
Seorang Ashley Alexandria tidak pernah takut dipanggil seorang rektor hanya karena menampar wajah seorang mahasiswa yang tidak sengaja menumpahkan jus ke dadanya hingga membuat bajunya basah dan kotor.
Ashley menatap malas pada wajah ketakutan Indah. Cewek manis berjilbab itu nampak bergetar. Air mata nampak menggenang memenuhi kelopaknya. Sungguh pun, Indah tidak berani menatap wajah Ashley hingga ia hanya bisa menundukan kepala bersama jari meremas samping gamisnya.
“Makanya, punya mata tuh dipake. Jangan lo jadiin pajangan doang.”
Ketakutan Indah semakin terlihat nyata. Meski ada banyak orang-orang yang menyaksikannya di kantin. Mereka tidak ada yang berani membantu. Tidak ada yang ingin berurusan dengan seorang Ashley. Cewek itu terlalu pemberani dan bisa melakukan apa pun sesukanya. Bahkan untuk di keluarkan dari kampus pun, Ashley tidak takut sama sekali.
Mana ada yang berani melakukan hal itu pada cucu sang pemilik kampus.
“Ma—maaf. Aku gak sengaja,” ucap Indah. Suaranya bergetar.
Nampak wajah Ashley menyeringai. Ia melepaskan cengkraman di kedua rahang Indah. “Oke. Gue bakal maafin lo. Dan bakal bebasin lo dari hukuman karena udah kotorin baju gue. Asal…” seringai di wajah itu semakin menakutkan. Ashley kemudian menyentuh jilbab Indah. “Lo buka jilbab lo di depan semua orang yang ada di sini.”
Indah menegang. Tidak mungkin dan Indah tidak akan mengabulkan hal konyol Ashley seperti itu. Indah lebih baik menerima hukuman apa pun dari pada harus membuka auratnya. Kepalanya mendongak, hanya sesaat untuk melihat seringai di wajah Ashley. Lalu kembali menunduk karena itu ternyata menakutkan.
“A—aku gak bisa,” tolak Indah yang tidak menghilangkan getar takut di suaranya. Membuat Ashley berdecak malas. Tangannya mengusap sisi wajah Indah dengan air mata sudah membasahi pipi gadis itu. “Kenapa? Emang lo nggak kegerahan? Heum? Cuma bentar doang kok.”
Indah menggelengkan kepala sebagai bantahan. Tentu saja ia akan menolak itu. Mempertahankan kehormatan dirinya sebagai seorang muslimah yang taat pada perintah Tuhannya.
“Ck. Ya udah, kalau lo gak mau buka. Biar gue yang bantu. Gimana?”
Indah tetap menggelengkan kepala. Tangannya mencengkram jilbab yang menutupi dadanya itu. Sebagai bentuk pertahan. “Jangan! Aku mohon.” Indah sedikit terisak. Kedua tangannya menyilang di depan dada. Tubuhnya mundur demi menghindari tangan Ashley yang sudah stay di depan dada Indah. Seolah tengah siap menarik ujung jilbab perempuan yang tengah menahan Isak tangis itu.
Orang-orang hanya bisa menatap Indah dengan iba. Menolong pun percuma, karena mereka juga yang nantinya akan menjadi sasaran kenakalan Ashley.
Tatapan Indah mengedar sebagai bentuk meminta tolong. Bukan hanya perempuan saja yang tidak ingin terlibat, cowok pun sama. Mereka semua tidak ingin terlibat.
Well. Katakan mereka semua pecundang. Tidak bisa menghadapi seseorang hanya karena dia cucu dari pemilik kampus.
“Ey, udahlah. Gak lihat nih anak orang udah kek mau sekarat aja idupnya?” Itu suara Egi—teman Ashley. Egi merasa tidak tega melihat Indah menjadi sasaran kemarahan Ashley. Sampai-sampai Egi harus menggigit bibir dalam demi menahan geraman. Sungguh, Egi merasa temannya ini sudah keterlaluan. Tapi, ia juga bisa apa selain diam.
“Iya, Ey. Gak seru lo ngerjain anak orang kayak gini.” Ruby yang biasanya selalu mendukung kenakalan Ashley, kali ini pun sama, Ruby tidak tega melihat Indah yang sudah ketakutan luar biasa. Apalagi ini menyangkut jilbab—mahkotanya seorang wanita muslim.
“Lain kali lagi deh, Ey. Ini udah telat banget kan.” Egi melihat jam di pergelangan tangan. Mengingatkannya jika malam ini mereka akan mengadakan pesta tahun baru di rumah Ashey. Tentu saja harus ada persiapan sebelum malam tiba. Selain itu, Egi juga berusaha untuk mencegah Ashley berbuat hal yang lebih gila.
“Bentar deh, Gi. Lo berdua ganggu aja, anjir.” Ashley bersedekap. Jika sudah seperti ini Egi mau pun Ruby tidak bisa mencegahnya. Apalagi setelah menatap ekspresi Ashley yang menakutkan.
