Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 37


“Giliran aku, Ghe.”


DEGH DEGH DEGH DEGH


Tarikan nafas Ghea mengeluarkan hawa panas. Dada serta kedua bahu polosnya bergerak naik turun. Ia menelan ludah bersama bibir yang sedikit terbuka untuk kemudian digigit bibir bawah itu menahan gelora yang berasal dari dalam diri. Dan rasa itu semakin membakar saat Ghea mendengar suara yang berasal dari resleting celana jeans yang diturunkan Gery.


SREKKK …


Jantung pun memukul dada Ghea kuat dengan Gery yang setengah berdiri di kedua lutut yang bertumpu pada kasur. Di tengah-tengah kedua tungkai Ghea yang terbuka lebar. Perlahan dan pasti, Gery menurunkan celana melewati panggul. Meloloskan itu dari kedua kaki. Melempar asal celana jeans bermerek hingga bertumpuk dengan celana silver dan braa Ghea di lantai marmer.


Kerongkongan Ghea terasa kering mendadak. Ia menelan ludah untuk sedikit saja membasahi. Bagai di gurun pasir yang kekeringan, itulah yang Ghea rasakan. Juga dengan panas yang seakan membakar saat matanya menangkap bukit gairah Gery yang sudah berdiri menegang.


Kelopak mata berkabut gairah serta seringai yang muncul di wajah, Gery membuka sebungkus poil menggunakan gigi, itu terlihat seksi di mata Ghea karena, sungguh wanita yang sedang terpana oleh sosok di atasnya itu tidak pernah selama pernikahannya, ketika ingin bercinta melihat Gery yang benar-benar menawan melakukan hal itu.


Sial. Padahal hanya membuka sebungkus poil saja. Ck! Tapi, sudah membuat Ghea kembali bergairah.


Benda karet tersebut dipasang pada bukit gairah milik Gery kemudian.


Kepala Gery menengadah. Kedua mata terpejam saat ia menggesekan dirinya pada keindahan Ghea yang masih tertutup kain tipis berenda.


Demi kenikmatan. Ghea memejamkan kelopak mata. Merasakan sensasi luar biasa indah dengan Gery yang melakukan gesekan tersebut.


Puas dengan hanya gesekan di atas kain berenda Ghea, ditatap Gery keindahan wanita itu sebelum kedua tangan besarnya menurunkan hingga meloloskan kain berenda Ghea melewati tumit kemudian.


Sama dengan ketika Gery melempar celana jeansnya, ia juga melempar kain tipis berenda milik wanitanya ke atas tumpukan. Namun, sebelum Gery melakuka itu, ia lebih dulu mengendus-ngendusnya.


“Wangi,” kata Gery sembari menarik nafas dalam dengan kain tipis Ghea di depan hidung. Seakan cowok itu sedang mengendus kewangian dari keindahan Ghea sendiri.


Untuk saat ini Ghea tidak ingin tertawa dengan apa yang dilakukan suaminya. Karena jantung yang tidak dapat berkompromi dengan baik. Justru semakin memukul dadanya yang sialnya membuat Ghea suka.


“Jangan minta berhenti. Karena aku gak akan berhenti sampai sini, sayang!”


Tentu! Lagi pula siapa yang akan memintanya untuk berhenti. Kabut gelap akan kebutuhan itu sudah menyesakkan dirinya. Ghea seakan hilang akal dengan kebutuhan duniawi macam itu.


“Eumhh …” Semua jemari Ghea merenggut seprai karena sebuah kenikmatan yang tak ada duanya saat kegagahan Gery masuk pelan ke dalam dirinya. Serta Gery yang mengangkat wajah menatap langi-langit kamar yang bagai melihat pelangi indah di sana. Rasa surgawi mendominasi melesak di dalam diri keduanya.


Mulanya, Gery diam dengan bukit gairah yang sudah berada di dalam keindahan wanita itu. Sungguh pun, rasa nikmat itu tidak pernah berubah. Selalu menjadi candu dan ingin terus melakukannya lagi dan lagi.


Kini, rasa itu semakin membara saat dengan gerakan pelan Gery memaju mundurkan diri. sampai punggung Ghea menjauh dari kasur.


“Kamu gak papa?” pertanyaan Gery lolos sembari desahaan yang Ghea dengar ketika melihat wajah wanitanya memerah dan menggigit bibir. Lalu Gery melihat silih berganti semua jemari lentik Ghea mencengkram seprai.


Sejujurnya, Ghea ingin aktifitas nikmat surgawi dihentikan. Alih-alih demikian, kepala yang menekan ke bantal itu justru menggeleng.


