Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 40


Gery terdiam beberapa saat. Padahal mobil yang ia kendarai sudah berhenti di tempat parkir khusus perusahaan. Bahkan pula seatbelt yang terpasang di dadanya pun sudah terlepas.


Mengundang tanya di dalam kepala Ghea dengan dahi seputih susu yang mengerut dalam. “Kenapa, Mas?” Kemudian rasa penasaran itu lolos lewat pertanyaan. Melepaskan tali yang mengurung dadanya kemudian. Ghea memiringkan tubuh di dalam duduk. Menatap sang suami yang bergeming. Bahkan pula bibir seksi nan tebal cowok itu tidak bergerak sama sekali. Justru menekan kuat garis bibir tersebut.


“Mas?” Disentuh otot pangkal lengan Gery oleh tangan berjari lentik Ghea dengan lembut. Sungguh, sentuhan lembut itu menyentakkan Gery dari lamunan. Meski otot lengan cowok itu tertutup kemeja serta balutan jas elegan, tetapi rasa hangat menjalar ke setiap sel darahnya.


“Eumhh…” gumaman itu terdengar damai di telinga Ghea. Untuk kemudian bibir merekah itu menyunggingkan senyum menawan.


“Ayo! Ada yang kamu tunggu lagi? Hem?”


Jari telunjuk sebelah kiri Gery mengetuk-ngetuk bagian atas bundaran stir, bersama siku kanan yang dilipat lalu ia simpan di bagian pintu mobil dengan kaca yang sengaja dibiarkan terbuka.


Dibalikan Gery tubuh kekarnya hingga saling menghadap dengan wajah cantik yang tidak pernah lepas dipandanginya ketika Gery membuka mata saat pagi hari tiba, setelah nafas kasar ia keluarkan dari dalam mulut yang sedikit terbuka.


“Kamu yakin mau masuk ke dalam perusahaan?” Pertanyaan kesekian kalinya yang Ghea dengar sejak mereka masih di rumah.


“Ehem,” gumam Ghea mengangguk kecil. Bibirnya dilipat dengan sengaja. Pun kedua alis ditariknya ke atas sekilas.


Digigit Gery sudut bibir bawahnya. Dan itu tidak lepas dari tatapan Ghea. Membuat kedua bola mata hitam pekatnya berkilat-kilat. Lalu Ghea dengan susah payah menelan ludahnya hingga berhasil melewati kerongkongan.


Demi alam semesta, Ghea menjadi ingat saat semalam bibir itu mencumbuinya dengan mersa dan begitu mendamba. Jujur saja, malah libido gairah sekarang naik berkali-kali lipat.


Shitt!


Ini efek dari ia rindu bercumbu atau karena dari pengaruh kehamilannya?


“Yakin, mau ketemu sama Airin?” Pertanyaan yang satu ini berhasil mengundang kesal di nurani Ghea. Namun, dalam satu detik saja, Ghea bisa menutupi kekesalan itu kembali.


Sebenarnya, tidak ada rasa curiga atau apa pun itu. Ghea hanya kesal… Kenapa, sih, kok suaminya ini kaya tidak mengizinkannya untuk bertemu dengan Airin?


“Iya.” Jawab Ghea. “Emangnya kenapa, sih, Mas?”


“Nggak papa, sayang.” Dilipat tangan kekar Gery lalu sikunya ia simpan di bundaran setir. Sementara tangan kirinya terulur untuk kemudian menarik jari telunjuk Ghea. Mengecup ujung jari lentik itu lalu setelahnya ditautkan Gery jari-jemarinya dengan jemari Ghea.


“Kalau Cuma mau minta maaf sama Airin doang, nanti aku sampein deh sama dia,” katanya lagi mengedipkan kelopak matanya pelan. “Mending sekarang kamu pulang aja. Udah gitu istirahat di rumah. Ya!”


Kepala Ghea ditarik mundur. Ia melepas tangan yang sekarang ada di dalam genggaman lelakinya. Bergerak ke atas dan disentuh satu sisi wajah tampan bak Dewa Yunani itu. Ghea mengukir senyum.


