
"Lo begoo, sih! Ngapain pake bilang ke Gheanya segala coba jika dia mau digandeng bodyguard? Harusnya lo diem-diem aja, Ger. Gak usah bilang-bilang! Biar Ghea gak marah. Dan mungkin sekarang Ghea bukan hanya marah. Bisa jadi dia malah curiga dan mencari tahu alasannya. Kenapa lo yang tiba-tiba mau menyewa jasa bodyguard segala buatnya."
Adi duduk bersandar di kursi depan meja kerja Pak Gery. Keduanya kini sedang di dalam ruang kerja suami Ghea itu, setelah tadi sempat mengobrol dengan Papa Dika prihal masalah kantor.
"Lo ngatain gue begoo?" Pak Gery mendelikkan matanya tidak suka. Ia yang awalnya duduk santai bersandar di kursi kebesaran berbahan busa yang empuk itu, perlahan mencondongkan wajahnya pada Adi yang justru membuat sang sepupu terkekeh geli.
"Hem," gumam Adi bersama wajahnya yang dibuat jenaka.
"Gak salah lo ngatain gue kek gitu?" Tangan Pak Gery meraih balpoin yang tergeletak diatas meja kerjanya. Tepat di samping laptop berwarna silver yang tertutup rapat.
"Gak!" Pun Adi menjawab. Mengejek Pak Gery sambil terus menggoda cowok itu. Lalu terkekeh-kekeh melihat ekspresi wajah sang sepupu yang mulai merah.
Dan satu lemparan balpoin Pak Gery hadiahkan pada Adi. Namun, refleks tangan Adi menangkisnya. Hingga balpoin itu tidak mengenai wajah Adi. Melainkan terlempar ke arah samping. Mengenai lemari kaca besar yang terletak tidak jauh dari tempat Adi duduk. Lemari dengan banyaknya buku-buku tebal di dalamnya.
"Sialan, lo, Di." Pak Gery berdecak. "Harusnya sebelum lo ngatain gue begoo, lo ngaca dulu, deh! Nih, ya, kalau gue gak bilang sama Ghea jika dia bakal digandeng bodyguard, dan jika pun gue diam-diam menjaga Ghea dengan cara seperti itu. Dia pasti bakal lebih curiga, Di. Dipikirnya pasti ngapain ada orang yang ngikutin dia. Iya kan?"
Benar juga, sih, apa yang dibilang Pak Gery. Adi mengangguk akhirnya. Membenarkan apa yang dijelaskan sang sepupu.
"Ya, udah, deh, Ger. Dari pada ribet mulu hidup lo, nih, mending lo jujur aja gitu sama Ghea! Kalau lo itu--"
Pak Gery bangkit. "Gak bisa, Di." Lalu berjalan ke arah kaca jendela yang terhubung dengan halaman belakang rumah Papa Dika. Mengantongi kedua tangannya pada saku celana, tatapan Pak Gery lurus ke depan. Menatap rerumputan hijau di halaman belakang yang mulai tumbuh dan belum sempat tukang kebun memotongnya. "Gue gak tahu harus mulai dari mana jika gue harus jujur sama Ghea," ungkapnya penuh dengan berbagai pemikiran di dalam kepalanya.
Adi juga ikut bangkit. Ia menghampiri Pak Gery seraya berujar, "ya, mulai aja dari lo yang emang gak kenal sama dia, sampai bagaimana dia bisa jatuh cinta sama lo. Bahkan sampai tergila-gila sama lo, Ger!" sahut Adi berdiri di belakang Pak Gery. Pandangannya juga ikut mengarah ke mana pandangan Pak Gery melihat.
"Ck!" Pak Gery memutar tubuhnya. Kini ia saling berhadapan dengan Adi. Namun, tanpa mengeluarkan kedua tangan dari dalam saku celananya. "Gampang kalau lo yang ngomong, Di. Nah, gue? Gue takut Ghea bakal marah sama gue. Berapa kali, sih, gue harus bilang jika gue, tuh, takut banget kehilangan Ghea, Di? Nyebelin gak, sih, gue ini, Di?"
"Iya. Nyebelin banget malah, Ger." Ledek Adi terkekeh-kekeh. "Gini, nih, tipe-tipe cowok yang sudah dikuasai oleh budak cinta, dikit-dikit takut kehilangan, dikit-dikit takut kehilangan. Ck, lama-lama kehilangan juga kali lo, Bro, kalau hubungan lo dilandasi dengan kebohongan."
