
.
.
.
Pagi sudah tiba dan matahari bahkan sudah tinggi. Tapi kedua manusia itu masih asyik tidur menjelajah dunia mimpinya masing-masing. Dengan tubuh polos yang hanya di tutupi selimut, sudah dapat di tebak akan apa yang mereka lakukan semalam, dan biarlah hanya mereka yang tau prosesnya.
Mereka adalah, Keland dan Melisa. Kedua pasangan yang semalam bertengkar lalu kemudian berbaikan karna insiden itu, dan akhirnya berakhir demikian. Selalu ada pelangi sehabis hujan. Ya, begitulah yang terjadi pada mereka.
Melisa bergerak-gerak tak nyaman dalam tidurnya, mencari tempat yang aman untuk meletakkan kepalanya, namun batalnya tidak senyaman dada suaminya. Akhirnya ia pun meraba-raba tubuh Keland, dan tersenyum meskipun masih dengan mata tertutup karna merasa menemukan yang ia cari. Dengan sigap ia berganti posisi dengan tidur sambil memeluk tubuh sixpack Keland dan membenamkan kepalanya di dada bidang itu. Dan menurutnya itu adalah pose tidur paling romatis dan sangat nyaman, ia pun kembali tersenyum senang.
"Sepertinya kau mulai nakal lagi," suara serak Keland khas bangun tidur membuat Melisa mau tak mau membukan matanya dan membola terkejut. Apakah Keland menyadari kelakuan absurd nya tadi? Aduh sangat memalukan....
"Kau sudah membuat bangun di pagi hari," ucap Keland yang jelas membuat Melisa bingung. Memang bukankah seharusnya di pagi hari waktunya bangun? Jika begitu Melisa hanya membantu, lalu dimana letak kesalahannya? Apa sih maksud Keland?
"Bangun pagi hari itu bagus," jawab Melisa kemudian, meskipun aura malu nya masih kentara, karna tingkahnya tadi.
"Begitukah? Yahhh.... itu bagus sih, hitung-hitung olahraga," ucap Keland.
"Ya, bisa olahraga pagi itu sehat," ucap Melisa yang tak menyadari jika kata-kata dan maksud Keland itu berlainan dari yang ia fikirkan.
"Jadi bagaimana? Haruskah kita olahraga lagi sampai keringat?" Tanya Keland sembari menyeringai dan menatap Melisa menggoda membuat Melisa bergidig gugup seperti merasa ada yang tak beres ini.
"I...ia...ya... kita harus olahraga," ucap Melisa gugup kemudian mencoba bangkit untuk bersiap-siap, sebelum hal yang tak ia harapkan terjadi. Namun ternyata ia kalah cepat dari Keland, pria itu sudah menariknya kembali hingga terjatuh tepat di dada bidang pria itu lagi, dan tanpa sengaja tangan Melisa mendarat di area pribadi suaminya, dan itu sangat sukses membuatnya terkejut dan membola menatap Keland.
"Kau mau kemana? Kita kan harus olahraga... kau bisa rasakan kan? Dia bangun karna mu, kau harus tanggung jawab. Dia meminta olahraga denganmu," ucap Keland sangat vulgar membuat Melisa tercengang tak tau harus mengatakan apa. Keland benar-benar keterlaluan menjebaknya dengan kata-kata ambigu yang tidak ia sadari telah ia jawab sedari tadi. Pria itu berputar-putar hanya untuk meminta hal itu agar ia tak bisa kabur.
"Ak-akuu... kit-kita kan harus olahraga di luar," ucap Melisa gugup tak tau harus mengatakan apa lagi.
"Tidak sayang.... jika kita olahraga di luar akan sangat memalukan," ucap Keland ngawur seakan tak mengerti jika maksud olahraga yang Melisa maksud itu bukanlah seperti olahraga yang ia fikirkan. Tapi olahraga dalam artian olahraga yang sebenarnya.
Dengan sigap Keland memutar posisi mereka hingga kini Melisa yang ada di bawahnya.
"Kulitmu sangat halus dan lembut. Dan kulit kita bersentuhan seperti ini, bagaimana bisa hasratku tak bangkit hah?" Ucap Keland kembali sangat vulgar hingga membuat Melisa demakin bergidig.
Sepertinya Keland kerasukan hantu mesum, atau jangan-jangan memang beginilah sikap asli dari suaminya. Fakta nyata yang tertutupi. Apakah ia telah di nikahi oleh manusia mesum? Habislah ia.....
Ia pastikan teman-temannya yang mengagumi Keland akan menyesal saat tau bagaimana sifat asli guru yang sangat mereka puja-puja itu. Karna hanya Keland yang sanggup melakukan itu pada muridnya dan berbicara se-vulgar itu. Tapi memang ia juga tal bisa berbohong sih, jika ia juga sangat menikmati kenikmatannya.
Dan tanpa Melisa duga, kini dengan cepat bibir tebal nan seksi itu sudah mendarat di bibirnya, lalu melumatnya dan menyecapnya. Bahkan tangan pria itu kini sudah menari-nari diatas dadanya mencoba merangsangnya dan ia tau....
_____
Kini Melisa dan Keland sedang menyantap makan siang mereka di restoran. Sedari tadi wajah Melisa cemberut dan kesal. Ia sangat marah pada Keland, karna Keland yang terus-terusan lanjut seperti orang kekurangan nutrisi, melahapnya habis-habisan, akhirnya mereka pun melewatkan sarapan pagi. Padahal Melisa sudah sangat kelaparan, perutnya keroncongan, ia benar-benar kesal pada pria ini.
