Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt S2 bab 2


Morning sickness sering kali Ghea masih mengalaminya. Walau kehamilannya sudah akan memasuki minggu ke 14 namun gejala-gejala itu masih Ghea nikmati.


Seperti pagi ini saja, Ghea terbangun karena merasa perutnya mual. Maka dari itu ia segera berlari ke kamar mandi. Membungkukkan punggungnya di wastafel lalu dengan cepat cairan berwarna kuning itu lolos melewati kerongkongannya. Rasanya pahit dan hidungnya pun terasa perih.


Gery yang saat ini masih bergulung bersama selimut tebal dengan posisi tengkurap. Ia mengucek matanya karena sayup-sayup ia mendengar suara gemerecik air dan suara orang yang muntah di dalam kamar mandi sana tentunya. Apalagi suara itu semakin jelas terdengar ketika ia berusaha membangkitkan tubuh lalu mengerjapkan kedua matanya pelan. Berusaha untuk membawa dirinya sadar dari alam mimpi tadi.


"Hueekkkk ... huekkkkk ..."


Suara itu kembali terdengar. Dan bagi Gery itu sangat menyakitkan. Karena jika Ghea nya sudah muntah-muntah seperti saat ini, Ghea akan sangat merasa lemas dan susah untuk makan tentu saja.


"Ghe," seru Gery pada akhirnya. Mau tidak mau cowok itu bangkit dari atas kasur untuk kemudian berlalu ke kamar mandi walau dengan langkah gontai.


"Muntah lagi?" tanyanya dan langsung mengulurkan tangan untuk memijat tengkuk Ghea.


Kelembutan di tengkuknya langsung terasa begitu tangan kekar itu memijatnya. Ghea lantas menganggukan kepala sambil membasuh mulut.


"Vitamin dari dokter masih suka diminum gak?" Gery bertanya kembali. Kali ini sambil mengikuti langkah Ghea dari belakang punggung. Tak lupa cowok itu memegangi kedua bahunya. Takut-takut tubuh kecil itu tidak seimbang karena Gery melihatnya seperti tidak bertenaga.


"Masih. Tapi gak tahu sih kenapa ini mual-mualnya masih ada. Padahal kata dokter juga pas udah mau empat bulanan ilang sendiri." Lalu Gery membantu Ghea untuk kembali berbaring di kasur.


"Duh aku kok jadi gak tega gini sih." Gery menarik selimut yang sudah tidak terbentuk itu untuk ia gunakan menutupi kaki sampai pinggang Ghea.


"Mau ke dokter lagi aja? Biar aku antar." Gery kemudian mendudukkan dirinya di samping Ghea lalu mengecup kening cewek itu lama.


"Gak usah lah. Paling juga siangan mual sama lemesnya udah ilang." Ghea tersenyum dengan wajah sedikit pucat.


"Mau sarapan dulu aja kalau gitu?" Gery menawarkan itu dengan senang hati. Menarik kedua tangan Ghea lalu mengecupi kedua punggung tangan itu.


Kepala Ghea menggeleng. "Mual. Ntar aja lah." Lalu Ghea melirik pada jam yang tersimpan di meja nakas. "Kamu harus ngantor kan? Udah pergi mandi aja sana!"


Setelah kecelakaan empat tahun lalu yang mana Gery hampir kehilangan sosok cantik di depannya ini, ia memutuskan untuk lebih mengutamakan pekerjaan kantornya dibanding menjadi guru. Karena apa? Sosok yang ia puja dan ia inginkan sedari dulu sudah berada di dalam rengkuhannya, bukan? Sekarang ia harus apa lagi ketika tujuan utama menjadi guru hanya untuk semakin dekat dengannya sudah terpenuhi.


"Kamu aja dulu." Gery menangkup satu sisi wajah Ghea. "Kantor mah ada Adi yang handle," ujarnya dengan senyuman yang mengembang. Yang lagi-lagi selalu membuat dada Ghea berdentam. Dan sialnya dentaman itu lebih hebat. Membuat perutnya merasakan mual kembali. Namun ini berbeda. Bukan karena mual ingin muntah tetapi karena banyaknya kupu-kupu yang sepertinya ingin keluar terbang dari dalam perutnya itu.


"Aku buatin bubur mau?" tawar Gery. Karena jika Gery menawarinya nasi goreng, Ghea akan merasa mual kembali. Karena Gery tahu jika wanitanya ini tidak kuat dengan mencium aroma itu.


"Kayak orang sakit deh, Mas, makan bubur. Gak ah." tolak Ghea dengan kedua alis yang tertaut. Sepertinya cewek itu sedang membayangkan sesuatu.


"Terus mau sarapan apa? Hem?" Tangan Gery turun untuk mengusap perutnya yang masih rata. "Kasihan loh ini baby nya nanti kelaparan."


Gery melihat kedua mata Ghea yang tertarik ke atas. Sepertinya cewek itu sedang berpikir. Sarapan apa yang menurutnya ia inginkan sekarang. "Emmm ..."


"Lontong sayur mau gak?" Gery lalu mencoba menawarkan makanan itu.


"Emang kamu bisa bikinnya?" tanya Ghea tidak yakin.


"Beli lah. Di taman kompleks perumahan itu kan ada yang jualan."


Ya benar. Di taman kompleks perumahannya bukan hanya lontong sayur saja yang ada. Tetapi juga ada bubur ayam, soto lamongan, ketupat dan masih ada beberapa lagi untuk dinikmati sebagai menu sarapan. Apalagi dengan orang-orang kompleks yang senang berolah raga pagi. Sarapan setelahnya adalah hal yang menyenangkan.


"Kamu mau beliin itu buat aku?"


"Kamu mau?" Gery justru bertanya balik.


