
“Halo, sayang?”
“Sialan! Berani juga lo muncul di depan gue,” katanya penuh dengan tekanan. Mencoba berjalan walau kepala itu amat terasa sangat berat dan pusing. “Apa maksud lo neror Ghea? Heuh?”
Cewek itu mendekat dengan senyum yang tersungging lebar. Melipat kedua tangannya di depan dada lalu perlahan setelah berdiri tepat di hadapan Pak Gery, tangan itu tergerak menyentuh bagian tubuh Pak Gery. Namun, sebelum tangan sialan itu mendarat di tubuhnya, tangan Pak Gery lebih dulu menyingkirkannya. Pak Gery tidak akan membiarkan tangan manapun menyentuh apa yang sudah menjadi milik Ghea.
“Waw …” Dita mengangkat satu tangannya setengah ke udara sambil bibir yang mencibir. “Kenapa gak mau aku sentuh? Padahal selama ini aku selalu berharap bisa menyentuh bagian dari kamu, sayang.”
Pak Gery sangat jijik mendengar kata ‘sayang’ yang Dita ucapkan dari bibirnya. Hanya Ghea seorang yang berhak mengucapkan kata spesial itu untuknya. Bukan Dita, atau bukan cewek manapun.
Kepala Pak Gery semakin sakit. Lalu memejamkan matanya lagi sesaat. “Lo harus balik lagi ke tempat lo! Jangan paksa gue buat kasar sama lo!”
Dita terkekeh. Kemudian berdecih. “Oww … justru aku suka kalau kamu paksa-paksa aku, sayang!”
Oh tidak. Mendengar ocehan itu kepala Pak Gery semakin berdenyut tak tertahan. Pandangannya semakin mengabur. Namun, Pak Gery mencoba untuk tetap sadar. Mungkin minuman yang Pak Gery teguk tadi telah tercampur obat pusing. Untuk beberapa detik, Pak Gery masih bisa mendengar ocehan-ocehan Dita. Namun sedetik kemudian kepalanya terasa amat sangat tidak kuat. Tubuh Pak Gery limbung ke belakang. Kemudian dengan sigap kedua tangan Dita menahan tubuh besar itu lalu memeluknya dengan membawa tubuh Pak Gery bersandar pada dinding lorong tersebut.
“Ini yang selalu aku nantikan, Ger. Berharap aku dapat memeluk tubuh kamu dengan erat seperti sekarang ini,” sahut Dita melingkarkan kedua tangannya pada tubuh kekar Pak Gery dengan sempurna. Menyandarkan kepalanya pada dada bidang cowok itu.
“Aku gak akan lepasin kamu lagi, Ger. Lima tahun aku memimpikan semua ini.” Tangan dita bergerak, merambat pada dada bidang Pak Gery yang terlapis kain jas berwarna navy. pak gery yang masih punya kesadaran walau hanya sedikit, mencoba melepaskan pelukan tangan Dita. Mendorong kedua bahu cewek itu dengan mata yang terpejam. Namun sayang, tenaga Pak Gery saat ini seakan hilang karena sakit di kepalanya. Menjadikan Dita lebih erat memeluk tubuh Pak Gery. “Jangan lepasin aku, Ger. Kamu hanya milik aku saja. Gak boleh ada yang memiliki kamu selain aku.”
“Lepasin gue, sialan!” suara itu sangat terdengar parau. Kedua tangan Pak Gery masih berusaha keras untuk mendorong Dita. Bukannya melepaskan pelukan, Dita justru semakin mengeratkannya. Ia menggeleng dalam pelukan itu. “Nggak, sayang! Aku gak akan lepasin kamu. Kamu milik aku, Ger. Hanya milik aku saja. Kamu Gery Nya Dita. Bukan Gery nya orang lain.”
“Lepasin gue, bangsattttt!” Mungkin batas kesabaran Pak Gery sudah tidak dapat ditahan lagi. Kemarahannya bila dibandingkan antara 1 sampai 10, mungkin sudah sampai pada puncaknya. Bahkan angka 10 saja tidak cukup untuk menggambarkan kemarahan Pak Gery yang saat ini seperti apa. Andai jika keadaannya stabil dan kepalanya tidak berputar. Dita sudah habis sekarang ini di tangannya.
