuk tidak peduli walau sejujurnya Pak Gery kepo. Apa yang sedang dilakukan istrinya itu dengan handphonenya? Ia hanya khusu menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Sesekali matanya mendongak hanya untuk melihat ekspresi wajah Ghea.


Menarik kedua sudutnya lebar, terkadang Ghea tertawa, saat membaca sebuah chat dari Ocy.


Ghea benar-benar mengacuhkan Pak Gery. Membiarkan cowok itu sarapan sendiri.


Ghea


Cy, lo ada acara gak hari ini?


Ghea yang lebih dulu mengirim pesan pada sang kawan. Sengaja. Hanya untuk membuat Pak Gery sadar apa kesalahannya.


Bayangkan saja. Siapa yang mau dijaga pakai seorang bodyguard coba? Dipikir Ghea, dia gak akan bebas. Memangnya dirinya kenapa harus dijaga oleh bodyguard? Udah seperti dirinya dalam bahaya saja. Ck.


Dan itu tepat. Hanya saja Ghea tidak sadar.


Namun, ini juga bukan salah Ghea. Ia hanya ingin tahu alasannya saja. Kenapa?


Ocy


Kagak. Emang kenapa? Mau ngajak gue jalan? Tapi kalau iya, laki lo gimana?


Ghea


Sans. Laki gue mah bisa diatur. Dikasih kecupan basah udah diem dah dia mah.


Ghea merasa geli sendiri saat mengetik kalimat itu lalu mengirimnya pada Ocy. Jadilah dia terkekeh pelan. Membuat Pak Gery kepo dengan tingkah istrinya. Apa yang membuat Ghea terkikik seperti itu?


Ocy


Elu kasih apa, Ghe? Gue jadi penasaran sama lu dan Pak Gery.


Ghea mengernyit saat membaca pesan dari Ocy. Apa maksud kawan gilanya itu.


Ghea


Penasaran apa lo?


Dan akhirnya kalimat itu yang Ghea kirim pada Ocy sebagai balasan.


Ocy


Iyalah. Penasaran pake banget. Btw lo harus ceritain, ya, sama gue gimana rasanya malam pertama sama cowok seksi, tampan kaya Pak Gery!


"Apa maksudnya orang ini? Dasar gila. Gak waras." decak Ghea menggebrak meja makan. Dan itu refleks membuat Pak Gery menghentikan gerakan tangannya yang akan menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Bahkan sendoknya sudah berada tepat di depan mulut Pak Gery.


"Eh, maaf." Saat mata Ghea tak sengaja bertemu dengan mata Pak Gery yang tengah menatap ke arahnya.


Tetap saja cewek itu tidak berani pada suami killernya. Ah, tatapannya itu, Ghea merasa seolah ia sedang berada dalam kelasnya saja.


Ghea tidak membalas pesan Ocy lagi. Menuangkan air dingin ke dalam gelas lalu meneguknya hingga tandas.


Apa maksud Ocy mengatakan Pak Gery seksi dan tampan? Oh sungguh dadanya panas sekali. Rasanya meneguk air saja tidak cukup untuk mendinginkan tenggorokan dan hatinya yang mendadak kepanasan.


"Ghe," panggil Pak Gery. Nasi goreng di dalam piringnya sudah habis.


"Soal bodyguard-"


"Ck. Gak mau, Mas. Aku gak mau pakai bodyguard-bodyguard segala. Gak bakal bisa bebas pastinya." selanha. Dipikir Ghea seperti itu. Seorang bodyguar akan membatasi semua gerak-gerik dan kesenangannya. Padahal kan tidak.


"Tapi, Ghe."


"Oke. Aku mau tahu dulu. Apa alasannya Mas mau kasih aku bodyguard? Emangnya aku dalam bahaya apa? Kan nggak juga."


Ya. Kamu dalam bahaya, Ghe. Dan aku gak bisa terus ada di dekat kamu. Jagain kamu dan lindungin kamu. Seenggaknya dengan bodyguard, kamu ada yang jagain selama kamu di luar rumah.


"Mas!"


"Ya."


"Kenapa? Hem?" Ghea mengedik. Meminta jawaban. Dan alasan dari suaminya itu.


"Karena ..., ya. Kamu ada dal-"


Derrttt derrtt derrttt


Ah sial.


Pak Gery melirik handphone yang tersimpan di samping piring bekas sarapannya. Meraih benda itu. Menggeser ikon hijau. Lalu menempelkannya ke telinga.


Calling is Mama ...


"Ya, Ma." Saat sambungan seluler itu sudah tersambung.


"Ger, ini hari minggu. Kamu dan Ghea lagi gak ada acara kan?"


"Gak. Kenapa emangnya, Ma?" Pak Gery melirik Ghea sekilas.


Dan Ghea hanya mengedik acuh.


"Kamu main dong ke rumah Mama. Kangen nih sama kamu. Sama Ghea juga."


"Iya, Ma. Tapi nanti agak siangan, ya."


"Iya-iya. Siangan banget juga gak papa. Ngerti Mama, tuh, Ger. Jiwa pengantin barunya masih nempel, ya, Ger? Awas jangan sampai buat Ghea kecapean, ya, Ger. Kasihan loh anak orang dibuat capek mulu tiap malam. Mentang-mentang gak ada yang ganggu."


Hampir saja Pak Gery tersedak air liurnya sendiri. Kalimat Mama Dian ini. Oh, ya ampun. Nyeleneh banget, sih, sama anak sendiri?


"Ger, kok diem? Hayoooo bener kan apa yang Mama bilang?"


Pak Gery tersentak. Kaget. Berdehem untuk menetralkan jantungnya yang berdebar. "Ya-"


"Tuh kan ... jangan buat Ghea capek dulu dong, Ger. Kasihan loh. Nanti Ghea kelelaham gak bisa fokus belajar di sekolah lagi jika kamu buat capek tiap malam. Seminggu dua kali aja, Ger. Gak usah tiap malam juga."


Maksud Pak Gery 'iya' itu bukan membenarkan apa yang dikatakan Mama Dian. Iya, nanti Pak Gery akan berkunjung ke rumah Mama Dian. Namun, sepertinya Mama Dian ini lebih senang sekali menggoda anaknya itu. Ck.


"Ya udah deh, Ger. Mama tutup dulu teleponnya. Eh iya, nanti awas, ya, kalau ke rumah Mama, macan tutul buatan kamu di tutup aja pake poundation biar Ghea gak malu kaya semula."


Dan tut tut tutt


Panggilan seluler itu terputus. Mama Dian yang memutuskannya.


Pak Gery menghela nafas sedaya mengurut pangkal hidungnya. Kemudian tanpa sadar mata abu-abunya itu melirik pada leher Ghea yang terlihat jelas.


Bahkan sangat jelas.


Tanda macan tutul buatannya. Hasil mahakaryanya sangat terpampang dan banyak disetiap lekuk leher jenjang Ghea. Dan oh, kenapa pula Ghea senang sekali mengikat rambutnya seperti itu setiap pagi saat akan sarapan?


Seperti itu sudah menjadi kebiasaan Ghea saja.


TBC


Mau buat konflik. Eh malab melenceng ke tanda macan tutul. Beri tanda cinta kalean pada authornya guys. Juga tekal Love dibawah ya jika suka cerita ini. Kasih tahu juga teman-teman yang lain tentang cerita ini biar rame guys. Like Komen and share