
“Lo emang kebangetan, Ger. Cari masalah mulu bisanya. Udah gitu lo lemparin masalah itu sama gue. Tahunya kelar aja lu. Shit!”
“Ck. Ya, sorry. Gue gak ada maksud kaya gitu. Tadi, tuh, gue harus nenangin Ghea dulu. Gue gak mau dia salah pa—“
“Salah lo sendiri! Ngapain pake acara peluk-peluk cewek lain segala. Kalau gak mau Ghea salah paham, ya lo kudu bisa jaga jarak sama tuh cewek. Jangan kek tadi!”
“Tadi tuh salah gue. Gak sengaja nambrak Airin. Kalau gak gue tahan kayak gitu. Bisa jatuh dia, Di.”
“Lo keknya belain dia banget, Ger?” Ujung mata Adi mendelik. “Lo beneran gak ada apa-apa sama dia, kan?”
“Lo curiga mulu sama gue. Kenapa, sih?”
“Bukan gitu. Tapi, gue lihatnya lo sama dia udah kayak akrab lama banget.”
Mobil sedan hitam itu terus melaju di jalan raya menuju restoran mewah, Bottega Restaurant di Gedung Faiground, Jalan Jend Sudirman, Jakarta Selatan dengan Adi yang berada di balik kemudi. Makan siang sudah hampir terlewat. Meski begitu klien dari Papa Dika tetap ingin menunggu. Tidak ingin membatalkan acara makan siang yang sudah jauh-jauh hari direncanakan sebelum kepulangan klien itu dari Jerman.
Adi yang merasa semakin tidak enak saat berbicara di telepon dengan sekretaris pribadi klien tersebut tidak dapat menolak. Lantas cowok itu harus menggeser beberapa jadwal acara Gery yang lain.
Menyebalkan sekali memang sepupunya ini. Terkadang Adi merasa ingin mundur dan whatever saja pada Gery
jika ia tidak ingat kalau keluarga Papa Dika sudah sangat membantunya. Ah, bahkan sangat banyak membantu Adi.
Gery mendengkus. Diliriknya Gery pada Adi yang fokus mengemudi dengan pandangan lurus ke depan. Adi menghentikan laju mobilnya saat lampu lalu lintas di jalan raya itu berubah menjadi merah. Kemudian Adi menolehkan wajahnya. Bicara padanya dengan memasang wajah yang sama sekali tidak bersahabat. Satu tangan Adi ia simpan di atas bundaran stir.
“Lo mesti ingat!" Jari telunjuk itu menyentuh dada Gery. Menekan. “Cara lo, saat ingin dapatkan Ghea dulu. Difficult, men!” Dilajukan Adi lagi mobil itu perlahan ketika mendengar suara klakson dari mobil belakang. Lampu lalu lintas itu rupanya sudah berubah warna.
Gery terdiam. Menggigit sisi jari telunjuknya dengan siku yang bertumpu pada kaca jendela mobil. Lalu diliriknya cincin yang melingkar di jari manis. Gery menatap cincin itu lama.
**
Kedua pria yang sudah beristri itu keluar saat Adi sudah memarkirkan mobil sedan hitam di antara mobil-mobil mewah yang lain. Tanpa bicara banyak hal lain lagi, Adi dan Gery berjalan menuju gedung restoran itu. Dimana klien dari Papa Dika pasti sudah sangat lama menunggu. tidak harus mencari lagi. Adi langsung mengajak Gery
untuk menuju satu meja yang sebelumnya sudah diinfokan oleh sekretaris sang klien lewat pesan pada Adi.
“Pak Wira Adiguna?” sapa Adi. Tersenyum dan mengulurkan tangan. “Selamat siang, Pak Adiguna?” Lagi Adi menyapa.
Seorang yang umurnya hampir menyamai Papa Dika mendongak. Berdiri. Menyambut uluran tangan Adi dengan tersenyum. Ramah. “Ah, ya. Pak Adi. Selamat siang.”
“Eum … Maaf, Pak Adiguna atas keterlambatan kami.” Adi sedikit tertawa. Bicaranya masih terdengar formal. “Biasalah, Pak. Ada sedikit masalah tadi,” ujarnya masih dengan menyunggingkan tawa.
