
Hidup memang tidak selalu sejalan dengan apa yang kita inginkan. Kita harapkan. Kita bayangkan dan bahkan
kita mimpikan. Semuanya sudah teratur salam garis Tuhan. Kita sebagai hamba hanya mampu untuk menjalankan skenario dri-Nya saja.
Tidak apa jika kita sangat menyesalkan dengan semua itu. Namun,tidak untuk setiap waktu dan setiap saat bukan?
Penyeslan tidak akan mengubah segala sesuatu yang sudah terjadi. Terlampau dalam rasa sesal itu ada memang. Namun, biarkan itu menjadi sebuah kenangan yang akan diingat semasa hidupnya.
Empat tahun sudah berlalu saat kematian yang hampir datang merenggutnya. Kini ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kedua yang Tuhan sudah kasih untuknya. Yaitu menikmati setiap embusan nafas.
Empat tahun itu juga ia sangat terpukul sebenarnya dengan apa yang menimpa sahabatnya. Namun, ikhlas dan tegar, itu yang harus ia tanamkan di dalam dirinya.
Seorang wanita dengan puncak kepala yang tertutup sebuah kerudung hitam sedang bersimpuh di sebuah pusara dengan tanah yang sudah lama mengering. Tangan yang bergetar mengusap-ngusap batu nisan
dengan lembut dan penuh perasaan. Pun bersama air mata yang terus menetes seakan tidak ingin berhenti. Tanah itu bertabur bunga mawar kesukannya. Sebulan bahkan jika ada banyak waktu ia selalu mengunjungi makam tersebut satu minggu sekali. Tidak lupa sambil membawakan bunga itu untuk ditabur atau jika tidak, sebuket mawar
akan ia simpan tepat di atas makam tanah Ocy.
Wanita itu tidak sendirian. Ia selalu ditemani oleh lekaki yang selalu sabar menjadi teman hidupnya. Teman tidurnya
di dalam satu ranjang dan teman yang selalu ada setia mendampinginya ketika ia terbaring lemah tidak berdaya ketika ia koma dulu. Lelaki yang tidak pernah absen untuk mengucapkan selamat pagi atau selamat tidur padanya. Lelaki yang terus meneleponnya ketika sedang bekerja hanya untuk menanyakan apa ia sudah
makan atau belum. Lelaki yang ketika akan tidur tidak pernah lupa mengecup keningnya. Lelaki yang selalu bersikap cuek namun sangat begitu romantis padanya ketika sedang berdua dengannya. Lelaki yang ternyata sudah menyimpan rasa padanya lebih dulu bahkan sejak dulu.
“Sudah?” dan lelaki itu yang kini menemaninya berdiri di belakangnya, menepuk pundaknya pelan.
Sebelum menoleh, Ghea lebih dulu menghapus cairan kristal di pipi. Lalu barulah Ghea mendongak. Menatap lelakinya yang sedang memberikan senyum manis untuknya seraya mengangsurkan bingkai kaca hitam
yang membingkai kedua mata indahnya itu.
Gery membantu Ghea untuk berdiri. Memegang kedua bahunya kemudian cowok itu menyematkan rambutnya yang terkena angin ke belakang telinga. “Rambutnya gak bisa diem,” ujarnya dengan suara yang lembut
yang mampu menggetarkan jantung Ghea kembali.
“Lupa bawa iket rambut akunya. Jadi kena angin kayak gini, deh.” Ghea lalu menarik kedua sudut bibirnya. Tersenyum pada Gery. Dan itu justru membuat Gery semakin tidak nyaman berdiri di atas kakinya.
Tahukah, walau sudah lama menjadi suami Ghea dan sekarang pun akan menjadi calon seorang Papa, Gery selalu tidak tahan untuk membawa Ghea ke dalam kamar jika bibir cewek itu menunjukan senyum yang
menurutnya adalah hal sangat sayang jika untuk dilewatkan. Sangat ia sukai tentu saja karena ini merupakan satu keajaiban baginya dapat melihat senyum itu lagi. Dan Gery berharap ia akan selalu melihat senyum dari wanitanya ini.
“Ya, udah, pulang yuk!” ajaknya yang langsung mendapat anggukan kepala dari Ghea. Hari sudah semakin sore dan jingga pun perlahan mulai menunjukan warnanya di langit sana. Menggantikan biru cerah
dengan senja yang begitu indah.
Lalu keduanya berjalan meninggalkan makam Ocy. Namun, sebelum itu Ghea sempat menatap batu nisan bertuliskan nama sang sahabat dengan nanar. Mengusapnya lagi sebelum benar-benar meninggalkan tempat
tersebut.
Tangan Gery melingkari pinggang Ghea begitu posesif. Membuat Ghea merasa nyaman dan aman mendapat perlakuan demikian dari suaminya ini. Rasanya seperti seorang yang sedang jatuh cinta lagi. Ghea begitu
menikmatinya. Apalagi ketika Gery membukakan pintu mobil untuknya. Menyimpan tangannya di atas kepala Ghea agar kepala cewek itu tidak terbentur ketika tubuhnya masuk ke dalam mobil sana. Lalu Gery juga tidak lupa membungkukkan tubuhnya hanya untuk memasangkan Ghea seatbelt. Setelahnya Gery dengan sengaja
akan mengecup bibir Ghea sekilas. Selalu itu yang akan cowok itu lakukan. Bersikap manis dan berkata nakal ketika di dalam kamar. Itu yang membuat Ghea merasakan jatuh cinta lagi dan lagi pada Gery.
****
“Kok malah didiemin gitu baksonya?” tanya Gery sesaat setelah melahap kuah bakso yang memang begitu sangat
menggiurkan untuk siapa saja menikmat makanan yang satu itu.
