Married With Teacher

Married With Teacher
Adam dan Hawa


Sudah menjadi hal biasa untuk mereka, bila sekarang melihat pemandangan yang bikin sakit hati buat para jomblowan abadi setiap paginya. Siapa lagi jika bukan melihat Ghea yang duduk di atas motor trail Pak Gery. Lalu setelah Ghea turun, tangan Pak Gery akan membantu Ghea melepas helmnya.


“Terimakasih.” Dan begitulah yang akan Ghea ucapkan pada Pak Gery seraya memberikan senyum tipis padanya. Lalu setelahnya tangan kekar cowok itu akan mengusak rambut atas Ghea.


Mengabaikan beberapa pasang mata yang masih berada di area parkiran, memandang kedua sejoli itu dengan tatapan iri tentu saja. Pak Gery menarik tangan Ghea kemudian. Dan begitu memasuki gedung sekolah, tepatnya ketika keduanya berjalan di lorong yang begitu ramai karena memang keadaan yang belum masuk, Pak Gery menautkan jari-jarinya pada sela-sela jemari Ghea.


Ghea sedikit terkejut dengan aksi suaminya itu. Terasa dari punggungnya yang tiba-tiba menegang. Dipikir Ghea, apa-apaan Pak Gery ini? Kenapa sekarang kok justru Ghea yang malu ketimbang dulu Pak Gery yang merasa begitu sewaktu pertama cowok itu masuk ke Garuda lalu Ghea yang terus mengejarnya.


“Mas?” Ghea memanggil. Refleks Pak Gery menoleh. “Kenapa?”


“Malu ih diliatin yang lainnya,” kata Ghea dengan wajah kikuknya, menoleh ke sekelilingnya yang mana memang banyak pasang mata yang tengah memandangnya. Pun Pak Gery mengikuti Ghea mengedarkan pandangan. Benar saja jika dirinya dan Ghea sedang menjadi pusat perhatian.


Wajah Ghea berubah merah dengan cepat tatkala mereka mencie-cie kannya. Apalagi anak-anak murid cowok, sampai bersiul segala.


Juga ada beberapa anak cowok yang berkata seperti ini.


“Eh kampret, gue tahu lo jomblo. Tapi jangan kek gitu juga ngeliatinnya kali, sampai iler elo tuh keluar.”


Refleks tangan anak cowok yang menjadi sasaran bercandaan temannya itu mengusap sudut bibirnya. Membuat Ghea terkekeh di tempat. Dan membuat yang lainnya tergelak karena merasa lucu. Sedangkan dengan Pak Gery, seperti biasa, cowok itu hanya diam saja bersama wajah datarnya. Kemudian saat matanya menangkap bibir Ghea yang tertarik lebar, diam-diam Pak Gery pun menarik sedikit sudut bibirnya. Tersenyum samar.


**


Siang itu setelah pulang sekolah Ghea memutuskan untuk pulang ke rumah Mama Dian. Awalnya Ghea ingin pulang ke rumah Mama Sora, namun Mamanya itu sedang tidak ada di rumah karena menemani sang Papa ke luar kota untuk urusan bisnisnya.


Ghea sengaja karena siang ini cewek itu ingin belajar memasak. Malu sih awalnya. Bayangkan saja sama mertua gitu kan? Walau Mama Dian baik dan sangat menyayanginya seperti bukan pada menantu, tetapi seperti pada seorang anak perempuannya sendiri. Namun, tetap saja Ghea merasa malu sendiri. Udah nikah tapi baru belajar memasak. Yang benar saja?


“Kamu kupas dulu bawang-bawang, ya, Ghe! Terus itu cabenya kamu potong kasar aja!” Kata Mama dian seraya menunjuk cabe merah dan rawit di dalam wadah. “Lalapnya dicuci kalau udah diberesin!” Mama Dian kembali memberikannya instruksi. Lalu dengan cepat Ghea mengupas bawang merah. Sedangkan Mama Dian tengah melumuri paha ayam untuk nantinya digoreng.


“Gery itu suka banget loh Ghe, sama paha ayam yang digoreng,” kata Mama Dian tiba-tiba. Sambil terus melumuri paha ayam itu.


“Masa, Ma?” Seraya tangannya itu terus mengupas bawang merah. Sesekali juga Ghea mengusap sudut matanya dengan bahu saat perih itu datang dan matanya mulai menggenang. Seperti menangis.


Mama Dian menutup wadah yang berisi paha ayam yang sudah dilumuri bumbu. Lalu melangkah menuju wastafel untuk mencuci tangannya. “Iya,” katanya tersenyum. “Kalau kamu tahu nih ya, Ghe, pas Gery lagi kecil kalau makan harus sama goreng paha ayam aja. Gak mau ganti-ganti menunya.”


Ghea mengelap bawah hidungnya terasa ada cairan yang keluar dari sana dengan bahu. “Emang Mas Gery gak bosen gitu, makan sama paha ayam terus?” Selesai mengupas bawang merah, Ghea pun beralih mengupas bawang putih.


Belum Mama Dian menjawab. Suara dari pintu dapur menggema. “Lagi ngomongin apaan sih? Mama sama Ghea serius banget?” Adalah Pak Gery yang bersedekap seraya menyenderkan bahunya pada dinding dapur.


Seraya mengelap tangannya, Mama Dian menoleh. “Ini lagi bahas paha ayam,” kemudian terkekeh.


