Married With Teacher

Married With Teacher
Mempertaruhkan


Ghea membekap mulutnya dengan tangan. Dia tidak bisa jika tidak shock melihat Pak Gery yang bergulingan dari tangga. Lalu Ghea menoleh ke belakang, melihat Ocy yang berdiri dengan kayu panjang di tangannya yang ujungnya berlumuran darah.


“Cy,” lirih Ghea memanggil. “Lo tega banget buat Pak Gery kayak gitu?” Tidak percaya. Itulah yang lagi-lagi terbesit di dalam kepala Ghea.


“Lo juga tega, Ghe.” Ocy menatap wajah Ghea dengan tatapan penuh kebencian. Melempar kayu panjang bekas memukul kepala Pak Gery itu ke atas lantai. Setelahnya menepukkan kedua telapak tangannya seolah ada banyak debu di sana. “Gara-gara wajah elo yang so cantik ini, Reza gak bisa gue milikin.” dengusnya mencengkram kedua rahang Ghea. “Apa elo gak sadar dengan sikap gue belakang ini? Lo gak sadar, ada perubahan di dalam diri gue? Heuh? Apa lo juga gak sadar saat foto-foto elo tersebar gue sama sekali gak ngebela elo? Gue sama sekali gak buka suara saat Cindy terus-terusan memojokan lo?” Dan cengkeraman itu semakin kencang. Lalu Ocy menggerakan satu tangannya lagi. Mengarahkan ujung pisau lipatnya pada wajah Ghea. “Gue jadi penasaran, apa jadinya, ya, kalau wajah lo jadi cacat? Ya, minimal rusaklah. Biar suami lo juga ilfeel sama lo. Ninggalin elo syukur-syukur.”


“Sakit, Cy.” Kedua tangan Ghea mencoba melepaskan tangan Ocy yang masih mencengkram kedua rahang Ghea.


“Sakit, ya? Sakit lo itu gak seberapa dibandingkan rasa sakit gue, Ghe. Gue pikir Reza beneran suka sama gue. Tapi ternyata dia cuma jadiin gue pelampiasannya doang. Dan itu semua salah elo, Ghea! Salah lo!”


Ghea menggeleng pelan. Di pelupuk matanya air itu sudah menggenang. “Oke. Gue minta maaf kalau itu semua salah gue. Gue minta maaf, Cy. Karena gue belum bisa jadi teman yang baik buat lo. Gue minta maaf.”


“Telat, Ghea! Semuanya udah telat. Lo udah hancurin hidup gue. Lo udah hancurin semua perasaan gue. Dan sekarang, lo harus membayarnya.” Ocy menarik tangan Ghea sembari pisau lipatnya itu tidak lepas mengarah di wajahnya. “Ikut gue!”


“Kemana, Cy? Gue harus nolongin Pak Gery.” Menolak keras, Ghea mencoba melepaskan cekalan tangannya lalu beralih pada Pak Gery yang tubuhnya masih tergeletak di atas lantai.


“Ikut gue bilang!” Teriak Ocy sambil memaksa Ghea menuruni anak tangga menuju lantai bawah.


“Mas.” Ghea memanggil Pak Gery dengan suara isak tangis saat melewati tubuh cowok itu. Matanya tetap mengarah pada kepala Pak Gery yang berlumuran darah sedangkan tangannya terus saja ditarik oleh Ocy. Sedikit saja Ghea berontak, ujung pisau itu pasti tidak segan-segan melukai wajahnya.


“Eh-eh itu Ghea kok bisa disandera kek gitu sama tuh cewek sin ting?” Ilham berujar panik ketika melihat Ghea keluar dari gedung itu bersama Ocy. Cowok nyeleneh itu sampai menegakkan punggungnya yang awalnya bersandar pada pintu mobil yang tertutup sambil bersedekap dada.


Chacha dan Adi refleks membalikan tubuhnya. Keduanya pun sama shocknya seperti Ilham.


