
Nyatanya Pak Gery benar-benar tidak bisa menahan untuk tidak mencium istrinya itu. Maka yang ia lakukan sekarang adalah menarik tengkuk Ghea sebelum kemudian bibirnya ia tempelkan pada bibir Ghea.
Ghea membelalak. Dengan tidak adanya kesiapan ia justru Ghea spontan menahan nafasnya.
Awalnya Pak Gery hanya menempelkannya saja. Namun sepertinya tidak bisa jika tidak melumatnyaa.
“Nafas!” helaya sesaat dengan embusan yang sama-sama terengah, menjauhkan bibirnya dari bibir Ghea kemudian. Membuat Ghea lagi-lagi membelalak salah tingkah. Setelah dirasa nafasnya sudah kembali normal, Pak Gery kembali melabuhkan ciumannya lagi. Menyesap bibirnya atas dan bawah. Memerankan lagi nalurinya sebagai seorang suami.
Dan mungkin Pak Gery juga tidak bisa untuk membiarkan tangannya menganggur. Lalu ia memasukan tangan itu ke dalam baju seragamnya.
Ghea menikmati sentuhan itu tentunya. Melenguh dengan nafas yang sudah tidak beraturan saat tangan itu menemukan yang dicarinya. Kemudian merematnya pelan.
Mungkin jika dibiarkan terus seperti ini, kelakuan Pak Gery akan berakhir pada hal yang lebih dari sekedar ciuman. Bisa jadi Pak Gery melakukan ‘itu’ di dalam mobil. Nafsu cowok kan gitu, lebih besar dari pada nafsu seorang cewek. Beruntung pula kaca mobil Ghea hitam jadi tidak ada yang melihatnya atau tidak mereka akan ada yang menegur sebelum dikatakan telah berbuat mesum di dalam mobil. Apalagi dengan Ghea yang masih mengenakan seragam sekolah.
“Mas …” Ghea akhirnya mendorong dada Pak Gery. Lebih dulu untuk ia melepaskan tautan bibir itu. “Nanti ada yang lihat,” ucapnya malu-malu. Menundukan wajahnya agar tidak bertemu dengan mata Pak Gery.
“Maaf.” Pak Gery menjauhkan wajahnya. Mengusap bibir Ghea yang sedikit tebal akibat ulahnya menggunakan jari telunjuk. “Abisnya aku gak tahan kalau gak cium kamu.”
“Mas. Malu tahu.” Terdengar lucu memang saat Ghea merengek seperti itu pada Pak Gery.
Pak Gery terkekeh. “Malu tapi mau kan?”
**
Satu tempat yang tidak ada orang di sekitar sana. Mungkin hanya ada Ghea dan Pak Gery saja.
Begitu juga dengan langit yang sudah mulai menampakan senja. Mengubah langit yang tadinya berwarna biru cerah kini menjadi oranye.
Dan Ghea tidak bisa jika tidak membuka rahangnya. Terpukau akan keindahan objek di depan sana. Seraya merentangkan kedua tangannya sesekali Ghea memutar tubuhnya. Mata dan jiwanya terlalu mengagumi keindahan alam tersebut.
“Waww … indah banget, Mas. Kamu tahu darimana sih tempat sebagus ini?” Ghea membalikan tubuhnya untuk menghadap Pak Gery yang berdiri dua langkah di belakangnya.
Pak Gery mendekat sebelum kemudian ia menyentuh bahu Ghea, memutarkan lagi tubuhnya. Melingkarkan kedua tangannya pada leher Ghea dengan sempurna. Menempelkan dada pada punggung Ghea lalu menyimpan dagunya di atas bahu Ghea.
“Mas …” Ghea hanya bisa memanggil nama itu dengan lirih. Dengan perasaannya yang semakin membuncah. Juga jantung yang berdebar-debar.
“Hem.” Pak Gery bergumam tanpa mengubah posisinya. Dan justru menurunkan kedua tangannya menjadi melingkar pada perut Ghea. Erat.
“Boleh nanya sesuatu gak?”
“Apa?” Lalu Pak Gery menyerukan wajahnya pada perpotongan leher sebelah kiri Ghea. Menghirup aroma lemon dari area itu dengan seduktif.
Ghea seketika merasa geli karena Pak Gery menggigitnya kecil.
“Tanya apa? Hem?” Saat menjauhkan bibir itu dari dari leher yang sudah berbekas tanda ruam merah di sana.
Tidak ingin Pak Gery melakukan itu lagi, pun Ghea menggerakkan bahunya untuk memutar menghadapnya.