Pak Gery mengedik. Melepaskan senderannya kemudian berjalan ke arah Ghea yang masih mengupas bawang. “Serius banget sih? Mau dibantuin gak?” tanyanya. Menyandarkan belakang tubuhnya pada tepi meja dapur bersama kedua telapak tangan yang ditenggelamkan ke dalam saku celana. Menghadap Ghea tentu saja.


“Gak perlu dong. Nanti yang ada aku gak bisa ngupas bawang-bawang aja.” Ghea terkekeh. “Kamu kok kesini? Emang Mas Adinya udah pergi lagi?”


“Udah. Kamu lagi bahas apa tadi sama Mama?”


Ghea menyatukan bawang putih dan merah yang sudah dikupas ke dalam wadah untuk dicuci. “Itu tadi Mama ngomongin kamu.” Lalu tangan Ghea kini beralih pada cabe yang harus dipotong kasar.


 “Ngomongin aku?” Pak Gery bertanya seraya menoleh pada Ghea yang ada di sampingnya. Namun tidak mengubah posisi dirinya yang bersandar di tepi meja dapur itu.


“Nggak!” Pak Gery menjawab. Dan barulah sekarang cowok itu mengubah posisinya. Berdiri di belakang punggung Ghea. Ngomong-ngomong juga Mama Dian sudah keluar dari area dapur. Tadi katanya sih mau telepon Papa Dika dulu buat jangan makan malam di kantor. Karena Papa Dika harus cobain masakan perdananya menantu. Katanya.


“Apalagi kalau paha yang aku makan itu pahanya kamu. Gak akan pernah bosan aku mah. Serius deh, Ghe.” Pak Gery melingkarkan satu tangannya ke leher Ghea. Sedangkan cewek itu tersedak tiba-tiba. Membuat Pak Gery terkekeh lucu.


Bukannya dibantuin istri tersedak, ini malah diketawain. Jahat banget.


Ghea menyimpan pisaunya di atas talenan. Kemudian berbalik. Membuat tangan kekar yang sedang melingkar di lehernya itu turun. “Ih, apaan sih Mas Gery? Gak lucu banget.”


Pak Gery terkekeh lagi seraya menyimpan kedua telapak tangannya di tepi meja dapur. Tepat di setiap sisi tubuh Ghea. Lebih tepatnya cowok itu mengurung Ghea. “Emang gak lucu. Yang lucu itu justru hidung kamu yang merah. Ingusan lagi.”


Tangan Ghea refleks mengusap bawah hidungnya. “Ih aku gak ingusan ya.”


Pak Gery menegakkan wajahnya. Kemudian menurunkan kedua telapak tangannya dan beralih memangku tubuh Ghea sebelum mendudukkan tubuh cewek itu di atas meja dapur.


“Ih Mas Gery ngapain dudukin aku di atas gini sih? Gak boleh! Pamali kalau kata orang jaman dulu mah.” Ghea akan turun namun dengan cepat Pak Gery menahannya. “Kita kan gak hidup di jaman dulu. Kita hidup dijaman cuma hanya ada aku dan kamu,” katanya. Membuat bibir Ghea terlipat dalam. Rasanya saat ini Ghea ingin menari karena ucapan Pak Gery barusan.


“Masa, Mas? Terus yang lain gimana?” Ghea mencoba menanggapinya.


“Yang lain mah ngontrak. Baikkan aku udah kasih mereka ngontrak gratis?”


“Mas Gery pikir ini jamannya Adam dan Hawa?” Kepala Ghea seraya berkelana, membayangkan dimana saat itu dunia hanya cuma ada Adam dan Hawa saja. Ghea menggeleng samar. Dipikir Ghea, pastinya itu gak akan asyik.


“Ya anggap aja gitu. Kamu Hawanya dan aku Adamnya,” ujar Pak Gery geli. “Hawa apa kau mau buah khuldi?” Kemudian bertanya dengan suara yang dibesar-besarkan.


Bahu Ghea terguncang. Cewek itu tergelak pelan. “Bukannya Hawa yang minta buah itu sama Adamnya?” tanyanya di sela-sela mulutnya yang masih tertawa.


Pak Gery berdecak. Melipat kedua tangannya di dada. Rupanya cowok itu tidak terima karena salah. Maka dari itu untuk menghentikan mulut Ghea agar berhenti menertawakannya, Pak Gery menarik belakang kepala Ghea sebelum bibir tebal dan seksinya itu membungkam bibir merah alami Ghea.


Ghea berontak. Ingin menjauhkan lalu melepaskan tautan bibir itu dengan cara mendorong dada Pak Gery. Namun apes banget, Pak Gery justru semakin meluumatnya habis.


“Gery, Ghea …, kalian lagi ngapain di dapur? Kalau kamu mau makan paha, Ger, di kamar sana!” Sampai pada suara dari arah pintu dapur mengagetkan keduanya dan Ghea mendorong dada Pak Gery untuk menjauh darinya.


Mama Dian baru kembali setelah menelepon Papa Dika.


...TBC...


Jadi maaf ya kemarin gak up.


...Btw pada ramein juga cerita aku yang judulnya Harta Tahta Alia...


Gak jamin kamu bakal suka. Tapi aku jamin endingnya bakal nyesek di dada. hihiii


Seizy


Kang ngetik amatiran