“Itu cewek bukannya tadi udah pergi, ya?” Adi bertanya yang entah ia tunjukan pada siapa. “Heh, elu ngapain Ghea?” hardik Adi maju satu langkah.


“Stop! Kalau lo maju lagi, ujung pisau ini gak akan segan-segan ngambil darah Ghea, ya -- Aww!” Dan ujung pisau itu benar menyentuh kulit leher Ghea.


Adi kontan mengangkat kedua tangannya ke depan. Ia mengerti situasi ini. “Oke-oke. Gue gak akan maju. Tapi lo lepasin Ghea! Mau lo apa, sih, sebenarnya? Cuma gara-gara cowok lo nyakitin temen lo sendiri?”


Ocy tertawa sinis. “Hah temen?” Terdengar sangat menyebalkan dari suara Ocy saat ini. “Gue gak butuh temen kaya dia. Sekarang kasih kunci mobil Ghea ke gue! Cepet!” Ocy maju yang auto Ghea pun ikut maju. “Lo ambil kunci mobil lo dari dia, Ghe!” Menarik satu tangan Ghea ke belakang.


Ilham dan Adi diam. Begitu juga dengan Chacha yang terus memutar otaknya untuk membebaskan Ghea.


“Cepet minta kunci mobil lo, Ghe!” Ujung pisau itu kembali menusuk leher Ghea hingga keluarlah darah segar dari sana.


Ghea meringis tentu saja karena itu terasa sangat sakit. “Cha, kasih kunci mobilnya ke gue!”


“Tapi, Ghe --”


“Aw … cukup, Cy!” pekik Ghea saat Ocy kembali menusukkan ujung pisaunya. Pun air matanya sudah melewati pipi mulusnya. Ghea tidak bisa lagi menahannya untuk tidak keluar.


Chacha tidak bisa berbuat apa-apa. Karena jika saja Chacha bertindak, Ghea yang sedang berada di tangan Ocy akan menjadi taruhannya. Dan Chacha tidak mau itu sampai terjadi. Begitu pun juga dengan Ilham dan Adi yang hanya bisa diam.


“Cha, kunci mobilnya.” pinta Ghea lagi dengan isakan.


Chacha maju mendekat lalu memberikan kunci mobil itu ke tangan Ghea yang menengadah seraya menarik tangan Ghea. Niat Chacha hanya untuk melepaskan Ghea dari Ocy. Namun, bukannya lepas, leher Ghea terkena sabetan pisau itu dan darah pun mengalir dari sana. Ghea kesakitan. dan Chacha melepaskan tangannya refleks.


“Ghea!” panggil bersamaan Adi dan Ilham.


“Sin ting lo, ya?” kata Adi. “Lebih sin ting dari si Dita ternyata.” Lanjutnya kemudian yang membuat Ilham mendelik tidak suka pada Adi yang membawa-bawa nama Dita.


“Gue bilang apa. Lo semua jangan macem-macem kalau gak mau pisau gue ini makan darahnya Ghea. Gak dengerin, sih, lo. Jadinya kan tuh leher kena sabetan pisau gue.” Sumpah, santai banget Ocy berkata seperti itu. Seolah itu tidak lagi berarti apa-apa.


“Mundur lo!” teriaknya pada Chacha.


Chacha pun hanya bisa mengikuti karena tidak ingin Ocy berbuat hal yang lebih nekat lagi pada Ghea.


“Masuk!” Tubuh Ghea pun di dorong. Lalu duduk di kursi mobil saat pintunya dibuka Ocy.


Ocy menyeringai. Lalu mengarahkan ujung pisau pada Chacha yang berdiri tidak berdaya. “Awas lo, ya, kalau ngikutin gue. Ghea bakal mati di tangan gue. Ngerti!”