“Begini aja!” Pintanya. Menolak untuk melepas dekapan tangannya dari memeluk perut Ghea.
Pasrah aja udah Ghea mah. Mau menolak bagaimanapun, yang namanya Pak Gery tetap aja Pak Gery.
“Kenapa, sih, Mas, kamu segitu gak maunya kehilangan aku?”
Pak Gery tidak langsung menjawab. Ia diam beberapa saat. Memandang lurus ke depan dimana pemandangan di sana sudah menunjukan matahari yang mulai tenggelam.
Ngomong-ngomong, Pak Gery membawa Ghea ke atas bukit yang indah yang bisa melihat sunset dari atas sana. keduanya berdiri di bawah pohon besar dengan daun yang rindang. Pokoknya suasananya, tuh, begitu mendukung banget.
“Mas?” Ghea bergumam pelan. Menolehkan wajahnya sedikit hanya untuk melihat Pak Gery yang semakin menyerukan wajahnya dan mengeratkan pelukkannya, seolah kedua tangan besar itu tidak ingin melepaskan Ghea tentu saja. Dari dirinya dan dari kehidupannya.
“Kamu tahu, ada satu kata yang bisa membebaskan kita dari segala beban dan sakitnya kehidupan. Dan itu cinta.”
Tidak perlu untuk menjelaskan sedetailnya pada Ghea. Karena Pak Gery yakin jika cewek itu sudah dewasa dan mengerti kalimat apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut. Lantas Ghea diam. Ia seperti sedang mencernanya. “Sejak kapan, Mas, kamu punya rasa itu sama aku? Setahuku, kita baru ketemu beberapa kali saja. Dan itupun hanya di sekolah. Aku sebagai murid kamu. Kamu juga gitu aja menerima perjodohan ini. Bilang tidak apalagi menolak.”
Mendengar serentet kalimat yang diucapkan oleh istrinya itu membuat Pak Gery tersenyum dalam diam.
“Ya jujur sih, kalau aku emang udah suka sama kamu sejak awal. Sejak kita bareng satu bus. Pas pertama kamu ngajar di sekolah. Gak sengaja juga kamu kena kerikil yang aku tendang.” Ghea terkekeh mengingat itu.
Mengingat bagaimana Pak Gery menahan tubuhnya saat Ghea hendak tersungkur karena ada orang yang tak sengaja mendorongnya. Dan untuk itu Pak Gery dengan gesit merangkul pinggang Ghea,
Uhh sudah seperti di drama-drama korea belum sih?
“Tapi aku sebel juga karena kamu yang ngasih aku tugas kelompok tapi sendiri.” Terdengar rengekan dari suara cewek itu. Membuat Pak Gery terkekeh pelan. Ia juga mengingat itu, tentu saja. Pak Gery tidak mungkin lupa hal sekecil apapun yang dilaluinya bersama Ghea.
“Mas?”
“Hem.”
“Kok kamu malah diam aja, sih?”
“Kan aku lagi dengerin curhatan kamu yang diam-diam ngefans sama aku.” Pak Gery terkekeh di ujung kalimatnya. Lalu memutar kan tubuh Ghea untuk menghadapnya.
“Ih apaan, sih.” Ghea melipat kedua tangannya di depan dada. Memalingkan wajahnya untuk tidak menatap mata Pak Gery. Karena sekali lagi Ghea bertemu dengan bola mata abu-abu itu membuatnya selalu salah tingkah dan berakhir dengan debaran kencang pada jantungnya.
Pak Gery menggerakkan kedua tangannya menyentuh kedua sisi wajah Ghea. Membawa pandangannya untuk bertemu dengan matanya. “Kalau lagi kaya gini kenapa ngegemesin sih?”
Wajah Ghea rasanya saat ini sudah terbakar. Melipat kedua bibirnya lalu menenggelamkan wajah merah itu pada dada bidang Pak Gery. Kata malu saja tidak bisa menggambarkan jika Ghea sedang berada dalam pase bahagia.
"Kenapa malah disembunyiin gitu mukanya?" Dan Pak Gery sepertinya tidak bisa jika tidak menggoda istrinya yang sedang menyembunyikan wajahnya seraya menangkup kedua sisi wajahnya sendiri.
Ghea menggelengkan kepalanya. "Malu."
TBC
...Ini si Fara belum dijelasin ya. Nanti. Soalnya aku mau buat wajah Ghea bersemu dulu. Hihiii ...
...lanjut gak nih?...
...BTW aku punya cerita di K B M app loh. Yuk mampir ke sana!!!!!...
Seizy
Si penulis amatiran yang sayang kalian tanpa batas...