
Gery terkekeh melihat reaksi wajah Ghea yang berlebih. Pipi cowok itu menempel di pipinya sambil tertawa. Menunjukan gigi-gigi putih serta rapi. “Kenapa gitu banget, sih, reaksinya? Hem?” tanya Gery begitu gemas.
“Kamu ngagetin tahu gak.” Disimpan Ghea cangkir ke atas meja bundar di depannya. “Aku pikir, tuh—“
“Eeummm … kamu pikir siapa emang orang yang berani cium kamu selain aku? Heuh?” Cowok itu sedikit kesal rupanya. Ditarik kursi lain untuk kemudian disimpannya di samping kursi Ghea. memangku dagu dengan siku bertumpu pada meja. Sungguh pun bibirnya tertarik ke atas. Tersenyum, dan ada suara kecil yang sanggup menggelitik hati Ghea hingga bagian terdalam.
Ghea memutar bola mata hitam pekat miliknya. Tidak menjawab dan lebih memilih diam untuk kemudian memanggil waiter.
“Ck!” Gery berdecak. Tidak rela jika harus mendapat acuhan dari wanita anggun yang duduk manis di sampingnya ini. “Jadi … aku ke sini buru-buru, cuma disuruh liatin kamu aja, nih? Tanpa mendapatkan apa-apa gitu? Sayang banget.” Gery meracau. Lebih tepatnya cowok itu merajuk. Membuat Ghea tergelitik untuk menjawil bibir yang terus bergerak berbicara itu. Entah itu mengatakan pekerjaan di kantor yang membuatnya pening. Atau pula mengeluh dengan stafnya yang tidak serius bekerja.
Sungguh! Ghea mendengar keluhan suaminya. Dilirik Ghea sebentar dengan ujung mata di balik buku menu yang sedang menghalangi wajahnya. Jujur saja, Ghea merasa ada yang berbeda dari tulang pipi serta rahang tegas cowok yang terus berbicara di sampingnya. Tanpa peduli dengan waiter berdiri menunggu Ghea memesan makanan.
“Nasi goreng seafood satu, ya, Mbak—“
“—kok satu?” Gery menyela cepat saat Ghea mengatakan pesanannya yang hanya satu itu.
Waiter itu menghentikan mencatat pesanan di buku kecil. Bola matanya jelas saja melirik pada Ghea, meminta jawaban atas pesanan mana yang benar.
“Porsi besar, Mbak,” kata Ghea meneruskan. Yang langsung dicatat waiter di buku pesanan pelanggan.
“Kamu gak makan? Tadi kamu bilang mau lunch bareng aku, kan? Kok sekarang pesannya cuma satu doang?”
“Minumnya ... mineral aja, ya, Mbak.” Waiter itu lagi-lagi mencatat seraya mengangguk. “Eh ... sama lemon tea satu, ya.”
“Sayang—“
“—nasi gorengnya gak pake pedes, ya!” Lagi. Ghea menyela. Sama sekali tidak mengidahkan kata-kata Gery yang sudah terlihat kesal itu. Berdecak saat lagi-lagi tidak didengarkan Ghea.
Lagi, Gery berfikir. Untuk apa Ghea mengajak dirinya lunch jika pesan makan saja cuma satu. Ditarik Gery nafas dari rongga paru-paru untuk ia embuskan secara kasar lewat mulut. Berharap kekesalannya terbuang bersama nafas yang keluar.
Waiter itu kemudian berlalu pergi meninggalkan meja Ghea. meninggalkan senyum ramah pada wanita yang sekarang tatapannya tertuju pada wajah tampan di sampingnya ini. Yang sedang berpaling ke satu sisi lain. Tidak memandang Ghea tentunya.
“Aku jauh-jauh ngajak kamu ke sini tidak untuk lihat muka jutek kamu ini, ya, Mas.” Diraih Ghea pipi Gery untuk kemudian cewek itu menghadapkan wajah tampan Gery agar terpusat padanya. Saling menatap satu sama lain. Mendalami semua rasa yang telah tumbuh dan semakin tumbuh.