"Mau."


"Ya udah aku beliin. Sekalian lari-lari."


Ghea mencibir seraya berdecak. "Tapi larinya pake kaki, ya! Jangan pake mata. Apalagi sampai matanya loncat keluar!"


"Heuh? Maksudnya apaan?" Kening Gery tentu saja mengkerut karena tidak mengerti dengan kalimat yang Ghea ucapkan tadi.


"Cie yang masih aja cemburu." Lantas Gery mencolek dagu Ghea menggunakan ujung jari telunjuk.


"Tenang aja, Ghe. Mana ada yang mau sama aku sih. Udah mau jadi Bapak-bapak juga." Gery terkekeh geli. Membuat Ghea kembali mencibirnya dengan melengkungkan bibirnya ke bawah.


"Ya siapa tahu aja ada cewek yang mau jadi sugar dady kamu."


"Husss. Itu ngomongnya kenapa gak dijaga?"


Ghea membelalakan matanya karena tindakan Gery yang tiba-tiba mengecup bibirnya.


"Isshhh ... apaan sih, Mas?" Lantas cewek itu memukul dadanya pelan. Membuat Gery tergelak di tempatnya duduk.


"Abisnya your lips want to be kissed. Gemes banget kalau udah cemburu gini."


...****...


Tidak perlu mengeluarkan mobilnya dari dalam garasi hanya untuk pergi ke taman kompleks perumahannya. Ia perlu menggunakan motor saja untuk itu karena jaraknya yang tidak jauh. Sebetulnya jalan kaki juga bisa, tapi ia urung mengingat Ghea yang di rumah hanya sendiri dan Gery takut jika Ghea membutuhkan sesuatu ia sedang tidak ada. Mengingat kondisi Ghea yang lemas bagai orang yang tidak punya tenaga.


Cowok itu membuka pintu gerbang yang tingginya menjulang sebelum mengeluarkan motor trail kesukaannya.


Gery tersenyum saat memandangi motor berwarna hijau di hadapannya ini. Motor legend. Ya katakan saja seperti itu. Lalu tanpa bisa dicegah kedua sudut bibirnya tertarik lebar seraya kepala yang menggeleng samar.


Ingat ketika malam itu Gery dengan sengaja mengajak Ghea untuk makan malam yang ternyata cowok itu justru memberikan sebuah map alias kontrak pra nikah. Kemudian menembus hujan sampai Ghea jatuh sakit.


Ah mengingat semua kenangan beberapa tahun yang lalu membuat akal sehatnya hilang entah kemana. Sampai pada sekarang ini Gery tidak menyangka akan menjadi seorang Ayah. Sebentar lagi.


Cowok itu memarkirkan motornya tepat di samping gerobak yang di kacanya terdapat tulisan Lontong sayur. Lalu menghampiri sang penjual yang sedang melayani beberapa pembeli yang sedang duduk di kursi plastik menunggu.


"Bang, dibungkus dua ya!" kata cowok itu pada sang penjual.


Seraya melirik padanya sang penjual itu berkata. Menyuruhnya untuk duduk lebih dulu.


Gery pun mengambil kursi plastik berwarna hijau. Ia sedikit menjauh dari beberapa orang yang duduk. Sama seperti dirinya menunggu lontong sayur pesanan. Lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku celana jeans yang ia kenakan. Mengeluarkan satu batang benda bernikotin itu dari dalam bungkusnya. Kemudian menyulutnya dengan korek api yang juga sengaja ia bawa.


Ketika sedang menikmati sesapan demi sesapan dari rokok tersebut sampai asap putih terbang di udara, mata Gery tidak sengaja melihat seorang cewek yang sedang dikejar seorang Bapak-bapak berumur 65 tahun.


Terlihat si Bapak-bapak itu menarik-narik tasnya lalu si cewek itu seperti sedang memohon agar si Bapak tidak mengikutinya.


Gery menajamkan pandangannya seraya mengerutkan dahi. Mencoba mengingat siapa cewek itu sampai beberapa detik kemudian barulah ia ingat.


"Bukannya dia cewek semalam, ya?" gumam Gery berdiri dari duduknya.


Wanita yang hampir saja kena lecehan dari dua preman yang sedang mabuk-mabukan.


Malam dimana ketika Ghea menginginkan makan soto Madura. Lalu dengan sedikit meembujuknya Gery membelikan soto itu semalam.


Mana ada ngidam menginginkan makan soto tapi di Madura nya. Oh astaga. Mengingat semalam bagaimana perjuangan Gery berkeliling hanya untuk mencari pedagang soto madura demi sang istri. Sampai tidak sengaja cowok itu bertemu dengan seorang cewek yang sedang diganggu dua orang preman.


Dan cewek itu sekarang ada di depannya.


"Gak ada, Pak. Aku udah gak punya duit," kata cewek itu sambil menarik tasnya.


"Gue gak mau tahu. Sini tas lo!" Si Bapak itu kembali menarik tasnya dengan kasar namun masih mencoba cewek itu pertahankan.


Bukan hanya Gery yang melonglong saja melihat aksi tarik menarik tas di depannya ini. Namun beberapa orang yang sedang menunggu pesanan lontong sayur itu pun sudah saling berbisik. Beberapa mungkin ada yang merasa kasihan namun tak lebih juga dari mereka yang mencibir.


"Pak, udah gak ada duit, Pak," kata cewek itu lagi. Namun sepertinya si Bapak tidak perduli. Si Bapak itu terus menarik tasnya. Lalu ketika bahu cewek itu didorong oleh tangan si Bapak sampai terhunyung dan hendak jatuh, Gery menahan kedua bahu cewek itu sehingga membentur dada bidang Gery.


To be continued ...