
Ghea melihat-lihat kotak itu. Barangkali ada nama pengirimnya yang tertulis di sana. Namun, tidak ada. Karena penasaran, pun Ghea membuka bungkusannya. Dengan pelan juga ia membuka kotak itu.
"Aaahhhh ..." Jerit Ghea. Ia berteriak kaget seraya melempar kotak yang sedang ada di tangannya. Shock, takut bersama dada Ghea yang kembang kempis. Keringat dingin mulai memenuhi kening, pelipis lalu turun ke rahangnya. Ghea merasa takut dan ... terancam.
Kotak teror tanpa tau dari siapa pengirimnya. Boneka beruang namun dipenuhi dengan darah. Juga tiga tusukan jarum di bagian kening, dada dan perut sang boneka. Entah apa itu maksudnya.
Ghea menendang boneka beruang yang sudah tergeletak di atas lantai, keluar dari dalam kotak. Menjauhkan barang yang seketika menakutkan itu dari hadapannya. Lalu berlari setelahnya ke dalam rumah. Tanpa menutup daun pintu.
Ghea mengambil hand phone yang tergoreh di atas meja kaca sofa. Dengan kedua tangan yang gemetar, Ghea mendial nomor Pak Gery. Menenpelkan benda pipih ke telinganga. Mencoba menghubungi sang suami yang tidak ada jawaban dari sana.
"Kamu ke mana, sih, Mas? Angkat dong!" Sesekali Ghea menoleh ke arah daun pintu yang masih terbuka. Terkadang juga membekap mulutnya sendiri agar tidak terisak, walau Ghea ingin sekali menjerit-jerit. Ingin minta tolong. Tapi pada siapa selain pada sang suami yang Ghea tahu masih berada di rumah sang Mama mertua.
Belum juga rasa takut dan shock akibat teror boneka beruang berdarah itu hilang, tiba-tiba dari halaman belakang Ghea mendengar suara kaca pecah. Seperti ada yang sengaja memecahkannya dengan sebuah lemparan.
Ghea tersentak. Kaget. Lalu menjatuhkan handphone yang sedang ia apit di telinganya. Tubuhnya kembali bergetar. Kali ini getaran itu terjadi sangat hebat. Sampai kedua kaki rasanya sudah tidak bertulang.
Perlahan Ghea melangkahkan kakinya walau kekuatan rasanya sudah tidak ada lagi. Mengedap seperti seorang pencuri. Sampai di halaman belakang pun Ghea tidak menemukan siapa-siapa. Hanya dugaannya benar. Pecahan kaca halaman belakang yang menghubungkan ke arah dapur itu sudah berserakan di atas lantai. Ghea kembali membekap mulut dengan kedua tangannya. Tubuhnya limbung, hendak terjengkang jika saja Ghea tidak menguatkan keseimbangannya. Air mata luruh jatuh mengenai pipi mulusnya. Sekali lagi Ghea ingin menjerit. Namun, tak sengaja ketika matanya menatap ke lantai. Satu kepalan batu yang terbungkus kertas berada di antara pecahan kaca. Ghea mengambil kepalan itu dengan tangan yang semakin bergetar.
Pelan membukanya, menjatuhkan batu yang tadi terbungkus oleh kertas. Lalu Ghea membuka kertas itu dengan sempurna. Selanjutnya Ghea membaca tulisan apa yang terdapat di sana. Di atas kertas yang sudah lecek.
Jangan percaya pada Gery! Karena dia adalah seorang pembohong!
"Apa maksudnya ini?" suara itu terdengar lirih. Bahkan hampir tidak keluar akibat suaranya yang seakan tercekat.
Ghea mengusap keningnya. Membekap mulutnya lagi. Lalu menjatuhkan kertas itu. Ancaman kini sedang mendominasi hidupnya.
**
"Makasih, ya, Bang. Lebihnya ambil aja!" Akhirnya penantian menunggu satu bungkus bakso pun berakhir. Pak Gery langsung berlalu dari warung tenda bakso langganan Ghea setelah mendapat apa yang diinginkan istrinya itu.
Pak Gery sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah. Meyakinkan dirinya sendiri jika feeling buruk yang tadi sempat mampir pada dirinya adalah salah.
Menyalakan mesin mobil setelah duduk dan memasang seatbelt pada dadanya, Pak Gery melajukan kendaraan besi miliknya. Meninggalkan warung tenda bakso.
Tak butuh waktu lama untuk Pak Gery sampai di rumah. Memarkirkan mobilnya di carport, Pak Gery segera membuka pintu dan turun. Setengah berlari menginjak teras depan rumah, Pak Gery seketika membulatkan matanya. Melihat ada sebuah kotak hitam dan boneka beruang berdarah di atas lantai rumahnya. "Ghea!" Pak Gery langsung teringat istri kecilnya itu. Lalu pandangannya melihat ke arah pintu yang terbuka. Pak Gery berlari. Dengan cepat masuk ke dalam rumah.
"Ghe ..., Ghea!" panggilnya dengan panik. Pandangannya mengedar mencari sosok wanita di dalam rumahnya.
Melangkah ke arah ruang tengah, Pak Gery menemukan handphone Ghea yang tergeletak di atas lantai. Lalu Pak Gery mengambilnya. "Ghea." Lirihnya. Kemudian Pak Gery mengarahkan pandangannya ke lantai atas. Tak banyak berpikir, auto berlari menapaki setiap anak tangga. Bahkan dua anak tangga pun sekaligus Pak Gery langkahi. Hanya tidak sabar melihat kondisi Ghea yang ia tahu pasti cewek itu tidak baik-baik saja.
"Ghe," sahut Pak Gery. Memanggil. Mengetuk pintu kamar dengan tidak sabaran. "Ini aku, Ghe. Buka pintunya! Aku pulang!" ujarnya. Sesekali menempelkan telinga pada daun pintu. Untuk mendengar apa ada suara di dalam sana. Namun, Pak Gery yakin jika Ghea ada di dalam. Karena pintu kamar yang terkunci.
TBC
Segini dulu. Maaf dialognya kurang banyak. Wkwkwkk...
...Jangan lupa untuk tap Like. Beri tanda cinta dan dukungan kalian untuk aku. Jangan lupa juga buat ramein cerita aku yang baru.....
...Harta Tahta Alia...