Bersamaan dengan mobil itu berlalu, Pak Gery keluar dari dalam gedung. Berjalan tertatih sambil memegang belakang kepalanya. Menyampingkan rasa sakit, Pak Gery berlari ke arah Chacha, Adi dan Ilham. “Be go, kenapa lo semua biarin Ghea dibawa pergi sama Ocy?” Pak Gery berteriak. Mengamuk jelas saja. Rasa sakit pada lukanya itu seakan hilang. Pak Gery bisa menahannya, namun, tidak bisa menahan sakit di dalam dirinya jika Ghea yang disakiti.


“Ger, kepala lo berdarah.” Adi mengabaikan emosi Pak Gery.


“Kunci mobil!” Pak Gery menengadahkan tangannya. Meminta benda itu pada Adi.


“Lo harus ke rumah sakit, Ger. Kepala lo--”


“Ger!” Ilham melerai. Melepaskan cengkraman tangan Pak Gery di kemeja Adi.


“Lo diem!” sengitnya beralih menatap Ilham. “Kasih ke gue kunci mobilnya!”


Oke, Pak Gery benar-benar sudah kalap. Dirinya seperti sedang dikuasai oleh setan. Matanya memerah, memancarkan amarah yang mengkilat di sana. Lalu dengan terpaksa Adi memberikan kunci mobil itu.


Pak Gery merampasnya dengan kasar. Dan tanpa pikir panjang cowok itu segera menyalakan mesin kendara besi tersebut. Mobil itu melesat. Pak Gery melajukannya dengan kecepatan yang sangat penuh. Bagai seorang pembalap yang sedang bertanding di sirkuit.


“Terus kita gimana?” Ilham kebingungan. “Cha, lo gak papa kan?” Lalu beralih bertanya pada Chacha yang diam terpaku di tempat. Ilham melihat pandangan cewek itu kosong. “Cha?” Kemudian memberanikan diri menyentuh kedua bahu Chacha. Menyadarkan cewek itu yang seperti orang linglung.


“Gue udah gagal jaga Ghea. Sebagai seorang bodyguard gue udah gagal.” Ini adalah kali pertama Ilham mendengar Chacha dengan gaya bicaranya yang non formal.


**


“Cy, lo jangan gila ngejalanin mobilnya! Kita bisa mati konyol, Cy.” Dada Ghea kembang kempis. Bola matanya bergoyang ke segala arah. Tangannya pun berpegangan pada tepi kursi mobil dengan erat. Ghea takut karena Ocy melajukan mobilnya dengan kecepatan full.


“Biar aja, Ghe. Biar kita mati sama-sama. Gue gak bisa dapetin reza dan lo gak bisa bersama Pak Gery. Hahaha …”


“Gak gini caranya, Cy!” Karena Ghea tidak memakai sabuk pengaman di dadanya, lalu tangannya meraih sabuk itu dengan tangan yang gemetaran sebelum memasangkannya kemudian. “Kita selesaikan ini. Lo itu sahabat gue, Cy. Kita udah lama sahabatan. Gue tahu lo cuma lagi bingung aja. Gue janji gak bakal nuntut lo. Gue janji, Cy. Tapi lo berhenti. Lepasin gue!”


Bukannya mendengarkan Ghea, Ocy malah semakin menambahkan kecepatannya. Ghea rasa kesadaran Ocy benar-benar sudah lenyap. Ia bukan teman yang dulu Ghea kenal.


“Cy, apa lo gak inget kalau kita pernah buat janji akan selalu saling jaga? Lo dulu yang pernah bilang itu ke gue, kan? Lo janji bakal selalu ada buat gue. Lo juga janji persahabatan kita gak akan goyah. Lo inget itu, Cy!” Ghea menarik kembali ingatan waktu pertama kali mereka bertemu lalu berteman dan menjalin persahabatan. Berharap dengan itu kesadaran Ocy kembali.


“Diem, be go!” sergah Ocy. “Gue inget, tapi gue gak butuh lagi persahabatan ini. Lo harus lenyap dari bumi ini, Ghe. Paling tidak Reza gak bisa lagi lihat muka lo.”


