Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 53


Gelembung besar bagai ombak menggulung tubuh Gery itu meruntuhkan pertahanannya. Air bening mengalir bagai hujan turun begitu deras dari langit. Membasahi pipi. Membuat kedua mata yang selalu bening itu memerah.


Sejak tubuh terbaring Ghea didorong di atas brankar lalu dimasukan ke dalam ruang operasi, Gery tidak henti-hentinya merapalkan do'a dalam hati. Semoga wanitanya itu bisa bertahan, meski Gery tahu jika Ghea terbangun, membuka mata, hal pertama yang akan wanita itu tanyakan adalah anak mereka. Gery sudah dapat menduga hal itu.


Dan sekarang pun, sejak lampu merah di atas pintu ganda menyala, kepala cowok itu penuh oleh jawaban apa nantinya yang harus Gery berikan pada Ghea?


Gery tentu saja tidak akan tega mengatakan jika bayi mereka telah tiada dan tidak akan ada bayi lagi yang tumbuh nantinya di dalam rahim Ghea karena dokter sudah mengangkatnya.


Gery tidak akan sanggup mengatakan kenyataan pahit itu, bukan?


Melihat wajah murung Ghea saja cowok itu tidak pernah bisa, apalagi jika nantinya Gery harus melihat raut kesedihan serta kehancuran di wajah berseri itu.


Gery tidak akan pernah bisa sanggup.


"I'm sorry, Ghe. I'm sorry. I'm sorry," gumamnya terus menerus. Suara yang biasanya selalu terkesan dominan dan dingin, kini suara itu bergetar. Parau. Lirih dan nafasnya hampir sesak oleh kepahitan. Alih-alih diam atau duduk, tubuh Gery terus saja mondar-mandir. Perasaan gelisah, resah terus menerus menggerogoti sang batin. 


Semua jemari lentik bergetar itu saling terjalin. Seolah tengah memberikan kekuatan untuk dirinya sendiri. Sesekali pula jalinan jemari itu terlepas untuk kemudian dijadikan sebuah kepalan. Lalu dilayangkannya kepalan tangan itu pada dinding samping pintu ganda yang sialnya sudah satu jam tidak juga terbuka.


"Aku udah gagal jadi suami kamu dan Ayah untuk anak kita, sayang." Rasanya Gery ingin sekali menghancurkan dinding ruang operasi. Lalu menembus dinding itu untuk menatap wajah Ghea. Memberikan kekuatan dalam genggaman tangan.


Alih-alih hanya memukul dinding menggunakan kepalan tangan. Serta dahi yang dibenturkan pelan.


"Aku gak becus jagain kamu dan bayi itu, Ghe. Aku gak becus," ujarnya sembari menjambak rambut hitam berantakan itu dengan dahi yang masih ditempelkan pada dinding.


"Andai dulu aku gak izinin Airin masuk ke dalam rumah tangga kita. Semuanya pasti gak akan kayak gini. Maafin aku, sayang. Maafin aku." Suara itu begitu lirih dan hampir tidak terdengar oleh dirinya sendiri.


Apa penyesalan selalu seperti itu? Datang terlambat dan tidak bertanggung jawab lagi dengan keadaan yang sudah terjadi karena sebuah sesal?


Itu yang kini dirasakan batin Gery. Menyesal.


Andai pula, sebelumnya Gery tahu kejadian ini akan teralami, mungkin Gery tidak akan pernah meninggalkan Ghea. Membiarkan wanitanya itu menyusul Airin yang berakhir dengan penculikan.


Andai, dari awal Gery tahu jika membantu Airin akan menyebabkan Ghea kembali masuk ruang operasi untuk yang kedua kalinya, Gery tidak akan menolong Airin saat malam itu. Jika Gery tahu, ia lebih baik membiarkan Airin dibawa oleh anak buah Nandan daripada harus Ghea yang mengalami hal seperti ini.


