Married With Teacher

Married With Teacher
Masa Putih Abu-abu


Sepertinya masa-masa ini tidak akan pernah datang dua kali.


Jadi aku akan menggunakan kebersamaan dan kelucuan ini sebaik mungkin.


Walau aku sendiri sudah berubah status, tidak sama lagi dengan mereka yang masih pelajar.


Ghea Virnafasya


****


Seperti yang sudah Ghea katakan sebelumnya, jika tidak ada salahnya untuk memberikan kesempatan pada orang lain, bukan? Dan kali ini kesempatan itu ia berikan pada Cindy.


Hari-hari terus semakin berlalu. Berganti. Namun Ghea lewati itu semua dengan senang hati. Dari mulai bangun tidur yang selalu ada Pak Gery di sampingnya. Memeluknya seakan cowok itu tidak ingin melepaskan. Lalu melakukan sarapan bersama penuh dengan canda dan tawa. Berangkat sekolah pun sudah tidak ada kecanggungan lagi karena sudah tidak ada lagi yang perlu Ghea dan Pak Gery sembunyikan.


Sampai dengan surat perjanjian yang pernah Pak Gery ajukan pada Ghea pun sudah cowok itu musnahkan. Katanya tidak ada gunanya lagi karena Pak Gery yakin Ghea tidak akan pernah pergi darinya.


Hari ini hari rabu. Pun Ghea sudah siap untuk pergi ke sekolah. Namun sebelumnya, cewek itu lebih dulu membuatkan sarapan roti lapis keju yang sangat sederhana dan segelas kopi hitam untuk suaminya.


“Mas, sarapan dulu!” ajak Ghea menggandeng lengan Pak Gery yang baru saja turun dari undakan tangga terakhir.


Seraya berjalan menuju meja makan, Pak Gery mengecup puncak kepala Ghea dengan sangat lembut.


Ya Tuhan, ini masih pagi. Tapi Pak Gery udah buat perut Ghea melilit saja.


“Maaf, ya, cuma roti lapis keju aja,” ujar Ghea cengengesan. “Nanti aku bakalan belajar masak deh sama Mama.” Ghea menarik kursi makan di samping Pak Gery kemudian duduk.


Pak Tersenyum mengacak rambut Ghea. “Gak Papa,” ujarnya sederhana. Namun sudah jelas membuat wajah Ghea bersemu malu. Lantas wajah itu menunduk sembari mengulum senyum manisnya.


“Ohya, Mas, Chacha gimana?” Ghea bertanya setelah menggigit ujung roti lapis kejunya.


“Gimana apanya?”


“Kayanya aku udah gak butuh bodyguard lagi deh, Mas. Kan kamu nyaranin aku pake bodyguard karena Dita,” Ghea menjeda kalimatnya untuk meneguk jusnya. “Sekarang kan Ditanya udah gak ada. Kamu bisa kasih kerjaan yang lain gitu ke Chachanya.”


“Iya.”


Hanya kata itu yang keluar dari mulut Pak Gery. Seakan cowok itu mengerti apa yang sedang Ghea bicarakan. Membuat Ghea mengerutkan keningnya heran. sesingkat itukah jawabannya?


Oke. Ghea tidak ingin melanjutkan. Sepertinya suaminya itu memang punya otak yang jenius. Tidak usah diterangkan langsung dimengerti dengan dalam.


**


“Wiihhh … gileee, beda, ya wajah yang udah ngerasain ahem-ahem.” Tama sang ketua kelas begitu sangat antusias untuk meledeknya. Jangan tanyakan lagi siapa orang yang menjadi sasaran Tama. Ghea tentu saja yang baru masuk ke dalam kelasnya. Sontak semua yang ada di dalam tidak ada yang tidak tergelak.


Tanpa merasa terluka dengan sindiran Tama dan tawa teman-temannya, Ghea tetap berjalan santai menuju kursinya. Melepas tas yang tersampir di punggungnya lalu Ghea membuka laci meja. Ia mengambil sobekan kertas lalu menggulungnya menjadi satu kepalan.


