
Jantung Gery berpukul. Refleks cowok itu berdiri untuk menghadapnya. Begitu pula dengan kedua tangan Ghea yang terlepas dari melilit lehernya.
“Untuk apa, sih, sayang?” tanya baik-baik cowok itu. Dan tidak dapat dipungkiri Ghea jika suara Gery terdengar shock luar biasa.
Mengundang dahi Ghea untuk berkerut. Alisnya menukik. Kepalanya miring ke satu sisi. Mengunci tatapan bola mata abu-abu yang nampak bergoyang. “Loh, kenapa emangnya, Mas, kalau aku mau ketemu Airin?” Dilipat kedua tangan Ghea di atas dada kemudian.
Diusap tengkuk Gery lalu dipijat lembut oleh jari-jari panjangnya sendiri. Kini bukan hanya bola mata saja yang bergoyang, tetapi wajah cowok itu lari dari tatapan Ghea. Malah mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruang makan.
Nampaknya sesuatu sedang dipikirkan Gery saat ini. Setelah sederet kalimat pas ada di ujung lidah, cowok itu berkata seraya menarik kedua telapak tangan Ghea dari lipatan.
“Gak papa, sayang. Justru aku senang kamu ke kantor. Nemenin aku kerja. Tapi, kalau untuk ketemu Airin … rasanya aku masih belum kasih kamu izin, deh.”
Ditarik Ghea kedua tangannya dari genggaman tangan besar Gery. Kakinya melangkah melewati tubuh cowok yang sedang berdiri untuk kemudian didudukkan bokongnya di kursi semula. Diraih Ghea gelas yang masih tersisa setengah susu di sana. Menyentuhkan bibir gelas bening itu pada bibirnya. Diteguk Ghea susu itu hingga tandas bersama wajah mendongak.
Jujur saja, semua itu menarik perhatian mata Gery. Melihat leher jenjang wanitanya membuat libido Gery bangun lagi. Apalagi dengan yang diketahui Gery, jika dibalik kaus putih kebesaran yang Ghea kenakan saat ini, wanita itu tanpa mengenakan busana lain di dalamnya.
Oh shitt!
Kenapa pagi ini Ghea harus terlihat secantik dan semenawan itu, sih?
Ghea menghela nafas. Menyimpan gelas di meja makan lalu matanya mengarah pada Gery yang bergeming. “Atau jangan-jangan—“
Dihampiri Ghea oleh cowok itu cepat. “Nggak, sayang!" tegasnya, menangkup kedua sisi wajah Ghea kemudian. menyalurkan semua kepercayaan lewat sorot matanya yang jujur.
“Terus?”
Ditekuk kedua tungkai Gery untuk kemudian kedua lututnya bertumpu pada lantai. Gery bersimpuh di sana dengan tidak melepaskan tangkupan di kedua sisi wajah. Tatapan keduanya lalu saling mengunci serius.
“Gak ada terusannya,” kata Gery. Kepala Ghea tertarik ke belakang. Begitu pula dahinya mengerut dalam. “Tapi, makasih loh, ya,” ujar Gery menyeringai.
Semakin menambah keheranan Ghea tentu saja. “Buat?”
Rasanya aneh, jika Gery harus mengucapkan terimakasih tetapi menolak untuk Ghea ikut ke kantor.
Gery mencubit kedua pipi Ghea gemas. “Awww awww … apaan, sih, Mas? Sakit ini.” Rengek Ghea. Kedua tangannya berada di atas tangan Gery untuk mencoba melepaskan cubitan yang belum cowok itu lepaskan tentu saja.
“Makasih, kamu udah cemburu sama Airin.” Lalu capitan di pipi seputih susu itu dilepaskan Gery. “Makin sayang kamu deh. Beneran!” lanjutnya kemudian sembari mengecup bibir mengerucut itu sekilas.
Ghea mencebik. “Idih, pede banget. Sumpah! Siapa, sih, yang cemburu? Gak ada, ya.”
Mungkin mengelak adalah salah satu kebiasaan wanita. Termasuk Ghea. pipi berwarna semerah jambu itu Ghea kembungkan.
Keduanya sama-sama saling melempar canda dan ledekan. Dan berhenti sampai suara melengking terdengar dari arah depan ruang tamu. Memanggil nama sang suaminya itu.
“Gery … Gery … Ger!!!”
Dahi lebar Gery mengerut. Beradu tatap dengan sang pemilik bola mata hitam pekat.
Tidak usah bertanya saja, Ghea sudah tahu arti dari tatapan suaminya. Lalu, Ghea hanya mengedikkan kedua bahu sembari digelengkan kepala hingga rambut panjangnya itu bergoyang mengikuti gerakan.
“Gery! Kenapa kamu gak—“ suara itu berhenti saat Mama Dian melihat Ghea yang berdiri di samping kursi makan. Dihampiri wanita cantik itu oleh sang Mama mertua. “Astaga Ghea … kenapa kamu gak bilang Mama kalau udah di Jakarta, sayang?” Diusap pipi semerah jambu itu dengan satu tangan Mama. “Mama kangen kamu tahu gak, sih,” katanya jujur lalu merengkuh tubuh Ghea ke dalam pelukan hangat Mama.