"Kamu harus kuat, sayang! Walau bukan untuk anak kita lagi. Tapi, please, Ghe … demi aku! Kamu gak boleh lemah. Aku gak peduli jika nantinya kamu bakal ngebenci aku karena aku gak bisa memenuhi apa yang kamu inginkan. Tapi, seenggaknya, aku terus bisa ngeliat wajah kamu, Ghe. Please jangan buat aku takut, sayang!"


Sungguh pula, ketakutan atas kehilangan itu muncul begitu saja. Tatapan Gery mendongak. Melihat lampu di atas sana yang masih menyala.


Terdengar derap langkah tergesa mendekat padanya. Gery menoleh ketika suara familiar mengusik indra pendengaran. Mama Dian dan Papa Dika langsung menyerbu Gery dengan sejuta pertanyaan. Yang dijawab Gery oleh diam membisu.


"It's okay, Ger. Gapapa. Meski kamu gak ngejelasin semuanya. Mama tahu, kamu ngerasa sesuatu yang berat di dalam sini." Usapan tangan Mama di dada Gery sedikit bisa menenangkan batinnya.


Tangan seorang Ibu seajaib itu. Meski masih begitu terasa sesak, tapi tidak sesesak ketika Mama dan Papa Dika belum datang untuk menemaninya. Memberikan kekuatan untuk raganya.


Gery masih tidak bersuara. Bahkan bibir tebal itu seolah terkunci rapat. Malah menekan kedua bibir menjadi satu garis saat tangan besar Papa Dika meremat bahunya. Menambahkan kekuatan untuk putra satu-satunya yang sedang dilanda kerapuhan itu.


**


Ruang bersalin.


Tubuh Airin setengah terbaring. Kedua tungkai kakinya terbuka selebar-lebarnya. Rambut panjang dan hitam Airin ditutupi. Kristal-kristal bening sebesar biji jagung mencuat keluar dari pori-pori dahi, lalu mengucur melewati pelipis, sisi wajah kemudian membasahi ranjang bagian kepala yang setengah naik.


Tarikan nafas Airin tersengal-sengal sampai kedua bahunya naik turun. Sementara dokter terus menginstruksikan Airin untuk mengejan.


Bukan di perutnya saja Airin merasakan sakit luar biasa. Akan tetapi sang batin. Dengan berjuang sendiri melahirkan seorang anak, tanpa adanya tangan seseorang mengusap kening untuk menghapus peluh yang membanjir itu. Menggenggam tangannya, dan suara yang terdengar di indra pendengaran untuk membisikan kalimat-kalimat kekuatan pada Airin.


Tidak ada seseorang yang menemani ketika mempertaruhkan nyawa demi sang anak, itu adalah satu kehancuran yang hakiki. Naluri Airin merasakan itu. Merasakan sesak luar biasa di dada.


Dikeluarkan Airin nafas lewat mulut. Kepalanya bergoyang bersama tangan kanan yang bergerak mencoba menggapai sesuatu. Untuk kemudian jatuh menyentuh tangan suster yang mengusap peluh di dahinya.


"Tolong panggilkan Pak Gery untuk saya!" Pintanya pada sister itu. Bola mata Airin menatap penuh permintaan meski setengah terbuka.


Bukan hanya suster saja yang bingung. Dokter pun ikut menegakkan punggung saking herannya pada permintaan Airin.


Untuk apa pula Airin berkeinginan seseorang memanggil Gery?


"Tapi, Pak Gery sedang menemani istrinya di depan ruang operasi, Bu." Suster itu menjawab sebagai penolakan tentu saja.


"Saya mohon!" Pintanya lagi. Malah mencengkram pergelangan tangan suster itu. "Saya butuh bicara dengan dia." Airin melanjutkan setelah mengeluarkan nafas lewat mulut. Rasa mulas dan nyeri menyerang raga serta batin Airin. Ia tidak tahu harus meminta pada siapa selain pada suami dari wanita yang sudah menolongnya.


