
.
.
.
Keland kembali ke kamar hotel. Ia tak menemukan cara yang tepat untuk menghibur Melisa agar gadis itu mau memaafkanya. Jujur ia bukanlah pria seromantis itu. Ia tak memiliki keunggulan untuk merayu wanita. Juka saja ia dan Melisa tak di jodohkan, mungkin saja ia tak akan pernah menikah dan mungkin tak akan pernah jatuh cinta.
Ia rasa acara mereka kali ini gagal total, karna mereka banyak berantam. Dan ia tak suka itu. Lebih baik mereka kembali saja, daripada semakin hari Melisa akan bertingkah semakin tak masuk akan nantinya.
Ia pun memutuskan untuk membereskan semua barang-barang mereka dan memasukkan semuanya kembali ke dalam koper. Ia pun segera memesan tiket penerbangan pulang ke Indo malam itu juga.
"Apa yang kakak lakukan?" tanya Melisa saat baru saja ia memasuki kamar hotel tempat mereka menginap.
"kita pulang saja," jawab Keland singkat dan Melisa pun menghembuskan nafasnya lelah. Seperti inikah rumitnya menikah? Menyebalkan juga, tak selalu sebahagia orang yang jatuh cinta.
Tak ingin berdebat lagi, ia pun ikut membereskan barangnya. Ia juga sudah tak punya alasan lagi untuk berlama-lama disana. Mending segera saja ia pulang dan bertemu teman-temannya.
Dan ia rasa, ia pun tak punya waktu untuk membelikan lebih banyak lagi hadiah untuk teman-temannya. Ia pun menghela nafas karna semua tak sejalan seperti yang ia harapkan.
_____
Saat ini mereka sudah di pesawat dalam penerbangan pulang ke Indo. Dan keduanya sama saja, tak ada yang minat memulai pembicaraan meskipun kini Melisa sedang sangat menahan diri agar tak melampiaskan ketakutannya akan ketinggian. Ia sangat menjaga harga dirinya agar tidak jatuh di hadapan Keland, jika tidak pria itu akan menertawakannya nanti di dalam hati.
Sementara Keland diam-diam sedari tadi melirik Melisa. Ia tau jika Melisa sangat ketakutan kini, tapi gengsinya terlalu tinggi hingga sok tidak perduli meskipun Keland ada di sampingnya yang bisa ia peluk kapan saja.
Dan Keland pun sama saja, ia biarkan saja Melisa seperti itu. Ia mau melihat seberapa kuat lagi Melisa akan menahannya sendiri.
Namun sebuah guncangan yang tiba-tiba saja membuat Melisa sangat terkejut dan ketakutan hingga tanpa sadar ia menangis sangat kencang.
"Huaaaaa..... Aku takuttt" tangis Melisa kencang hingga membuat Keland terkejut kemudian dengan reflek memeluk Melisa dan mencoba menenangkannya.
Lalu seorang pramugari pun datang menghampiri kedunya,
"Tenang pak, bu. Tadi hanya guncangan kecil saja. Tidak akan terjadi apa-apa, tolong ibu tenangkan diri agar yang lainnya tidak terganggu" ucap sang pramugari dengan lembut. Keland pun mengangguk dan memberi isyarat jika ia bisa menenangkan Melisa.
"Sttt--Melisa, kamu tenang yah. Aku ada disini, jangan takut sayang... Okehh, ku disini. jangan takut," ucap Keland menenangakan dan perlahan tangis Melisa pun kian reda. Kemudian ia mengangkat wajahnya untuk melihat wajah suaminya. Air mata nya pun lolos kembali namun tanpa suara. Segera saja ia kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Keland dan memeluknya erat.
Keland pun memeluk Melisa erat kemudian minta maaf "Maaf in aku yah, stttttt.... Kamu jangan takut, semuanya baik-baik saja," ucap Keland sembari mengeratkan pelukannya.
πππ
Keland dan Melisa telah tiba di Indo setelah memakan waktu kurang lebih 7 jam lamanya. keduanya pun segera menuju ke mobil dimana sopir mereka sudah menunggu.