“It's okay, Pak—“
“Eum … mungkin akan terdengar lebih enak jika anda memanggil nama saja, Pak Adiguna!”
Pria paruh baya itu tertawa geli. Kepalanya menggeleng pelan. “Ah, ya. Baiklah, Adi." Diliriknya pandangan pria paruh baya itu pada Gery yang berdiri di samping Adi untuk kemudian diulurkan tangannya. “Ini—“
“Saya Gery," sahutnya. Menerima jabatan tangan pria yang ada di hadapannya. Hanya saja jaraknya terkikis oleh meja.
Dipersilahkan oleh pria yang disapa Wira Adiguna itu dua pria muda untuk duduk. “Jadi ini, putra yang dibanggakan oleh Pak Dika?” Ia tertawa. “Perfect!” Kemudian memuji sambil terus memandang Gery kagum.
Mendengar pujian yang ditujukan untuknya, Gery terkekeh. Digelengkan Gery kepala dengan samar seraya menunduk. “Anda terlalu berlebihan, Pak—“ kalimatnya terpotong.
“Saya memang tidak terlalu terdekat Papa kamu, Gery. Tapi kamu bisa panggil saya Om Wira saja! Hem?”
“Okay, Om Wira.”
“Baiklah. Mungkin obrolan ini akan berlanjut seru.” Om Wira terkekeh kecil. “Tapi sepertinya perut saya lapar karena menunggu kalian yang datangnya sangat lama.”
Gery dan Adi tertawa. Menanggapi candaan dari Om Wira tentu saja.
“Maaf, Om,” ucap Adi dengan senyum kecil yang tersungging. Tidak enak. Kemudian diliriknya Gery oleh ujung
mata cowok itu.
Untung saja orang di hadapannya ini memiliki jiwa pengertian yang tinggi. Jika tidak, bisa saja karena hal sekecil ini kerjasama antara dua perusahaan bisa tercancel. Atau bisa saja Om Wira yang mengcancel semua kerjasama perusahaannya denganperusahaan Papa Dika.
Perlu diketahui jika Om Wira adalah seorang pengusaha hotel. Beberapa hotelnya telah dibangun di jantung Ibu Kota dan Kota yang selalu dikenal dengan kota kembang—Bandung. Gery bukannya tidak tahu Ow Wira. Hanya saja ia belum pernah bertemu sebelumnya. Ini adalah pertemuan perdana Gery dan Ow Wira. Sebab beliau yang
sudah lama—katanya—tinggal di Jerman. Entahlah, untuk mengurus bisnis perhotelan di sana atau hal lain, Gery tidak begitu mengetahuinya.
Gery tidak ingin ambil pusing untuk mencari tahu hal ini. Dan untuk Adi, em mungkin cowok itu lebih tahu tentang Om Wira karena tidak mungkin jika Papa tidak memberitahunya. Apalagi Om Wira adalah klien Papa.
“Oh, ya, saya lupa untuk menanyakan kabar Pak Dika,” kata Om Wira. “Bagaimana kabarnya?”
Gery tidak langsung menjawab karena kedatangan pramusaji yang meletakan beberapa hidangan di meja. “Selamat menikmati,” ujar pramusaji itu sebelum berlalu.
“Baik.” Gery menjawab seadanya. Dari tadi, jujur. Gery merasa begitu familiar dengan wajah Om Wira. Dari mata, bibir dan … ah semuanya terasa sama dengan—
“Sebenarnya Om ingin sekali bertemu dengan Pak Dika. Tapi katanya tidak bisa karena ada metting penting dengan beberapa pemegam saham, ya?” Diraihlah Om Wira pisau makan dan garpu yang terbungkus tisu.
Bibir Gery sedikit tertarik. Tersenyum. “Ya, begitu lah yang Om ketahui. Beberapa pekan ini beliau terlalu disibukan dengan perusahaan.”
“Ya, ya, ya. Om paham,” sahut Om Wira. Kepala itu mengangguk. Kemudian disuapkannya bottega steak yang sudah dipotong kecil-kecil olehnya.
“Oh ya, Om." Atensi Om Wira beralih pada Adi yang duduk tepat di hadapannya. Sedangkan di sebelah cowok itu, Gery duduk dengan damai. Ia tidak menyentuh makanan. Atau bisa jadi belum. Hanya beberapa kali menyesap tehnya saja. Sepertinya Adi ingin mengajukan sebuah pertanyaan.