“jangan ngomong kaya gitu, Ger! Jangan! Aku sayang banget sama kamu, sayang. Bahkan sayang dan cinta aku lebih besar dari yang cewek itu berikan sama kamu, sayang! Cinta cewek itu gak sebanding dengan cinta yang aku punya untuk kamu.” Katakan saja cinta itu memang gila dan buta. Memang benar kenyataannya demikian.
Dita rela membutakan matanya hanya untuk melihat Pak Gery saja sebagai cowok yang dia idamkan. Bahkan menganggap jika cowok di dunia ini hanya Pak Gery seorang saja. Kemudian Dita rela tinggal di rumah sakit jiwa karena dia memang sudah gila.
Gila karena cintanya yang buta itu.
“Lepasin gue--!”
“Mas.” Suara itu tidak membentak tapi terdengar sangat rapuh.
Saat Dita masih memeluk tubuh Pak Gery dengan sangat erat. Bersamaan dengan itu pula, suara nyaring menggema di lorong temaram itu. Pak Gery menoleh pada sumber suara. Dia yang berdiri tidak jauh dari Pak Gery yang sedang bersandar pada dinding dan lebih parahnya ada cewek lain yang memeluk tubuh sang suami, melihat itu dengan mata kepalanya sendiri. Dia yang kini tengah terisak, air matanya luruh, deras membanjiri pipi mulus cewek itu.
“Ghea?” panggil Pak Gery seperti sebuah bisikan lalu dengan sisa tenaganya, Pak Gery mendorong tubuh Dita dengan sekali hentakan sampai tubuh cewek itu tersungkur di atas lantai.
“Ger!” Panggil Dita keras. Namun Pak Gery tidak menggubris, tentu. Cowok itu lebih memilih menghampiri Ghea lalu sesampainya di depan sang istri, ia meraih tangan Ghea. “Sayang.”
Ghea molak. Ia menangis terisak-isak. “Tega kamu, Mas.” Kemudian berlari sambil menyeka air matanya yang bandel tidak mau berhenti.
“Ghe … sayang!” Pak Gery mengejar Ghea yang keluar dari lorong itu dengan kepalanya yang semakin berputar hebat. “Ghea!” panggil Pak Gery lagi. Ghea tidak menggubris sama sekali. Ia tetap berlari sampai ruangan yang dimana masih banyak orang-orang disana yang masih asyik dengan party yang Pak Gery buat itu.
Mengabaikan setiap pasang mata yang mulai melihat ke arahnya dengan heran. Ada juga yang mengernyitkan keningnya. Pun dengan Adi, Ilham, Indah dan Chacha yang melihat Ghea berlari sambil menangis.
Sampai Ghea menabrak beberapa tubuh orang pun, ia tidak peduli. Ghea tetap berlari. Menutup mulutnya agar suara isak tangisnya itu tidak sampai keluar walau ia tidak bisa menahan dan rasanya ingin sekali menjerit sekeras-kerasnya.
Siapa yang tidak sakit coba, saat suami yang kita cintai dipeluk oleh cewek lain? Apalagi saat ini Ghea sedang curiga pada Pak Gery. Dan kecurigaannya bukan bertambah. Melainkan itu sebuah kenyataan pahit yang harus Ghea telan.
“Ghea!” Pak Gery tetap mengejar dan terus memanggil nama sang istri.
“Gery!” Lalu ketiga sahabatnya itu menghampiri termasuk dengan Chacha. “Lo kenapa sama Ghea?” Indah bertanya dengan raut wajah yang khawatir.
“Gue harus kejar Ghea,” katanya sambil terus berjalan mengabaikan teman-temannya yang sedang dirundung kebingungan. Ini bukan saatnya Pak Gery menjelaskan pada Adi, Indah dan Ilham. Ada seseorang yang lebih penting untuk mendengar penjelasan darinya.
“Kamu jahat, Mas! Jahat!” Ghea sudah berada di luar gedung. Ia menyeka air matanya yang terus mengalir menganak sungai.
“Lepas, Mas!” pinta Ghea mencoba melepaskan tangannya dari cekalan Pak Gery.
“Nggak, Ghe. Nggak! Kamu harus tahu cewek tadi itu--”
“Selingkuhan kamu? Iya? Ghea berteriak. Mengabaikan Adi, Ilham, Indah dan Chacha yang sudah ada di luar.
Adi dan Ilham sebelumnya sudah meminta maaf pada teman-temannya yang lain dan menyuruh mereka untuk melanjutkan menikmati party nya saja.