Tama yang masih duduk di atas meja kembali bersuara. “Gimana rasanya, Ghe? Punyanya Pak Gery gede apa kecil, Ghe?” Dan membuat semua yang ada di dalam kelas sana kembali tertawa. “Sakit gak, Ghe, waktu lo diterobos sama Pak Gery? Ceritain dong, Ghe, malam pertamanya kaya gimana!”


Ghea berdiri dari duduknya, menghadap Tama yang tidak berhenti tertawa dengan teman-temannya, Sesekali Tama bertos ria dengan mereka karena berhasil meledeknya. “Lo serius, Tam, mau tahu cerita gue?” tanya Ghea.


“Dua rius lah, Ghe. Buat nanti gue praktekin kalau udah ada yang gue halalin,” ujar Tama dengan semangat 86 nya.


“Etdah … gaya elu, Tam. Mau belajar buat nanti. sekarang, pacar aja elu kagak punya,” ujar salah satu teman cowok kelas itu.


“Ada lah. Elu semua aja yang kagak tahu.” Tama menjawab tidak mau kalah tentunya.


“Eh, Tam, yakin lo mau tahu cerita malam pertama gue?” tama mengangguk antusias. Yang diikuti semua teman-teman yang lainnya. “Nanti gue bakal ceritain pengalaman gue kalau elu udah kaya kepalan kertas ini.” Ghea memberikan senyum menyeringainya seraya menunjukkan kepalan kertas tepat di depan wajah Tama. Mungkin kelas itu akan kembali seperti dulu lagi, sebelum Ghea menjadi seorang istri dari Gery Mahardika Putra. Gurunya sendiri. “Pilih, Tam. Lo mau rumah sakit atau langsung aja ke kuburan?”


“Hahaha … rumah sakit kayaknya masih mending, Ghe. Daripada kuburan. Kagak bisa ngerasain malam pertama gue entar.”


Mereka kembali semua tergelak dengan jawaban yang Tama berikan pada Ghea. Oh sumpah demi kantong ajaib doraemon yang gak pernah ganti-ganti, Ghea merasa kepalanya meradang. Si Tama benar-benar minta dihajar. “Tama sialan!” Ghea geram. Lalu tanpa ba bi bu lagi cewek itu menghadiahkan kepalan tangannya ke perut Tama. Auto meringis. Membuat Tama menunduk memegangi perutnya.


“Ghe, sumpah, ya. Lo dikasih makan apa sih sama Pak Gery? Kuat banget tuh kepalan tangan elu. Sakit nih,” ujar Tama. Yang mendapat juluran lidah dari Ghea tentu saja.


Kelas masih terlihat ramai walau bel tanda masuk sudah berbunyi. Suara gelak tawa dari seisi kelas membuat mereka mendapatkan pengalaman pagi ini yang begitu berbeda. Mengejek Ghea kembali setelah sekian lama kelas mereka sepi. Mungkin nantinya tidak akan mereka lupakan saat masa putih abu-abu ini. Sampai Pak Gery masuk bersama seseorang yang mengikutinya dari belakang punggungnya. Dia adalah Cindy. Cewek itu pagi ini resmi kembali ke sekolah Garuda.


“Ekhem …” Deheman itu membuat semua murid terdiam kaku lalu dengan cepatnya kembali duduk ke kursi masing-masing. “Sudah ribut-ributnya?”


Tatapan datar dan dingin itu kembali ketika cowok itu berdiri di depan kelas. Ghea sendiri pun merasa kagum pada sosok itu yang bisa sangat profesional. Pak Gery yang tidak pernah membedakan antara dirinya dan murid yang lain.


“Wah, Pak …, ngapain tuh si cabe kecombrang datang ke kelas kita? Mana pake seragam Garuda lagi,’ ujar salah satu murid cowok yang duduk di pojok belakang.


“Iya, Pak? Entar sekolah kita dicemarin lagi sama tuh mulut bon cabe. Udah nyebar fitnah juga.” Timpal murid yang lainnya. Cindy hanya menundukkan wajahnya. Malu. Mungkin saat ini yang dirasa oleh cewek itu. Seharusnya Cindy tidak menerima saja tawaran dari Ghea. Seharusnya cewek itu berpikir seribu kali buat kembali ke Garuda.