Tumben nih Si Adi otaknya bener? Biasanya kan segala sesuatu selalu dianggap remeh sama dia. Sampai-samapi Pak Gery pernah berpikir, kok bisa-bisanya Papa Dika menjadikan Adi sebagai orang kepercayaan perusahaannya.
ak Gery tak menjawab lagi. Karena apa yang dikatakan Adi benar adanya.
TING
Pun Pak Gery mengalihkan atensinya pada handphone yang tersimpan diatas meja kerja ruangan itu. Melirik Adi sekilas, sebelum ia langkahkan kakinya untuk meraih handphone dengan notifikasi chat masuk.
Pak Gery membuka aplikasi chat setelah membuka pascode handphonenya. Kemudian mengernyit dalam saat pesan itu ia baca.
Pookie
Mas, masih lama gak di rumah Mamanya? Buruan dong pulang! Aku takut sendiri, nih, di rumah. Mana aku lapar lagi. Buruan pulang, ya, Mas!
ak Gery menggelengkan kepalanya samar saat sudah membaca chat dari sang istri. Salah siapa juga dia gak mau ikut tadinya? Sekarang kan Pak Gery ingin sekali menertawakan Ghea.
Di sisi lain.
Ghea kini sedang uring-uringan. Perutnya sangat lapar sekali. Cemilan yang ada di dalam toples pun sudah ia habiskan. Mau masak mie instan tidak lagi berselera, dan masak pun percuma karena gak bisa.
Ters mengecek handphone yang tersimpan diatas meja sofa. Sebentar-sebentar Ghea ambil. Lalu disimpan lagi saat belum ada balasan dari sang suami. Ghea merasa kesal sendiri.
Saat hatinya sedang resah karena lapar. Bel di depan pintu sana berbunyi. Ghea mengernyit. Berpikir, siapa yang bertamu? Lalu ia bangkit. Namun, sebelum melangkah untuk membuka pintu, Ghea sempat mengetikan sesuatu di handphonenya. Lalu mengirim pesan itu pada nomor yang ia berinama kontaknya inisial G.
"Y, sebentar. Astaga. Siapa, sih, yang namu sore-sore gini? Mana gak sabaran banget lagi," gerutunya kesal sambil berjalan ke arah pintu depan.
Ghea memutar kunci. Setelah berbunyi klek, Ghea pun menarik handle yang terpasang di kedua daun pintu. Ghea celingukan ke kanan dan ke kiri saat pintu itu sudah terbuka setengah lebar. Ternyata tidak ada siapa-siapa.
"Rese banget, sih, tuh yang nekan bel. Gak ada kerjaan banget!" umpat Ghea setengah kesal.
alah. Orang lagi duduk nungguin chat dari suami. Ada bunyi bel. Lalu pas di buka pintunya kagak ada siapa-siapa. Kesel banget gak tuh?
Ghea terus mengumpat. Mengutuki orang iseng itu. Setelah puas ia memutar tubuh hendak balik lagi ke dalam rumah. Namun, kakinya tidak sengaja menendang sesuatu yang tergeletak diatas lantai. Ghea mengernyit dalam sebelum ia raih kotak yang terbungkus diatas lantai itu.
Ghea melihat-lihat kotak itu. Barangkali aa nama pengirim yang tertulis di sana. Namun, tidak ada. Karena penasaran, pun Ghea membuka bungkusannya. Dengan pelan juga ia membuka kotak itu.
"Aaahhhh ..."
**
TING
Satu pesan lagi masuk ke dalam nomor handphone Pak Gery. Dan nama -
Pookie
Mas aku mau bakso, ya. Pulangnya beliin. Aku gak mau makan kalau kamu gak bawa baksonya. Tapi bakso yang dijual di deket rumah Mama Papa aku, Mas. Sayang kamu, deh. Lope Lope pokoknya kalau dibawain bakso itu. Hihihiii
"Siapa?" tanya Adi menepuk bahu Pak Gery. "Ghea?" Pak Gery mengangguk. "Elahhh pake senyum-senyum segala lo. Lebay banget dah. Dasar bucin!" ledek Adi lalu terkekeh lagi.
Rasanya tangan Pak Gery gatal kalau tidak menimpuk Adi.
BUKKK
"Aw." Pekik Adi mengusap belakang kepalanya yang berhasil Pak Gery timpuk dengan buku tipis. "Doyan banget lo nimpukin pala gue?"
"Bodo!"
"Ck, udah, ah, sono lo pulang. Nenenn sono sama bini lo!" Sambil terus mengusap belakang kepalanya.
"Gak usah lo suruh juga bakal gue lakuin kali yang itu mah," sahut Pak Gery sembari memakaikan jaket kulit berwarna hitam ke tubuhnya. Lalu memasukan handphone ke dalam saku celananya.