“Aku maunya minta maaf secara langsung sama Airin,” ucap Ghea sambil ukiran indah di bibirnya itu tidak ia lunturkan. Dan Gery berharap ukiran cantik di bibir wanitanya ini tidak akan hilang.


Gery memiringkan wajah ke sisi dimana telapak tangan hangat masih berada di pipinya. Mengecup pergelangan tangan itu kemudian.


“Kamu jangan salah paham sama aku karena aku larang kamu masuk ke dalam perusahaan. Atau pun curiga karena aku larang kamu buat ketemu Airin. Tapi, Ghe, aku tidak sedermawan itu buat berbagi keindahan dan kecantikan kamu dengan laki-laki lain yang ada di dalam perusahaan sana.”


Oh … Ghea bersumpah demi langit dan bumi. Dadanya berdebar-debar mendengar Gery dan segala kalimat nakalnya itu. Bibirnya sekarang tidak mengukir senyum lagi. Dan mengeluarkan suara pelan. Ghea tertawa.


Semacam tawa bahagia.


Wanita itu membalikan tubuh menghadap ke depan. Memandangi kaca mobil bagian depannya tersebut sambil kepala menggeleng pelan. Sepertinya kaca lebih menarik untuk Ghea tatap dari pada wajah lelaki di sampingnya yang membuat dadanya terus capek efek merasakan debaran hebat. Demi apa pula, Ghea tidak ingin Gery melihat wajahnya yang merona karena rayuan maut keluar dari bibir seksi Gery.


Ck!


Decakan itu lolos dari bibir Gery. “Kenapa ketawa, sih?”


“Ya abisnya kamu lucu,” ungkap Ghea. Jujur saja meski jantung itu tidak dapat terkontrol dengan baik. Dimiringkan lagi duduknya Ghea menghadap Gery yang masih setia tidak mengalihkan tatapan dari memandang wajah yang sekarang malah terlihat seperti semerah jambu.


Ditangkup Ghea kedua sisi wajah lelakinya itu kemudian. “Kenapa sekarang kamu bicara seperti itu, sih? Kemarin kan waktu acara resepsi pernikahan Bu Novi, dengan sengajanya kamu kirimin dan nyuruh aku buat pake gaun indah dengan punggung yang terekspos. Hem?”


Harusnya Gery tidak melakukan itu, kan, jika lelaki itu tidak suka.


Lalu sekarang dimana letak kesalahan Ghea hingga keposesifan lelakinya itu muncul secara tiba-tiba?


Sekarang Ghea hanya mengenakan dress selutut berbahan sutra. Warna dusty yang cantik terlihat jelas melekat di tubuhnya. Hanya saja, kedua bahu putihnya memang terekspos indah. Dan itu masih lebih baik ketimbang punggungnya yang terekspos, kan?


“Itu… Jangan salahin aku! Salahin aja si Ilham yang gak becus kasih kamu gaun ke gitu.”


Karena tidak dapat dipungkiri Gery juga ketika melihat penampilan Ghea ketika itu. Rasanya Gery geram sekali pada direktur butik Casmira itu. Tangannya ingin mencokel setiap mata yang memandangi Ghea dengan keterpukauan dan terang-terangan mengagumi keindahan dan kecantikan wanitanya.


Ghea masih sabar menghadapi sikap Gery yang menurutnya terlalu kekanak-kanakkan. Namun, tidak dapat dipungkiri Ghea jika debaran dahsyat itu masih memecut detak jantungnya. Ghea bahagia. Awalnya yang ia kira Gery telah berpaling menatap wanita lain yang membuat Ghea marah lalu salah paham.


Tetapi, ternuata itu tidak benar. Wanita itu masih terus memaksa ingin masuk ke dalam perusahaan dan bertemu Airin untuk minta maaf secara langsung karena sudah menuduhnya yang bukan-bukan. Sampai pada ketukan di kaca pintu mobil sebelah Ghea membuat ia mau pun Gery berhenti berdebat. Bukan hanya Ghea saja yang menolehkan atensi pada ketukan tersebut. Tetapi pun dengan Gery yang sampai mengeluarkan decakan kesal.