“Gengss … udah kali, lo semua kagak berhak hakimi orang! Kasih kesempatan lah buat Cindy!” Itu adalah suara Ghea. “Udah, Cin, lo gak usah dengerin apa kata mereka. Niat lo datang ke sekolah buat belajar kan? Udah cuekin aja!”


“Eh, Ghe, kok lo gitu sih?” ujar Tama mengeluarkan suaranya di belakang Ghea. “Lo kagak inget, tuh cewek udah buat lo malu. Udah ngata-ngatain lo juga. Astaga …”


“Emang kenapa?”


“Sebagai sahabat elo nih ya. Gue kagak terima!”


“Terus lo mau apa? Gue aja yang jadi korban sans ini kok. Nah kenapa elu semua yang repot?”


Tidak. Bukan maksud Ghea seperti itu. Dia hanya tidak ingin ada permusuhan dengan siapa pun. Ghea sadar betul teman-teman satu kelasnya begitu respect. Namun bukannya mereka juga tidak berhak menghakimi kesalahan orang, bukan? Sudah berapa kali Ghea katakan, yang berhak menghakimi perbuatan orang lain hanya Tuhan saja.


Tama berdecak. “Hati elu tuh terbuat dari apa sih, Ghe? Astaga.”


“Iya, Ghe. Kita tuh ker sama lo. Makanya kita semua gak mau tuh cewek kembali sekolah di sini.” timpal yang lainnya.


Namun begini jawaban Ghea, “Tuhan aja maha pemaaf. Lah kita cuma hambanya doang. Masa mau menyimpan dendam,” ujar Ghea dengan santainya. “Emang kita sekolah buat diajarin kaya gitu? Kan nggak. Udah deh. Kita tuh udah gede. Udah besar. Jadi harus tahu dan ngerti lah mana yang salah dan mana yang benar. Jika memaafkan seseorang menurut lo semua salah. Berarti lo semua gak waras! Karena mana ada orang waras yang nggak mau memberikan kesempatan.”


Diam-diam Tama menarik kedua sudut bibirnya. sedangkan cowok yang mempunyai tubuh tegap di depan sana hanya mampu berdecak kagum saja. Untung ini di sekolah, kalau di rumah udah Pak Gery ajak ke kamar aja tuh Ghea.


“Wih, ternyata teman kita yang satu ini udah besar, teman-teman,” kata Tama. Cowok itu siap mengejeknya lagi. “Ternyata ada hikmahnya juga ya Ghea kawin sama Pak Gery.”


“Nikah, Tam. Nikah.” Yang lain meralat. Katanya nikah sama Kawin itu sangat beda sekali.


“Kawin lah, Bro. Ghea kan nikahnya udah. Sekarang tiap malam pasti dikawinin mulu sama Pak Gery. Ya gak, Pak?” cibir Tama kembali seraya menaik turunkan kedua alisnya.


“Kamu push-up 100 kali, Tam!”


“Saya, Pak?” Pak Gery mengangguk. “Bapak kasih saya hukuman?” tanyanya lagi bersama wajah cengonya.


“Iya. Sekarang!”


“Tapi salah saya apa, Pak?” tanya Tama masih tidak mau beranjak.


TBC


Maaf telat update gengs.


Ini juga maaf kalau misalnya kurang ngefeel. Atau gak nyambung atau apa pun itu.


Tapi gak tahu kenapa aku lagi rindu masa remajaku.


Yang memang tidak akan pernah terulang dua kali ini.


Terimakasih untuk kamu yang menunggu.


Terimakasih untuk kamu yang masih setia.


Spam next nya dong biar aku semangat ngetiknya.


Biar bisa hibur kamu semua lagi dengan cerita sederhana ini.


Jangan lupa like dan jika ikhlas kasi hadiahnya ya buat kang ngetik amatiran ini.


Tolong satu kata buat Tama apa.


Seizy


Kang ngetik amatiran yang lagi seneng nonton. Hihi ILY gengss. Kecup basah jauh dari aku.