Bibir merah dan basah itu ia gigit pelan. Guna menahan nyeri di perut.


Lalu, Gery mendekatkan wajah. Bibirnya menuju bibir Ghea untuk ia raup. Membelai begitu sensual kemudian.


Dijauhkan Gery lagi wajahnya. Ia hentikan gerakan indah panggulnya hanya untuk bertanya “Bener gak papa? Kalau misalnya kamu sakit atau ngerasa keram, aku bakalan berhenti.”


Mana bisa gitu? Ghea tatap bola mata abu miliknya dalam. Disana, Ghea melihat gairah terpancar kentara. Dan ia jadi tidak tega jika harus melihat suaminya bermandikan malam, hanya untuk melunturkan luapan gelombang api yang semakin berkobar di dalam mata indah suaminya itu.


“Aku juga gak setega itu, sayang kalau lihat kamu kesakitan,” kata Gery masih tidak melakukan gerakan nikmat apa pun, selain bukit gairahnya yang mendesak di dalam keindahan surgawi milik Ghea.


“Eumhh … Aku gak papa, Mas. Lanjutin aja!” jawab Ghea. Wajahnya semakin terbakar. Dikendorkan Ghea jemari dari mencengkeram seprai untuk kemudian kedua tangannya mengalung di perpotongan leher Gery. Lalu, ditempelkan kedua telapak tangan itu di pundak tegap dan kokoh Gery.


Ditarik Ghea pundak lebar itu. Dan hangat di sekujur kulit Ghea rasakan saat sebagian kulit tubuh Gery saling bersentuhan dengan dirinya. Kobaran api kini bersarang di kepalanya ketika Gery mulai bergerak lagi. Memaju mundurkan diri. Dan membuat Ghea semakin dibuat hilang akal. Lalu, rasa ingin meledak hampir sampai.


Satu tangan Gery yang lain berada tepat di samping kepala Ghea. Menahan beban tubuhnya untuk membayangi Ghea yang ia dominasi saat ini.


Hentakan demi hentakan dilakukan Gery sampai rasa nyeri di perut wanita itu bercampur dengan rasa surgawi.


“Eumhhh… Ghe…" Panggilan disertai desaahan saat Gery ingin mencapai puncak ternikmatnya. Wajahnya ditundukan Gery, mulutnya menguluum puncak mengeras kecoklatan Ghea. Membuat wanita itu menarik nafas panjang dirasa perutnya mengetat oleh gelombang besar.


Sebelum Gery mencapai kepuasan, Ghea lebih dulu merasakan gelombang itu. Suaranya begitu merdu saat Ghea memanggil namanya. Memanggil Gery bersama kelopak mata terpejam. Dan rengkuhan kuat di leher Gery membuat cowok itu harus menguatkan sikunya agar tetap membayangi tubuh Ghea. Jika tidak, bisa saja kandungannya tertekan oleh perut dengan otot-otot liat Gery.


Menghentakkan kegagahannya lebih dalam lagi ketika dirasa Gery lahar panas hampir berada di ujung. Ia menggeram nikmat dan mengangkat wajah mengarah pada langit kamar dengan kelopak mata terpejam sembari bibir seksi itu memanggil nama Ghea dengan nafas panjang.


Pencapaiannya telah usai. Gery menarik diri dari keindahan wanitanya. Melepaskan sebuah karet yang menampung cairan kental di dalamnya. Mengikat benda tersebut untuk kemudian cowok itu membuangnya ke tempat sampah yang terletak di sudut kanan kamar dengan Gery lebih dulu beranjak dari kasur.


Saat tubuh cowok itu berbalik menghadap kasur, dilihatnya Ghea meringkuk melipat kedua lutut di atas kasur bersama tubuh polos. Kedua tangan wanita itu berada di atas perut dan kelopak mata terpejam.


Ditarik Gery nafas dari paru-paru lalu dibuangnya lewat mulut. Mengguyar rambutnya sembari melangkah ke arah ranjang, Gery mengusap puncak kepala Ghea, ditarik selimut dari ujung kakinya untuk kemudian tubuh polos itu tenggelam dalam balutan selimut hangat.


Dikecup Gery kening Ghea sebelum kaki panjangnya melangkah melewati ujung ranjang. Tangan besar berotot liat itu menarik handuk dari tumpukan di dalam lemari. Dibalutkan benda kain lembut berwarna putih itu ke pinggang. Kini, yang terekspos hanya tubuh bagian atas Gery saja. Otot kotak-kotak di perut menonjol, serta otot di atas lengannya membuat ia terlihat gagah dan memikat.