Ghea tersenyum. Senyum yang membuat Gery berdebar. bahkan tenggelam ke dasar samudra yang paling dalam. Senyum tulus Ghea dan tidak terpaksa. Gery yakin itu. Sambil jempol Ghea bergerak berputar di tulang pipi Gery yang menonjol.
“Aku baru sadar kalau tulang pipi kamu sekarang lebih terlihat menonjol, Mas.” Ditangkup Ghea kedua sisi wajah Gery sambil mengusap-ngusap di sana. “Kamu kurusan.” Dan Ghea baru menyadari ketika tadi matanya memperhatikan di balik buku menu.
“Maaf,” kata Ghea tulus. Benar-benar tulus. Suara lirih menunjukan itu. “Maaf,” ulanginya lagi. Kali ini dengan setetes cairan yang lolos melewati pipi. “Ma—“
Gery langsung membungkam bibir Ghea hingga kembali terkatup menggunakan tiga jarinya. Kepala cowok itu menggeleng pelan. Lalu, mengambil kedua tangan Ghea yang menempel di pipinya untuk Gery arahkan dan ia tempelkan pada dada dibagian kiri. Tepat dimana Ghea dapat merasakan detak jantung cowok itu.
“Kamu bisa ngerasain debaran ini, kan, sayang?” Gery semakin menekankan kedua telapak tangan kecil itu di dadanya. “Aku selalu ngerasa berdosa jika kata 'maaf' terucap dari bibir kamu ini,” jujurnya sembari menyentuh bibir bawah Ghea menggunakan jari jempol. Mengusapnya dan berlama-lama di sana. Sama sekali tidak memperdulikan semua tatap orang-orang yang sedang mengarah pada meja mereka. Benar-benar, seolah Gery merasa dunia ini miliknya.
Diloloskan Ghea satu tangan yang menempel di dada. Bergerak menyentuh pergelangan tanga Gery lalu membawanya turun setelah sebelumnya mendapat kecupan singkat di jari telunjuk panjang serta lentik cowok itu.
“Aku gak bisa ngurus suami aku dengan baik.” Ditatap Gery lekat-lekat oleh bola mata hitam pekat. “Aku gak bisa tepati janji aku sama Papa.”
“Ghe—“
“Aku terlalu larut dengan kesedihan atas meninggalnya Papa, sampai-sampai aku mengabaikan kamu, Mas. Saat itu aku hanya berfikir gak bisa hidup tanpa Papa. Tapi, ternyata aku salah. Aku gak sendiri. Kamu benar, Mas. Aku masih ada Mama yang harus aku jaga. Anak aku yang harusan perjuangin dan aku pertahanin. Dan aku … masih ada kamu.”
Karena… Ketika Ghea melihat Papa benar-benar sudah terbaring di atas tanah, hidup Ghea seakan berakhir. Ia seakan tidak punya tempat untuk bersandar lagi. Mengadu semua kegelisahan dan kehampaan.
Apalagi dengan tanah yang sedikit demi sedikit menutupi tubuh Papa, Ghea seakan ingin mengakhiri dirinya sendiri. Ghea melupakan semuanya setelah itu. Emosinya hanya termangu pada satu kenyataan saja.
Kenyataan yang tidak bisa ia terima sebelumnya. Semuanya terasa pahit.
Well. Memang itu yang harus Ghea lakukan. Menerima sebuah kenyataan pahit memang terasa sulit, tetapi akan lebih sulit lagi jika kita tidak menerima kenyataan itu dengan lapang dan hati yang ikhlas.
Waiter kembali ke meja Ghea. Membawa nampan dengan nasi goreng dan pesanan lainnya di atasnya. “Permisi, Bu, Pak.” Ragu-ragu sebetulnya waiter itu menghampiri. Dipikir ini waktu yang tidak tepat. Tapi akan tidak tepat lagi jika pelanggan menunggu pesanan terlalu lama. diletakkan makanan serta minuman lezat itu di atas meja kemudian.