“Buka, Mas, kunci pintunya!” Karena dengan sengaja pula tadi Gery mengunci pintu mobil. Hingha terjadi perdebatan tidak penting. Dan saling beradu tangan untuk mendapatkan salah satu tombol yang ada di dalam mobil sana.


“Ngapain, sih? Nggak!” tolak lelaki itu menyandarkan kepala pada sandaran kursi kemudi. Santai. Bahkan terlalu santai sampai tidak menanggapi protesan dari wanitanya dan ketukan kaca yang terus menerus terjadi.


“Astaga, Mas…" Sumpah demi apa pun sekarang, Ghea tidak percaya dengan kelakuan suaminya ini. Diturunkan Ghea kaca mobil itu kemudian.


“Eh kampret! Kalian berdua pada ngapain dah di dalam mobil? Dari tadi gue cuma lihat nih mobil terparkir manja gini aja. Sampe-sampe jiwa kepo gue kambuh segala masa." Kalimat itu milik Adi yang membungkukkan tubuh sambil kedua tangan terlipat dan disimpan di bagian bingkai kaca bawahnya. “Jangan berbuat mesum yah kalian! Ini area terlarang!” celetuknya lagi.


“Serah aja lah. Suka-suka gue ini. Siapa yang bisa larang coba? Selagi perusahaan dan area ini milik gue,” kata Gery bersama kelugasan di dalam kalimatnya itu.


“Sombong amat nih orang. Perlu gue bantuin tabok gak sih Ghe, tuh mulutnya—?”


“—gak perlu sih. Makasih. Ntar aja Ghea yang tabokin sendiri bibir gue pake bibirnya. Kan manis—adududuhhh … Apa, sih, sayang? Kebiasaan deh suka cubit pinggang tiba-tiba.” Keluh Gery sambil memegangi pinggang yang mendapat capitan dari kedua jari lentik wanitanya.


Yang benar saja?


Ghea tidak seserius itu untuk melakukan hal gila dan memalukan demikian.


“Tumben amat sih, Ghe, ikut ngantor gini?” tanya Adi lagi. “Tapi, bagus juga, sih, biar kepantau suami kamu ini, nih.”


“Apaan sih, Di, ikut-ikutan mulu bisanya?" Ditekan Gery satu tombol yang ada di depannya itu untuk kemudian membuka kunci pintu mobil. “Dah sana loe kerja aja mending! Ganggu orang mulu bisanya.”


**


Jantung Ghea masih berpecut kuat oleh debaran yang sama sekali tidak bisa berkompromi dengan bagus. Malah justru semakin mendominasi saat kaki jenjang yang terbungkus sepatu hak setinggi lima centi itu menginjak pintu ganda berbahan kaca tebal yang bergeser secara otomatis.


“Selamat pagi, Pak?” sapa sang security mengangguk sopan pada sang Direktur Putra Grup tentu saja. Juga pada Adi yang ada di belakang punggung tegap Gery.


Tidak menjawab, cowok yang mendapat sapaan itu hanya mengangguk untuk kemudian melewatinya. Sambil satu telapak tangan menempel pada punggung bagian bawah Ghea. Dengan tangan yang lain tenggelam dalam saku celana panjang berbahan yang membungkus kaki berotot liatnya.


Gery sadar. Sangay sadar bahkan, akan tatapan semua mata yang tertuju ke arahnya. Mereka menarim bibir untuk tersenyum sekaligus menyapa. Dan kesadaran Gery terlalu peka ketika para laki-laki yang berada di dalam gedung itu terlalu megarahkan tatap mereka pada wanita di sampingnya.


“Selamat pagi, Bu?” Sampai pada ketika seorang staf berhenti di hadapannya. Bukan menyapa dirinya. Melainkan terang-terangan memuji Ghea lewat mata. Dada Gery bergemuruh.


“Pagi…” Tentu saja Ghea menjawab. Ramah. Tersenyum.