Pada Ayahnya… Oh, rasanya itu masih tidak mungkin. Airin masih menyimpan sesak hanya untuk melihat wajah sang Ayah, apalagi harus meminta darinya.


"Jika tidak Pak Gery … tolong panggilkan Pak Adi. Laki-laki yang tadi membawa saya ke sini," pinta Airin. Matanya memohon lagi. Ia mengejan kemudian sambil mencengkram tangan suster oleh satu tangan. Sedang tangan yang lain mencengkram pinggiran brankar.


Kepala Airin terangkat. Menjauh dari bantalan. Suara mengejan memenuhi ruangan. Airin sudah tidak kuat sebenarnya. Tapi tidak, ia harus bisa melahirkan bayinya dengan selamat serta tidak kekurangan satu apa pun.


"Suster … hah hah hah … tolong pang … panggilkan Pak Gery … huh huh huh … atau Pak … Adi." Bicara Airin berantakan. Nafasnya tidak beraturan. Menarik nafas lalu Airin buang lewat mulut. Mulas di perutnya semakin mengajak Airin untuk mengejan. Tapi jujur, Airin butuh seseorang untuk bisa menyemangati diri. Meski ada suster dan dokter yang tidak ada henti untuk memberikan itu pada Airin, akan tetapi wanita itu membutuhkan tangan orang yang diharapkannya hadir.


Airin tahu jika itu tidak akan mungkin. Tapi, setidaknya harapan itu ada dan segala sesutu tidak ada yang tidak mungkin, bukan? Airin berharap orang itu akan memberikan tangannya untuk ia genggam.


"Aahhhh …" Kepala Airin terangkat lagi bersama suara keras memenuhi ruang bersalin itu.


"Ya, begitu. Terus semangat, Bu. Kepala dedenya sudah setengah terlihat. Sedikit lagi, Bu. Anda pasti bisa!" Dokter terus menyemangati di ujung brankar tempat Airin setengah terbaring. Kepala dokter itu menunduk. Melihat sesuatu hitam di antara belahan tungkai Airin yang terbuka lebar.


Hitam rambut bayi itu sudah terlihat meski belum sepenuhnya. Tapi dokter terus memberikan semangat untuk Airin. Sesekali pula kedua tangan dokter menekan paha Airin agar lebih terbuka dan bayi itu juga akan dengan mudahnya cepat terdorong keluar.


"Saya gak kuat, dok …" suara Airin bergetar. "Tolong."


Srekkk…


Hordeng berwarna hijau itu terbuka. Mata Airin melirik ke sana. Kepada sosok tinggi dengan lengan kemeja tergulung sampai siku.


Kedua sudut Airin sedikit terangkat. Membentuk senyum. Dengan nafas terputus-putus, Airin memanggilnya.


TO BE CONTINUED


Dear kamu ...


Aku udah gak tahu lagi harus bilang maaf berapa kali karena waktu update yang udah terlampau jauh banget dari terakhir kali aku UP. Udah gak tahu juga harus bilang apa lagi selain maaf.


Kemaren selama dua minggu itu tubuh aku drop banget. Sampe periksa aja dua kali. Dan itu baru aku alami.


Sedih sebenarnya, inget sama segala hal jika udah sakit. Terutama inget UMUR.


Tapi, terimakasih untuk kamu yang udah menunggu. Terimakasih untuk selalu memberikan komentar terbaik dan like. Terimakasih untuk segala hal dan dukungannya sampai dengan saat ini aku masih bisa ngetik. Walau pun ngetik di bab ini tuh berhari-hari bisa nyampe 1k kata lebih.


Tetap jaga kesehatan ya. Karena sehat itu benar-benar mahal. Sakit apa lagi.


Yang gratis itu ... ketika pas lagi sehat disakiti ... wkwkwk (canda)


ILY full for you.