Ghea berdehem sembari melepaskan tangan dari genggaman tangan besar Gery. “Terimakasih, Mbak,” ucapnya bersama senyum ramah.
Waiter itu mengangguk dan berlalu setelah mengucapkan selamat menikmati pada keduanya.
“Makan, Mas!" suruh Ghea pada Gery yang hanya menatapnya tanpa berkedip. Menjepit bibir dan mengerutkan dahi. Membuat dahi Ghea ikut mengerut. Namun, mata cewek itu memicing tajam. Seolah sedang membaca isi kepala Gery.
“Kamu pesan ini buat aku apa—“
“—buat kamu.” Ghea menyela cepat. “Nih, cepet makan. Aku tahu kok kamu laper.” Lalu kedua tangan Ghea bergerak meraih sendok dan garfu. Menyendokkan nasi goreng seafood. “Kamu gak boleh sakit!”
Sendok berisi itu sudah ada di depan mulut Gery dengan Ghea yang melakukannya.
“Kalau aku sakit?”
Ghea menghela nafas. “Makan dulu! Kamu harus makan yang banyak, Mas! Aaaa…”
“Jawab dulu!”
“Kamu gak bisa cari duit buat beliin aku tiket pergi ke Paris.” Jawaban asal Ghea. Tapi malah Gery tertawa. Ia mengambil sendok itu dari tangan Ghea lalu memutarkan benda stainless itu dengan ujung sendok menyentuh bibir Ghea.
“Loh—“
“Yang harusnya makan banyak itu kamu, sayang! Selama empat bulan terakhir kamu makan gak benar. Aaaa…”
“Apa, sih, Mas? Aku makan bener ini kok.”
“Benar dari mana?”
“Benar lah. Aku makan satu suap satu suap. Gak satu piring langsung semuanya aku makan.” Ghea terkekeh geli dengan perkataannya sendiri. Bahkan Gery tidak percaya akan kembali mendengar tawa Ghea meski dengan suara kecil.
“Kenapa malah liatin aku gitu?” Ditekan Ghea garis bibirnya kuat. “Gak lucu, ya, Mas?”
Kepala Gery menggeleng cepat. Disimpan sendok itu ke atas piring. “Nggak kok. Aku cuma berasa lagi di dunia mimpi aja. Coba sini … cubit aku dulu.” Diraih Gery tangan Ghea. “Ini mimpi bukan, ya?”
“Kenapa, sih, emangnya?” tanya Ghea setengah heran.
Ditangkup satu sisi wajah wanita yang mampu menggetarkan hati dan selalu membuat warna dalam hidupnya. “Aku ingin lihat bibir ini tersenyum hanya untuk aku setiap hari. Aku ingin mendengar suara tawa kamu setiap malam sebelum aku tidur, Ghe. Supaya mimpi yang aku dapati setiap malam akan indah. Dan saat aku terbangun, aku ingin selalu melihat wajah kamu bersinar dengan kebahagiaan. Bukan justru kesedihan.”
Lagi-lagi Ghea harus terhanyut atas semua kalimat menyentuh yang terucap dari bibir suaminya. Ghea yakini seribu persen itu bukan kalimat bualan semata atau gombal dan semacamnya. Ghea dapat melihat bola mata Gery yang memancar. Berkilat dan kristal bergelombang di bawah kelopaknya.
Jika Ghea saat ini bahagia akan kesungguhan Gery. Berbeda dengan wanita hamil yang baru saja masuk ke dalam restoran. Berdiri mematung tidak jauh dari meja yang Ghea dan Gery tempati bersama hati yang kacau dan perasaan yang harus ditekan kuat untuk tidak terlalu tumbuh dan semakin membesar.
Memang sesakit itu mempunyai rasa pada orang yang salah. Airin menyeka air mata yang tumpah dengan cepat. Lalu di samping Airin yang berdiri. Ada meja terisi oleh laki-laki berkacamata hitam gelap. Menyeringai sambil menatap Airin dari samping di balik kacamata hitamnya itu.
.
.
.
To be continued...