
Di sisi lain.
Pak Gery memarkirkan mobilnya dengan asal di pelataran rumah Mama Dian. Rumah megah dua lantai dengan beberapa pilar di depannya. Cat berwarna kalem yang membuat sejuk jika memandang istana Mahardika tersebut.
"Itu pasti Gery sama Ghea," decak Mama Dian pada Papa Dika yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Beliau langsung beranjak dari duduknya. Setengah berlari untuk menyambut sang putra dan menantu kesayangannya. Raut wajah itu sangat adem dengan senyuman yang mengembang.
Namun, rautnya berubah heran ketika melihat sang putra turun dari mobilnya seorang diri.
"Loh, Ger, Ghea mana?" tanya Mama Dian menggerakan kepalanya. Menoleh sana sini mencari sang menantu tersayang.
"Gak ikut, Ma." jawab Pak Gery seraya menggaruk belakang kepalanya. Mimik wajahnya menampilkan wajah konyol. Gak tahu harus cari alasan apa, nih, sama Mama Dian jika nanti bertanya 'kenapa'. Pak Gery kan gak pandai bohong sama sang Mama. Cinta pertama dalam hidupnya yang sudah mengandung dan melahirkannya. Dan sekalinya Pak Gery berbohong akan sangat ketahuan oleh sang Mama.
"Lah, kenapa gak ikut, sih, Ger? Kan Mama nyuruh kamu ke sini, tuh, sama Ghea. Mama ingin ketemu mantu Mama, Ger. Dari tadi Mama nunggu-nungguin malah kamu yang datang," ungkap Mama Dian bersama raut wajahnya yang seketika kecewa saat mendengar Pak Gery berujar demikian.
Pak Gery merangkul bahu Mama. Mengajak wanita tercintanya selain Ghea tentunya untuk masuk ke dalam rumah. Selain merindukan Mama, Pak Gery juga sangat rindu dengan papanya.
"Ih Mama, jadi yang dirinduin itu hanya Ghea? Aku nggak, nih?" rajuk Pak Gery sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Pak Gery merubah ekspresinya menjadi dibuat-buat marah. Mencebik seolah tidak suka jika Mama lebih merindukan Ghea dari pada dirinya.
Mama Dian memukul bahu anaknya itu seraya berujar, "iyalah Ghea. Rindu Mama sama kamu udah kadarluasa, Ger." Lalu terkekeh.
"Duh, Ma, kok sakitnya di sini, ya?" Pak gery melepas rangkulan bahu Mama Dian. Kemudian menyentuh dadanya. Seolah memang ia merasakan sakit dibagian sana.
"Tau, ah. Lebay banget, deh, Mama punya anak." Mama Dian melangkah mendahului Pak Gery. Yang sedetik kemudian disusul cowok itu dengan gelengan kepala dan kekehan pelan.
"Ngomong-ngomong kamu gini juga gak sama istri kamu, Ger?" tanya Mama Dian sembari menghempaskan bokongnya ke atas sofa. Duduk tepat di samping Papa Dika yang dari tadi pandangannya tidak lepas dari koran hariannya.
"Mana berani dia, Tan! Yang ada, tuh, nih, anak kesayangan Tante datar-datar mulu kaya tembok sama Ghea." Adi turun dari tangga. Dan langsung menyela Pak Gery. Seperti biasa wajah cowok itu selalu dibuat jenaka. Seakan mengejek sang sepupu adalah kesenangan baginya.
"Sok tahu lo, Di," decak Pak Gery. Menoyor pelipis Adi sebelum ia mendudukkan dirinya di single sofa. Yang kemudian Adi pun ikut duduk di single sofa yang berhadapan dengan Pak Gery. Sedangkan Mama Dian dan Papa Jordan duduk di sofa panjang sebelah kiri Pak Gery.
"Ck! Jangankan cuma sikap lo yang datar sama Ghea. Malam pertama saat lo maksa doi aja gue tahu kali, Ger." Adi terkekeh. "Nih, ya, Om, Tan. Masa anaknya kagak mau, Si Gery main-"
Bukkk
Satu lemparan bantal sofa Pak Gery berikan pada Adi. Refleks tangannya menangkis itu. Kemudian tergelak setelahnya.
"Hahaha ... bener kan gue, lo paksa Ghea-"
Bukkk
Dan satu lemparan bantal sofa sekali lagi Pak Gery berikan pada Adi. Kali ini bantal tersebut tepat mengenai wajah sang sepupu. Hingga membuat gelak tawanya berhenti auto mulutnya refleks mengatup. "Sialan lo, Ger." Lalu Adi membalas perbuatan sepupunya itu. Dalam beberapa detik berlalu, aksi saling lempat-melempar itu terjadi sampai membuat Mama Dian dan Papa Dika menggelengkan kepala. Kelakuan kedua cowok dengan usia yang sudah mapan itu seperti anak kecil saja. Ck.
**
"Huaaa ... Ocy, apa yang harus gue lakuin lagi coba? Sia-sia dari tadi gue ngereset tapi kagak dapat apa-apa." Jelas saja. Karena pertanyaan Ghea pada sang mbah google sangatlah absurd. Bukannya mendapat jawaban, cewek itu malah mendapati beberapa artikel alasan para aktris menyewa sang bodyguard.