Mengusap punggung sang menantu begitu sayang. Sungguh pun, Gery senang melihat adegan yang di hadapannya ini. Tetapi, untuk mengacaukan, Gery lebih menyukainnya lagi. Maka dari itu, Gery menguraikan pelukan Mama Dian dengan Ghea. “Astaga … Mama kalau udah ketemu Ghea, lupa sama anak sendiri," ujar cowok itu jenaka.
Ghea tertawa. Ada pun dengan Mama Dian memukul bahu sang anak lelaki menggunakan cluth mewah di tangannya. “Kamu tuh, ya. Kenapa gak ada bilang sama Mama? Heuh?”
Alis Gery menukik. “Bilang apa, sih, Ma?" tanyanya penuh keheranan. Mengusap-ngusap bahu lebarnya untuk menghilangan bekas pukulan kecil dari Mama. “Lagi pula, kebiasaan deh, Mama kalau ketemu anak sendiri pake mukul-mukul.”
Ghea memutar bola mata hitam itu, begitu jengah melihat Gery yang seperti, “kek anak perempuan aja, deh, Mas. Pake manjaan segala.”
“Tau nih Ghea, suami kamu drama banget." Dirangkul lagi bahu Ghea itu oleh Mama.
Untuk beberapa saat, ketiga makhluk itu hanya melempar canda dengan Mama yang selalu membela Ghea dibandingkan Gery sang putra. Entahlah, Mama begitu menghargai wanita Gery ini.
Justru jika bisa dibilang, Mama mungkin lebih menyayangi Ghea dibanding dengan putranya yang kini malah terdiam tanpa mengeluarkan suara lagi ketika Mama bertanya. “Kenapa gak ada yang kasih tahu Mama kalau kalian berdua lagi kekusahan?” Wanita paruh itu duduk anggun di kursi makan samping Ghea tentu saja. Mengusap rambutnya dengan kasih dan sayang yang penuh.
Ghea membisu. Lidahnya terasa kelu untuk mengatakan sesuatu. Tanpa bertanya, Ghea dan Gery sudah tentu tahu apa maksud pertanyaan sekaligus pernyataan Mama Dian.
Hening bahkan mengambil alih ruang makan itu. Deru nafas teratur sekaligus sesak kentara bagai alunan musik klasik. Ghea menundukan kepala.
“Mama gak bakal tahu jika dokter Gita tidak menelepon dan menceritakan kesehatan Ghea." Rupanya Ghea perlu berterimakasih pada dokter SpOG itu karena telah mengatakan semuanya pada Mama.
Demi kehidupan. Bukan Ghea tidak ingin memberitahu Mama soal kondisi rahimnya.
“Aku gak papa, Ma.” Sela wanita berambut terurai itu cepat. Menyentuh punggung tangan keriput yang tersemat cincin berlian di sela jari manis—di atas meja makan.
“Tapi, sayang—“
“Mama gak usah khawatir, ya! Aku bakal baik-baik aja.” Tidak perlu menjelaskan sedetail mungkin. Mama dapat memahami.
Sampai pamit pulang dan sekarang berdiri di ambang pintu masuk pun, Mama tidak mengatakan hal apa pun lagi yang menyangkut kondisi Ghea.
“Kamu yakin Ger, gak bakal bujuk Ghea untuk operasi pengangkatan tumor itu?” tanya Mama menatap bola mata abu itu lekat. Kedua tangan Mama saling terjalin di depan perut bersama cluth mewah yang terselip di antara lengan dan pinggang.
“Aku harus bilang apa lagi, Ma? Kemarin udah aku bujuk mati-matian. Tapi ancaman Ghea terlalu takut untuk aku lakukan.” Ditenggelamkan kedua tangan besar Gery ke dalam saku celana berbahan yang mengkilap serta rapi.
Demi apa. Mama dapat melihat ketakutan sekaligus kesedihan dan kehancuran di sorot mata abu itu. Alih-alih mengatakan sesuatu lagi, malah Mama melepaskan tautan di jari untuk kemudian mengusap bahu lebar nan tegap Gery.
“Memangnya, apa yang Ghea katakan?”
Sorot mata Gery berkilat penuh kebencian. “Ghea ngancem bakalan gugat cerai aku, Ma.” Sungguh demi Tuhan! Gery benci mengulang kalimat itu.
Kalimat yang menyesakkan nuraninya.
Ditarik nafas Mama dalam hingga dadanya ikut serta. Lalu senyum terbit di sudut bibir Mama. Membuat nurani Gery yang gelisah itu seketika damai.
Mama tidak dapat menguntai kata menjadi kalimat lagi. “Mama tahu kamu sekarang lagi dalam kesulitan untuk mengambil keputusan, Ger.” Tangan yang tersimpan di atas bahu lebar itu naik mengusap sisi wajah tampan bak Dewa Yunani.