“Ekhem…” Lalu lelaki Ghea itu sengaja berdehem. Melipat kedua tangannya di dada. Memandanv staf itu secara tidak suka.


“Selamat pagi, Pak.” Kaku dalam mengangguk, staf itu sadar. Terlalu menakutkan untuk melihat mata abu yang berkilat. Memicing tajam. Mendominasi. Seakan gedung itu akan runtuh saja.


Ck. Berlebiha sekali memang.


“Hem,” gumam Gery tanpa melepaskan dominan dari tatapannya. Sampai staf itu berlalu dari sana. Lalu Gery menoleh pada wanita di sampingnya.


Ghea menarik kedua alis sebagai gestur bertanya pada lelakinya ini.


Ditarik Gery nafas kasar. Ia melepaskan jas dari tubuh. “Kamu salah dalam memilih gaunmu, Ghe.”


Lalu disampirkan jas itu pada kedua bahu Ghea yang terekspos. Untuk menutipinya tentu saja.


“Astaga, Mas." Ghea merotasikan kedua bola mata hitamnya. Jengah.


Dan Gery menuntun kedua bahu Ghea untuk berjalan sekaligus menahan jas mewah itu agar tidak dilepaskan Ghea. Mendorongnya lembut.


Adi hanya bisa menggelengkan kepala. Menertawakan drama yang dibuat oleh sang sepupu tanpa bisa protes.


“Ngapain lo?" tanya Gery saat Adi pun berdiri di depan pintu ganda berbahan baja khusus itu. Menunggu pintu lift terbuka.


“Gue juga mau naik—“


“Gak bisa!” swla Gery memicing. “Lo pake lift yang lain aja!”


“Hah?”


“Ck. Lo itu kenpa demen banget perasaan jadi setan?” celetuk Gery padanya membuat Adi membuka mulut siap melempar umpatan. Namun, sayangnya pintu yang Gery tunggu sudah terbuka,. Ia menarik wanitanya untuk ikut masuk ke dalam ruang kecil tersebut kemudian. Meninggalkan Adi yang terpaku di atas kakinya. Sambil memiringkan kepala ke satu sisi.


“Ada ya, makhluk kaya si Gery. Kemarin aja sok gak peduli sama istrinya. Sekarang malah posesif gak ketulungan. Ck, lebay emang.” Digelengkan Adi lagi kepalanya sambil menatap pintu lift yang tertutup itu.


Dibalikan Adi tubuhnya kemudian berjalan sambil memasukan kedua tangan pada saku celana. Sampai Adi membelokan langkahnya di ujung koridor. Dan sampai itu pula Adi, Gery serta Ghea tidak menyadari akan sepasang mata cantik yang sedari mereka masuk ke dalam gedung perusahaan terus mengawasi.


Airin.


Mata indah itu terdapat banyak luka ketika memandang mereka yang bercanda. Tertawa. Bahkan, seolah tidak ada beban dan masalah yang melingkupi hidup mereka.


Berbeda denga dirinya.


Takdir hidup membawanya dalam nestapa.


Sedangkan jauh di belakang Airin, seorang lelaki merogoh hand phone untuk kemudin menempelkan


benda itu pada telinga. Dengan tatapan sangat awas pada punggung Airin.


“Bos, anda sudah ditipu oleh Airin. Gery Mahardika Putra ternyata sudah menikah.”


To be continued...


Dear kamu...


Ya kamu.


Buat kamu yang udah nunggu lama aku mau ucapin mohon maaf dan terimakasih juga masih tetap disini bersama aku. Dukung aku.


Rasa tanggung jawab aku semakin besar ketika aku dapat tugas dari kakak aku buat bantuin. karena kemaren keponakan aku abis sunat. Wkwkwk


Mohon doanya untuk aku semoga tetap di karuniakan kesehatan. Selain itu mohon doanya agar tidak ada halangan lagi supaya aku bisa update rutin. Juga, semoga aku bisa segera menyelesaikan tanggung jawab cerita ini dalam waktu dekat.