Jika saja, Ghea melihat dan tidak merasa perutnya seperti ditusuk, mungkin gairah itu akan bangkit lagi. Dan Ghea siap menggoda suaminya jika cowok itu tidak mau.


Kelopak mata Ghea terbuka saat mendengar pintu kamar yang dibuka oleh Gery tentu saja.


Ia bangkit dengan menahan selimut tetap di dada. Membawa beban tubuh untuk bersandar pada hearboad menggunakan satu tangan yang lain. Cairan itu keluar tanpa Ghea suruh. “Eumhh …” Rasa sakit di bawah perut seperti ditusuk oleh keruncingan ujung belati tajam.


“Ya ampun… kenapa sesakit ini, sih?” Jika saja tidak ada nyawa di dalam perutnya, Ghea sudah menekan bagian itu untuk menghalau rasa nyeri. Namun, yang Ghea lakukan justru mengusap perut yang terhalang selimut. Wajah tertunduk sambil berbisik. “Yang kuat, ya, sayang. Bunda sayang kamu. Bunda janji, Bunda akan pertahanin kamu sampai lahir. Sampai kamu lihat betapa indahnya dunia ini. Sampai kamu dengar Bunda jika betapa Bunda mengharapkan kehadiran kamu di hidup Bunda sebagai kebahagiaan dan mimpi indah Bunda saat Bunda terlelap. Dan jika nantinya Bunda tidak sempat merawat kamu sampai tumbuh besar atau kamu yang tidak sempat melihat wajah Bunda…” Ghea menahan kalimat. Melipat bibir sesaat. “Kamu harus tahu, kalau Bunda begitu sayang kamu, Nak. Cinta Bunda sama seperti Cinta yang Bunda berikan untuk Ayah."


Diusap Ghea cairan bening bak kristal di pipi sembari menenggelamkan diri ke dalam selimut saat terlihat knop pintu diputar ke bawah dari luar. Memejamkan kelopak mata kemudian. Kembali ke posisi awal.


Tubuh Gery masuk melewati celah pintu. Mangkuk kaca bening berukuran sedang berada di satu tangan. Bersama tangan yang lain menutup rapat pintu itu kembali. Rupanya, cowok yang hanya mengenakan handuk di bagian tubuh bawahnya itu ke luar kamar sekedar untuk mengambil air hangat.


Disimpan mangkuk berisi air itu di atas nakas. Sungguh pun, demi waktu yang terus berjalan kulit punggung Ghea tiba-tiba merasakan udara dari sejuknya AC. Gery menyibak selimut. Namun, hanya bagian punggungnya saja yang ia buka. Diletakan handuk seperti ukuran sapu tangan pada punggung Ghea. Tepat di bagian panggul wanita itu.


Rasa basah disertai hangat dari handuk kecil menjalar di bagian punggung karena Gery yang sebelumnya telah mencelupkan handuk ke dalam air hangat kuku di mangkuk. Satu tangan besar cowok itu menahan handuk agar tetap menempel pada panggul Ghea. Gery mengompresnya.


Selain itu, cowok yang selalu Ghea kagumi akan kelembutannya memijat lembut bagian punggung Ghea menggunakan satu tangan yang lain. Tepat di atas handuk yang menempel di panggul. Gery duduk di samping perut Ghea.


Sungguh pun, Ghea tidak akan mengetahui jika mata suaminya tidak mengalihkan pandangan dari menatap wajah penuh peluh karena kelopak Ghea yang terpejam.


Namun, pendengaran Ghea yang tajam masih mampu menangkap suara merdu darinya. “Saking tidak maunya aku kehilangan kamu, Ghe. Aku rela untuk kehilangan buah dari cinta kita." Pijatan lembut itu terus dilakukan Gery. “Aku minta maaf, sempat maksa kamu buat gugurin dia.” Suara Gery tiba-tiba tercekat. “Aku tahu aku egois. Maafin Ayah, ya, sayang. Karena Ayah sempat maksa Bunda buat hilangin kamu dari dalam sini,” kata Gery hampir kehilangan suaranya akibat menahan agar ia tidak menangis.


TO BE CONTINUED …


Lahhh ... selain berdebar, aku pun berkedut.. Ehhh


Jari maksudnya ... (tertawa jahat)


Anw, aku punya akun youtube. di subscribe ya akak akak mamen..


Nama channelnya PENULIS AMATIR. Aku juga upload video novel di sana. ckcckkkk


Instagram : seizyll_koerniawan.


Facebook : Penulis Amatir