“Mama ngerti banget gimana perasaan Ghea saat ini, Ger. Mama seorang Ibu. Mama tahu betul sesakit apa jika kehilangan seorang anak. Karena Mama pernah merasakan itu sebelum adanya kamu.”
Dan Gery tahu itu.
Mama pernah cerita jika sebelum Gery, Mama pernah mengalami kehilangan anak perempuannya ketika umurnya baru satu tahun. Mungkin dari sanalah, alasan Mama begitu mencintai Ghea layaknya seorang putri kandung.
“Bukan hanya kamu yang merasa hancur oleh kondisi Ghea saat ini, Ger. Kamu harus tahu, jika Ghea juga pasti ngerasa dilema banget. Terlalu sulit untuk Ghea mengambil keputusan itu. Kamu harus banyak ngertiin dia, ya! Sabar adalah kunci kamu untuk tetap membimbing dan menemani Ghea saat ini. Hem.”
“Aku ngerti, Ma.” Bibir seksi dan tebal itu mencoba melebarkan senyuman.
Dimana Mama Dian mendekap Gery, memberikan usapan lembut pada punggung lebar itu, di ambang pintu antara ruang tamu dan ruang tengah. Dada Ghea kembali merasakan sesak luar biasa. Cairan bening bak kristal sukses membasahi pipi.
Ternyata, bukan hanya dirinya yang merasakan semua rasa itu. Mama Dian juga turut serta. Bahkan begitu mengerti. Lalu, bagaimana dengan kabar Mamanya yang jika tahu akan kondisi Ghea seperti apa saat ini?
“Mama pulang dulu,” pamitnya setelah mengurai dekapan hangatnya dengan Gery.
“Hem.” Dianggukan Gery kepala itu samar sembari kedua tangan tenggelam dalam saku celana.
“Nanti sore Mama sama Papa mau ke Bandung. Jengukin Papanya Ghea. mumpung besok hari minggu dan Papa libur.”
“Ya. Mungkin nanti aku akan nyusul. Khawatir juga sama Papa Jordan. Dan Ghea pasti lagi kepikiran juga dengan kondisi Papanya.”
Anggukan serta senyuman kecil di sudut Mama Dian menjadi penutup untuk Gery lihat. Tubuh tegap dengan otot-otot liat yang bersembunyi di balik kemeja itu berbalik. Nuraninya menghangat saat pertama yang ia lihat adalah senyum merekah di wajah Ghea. namun, tidak dipungkiri jika nurani itu juga sesak melihat mata Ghea basah.
Ketukan sandal rumah menjadi satu-satunya suara yang menemani. Layaknya musik romantis pesta dansa pernikahan, tangan Gery keluar dari dalam saku, terulur pada satu sisi wajah Ghea untuk kemudian mengusap jejak kristal di tulang pipinya.
“Jangan nangis! Aku. Di sini.” Tubuh Gery semakin mendekat. Tidak memberikan jarak tubuh dengan tubuh Ghea. Dengan elegan, satu tangan Gery masih tenggelam dalam saku. Sedang pula tangan yang lain membelai pipi Ghea lembut penuh dengan rasa suka cita. “Bukan untuk melihat kamu nangis, sayang." Lagi. Wajah tampan itu bergerak maju menuju wajah Ghea. Menempelkan dahi lebar itu pada dahi seputih susu Ghea.
Demi apa pula. Nafas panas Gery begitu lembut membelai seantaro wajah cantik itu.
Kelopak mata Ghea ditutup. Sedang Gery sama sekali tidak ingin kehilangan wajah cantik itu dari tatapan. Sehingga yang ia lakukan menekankan dahi itu di dahi Ghea serta tetap memfokuskan tatapannya pada wajah cantik yang sekarang malah kembali meloloskan air mata untuk jatuh ke pipi.
“Air mata kamu terlalu berharga untuk aku lihat, Ghe. Aku gak bakal janji untuk tidak menghukum diri aku sendiri jika kamu menangis karena kondisi ini.” Sekarang kelopak mata Gery terpejam. Turut merasakan nafas Ghea yang menyapu wajahnya.
“Tapi, aku janji … Aku akan ngedukung semua keputusan yang kamu ambil. Aku akan nemenin kamu berjuang untuk melahirkan anak kita. Jika
kamu ngerasa sakit, aku rela gak tidur hanya untuk memijat dan mengompres punggung kamu. Apa pun akan aku lakukan untuk mencoba menghilangkan rasa sakit itu.”
Seperti semalam. Cowok itu tidak dapat menutup mata untuk beristirahat hanya karena terasa dentuman keras menghimpit dada mendengar ringisan kecil dari mulut Ghea. Dan kedua tangan Ghea yang terus memegangi perut.
To be continued ...
Maaf akak akak mamen. Ini aku tadinya mau update semalam. Tapi punten, malah lupa. Hihiii
Semoga suka ya.
Follow ig seizyll_koerniawan untuk tahu waktu update cerita ini. Dan info seputar cerita aku yang lainnya.