“Tapi apa dengan cara ini, Reza bakal berpaling jadi suka sama lo? Yang ada dia bakal menjauh dari lo, Cy.”


Suara klakson mobil dari arah belakang mobil yang Ocy kemudian menyahut keras dan terus berbunyi nyaring. Ghea menoleh ke belakang dan ternyata itu adalah mobil Adi.


“Sialan. Mereka gob lok atau apa sih, malah ngikutin?” Ocy pun melarikan ujung matanya. Melihat mobil yang sudah ada di sampingnya. Ocy mendengus marah kemudian menambahkan lagi kecepatannya.


“Ocy!” Pak Gery mengimbangi kecepatan mobil yang dilajukan Ocy. Menahan rasa pusing yang menyerang di kepalanya. “Berhenti, Cy!”


“Mas Gery!” Ghea meneriaki nama suaminya. “Cy, gue mohon berhenti, Cy!”


“Gak! Lo bisa diem, kan.”


Tidak ada cara lain lagi untuk menghentikan Ocy selain dengan Ghea yang menghentikannya sendiri. Maka dari itu, Ghea menggapai kemudi yang sedang dicengkram oleh kedua tangan Ocy. Kemudian membantingkan setir itu ke kiri.


Ocy menarik lagi bundaran setir itu ke kanan. Sampai untuk beberapa detik di dalam mobil sana terjadi saling banting-membanting bundaran setir.


“Ghe, lo apa-apaan, sih? lo jangan be go!” Saat tangan Ghea membanting setir itu ke kiri lagi, Ocy berteriak lalu membantingkannya lagi ke kanan. Hingga mobil itu sudah berjalan  tidak karuan.


Pak Gery melihat mobil di depan sana yang meleok-leok menjadi semakin khawatir. Ia tidak tahu bagaimana cara menghentikan ini semua. Sedangkan semua pengendara lain saling memberikan umpatan kasar pada mobil yang dibawa Ocy.


“Kenapa? Bukannya ini yang lo mau, Cy? Mati bersama?” Ghea menantang. Ia tidak takut sekalipun harus mati.


Pada lampu merah di depan sana yang berubah hijau, bersamaan dengan mobil yang melaju dari sebelah kanan, bersamaan dengan itu pula mobil yang ditumpangi Ghea menerobos hingga tertabrak mobil lain.


Mobil sedan berwarna hitam itu terguling cepat beberapa kali. Tubuh Ghea terombang-ambing di dalamnya. Memejamkan kedua matanya seraya dalam hati terus menyebut nama orang tua dan suaminya. Kepalanya terbentur pada bagian mobil hingga pelipisnya dan di beberapa bagian kepalanya mulai mengeluarkan darah kental. Mobil itu terjungkal di tepi pembatas jalan. Pecahan kaca pun sudah terhambur di atas jalan aspal. Pak Gery melongo di tempatnya berdiri, melihat mobilnya di depan sana yang sudah terbalik.


Bagai tertusuk sembilu. Jantung Pak Gery bukan terluka lagi. Namun, benar-benar hancur berkeping. Ia tidak tahu bagaimana dengan Ghea di sana. Ingin mengejar, namun baru satu langkah ia akan mendekat, matanya sudah berkunang-kunang. Lalu perlahan pandangannya berkabut dan mulai menggelap.


Pak Gery pingsan bersama bibirnya yang bergetar memanggil nama Ghea dengan pelan.


...TBC...


Maaf ya ini konfliknya bikin buat berat kepala. Hihiii Maafkeun dulu lah sebelum lanjut di bab berikutnya.


Maaf juga kalau kurang greget atau kurang ngeefel. Da maklumin aja atuh, ya. Aku kan cuma kang ngetik amatir baru belajar pula. Huhuuu


Seizy


Kang ngetik remahannnnn.