
Memaafkan tidak akan membuatmu kehilangan harga diri. Namun justru akan membuat jati dirimu lebih berarti.
Ghea Virnafasya
****
Seseorang pernah punya masa lalu dan sebuah kesalahan. Besar ataupun kecil. Sering atau tidak. Dan itu semua tidak luput dari semua nafsu manusia yang selalu ingin merasa terpenuhi. Namun, tidak salah bukan jika manusia mengakui semua kesalahan itu lalu ingin berubah dan maafnya terpenuhi?
Seperti halnya dengan kedatangan Dita ke rumah Pak Gery yang ditemani Ilham. Niatnya datang murni hanya untuk meminta maaf pada suami Ghea karena sudah banyak melakukan kesalahan. Begitu pula pada Ghea yang pernah sempat terlintas dipikiran Dita jika Ghea harus musnah seperti Fara agar Dita bisa merebut posisinya.
Hal yang tak pernah terduga oleh Ghea apalagi suaminya. Sempat terlintas saat Dita mengucapkan kata maaf di depan pintu rumahnya sebelum Pak Gery benar-benar mengusirnya. Apa ini hanya sebuah siasat barunya agar bisa mengambil posisinya?
Jika iya, kenapa pula Dita harus meminta Ilham untuk menemaninya?
“Mas …” seraya membuka pintu kamarnya, Ghea masuk lrbih dalam. Berjalan tertatih memegangi sisi pahanya.
Saat Ghea masuk Pak Gery baru saja keluar dari kamar mandi. Masih dengan pakaian lengkap yang sama saat ia kenakan ke sekolah dan jalan ke pantai bersamanya.
Tubuh Pak Gery diam di ambang pintu dengan tangan yang tersimpan di sisi daunnya. “Aku udah siapin air hangatnya,” katanya dengan wajahnya yang datar. Mungkin masih kepikiran dengan perminta maafan Dita yang entah itu tulus atau tidak.
Ghea semakin mendekat. “Aku mau mandinya bareng Mas Gery,” sahutnya manja. Berdiri tepat di depannya.
Pak Gery mengerjap kaku. Apa dia tidak salah dengar? Atau Ghea yang salah bicara?
“Mas?” Tangan Ghea menyentuh pelan pipinya. “Kok bengong?” tanyanya kemudian.
“Eh. Nggak.” Mata Pak Gery kedip dua kali sebelum memusatkannya pada Ghea. “Kok tumben?”
Kaki Ghea melangkah melewati tubuh tegap Pak Gery masuk ke dalam kamar mandi. Seraya berkata, “gak boleh emangnya? Padahal sebenarnya aku selalu mau mandi bareng sama Mas Gery.” Lalu setelah tubuhnya itu masuk sempurna ke dalam, Ghea berputar menghadap Pak Gery yang membelakanginya. “Cuma malu aja bilangnya.” Ghea terkekeh sebelum menggigit bibirnya.
Bibir cowok itu mencebik seraya menggerakkan bahu kirinya sebelum menutup pintu kamar mandi tersebut. Ini jarang banget Pak Gery dengar Ghea mengatakan hal yang membuat jantungnya berdebar. Maka dari itu Pak Gery tidak bisa menolaknya, bukan?
Lalu kaki panjang yang masih terhalang oleh celana panjang itu mendekat. Yang refleks tubuh Ghea berjalan mundur dengan pelan karena kakinya yang masih terasa sakit. Ghea menggigit bibir bawahnya seraya menunduk malu.
Bibir Pak Gery tertarik lebar sebelum mengangkat tubuh ramping itu lalu memasukannya ke dalam bathtub yang sebelumnya sudah Pak Gery isi dengan air hangat.
“Mas, kenapa gak dibuka dulu baju akunya? Basah nih. Besok sekolah aku pakai seragam yang mana? Gak ada lagi soalnya. Ada juga udah ngepres banget di tubuh aku.” Ghea protes saat semua tubuhnya, bahkan ujung rambutnya sudah basah. Karena Pak Gery yang begitu saja memasukkannya ke dalam bathtub bersama dengan dirinya tentu saja.
Pak Gery tersenyum geli. Sedikit tidak peduli. “Kaki kamu belum sembuh. Jadi izin masuk dulu,” ujarnya seraya membuka kancing baju seragam Ghea dengan gerakan pelan.