Dan di sepanjang jalan Melisa terus saja menempel pada Keland seperti ketakutan padahal mereka sudah keluar dari pesawat. Tapi Keland tak mempermasalahkannya, ia membiarkan saja Melisa melakukan itu meskipun sedari tadi orang-orang menatap mereka dengan aneh di bandara. Mungkin saja orang lain menganggap mereka pengantin baru yang habis bulan madu sehingga sang wanita terus saja menempel. Padahalkan mereka pengantin baru stok lama.
Sesampainya mereka di rumah Keland melihat Melisa tertidur. Karna tak tega membangunkan ia pun segera menggendong Melisa memasuki rumah mereka.
Namun saat sampai di dalam, ia terkejut melihat kehadiran ketiga sahabat Melisa yang tampak seperti menunggu mereka.
Baru saja mereka akan teriak saat menyadari kehadiran Keland, namun dengan cepat Keland memberi isyarat diam lalu menunjuk Melisa dengan dagunya, bermaksud untuk mengatakan pada mereka jika Melisa tidur. Dan mereka pun segera mengerti dan akhirnya duduk kembali saat Keland memilih membawa Melisa di kamar untuk tidur.
Sementara ke tiga gadis alay tersebut malah sibuk bergosip,
"Melisa beruntung banget kan, saat tidur di gendonganin. Pak Keland juga langsung wanti-wanti agar tidur nyenyaknya gak kebangun. Kapan sih kita gitu?" sebal Chaca yang sampai kini memang masih iri pada Melisa.
"Makanya nikah," usul Fela santai
"Gimana mau nikah kalo calonnya gak ada?" ucap Rara. Yah, mereka bertiga memang kini resmi jadi jomblo. Setelah mereka memutuskan pacar masing-masing karna tak ingin merasa tidak enak dengan Reymond yang di tolak cinta nya oleh Melisa. Dan setiap kali mereka bertemu, mereka akan merasa tidak enak dengan Reymond yang malah seperti merasa terasingkan sendiri karna tak memiliki pasangan. Sejak itu pula lah mereka memutuskan untuk berteman saja semuanya agar tak ada kecanggungan. Dan kini mereka malah seperti telan batu saat mantan-mantan mereka sudah memiliki gandengan baru sementara mereka tidak, dan justru saat ini mereka semua jadi jarang bertemu karna yang lain beralasan ingin kencan dan kini pertemanan mereka semua makin kacau. Ahhh... Mengingat itu membuat mereka muak seketika.
Tapi sebenarnya tanpa sepengetahuan mereka saat ini Rara sedang menyukai seseorang. Ada seseorang yang awalnya ia penasaran namun kini ia kebablasan hingga mencintainya.
Tapi sayangnya pria itu sangat misterius yang membuat Rara semakin penasaran hingga ia terus saja mencari tau, hingga akhirnya ia menemukan sendiri jawabannya. Jawaban yang pada akhirnya membuat mereka dekat.
Tak lama Keland keluar dari kamar setelah menidurkan Melisa di ranjang. Ketiga sahabat yang sudah tak memiliki rasa segan pada Keland itu pun segera menodongnya dengan menuntut oleh-oleh.
Keland menghembuskan nafas, ia tau ketiga sahabat Melisa ini datang kemari hanya untuk itu. Ia pun segera menyeret sebuah koper kecil kemudian menyodorkannya pada mereka.
"Di dalam ada hadiah kalian. Kalian pilih saja masing-masing kemudian pergi dari rumah saya. Kami mau istirahat," ucap Keland santai kemudian berlalu membuat ketiga gadis tersebut mengerucut sebal. Tapi kemudian mereka tak perduli dan malah sibuk bongkar-bongkar koper.
Walaupun Melisa lupa membelikan mereka hadiah karna tak memiliki waktu lagi, tapi Keland tak lupa dengan ketiga gadis rewel itu yang tentu saja akan sangat merepotkan nantinya jika mereka tak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Bisa saja mereka akan membuat hancur rumahnya karna sebal dan ia tak ingin itu terjadi. Karna itulah ia sempat menyempatkan diri setelah dari restoran meninggalkan Melisa lalu membelikan beberapa benda dari negri ginseng tersebut yang cocok untuk jadi oleh-oleh dan sesuai seperti sifat mereka masing-masing menurutnya. Ia suami yang perhatian bukan? Bukan hanya pada Melisa, tapi juga pada sahabat Melisa.
....