Pak Gery menggeleng. Kepalanya semakin berat tidak bisa ia tahan jika saja bukan karena Ghea yang harus ia beri penjelasan.
Ghea terkekeh. “Jadi ini kenapa kamu gak mau jujur sama aku? Kamu selingkuh, Mas. Bulset jika kamu sayang, cinta dan gak akan mengkhianati pernikahan kita, Mas." Ghea terkekeh lagi, kembali mengingat perkataan Pak Gery tempo lalu.
“Nggak, sayang, nggak!” Pak Gery terus saja menggeleng.
“Simpan saja sayang kamu buat orang lain, Mas!” Ghea berpaling, berdecih kemudian ia kembali menatap Pak Gery dengan tatapan penuh kekecewaan dan … kebencian.
Pak Gery ingin meraih tangan Ghea lagi tapi langkah Ghea mundur. Menolak sentuhan dari tangan suaminya.
“Pantas, ya, cewek itu tahu nomor pin ATM kamu. Bilang juga kalau kamu mirip sama pacarnya. Jadi bener, Mas,” sahut Ghea mengingat ocehan-ocehan Dita waktu pertemuan kedua mereka. “Oh, ya, laga kamu juga pernah aneh saat aku ketemu selingkuhan kamu itu. Kenapa, Mas? Takut jika ketahuan? Heuh?”
“Ghe, mending lo dengerin pen--”
“Jangan ikut campur, deh lo, Mas! Lo gak tahu apa yang gue rasa saat ini. Lo udah pasti bakal belain sepupu lo ini kan? Walau dia salah juga lo bakal belain dia mati-matian kan?” sungut Ghea pada Adi yang langsung saja cowok itu mingkem.
Sesaat Ghea menatap Pak Gery yang tidak banyak bicara lagi, cowok itu diam bukan karena tidak ingin menjelaskan. selain kepalanya yang semakin berdenyut hebat, Pak Gery juga membiarkan Ghea mengeluarkan semua amarahnya dulu.
“Taxi.” Tangan Ghea melambai memanggil kendaraan umum itu untuk pulang saja saat pandangannya mengarah pada taxi tersebut.
“Ghe, kita pulang bareng!” pinta Pak Gery menahan tangan Ghea kembali. Namun lagi-lagi Ghea menepisnya. Kemudian menjauh dari Pak Gery menghampiri taxi yang sudah berhenti di pinggir jalan.
“Ghea!” Panggilnya lagi namun tidak digubris oleh cewek itu.
Sedangkan keempat pasang mata hanya diam saja. Begitu juga dengan Chacha yang bingung harus bagaimana.
Ghea membuka pintu taxi bagian belakang. Sebelum masuk ia memutar lagi wajahnya. Lalu berkata dengan tangan yang tersimpan di atas sisi pintu taxi. “Aku minta talak dari kamu, Mas!” Kemudian masuk menutup pintu taxi dengan hentakan.
“Ghea! Nggak, Ghe.” Pak Gery berteriak. Ingin mengrjar taxi yang sudah mulai melaju.
Ghea tentu saja mendengar suara Pak Gery namun ia lebih memilih abai. Hatinya terlanjur sakit. Jantungnya bagai diremukan oleh benda tak kasat mata.
Di dalam taxi, air mata Ghea kembali luruh. Ia hanya bisa meremes kain berlapis di depan dadanya. Sesak.
TBC
Hiksss maaf aku harus buat kek gini duly guys. Biar cepet kelar urusannya. Hihiii ... jangan hujat di kolom komentar ya sayang! Enjoy dulu aja. Ini adalah ujian.
Ingat, hidup itu penuh dengan ujian guys gak selalu mulus dan lurus. walau kadang kita gak suka tapi gimana dong. ini hanya cerita aja. Kalau alurnya gak ada konflik bosan juga nanti. hihiii ... maafkan dulu aku ya kakak kakak cintah ... bakal gak lama kok. ciussss deh.
Seizy
Si penulis amatiran yang lagi ngumpet karena takut di demo. hihiiiii
Cinta kalian aku... Kalau gak suka part ini lewat aja guys. Gak papa kok ikhlas aku mah ikhlas. Jangan hajar aku di kolom komen. aku soalnya suka baperan. Takut nanti gak ngetik lagi. hihiiiyaaa yayaya