Ghea malu tentu saja. Matanya sama sekali tidak ingin melihat apa yang sedang suaminya itu lakukan. Sampai tidak sadar jika semua kancing bajunya sudah terlepas. Pandangan Ghea hanya fokus pada mata abu-abu yang juga tengah mengarah padanya. “Enak, ya, ternyata jadi istri sang pemilik yayasan.” Tentu saja kalimat itu hanya sebuah sindiran untuk suaminya.
Lalu tangan Pak Gery berhasil menanggalkan baju seragam Ghea. Menyimpannya ke atas lantai di sisi bathtub. Hingga sekarang menyisakan tubuh atas Ghea yang hanya mengenakan kain berenda berwarna putih. “Iya.” Jawabnya tersenyum simpul.
“Gak bukain baju aku?” Pak Gery bertanya. Dengan wajah yang malu-malu Ghea tertawa awkward lalu melipat kedua bibirnya seraya memalingkan pandangannya.
Peka dengan wajah merah sang istri, tangan Pak Gery membawa kedua tangan Ghea. Menempelkan ke atas dadanya yang masih berlapis kemejanya. secara tidak langsung menyuruhnya membukakan kancing kemeja itu.
Entah di menit yang keberapa atau dibagian yang mana sesaat setelah Pak Gery memberikan hadiah pada bibir Ghea, tubuh cewek itu sudah membelakanginya dengan tanpa busana. Begitu pula dengan cowok tampan di belakang Ghea yang sama-sama sudah polos.
Ghea tergelak ketika tangan Pak Gery menyentuh punggungnya dengan jari telunjuk. Menyusuri setiap inci kulitnya karena merasa geli. Jari telunjuk cowok itu seperti tengah menggambarkan sesuatu di punggung cewek itu.
“Kucing, Mas.” Maksudnya, Ghea sedang menebak apa yang digambarkan jari telunjuk panjang itu di atas punggung bagian atasnya.
Kepala Ghea menoleh ke belakang. Sesaat hanya untuk melihat wajah Pak Gery. “Bukan.” jawab cowok itu menarik sudut bibirnya. Seakan rasanya sudah kram karena tidak ingin berhenti untuk menerbitkan senyuman.
“Terus apa dong?” Kepala Ghea kembali mengarah ke depan dengan kedua tangan yang memainkan air sabun di dalam bathtub tersebut.
Keduanya memang tidak melakukan hal apa pun selain hanya berendam air hangat beraroma wangi sabun itu. “Kamu!”
Ghea berdecak. “Emang bisa?” tanyanya seraya satu tangannya mengusap-ngusap busa sabun di tangan yang lain.
“Bisa.” Pak Gery mengulang lagi jari telunjuknya bergerak di punggung Ghea. Sekarang bukan seperti menggambar. Tetapi jari telunjuk panjang itu seperti sedang menuliskan satu kalimat yang tidak asing lagi.
“Itu kamu gambar apa?” seraya mengubah posisinya menghadap Pak Gery, Ghea bertanya.
“Bukan gambar.”
“Tapi …?”
Pak Gery menjumput rambut Ghea yang sudah basah untuk membawanya ke bahu kanannya. “Tebak aja kalau kamu pinter!” tantangnya. Dan Pak Gery melihat bola mata Ghea yang tertahan di atas bersama jari telunjuknya yang mengetuk-ngetuk dagu. Berpikir. “Apa sih, Mas? Gak tahu aku … gak bisa nebak.” Sesaat pandangan keduanya saling bersitatap. “Kasih tahu dong!” Diguncangkannya tangan Pak Gery oleh tangannya. Ghea merengek.
“I love you!” jujurnya. Setelahnya bibir tebal nan merah itu melumaat bibirnya. Memberikan sebuah sensasi yang selalu membuat jantung Ghea kian berdebar. Kali ini Pak Gery tidak membiarkan Ghea untuk menghirup nafasnya dengan benar sehingga Ghea meraup nafas dari sela-sela tautan bibir yang menggila itu.
**
Entah di jam berapa Ghea dan Pak Gery menyelesaikan ritual berendam bersamanya. Kini keduanya sama-sama berada di dalam satu selimut tebal dengan saling berpelukan.
Bukan!
Rupanya setelah selesai ritualnya di kamar mandi tadi dan berganti dengan piyama, Ghea meminta suaminya untuk membacakan sebuah novel romantis dari salah satu karangan penulis novel favoritnya.
“... dan sebuah kehidupan yang tidak pernah jauh dari kata sebuah perjuangan cinta yang terkadang selalu menyesakkan dada.” Pak Gery membacakan itu tepat di bagian halaman novel menuju endingnya.