"Dasar bayi gede!"
"Bodo amat!" Pak Gery meraih kunci mobil lalu melangkah ke arah pintu. Memutar handlenya dan keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Adi yang terus mengumpat padanya.
"Ger, mau kemana?" Mama Dian bertanya. Ia sedang menyiapkan makanan untuk makan malam di meja makan.
"Aku pulang dulu, ya, nanti besok mampir, deh, pas pulang sekolah. Aku ajak Ghea juga." Pak Gery menghampiri Mama. Memberikan satu kecupan di pipi kiri sang Mama sebelum pulang.
"Gak makan malam dulu, Ger? Atau mau bawa aja ke rumah kamu, biar nanti makan malam sama Ghea di sana?" tawar Mama Dian. Ia akan mengambilkan rantang di dapur. Namun Pak Gery menahan tangan Mama. "Gak usah, Ma. Ghea tadi chat aku katanya lagi kepengen makan bakso aja," jawab Pak Gery.
"Ghea lagi hamil gak, Ger?" tanya Mama Dian berseri-seri.
Pak Gery merangkul bahu Mama. "Gak, Ma. Kita kan udah sepakat mau nunda punya anak dulu, Ma. Ghea juga masih belum cukup umur untuk hamil dan punya anak kan? Masih sekolah juga. Terus nanti bakal kuliah juga."
"Iya, sih, Ger. Tapi Mama tuh udah gak sabar pengen punya cucu."
"Sabar aja dulu, ya, Ma. Kasihan Gheanya juga kalau buru-buru punya anak."
Mama Dian mengangguk mengerti. Menyentuh punggung tangan Pak Gery yang tersimpan diatas bahunya. "Ya, udah sana cepet pulang. Kasihan Ghea sendirian di rumah! Lagian Ghea kenapa juga gak mau ikut kamu, sih?"
"Ma ... besok siang, deh, ya, abis pulang dari sekolah aku ajak Ghea ke sini."
"Ya, udah, iya. Cepetan sana pulang!"
"Ngusir banget, sih, Mama sama anaknya?" canda Pak Gery seraya terkekeh.
"Hus. Bukannya ngusir. Orang tadi kamu bilang sendiri mau pulang."
"Ya, udah, aku pulang, ya, Ma. Papa mana?" Dari tadi itu Pak Gery kemana aja baru nanyain soal Papa Dika yang memang tidak terlihat di sana.
"Papa lagi nelepon di kamar." Mama Dian menjawab seraya tangannya dengan cekatan menyiapkan piring bersih diatas meja.
"Kalau gitu aku titip salam aja buat Papa!"
"Iya."
**
Setelah keluar dari rumah besar Mahardika, Pak Gery melajukan mobilnya untuk membeli bakso yang Ghea mau sebelum ia pulang ke rumah. Pak Gery terlihat mencoba menghubungi Ghea beberapa kali sambil menunggu pesanannya dibuatkan oleh kang bakso karena saat melihat handphonenya, ada notifikasi panggilan tak terjawab dari Ghea beberapa kali. Lalu ia kembali menghubungi nomor yang ia beri nama Pookie itu. Namun, tak ada jawaban dari sana walau nada sambung terdengar.
"Ghea kemana, ya?" tanyanya pada diri sendiri bersama perasaannya yang tiba-tiba tidak enak. Duduknya pun terlihat tidak tenang. Pak Gery gelisah. Rasanya ingin sekali segera sampai rumah. Namun, sepertinya kang bakso itu belum juga membungkuskannya. Kang bakso lebih dulu melayani pelanggan yang ingin makan baksonya di tempat.
"Bang, bisa bungkusin buat saya dulu gak?" Pak Gery bangkit dari duduk. Bertanya pada kang bakso yang sedang mengguyurkan kuah ke dalam mangkok.
"Oh, iya, Mas. Sebentar, ya, Mas, saya buatin yang makan di sini dulu," jawab kang bakso itu dengan senyum ramah.
Harus seperti itu bukan jika menjadi pedagang yang ingin diminati banyak pembeli?
Pak Gery mengangguk. Tersenyum paksa walau hatinya sedang dag dig dug tak menentu. Feelingnga pada Ghea terlalu kuat.
"Kok gue ngerasa Ghea di rumah gak aman, ya?"
TBC
Guysss maaf ye banyak teka tekinya. Like yang banyak dong ah.. Akunya kan jadi gak cemangat ngetikkkkkk
BTW aku punya cerita baru. Judulnya HARTA TAHTA ALIA. ramein dan gudangin ke rak buku ya guys. Lope lope.