“Kalau Om tinggal di Jerman, siapa yang mengurus hotel di Jakarta dan Bandung, Om?”
Ah, pertanyaan sama yang ada di dalam kepala Gery.
“Ada. Putra Om.”
Adi mengangguk. Paham.
Hem. Sepertinya salah jika Gery berpikiran sepupunya ini mengetahui Om Wira. Nyatanya, Adi pun sama. Sepertinya yang tahu menahu soal Om Wira hanya Papa saja.
Oke. Untuk yang kedua kalinya, Gery tidak ingin mencari tahu.
“Nandan. Nandan Lesmana.” Seru Om Wira menyebutkan satu nama yang entah kenapa lagi-lagi membuat Gery merasa tidak asing dengan nama itu. Seperti pernah mendengar sebelumnya. Namun, bukan sebagai seorang pengusaha. Dan sepertinya belum lama ini Gery mendengar nama itu. Tapi di mana Gery mendengarnya? Oleh siapa pula nama itu digumamkan?
Oh, shit.
Kepalanya seakan pening mengingat satu nama itu.
Oh My God.
Nandan Lesmana ... Nandan Lesmana ...
Who's he?
“Oh ya, Ger?”
Panggilan Om Wira membuat Gery tersadar dari mengingat nama yang menurutnya tidak asing. “Ah, Ya. Gimana, Om?” Dengan senyum kaku, Gery menjawab.
“Katanya kamu lulusan salah satu Universitar di Jerman, ya?”
Dianggukkan Gery kepala. “Iya.” Singkat, jelas dan padat cowok itu menjawab. “Universitas Humbold Berlin." Lanjut Gery, kemudian menyesap tehnya lagi.
“Waw…” seru Om Wira terkagum-kagum. “Great!” dianggukan Om Wira kepalanya dengan antusias.“Salah satu Universitas terbaik.”
“Yes. Best Universitas.”
Sedetik kemudian, Gery melihat raut wajah Om Wira yang berubah. Dari happy, enthusiastic. Dan sekarang menjadi muram. Itu sangat jelas terlihat dari bagian rahangnya yang terkatup. Matanya sendu menunduk. Dan senyum kecut pun tertarik oleh bibir.
“Om baik-baik saja?” tanya Adi. Yang juga menyadari perubahan itu.
Seseorang di belakang bahu Om Wira membungkukkan tubuh. “Anda baik-baik saja, Pak?" tanyanya. Mungkin benar, dia adalah sekretaris pribadinya Om Wira.
Gery tidak tahu. Tapi sepertinya iya. Pria berjas hitam itu adalah sekretarisnya.
“Yes. I’m fine." Mata itu masih menunduk. “Om hanya teringat sesuatu saja.” Untuk kemudian sudut bibirnya tertarik. Terpaksa.
Sejujurnya, Om Wira perasaannya tidak baik-baik saja. Ia teringat akan sosok putri yang teramat ia sayangi. Namun, putrinya itu telah lama meninggalkannya. Tepatnya mengikuti Ibunya—mantan istri Om wira.
TO BE COUNTINUED …
Seizy note :
Aku bersyukur karena masih ada yang baca cerita ini.
I’m sorry jika banyak teka tekinya. Tapi biarkan lah. Biarkan otaknya traveling. Biar jantung kamu semakin berdebar. But, selalu aku ingatkan jika di cerita ini tidak ada yang namanya plakor. So, enjoy.
Jujur, aku suka down kalau kolom komentarnya sepi. But, no problem. Selagi itu bisa membuat kamu tersenyum dengan membaca cerita ini. I’m happy.
Terimakasih ya buat kamu yang masih setia. Atau pun pendatang baru. Tak ada lagi yang bisa aku ucapkan selain rasa terimakasih dan bersyukur aku yang banyak bangetttttt pokoknya.
Cerita dengan judul Maybe aku publis di watt-pad gengsss. Masih sepoy-sepoy aja. Tapi lagi-lagi aku harus baik-baik.
Follow ig aku
seizyll_koerniawan
Thanks.
Seizy kang ngetik
amatiran yang magnya kambuh karena telat makan. Hihiii