“Lalu?” Sedikit mendongak, Ghea meminta Pak Gery melanjutkan.
Mata Pak Gery menunduk. Kembali pada setiap tulisan yang tertulis dengan sangat tertata katanya di sana. Kosa kata indah yang tiba-tiba saja menggetarkan hati dan perasaannya. Tatkala sebuah kalimat ia baca dengan perasaan yang berbeda. Pun dengan gerakan tangannya yang terhenti saat mengelusi puncak kepala Ghea.
“Dan hidup yang terkadang memang selalu memiliki arti dari setiap kejadian yang sudah ada.” Tiba-tiba saja Pak Gery menyudahinya lalu menutup buku novel di tangannya itu.
Ghea beringsut saat merasakan sebuah pergerakan tangan Pak Gery yang menyimpan buku novel tersebut di atas nakas samping ranjang. Memandang Pak Gery dengan kedua alis yang saling tertaut. “Kok udahan?”
“Udah malam,” sahutnya pelan seraya menyelipkan rambut Ghea ke belakang daun telinga.
“Oke!” Beruntung tidak ada perdebatan yang terjadi seperti biasanya, yang selalu akan Ghea jawab dengan berbagai kalimat yang memang tidak mau kalah dari Pak Gery.
Ghea membaringkan tubuhnya. Pak Gery menarik selimut untuk menutupinya sampai pinggang. sebelum dirinya juga yang ikut berbaring di samping Ghea.
“Mas.” Ghea memanggil dengan suara yang pelan. Terlentang bersama pandangan yang menatap langit-langit kamar.
Pak Gery mengubah posisi tubuhnya menghadap Ghea dengan satu tangan yang terlipat menopang sisi kepala. "Apa?"
“Kok kamu gak ada nanya gitu sama aku kenapa?” Lalu Ghea pun ikut merubah posisi tidurnya. Menghadap Pak Gery.
“Kenapa” Pak Gery bertanya mengusap satu sisi wajah Ghea.
“Kamu pernah bilang kan, kalau kita akan sama-sama berubah. Sama-sama akan memperbaiki diri kita masing-masing?”
Tidak ada jawaban atau kalimat yang pasti yang Ghea dengar selain hanya sebuah gumaman pelan.
“Lalu kenapa kamu gak memberi kesempatan pada seseorang yang ingin berubah. Sembuh dari ketidak warasan masa lalunya?”
“Ghe …”
“Mas …” Ghea menghela mengusap garis bibir bawah Pak Gery. “Aku yakin Dita sungguh-sungguh minta maaf sama kamu. Sama aku.”
“Udah malem, Ghe?!”
“Apa tadi kamu gak lihat sorot mata Dita yang--”
“Tidur, ya!” Tidak ingin membicarakan hal itu, Pak Gery lalu mengecup bibir Ghea. “Good night.”
“Aku harap kamu bisa melihat sorot tulus minta maaf Dita, Mas! Besok dia akan terbang ke Singapore untuk berobat … demi Ibunya.” Ghea membelakangi Pak Gery. “Night.” Lalu menarik selimut sampai menutupi dagunya.
TBC
Jadi gengsss pelajaran yang bisa kita ambil adalah selalu memaafkan setiap perbuatan. Jangan membalas, namun berikan senyuman. Biarkan hanya Allah saja yang membalasnya. Karena allah yang lebih berhak.
Walau itu tidak gampang juga. Tapi mencoba belajar tidak salah, bukan?
Aku mau cerita dulu sedikit soal karakter Ghea ini.
Di awal memang sangat selebor dan mungkin sangat kekanak-kanakan.
Tapi semua orang butuh proses untuk mengubah dirinya, kan?
Halnya seorang bayi yang akan mulai berjalan.
Jadi begitu pun dengan sipat seseorang.
Yang aku alami pribadi tidak mudah untuk merubah sikap sebelumnya dari ke yang lebih baik.
semoga bisa dimengerti dan dipahami.
Untuk yang nanya visual, aku gak kasih disini.
Karena apa?
Seperti sebelumnya yang pernah aku bilang. Aku takut menghancurkan imajinasi pembaca.
Jadi bayangin aja siapa dan bagaimana karakter seorang Ghea dan Pak Gery.
Atau kalau mau tahu visual yang aku pake bisa cek Ig aku aja @seizyll_koerniawan
Seizy
Si kang ngetik yang magrib baru mandi. Hihiii ILY gengssss terimakasih sudah menunggu dan membaca. aku harap berikan komentar yang selalu membuat aku berdebar dan semangat tentu saja!