"Lagian lo aneh." Ocy berujar setelah meleguk air mineral di dalam gelas. Yang entah itu sudah keberapa gelas air minum cewek itu habiskan. Jika diukur satu toren mungkin.
Ghea mengangkat wajahnya. Menyimpan kedua tangan di atas meja sofa. Lalu menatap sombong kawannya itu. "Maksud lo aneh?"
Ocy merotasikan matanya. Sungguh jika Ocy berani, dia akan bilang bodoh pada temannya ini. Tapi mana berani dia. Yang ada Ghea tidak akan mentraktirnya makan lagi. Bilang saja Ocy itu sangat irit dengan uang jajannya sendiri. Maklum dia hanya terlahir dari keluarga yang biasa.
Mendaratkan tepukan telapak tangan di jidat Ghea, Ocy berdecih. "Lo aneh. Suami udah baik banget mau pake jasa bodyguard buat jagain istrinya. Ini, lo malah curigaan. Curiga yang kagak bermutu lagi."
"Sialan lo, ah. Tapi gue tuh kagak mau. Emang enak apa dijaga pake bodyguard? Kagak bisa bebas entar gue, Cy. Udah kaya putri keraton aja deh gue jadinya."
"Serah lo, deh, Ghe, serah." Malas untuk memberi saran pada Ghea. Karena faktanya cewek itu sangatlah keras kepala.
Ghea embuskan nafas kasar. Kemudian kembali menjatuhkan belakang kepalanya lagi ke atas sofa.
"Kalau kagak ada apa-apa lagi gue balik, ya! Reze chat gue, nih. Katanya mau ngajak gue jalan," kata Ocy sambil mengetikan sesuatu di keyboard hand phonenya.
"Katanya udah lo batalin?" Nyatanya Ghea gak rela harus sendirian di rumahnya itu. Mau ngapain coba kalau kagak ada temen.
"Ya, udah. Tapi ini doi chat gue lagi." Setelah menekan tombol send, mengerim balasan pesan pada sang pacar, Ocy memasukan hand phone itu ke dalam sling bag. Menutup resletingnya. Menyampirkannya, lalu bangkit berdiri. "Gue pamit, ya, sayang. Bae-bae lo di rumah. Jangan ampe ada yang culik lo," ujar Ocy setengah tergelak.
"Sialan lo, Cy. Ya, udah, sana lo pergi. Tega sumpah, ya, ninggalin gue sendiri di rumah." Namun, tak urung Ghea mengantar Ocy ke depan rumahnya.
"Yeee, sapa suruh lo gak ngintil suami lo? Malah nyuruh gue ke sini. Heuh?" Keduanya berdiri di depan pintu. "Hati-hati ... jangan-jangan suami lo setelah dari rumah nyokapnya ketemu sama cewek laen." Ocy tergelak setelah tangan Ghea refleks memukul jidat karibnya itu.
"Kagak mungkin, ya. Suami gue kagak kaya gitu. Mana ada dia deket sama cewek. Lo tahu sendiri waktu gue dulu coba deketin dia. Eh malah cuek udah kayak bebek."
"Iya, deh, Iya. Serah lu aja. Gue pamit dulu!" Ocy melangkah setelah saling cium pipi kanan dan kiri dengan Ghea.
"Eh, btw lo gak bawa motor, Cy?" tanya Ghea. Refleks Ocy berbalik lagi. "Kagak. Gue naik taxi."
Ghea berdecih, "gaya elu, tumben naik taxi. Kagak naik bajaj?" cibir Ghea yang senang sekali melakukan itu pada Ocy. Namun, tak pernah sekali pun Ocy merasa tersinggung. Ocy tahu jika Ghea hanyalah bercanda.
"Bajaj mulu elah. Kali-kali dong. Udah, ah, gue pergi. Gak bakal kelar-kelar kalau gue ladeni lo terus." Ocy tergelak lagi sebelum benar-benar melangkahkan kakinya ke luar gerbang rumah. Melambaikan tangannya kemudian berlalu setelah menghentikan sebuah taxi yang sangat kebetulan lewat depan gerbang rumah Ghea dan Pak Gery.
"Ocy-Ocy ..." Ghea geleng-geleng kepala. Ia memutar tubuhnya saat dirasa taxi yang Ocy tumpangi itu sudah tidak terlihat lagi.
Namun, ada hal aneh yang mengganggu perasaannya. Sampai niat untuk masuk ke dalam rumah pun Ghea urungkan. Justru Ghea memutar lagi tubuhnya. Menatap ke arah gerbang rumah yang tidak tertutup itu. Ghea memicingkan mata. Menajamkan pandangannya. Bertanya dalam hati, siapa dia? Seorang cewek berdiri di sana. Memakai dress berwarna hitam sepaha. Pun kacamata bertengger di atas hidungnya. Rambut panjangnya terurai sempurna. Cewek itu seperti sedang mengawasi sesuatu dari rumah Pak Gery.
"Siapa, sih, tuh, cewek? Ngapain berdiri di depan pagar kaya gitu? Misterius banget, deh." Ghea bergumam pelan.
TBC
Hayoooo siapa coba? Main tebak-tebakan kuy!.
BTW aku punya cerita baru loh. Klik profil aku ya. Nanti bakal muncul tuh cerita yang judulnya HARTA TAHTA ALIA. Lebih seru dan beda dari yang lain. Dukung juga cerita aku yang itu yakkkk zheyeng.