"Sayang... Maafkan aku ya, aku benar-benar tak sengaja, itu tadi aku kebablasan," aku Keland semabari meminta maaf. Tapi sepertinya Melisa tetap saja tak perduli. Sudah sedari tadi Keland meminta maaf, tapi tak di hiraukan oleh Melisa. Sungguh Keland merasa menyesal hingga ia pun sama sekali belum menyantap makan siangnya, saat ini ada satu hal yang lebih penting di banding perut kosongnya. Yaitu maaf dari Melisa.
"Katakan apa yang harus aku lakukan agar kau tak marah?" Tanya Keland frustasi melihat diamnya Melisa. Tapi tetap saja gadis itu tak perduli.
"Baiklah... sepertinya kau tak akan memaafkanku semudah itu. Aku pergi dulu, kau habiskanlah makanmu," ucap Keland kemudian berlalu. Ia bahkan tak punya selera untuk makan lagi karna kediaman Melisa. Ia tak tau harus bagaimana lagi membujuk gadis itu. Dan sekarang ia harus mencari cara untuk menyenangkan Melisa, agar gadis itu mau memaafkannya.
Sementara Melisa yang di tinggal pergi oleh Keland justru malah semakin kesal. Pria itu menambah kadar ke kesalannya menjadi luar biasa. Bukannya berusaha terus membujuk, tapi pria itu justru pergi meninggalkannya. Keland benar-benar sangat sesuatu sekali, luar biasa sekali memancing emosinya.
We gonna go oo...oooo...ooo we gonna go, alright...alright...alright......
Dering ponsel Melisa yang berjudul A go lagu Oh Sehun, yang menandakan panggilan masuk pun mengalihkan perhatian Melisa ke benda pipih tersebut yang kini terletak di meja. Dan disana ia melihat panggilan masuk dari Rara, kebetulan sekali... ia butuh teman curhat sekarang, dengan cepat ia pun mengangkat panggilan tersebut dengan menggeser layar hijau nya.
"Halo..." ucap Melisa dan di balas dengan pekikan heboh di seberang sana. Ia yakin sekali, saat ini juga pasti ada Fela dan Chaca di sana.
"Melmell, Chaca rindu... Melmell kapan balik ke Indo?" Tanya Chaca heboh, benar sekali dugaan Melisa.
"Mungkin secepatnya," jawab Melisa ketus, aura kesalnya belum hilang.
"Kau kenapa Mel? Apa ada masalah di sana?" Kini Fela yang bertanya. Mungkin ia menyadari cara bicara Melisa yang tak biasa.
"Aku lagi kesal sama guru kesayangan kalian. Dia membuatku kelaparan," kesal Melisa membuat ketiga temannya di seberang mengernyit bingung antara aneh dan tak percaya. Tidak mungkin Keland membiarkan Melisa kelaparan, Keland tak se miskin itu hingga tak mampu memberi Melisa makan di negri orang kan? Mereka rasa justru Keland sanggup membelikan Melisa restorannya jika mau. Lalu mengapa Melisa mengatakan ia kelaparan karna Keland?
"Kelaparan bagaimana? Kau bicaralah yang jelas," tanya Rara tak sabaran.
"Dia itu hantu mesum, sangat mesum. Apa kalian tau, dia itu bicara sangat vulgar. Tak mencerminkan jiwa seorang guru, dia mengatakan hal-hal tak senonoh pada ku, bagaimanapun aku kan pernah jadi muridnya. Dan lagi yang lebih parahnya lagi, dia membuatku tidur kepagian karna malamnya dia tak bisa membuatku berhenti melayaninya. Kemudian di pagi harinya, dia kembali melakukannya lagi. Tubuhku remuk, aku capek dan aku lapar. Tapi dia malah membuat jam sarapan pagi ku hilang hingga jadi makan siang," cerocos Melisa panjang lebar menuntaskan segala kemarahannya yang sudah membludak ingin di puaskan.
Sementara Fela,Rara, dan Chaca di seberang yang mendengarnya justru terkikik geli, menurut mereka Melisa ini sangat bodoh. Jelas itu hanya masalah sepele antar suami istri. Dan lagi, Melisa justru beruntung bukan...jika melakukanya dengan Keland. Jika saja Melisa bukan sahabat mereka, pasti akan mereka tikung demi merebut cinta Keland.
"Aduh Melisa sayang... itu hal biasa. Seorang pria itu punya hasrat yang berbeda-beda cara memuaskannya. Dan lagi, dia itu suami mu. Walaupun dulu kau muridnya, tapi itu bukan alasan agar dia tak bisa bicara begitu padamu. Pembicaraan seperti itu antara suami istri itu normal. Dan lagi, aku justru semakin kagum padanya, ternyata pak Keland segagah itu yah, dia bisa setahan itu dari malam hingga pagi dan lanjut dari pagi hingga siang. Kalau aku di posisi mu, dengan senang hati akan ku lakukan, mungkin rasa laparku justru akan hilang dengan sendirinya. Makan pria tampan itu lebih asyik," goda Rara mengeluarkan pendapatnya. Dan bukannya curhat membuat hati adem, ternyata ia jadi semakin kesal sekarang. Bukan hanya pada Keland, tapi juga pada ketiga temannya yang tak tau diri.
Bisa-bisanya mereka mengatakan itu dan mengejeknya, mereka bahkan memuji-muji Keland, keterlaluan. Disini sebenarnya teman mereka sekarang siapa? Dan berani-beraninya mereka mengagumi suaminya dengan terang-terangan begitu. Pokoknya hari ini ia sangat kesal luar biasa.
....