“Lo juga lama bukanya. Sini deh biar gue bantu elah…” Ashley menarik kedua tangan Indah di dadanya. Selanjutnya, hal yang tidak terduga oleh Indah, tangan Ashley benar-benar menarik ujung depan jilbab Indah ke belakang, hingga rambut panjang Indah terpampang di depan semua orang.
Dengan cepat Indah membungkuk di lantai. Menutupi kepala dengan tasnya. Menangis. Merasa berdosa karena tidak bisa menjaga mahkota sebagai kehormatannya.
“Nah ketimbang buka jilbab doang kan, apa susahnya coba?” Tanpa merasa berdosa, Ashley melemparkan jilbab itu ke lantai. Tepat ke sampin tubuh Indah.
“Stop!” Tiba-tiba suara menggema menahan Ashley yang bisa saja semakin bertingkah jauh. Demi Tuhan. Dia yang sedari tadi berdiri di ambang pintu kantin bersama kedua temannya, sudah menahan geram melihat Indah diperlakukan dengan hal yang memalukan seperti itu.
Seorang cowok mendekati Indah untuk kemudian membuka jaket parasutnya. Lalu ia gunakan jaket itu untuk menutupi kepala Indah. Tanpa sedikit pun matanya melihat ke arah Indah. Cowok itu menjaga pandangannya dari melihat aurat Indah.
Sedangkan Ashley nampak marah. Kedua rahangnya mengetat matanya hampir akan menelan dia hidup-hidup. Ia tidak suka kesenangannya diganggu orang lain.
Lantas cowok itu mengambil jilbab Indah di atas lantai untuk kemudian menyerahkannya kepada gadis itu.
“Lo ganggu kesenangan orang,” kata Ashley menatap tajam cowok itu.
“Lo udah keterlaluan,” sahut cowok itu sebagai jawaban. Suaranya besar namun terdengar tenang. Seolah cowok itu tidak ada takut kepada Ashley.
“Keterlaluannya dimana, heuh? Gue gak bikin dia babak belur kan.” Ashley menatap sengit cowok berkaus putih itu. Menyilangkan kedua tangannya di dada dengan satu alis tertarik ke atas.
Dengan nafas dan tatapan tenang, cowok itu membenarkan letak tas di bahu kanan. “Jilbab bagi setiap wanita adalah suatu kehormatan. Lo perempuan kan? Harusnya lo bisa menghargai itu walau pun lo sama sekali gak berjilbab.”
Ashley merasa tertohok mendengar kalimat bersyirat cowok itu. Hatinya bergetar. Alih-alih merasa bersalah, Ashley marah. Berani sekali cowok itu menceramahi ya di depan banyak orang. Sialan.
Indah menghapus air matanya sebelum berdiri. Seraya memeluk erat jaket cowok itu, Indah setengah berlari meninggalkan kantin. Tanpa sedikit pun bersuara apalagi untuk berterimakasih pada si pemilik jaket.
Ashley diam. Emosinya tidak terkontrol sehingga ia melempar botol plastik di atas meja kantin ke lantai. Membuat airnya tumpah kemudian mengenai sepatu cowok itu.
“Gue gak lupa wajah lo, ya. Dan siap-siap untuk waktu selanjutnya.” Ia mengucapkan kalimat itu dengan intonasi geram dan marah. Tatapan matanya memperingati dia yang bergeming. Ashley lalu meninggalkan kantin dengan ego yang tersentil. Disusul Ruby sambil memanggil namanya.
Egi menarik nafas. Menghampiri cowok yang masih bergeming di sana. “Eh, Noah sorry ya.” Seharusnya bukan Egi yang melakukan hal ini.
“Temen lo udah keterlaluan, Gi.” Noah—si pemilik jaket itu mengibaskan sepatunya yang terkena ceceran air.
“Iya gue tahu. Tapi gue bisa apa coba,” ucap Egi sambil mengedikan kedua bahu. Menatap Noah dengan rasa bersalah yang terselubung pada Indah.
Indah pasti malu sekarang karena auratnya sudah terbuka dengan sengaja oleh Ashley.
“Lain kali lo kasih tahu temen lo, biar gak ngerugiin orang lain lagi.”
“Iya. Sekali lagi sorry ya.”
“Bukan ke gue lo minta maaf. Tapi Indah.”
Cowok dengan kaus putih dan jeans berwarna gelap itu lantas meninggalkan Egi serta kerumunan yang mulai menghilang dengan sendirinya.
Egi menatap punggung Noah yang semakin menjauh. Cowok itu keluar dari kantin bersama dengan kedua temannya. Egi memang tidak dekat dengan cowok itu. Namun, hampir mahasiswa yang kuliah di sana mengenal Noah dengan sosok yang baik dan pintar.
Dia Noah Yudhistira.
.
.
.
Cieee perkenalan dulu ya.
selamat datang bagi kamu yang menemukan cerita ini.
Kang ngetik amatiran