Sebelum pulang ke rumahnya, di jalan Ghea memang sempat meminta Gery untuk membeli bakso lebih dulu. Namun, keduanya tidak makan di tempat seperti yang sering mereka lakukan. Ghea hanya sedang
tidak ingin. Jadi, Gery membeli makanan itu untuk dibawanya pulang.
Biasanya Ghea akan sangat bersemangat. Melahap bakso itu tanpa sisa. Bahkan lebih parahnya ketika di mangkuk Gery masih ada, wanita itu tidak akan malu untuk memintanya. Lagi. Namun, berbeda dengan kali ini. Gery melihat Ghea yang hanya sibuk mengaduk-ngaduk kuah baksonya saja tanpa minat sama sekali.
“Ghe,” tegur Gery. Ghea pun mendongak bersama gumaman kecil yang keluar dari mulutnya. “Kenpaa gak dimakan? Tadi katanya kepengen bakso.”
Lalu Ghea menyimpan sendok dan garpu yang sedang ia pegang. Menopang dagunya dengan satu tangan dan siku sebagai penyanggah setelah menggeser mangkok di hadapannya itu. “Tadi sih iya aku kepengen bakso. Tapi ….” Diam-diam Ghea melirik wajah Gery yang ternyata sedang menatapnya. “Gak jadi ah,” ujarnya kembali menundukan kepala.
Gery melipat kedua tangannya di atas meja makan. “Tapi apa? Hem?”
Ghea tersenyum. Melipat kedua bibirnya dalam. Dan Gery tahu arti dari senyum itu apa. Walau begitu, Gery tetap
mendengarkan apa yang dimau wanitanya itu.
“Kok kamu lihatinnya gitu banget, aih, Mas?”
Gery memundurkan kepalanya. “Emang aku lihatinnya gimana? Biasa aja deh perasaan,” ujar cowok itu mempertahankan pandangannya.
Mengernyit heran, Gery menurutinya. “Udah nih. Udah nunduk gini. Terus sekarang maunya apa?” tanya cowok itu sembari menatap siku Ghea yang menyentuh meja makan.
“Tapi jangan marah, ya!”
“Iya.”
“ Beneran, nih gak bakal marah?” Wajah Ghea sedikit menunduk untuk mengintip mata cowok itu.
“Iya. Nggak bakal.”
“Janji dulu tapi kamunya, Mas!”
Oh astaga …
Gery menghela nafasnya kasar. Sabar. Ya dia harus punya sabar yang ektra untuk menghadapi wanita hamil di hadapannya ini.
“Iya. Janji,” katanya setengah ragu tapi.
“Aku mau itu, Mas.” Sebelum melanjutkan kalimatnya, Ghea menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
“Mau apa, Ghe?” sungguh gemas sekali wanitanya Gery ini. Boleh gak kalau Gery bawa Ghea ke kamar saja?
“Tuh, kamunya marah gitu. Gak jadi ah.”
Ya Tuhan … lebih baik Gery menghadapi semua klien galak di kantor dari pada harus menghadapi wanita hamil ini. Yang terkadang membuat sabarnya itu tertelan dalam. Lalu mata Gery mendongak. Kemudian dalam hitungan detik mempertemukannya dengan mata Ghea yang sudah memerah.
“Siapa yang marah, sih, Ghe? Aku gak marah. Aku kan nanya sama kamu. Kamu mau apa?” Jika saja di sini ada pabrik sabar, mungkin Gery sudah membelinya lebih dari satu kilo. Tapi sayang, sabar itu hanya bisa dimiliki oleh manusia yang benar-benar punya rasa itu. Karena sesungguhnya sabar memang tidak ada batasnya.
Gery menyentuh tangan Ghea kemudian menariknya untuk ia kecupi punggung tangannya tersebut. “Lagi kepengen apa? Hem? Biar aku beliin lagi buat kamu.” Sebisa mungkin Gery melembutkan nada suaranya itu agar Ghea tidak salah paham padanya.
“Aku lagi pengen makan soto,” ujar cewek itu malu-malu dengan suara yang pelan.
“Oke. Kalau gitu aku beliin ya.” Sebelum melepaskan tangan Ghea yang digenggam, Gery mengecupnya lagi kemudian cowok itu bangkit dari duduknya.
“Eh, Mas.” Ghea menahannya lagi dengan memanggil namanya. Membuat Gery kembali mengarahkan atensi padanya. “Kenapa? Ada yang lain yang kamu pengen? Nanti sekalian aku beliin mumpung masih belum
malam banget.”
“Aku mau makan soto,” kata Ghea.
“Iya. Ini kan mau aku beliin, Ghe.”
“Soto madura ya, Mas,’ ujarnya lagi.
“Iya.”
“Tapi aku makannya pengen di sana
langsung.”
“Ya udah kalau gitu hayu.” Gery hendak melangkahkan kakinya sebelum itu Ghea tahan lagi. Lalu cowok itu menghela nafasnya berat. “Kenapa lagi, Ghe?”
“Maksud aku … aku pengen makan sotonya di Madura, Mas.”
Astaga.
To be continued . . . .
Udah tnggal 1 aja ya gak kerasa. padahal baru kemaren rasanya aku kasih infoh kalau mau up tgl 1. eh udah berjalan aja gitu.
Ngomong-ngomong makasih untuk yang sudah menunggu setelah sekian lama purnama. Jangan lupa untuk tetap dukung cerita ini dengan kasih tanda cinta kamu. Like dan komennya tentu dong!!!
Btw yang punya akun w-a-t-t-p-a-d jangan lupa buat follow akun aku ya. Di sana aku juga punya cerita sederhana. hihiii
seizy :
si kang ngetik amatiran balik lagi yang tentunya rindu dengan komenan kamu semua. ILy