
Jam 12 malam.
Ini terlalu malam untuk Gery terbangun dari tidur lelapnya. Setahunya, ia baru saja memejamkan mata dua jam yang lalu setelah sebelumnya Gery sempat bergumul mesra dengan sang istri. Tubuh atasnya pun masih polos.
Pergerakan tangan meraba samping tempat tidur yang membuatnya harus terbangun. Dikerjapkan Gery kedua matanya pelan untuk kemudian terbuka perlahan bersama kernyitan dalam dari dahi. Heran.
“Kemana Ghea?" gumam cowok itu serak, pelan, dan rendah.
Diliriknya mata Gery ke meja nakas samping tempat tidur. Tenggorokan yang kering dan sialnya gelas di atas meja pun kosong. Ah, dia kehausan. Untuk itu, diturunkannya kedua kaki yang sudah terbungkus celana berbahan kain hitam ke atas lantai marmer yang terasa dingin menyentuh telapaknya.
Dengan pikiran masih melayang pada Ghea yang ia kira sedang berada di dalam kamar mandi. Gery membuka pintu kamar untuk turun menuju dapur. Dengan gelas kosong berada dalam genggaman.
Keadaan dapur sangat gelap. Hanya sedikit bias cahaya yang berasal dari rembulan. Cahaya itu melewati jendela dapur yang dibiarkannya tidak tertutup gordeng. Gery menyimpan gelas di atas meja mini bar. Di depan meja itu sebuah lemari es dengan dua pintu yang dapat dibuka kanan kiri menjulang. Lantas tangannya membuka pintu lemari es sebelah kiri. Mengambil satu minuman kaleng dari rak paling atas.
“Kebangun?”
Suara serak dan rendah itu hampir saja membuat jantungnya copot. Pun dengan kaleng minuman terjatuh menggelinding ke bawah meja bar itu karena terlepas dari genggaman. Tubuhnya membukuk untuk mengambil benda yang jatuh tadi. Namun, suara tawa kecil menelisik pendengarannya. Gery mendongak. Samar-samar matanya melihat seseorang yang duduk di atas meja makan yang tidak jauh dari letak mini bar yang mana sepasang mata abu-abu kini sedang menajamkan pandangan. Mencari tahu sosok tubuh siapa itu?
Tawa itu semakin renyah terdengar. Menggelitik rasa penasaran Gery untuk mencari tahu sosok tersebut. Dilangkahkan Gery kaki telanjang itu. Mendekat ke meja makan.
Barulah ia bernafas lega saat tahu siapa sosok yang tadi menertawakannya.
“Ghe?” sapanya. Lebih mendekatkan tubuh polos bidang itu pada Ghea yang duduk dia atas meja makan. Es krim berada di dalan genggaman cewek dengan tubuh yang hanya terbungkus oleh kemeja putih kebesaran milik Gery.
“Kenapa di sini? Aku kira kamu di kamar mandi,” sahut Gery sembari menaruk pinggangnya. Posesif.
“Gak bisa tidur." Jawab Ghea. Satu suap sendok ukuran kecil Ghea masukan ke dalam mulutnya. Menjiilat sisa yang terasa dingin di sudut bibir. Menggoda dengan gerakan sensual. Kemudian Ghea tersenyum kecil sebelum ia gigit bibir bawah bagian samping kiri.
Diembuskannya Gery nafas kasar. Mulai frustasi. Diusapnya bibir menggoda yang digigit itu pelan menggunakan ibu jari.
“Sstthhh …”
Untuk kemudian usapan itu menjalar. Mengikuti garis bibir.
Ghea tertawa. “Mau gak?” Cewek itu menawarkan satu sendok es krim yang sudah berada tepat di depan mulut Gery.
Tidak menjawab. Namun, cowok itu membuka mulut, siap menerima es krim di depannya. Saat mulut seksi dan tebal Gery akan melahap, diturunkan Ghea sendok es krim itu.
Ghea tertawa lagi. Gery berdecak dengan gelengan kepala kecil. Tapi sudut bibirnya tertarik. Sepertinya cowok itu senang dengan permainan istrinya.
“Upsss …” kekehan Ghea yang kembali menggelitik Gery untuk tidak menghabisinya sekarang juga. Di meja makan. Ketika dengan sengaja Ghea menumpahkan satu sendok es krim itu ke atas dadanya yang telanjang. Dan bisa Gery rasakan dingin menyerang dada bagian atas cowok itu.
“Sengaja banget," ucap Gery. Semakin menarik pinggang Ghea. Mengikiskan jarak antara dirinya dan tubuh Ghea yang masih dalam posisi duduk di atas meja makan itu.
“Aku bersihin." Disimpannya kap es krim di atas meja samping kiri tubuhnya. Wajah Ghea yang hanya sebatas dagu Gery itu sedikit menunduk, untuk kemudian lidah itu menari
di atas dada Gery. Memberikan geleyar aneh yang memabukan untuk Gery rasakan. Lelehan es krim di atas dadanya cowok itu sedikit demi sedikit Ghea bersihkan menggunakan lidah.
Dengan mendongakan wajah serta pandangan nakal padanya, Ghea mengedipkan satu mata. Menggoda. Dan berhasil menyudutkan gelora Gery untuk menghabisinya. Nafas frustasi bisa Ghea
rasakan dengan jelas saat wajah Gery mendekatinya untuk kemudian saling
menyatukan wajah. Menyatukan bibir. Menyatukan tubuh. Lalu menyatukan perasaan yang selalu membuat keduanya terbakar. Bukan dengan api, tetapi dengan rasa yang selalu ingin keduanya raih lagi dan lagi.
Disudutkan Gery tubuh Ghea ke atas meja makan. Menyapu setiap sisi wajah dengan nafas panas cowok itu sebelum kemudian lidahnya membelai indah pada leher jenjang Ghea. Lalu diturunkan Gery bibir tebalnya pada bahu Ghea sekaligus menurunkan kemeja di bahunya. Mengecup, memberikan hawa panas pada bahu semulus salju itu.
“Eughhh …” Tentu saja Ghea tidak bisa mengerem desah risau untuk di keluarkan dari mulut. Sentuhan dan belaian dari
tangan serta bibir nakal Gery membuatnya semakin dilanda kefrustasian. Memacu
adrenalin Ghea untuk meminta Gery jangan berhenti.
Gery berhenti dari gerakannya. Lalu menatap netra Ghea tidak percaya. “Jangan teriak-teriak, Ghe. Nanti kamu bisa membangunkan setiap orang di rumah ini!”
“Aku lupa kalau sekarang kita lagi nginep di rumah Papa Dika.” Mulut itu mengeluarkan tawa.
Digelengkan Gery kepalanya lalu sedetik kemudian mengangkat tubuh berantahkan Ghea dari meja makan. “Lanjut di kamar aja, ya,” sahutnya sembari melangkahkan kaki telanjang Gery menuju tangga dengan Ghea yang berada dalam gendongan kekar cowok itu.
**
“Ghea mana, Ger?" Belum juga Gery mendaratkan tubunya untuk duduk di kursi meja makan. Mama Dian sudah memberikan pertanyaan padanya.
Ditarik Gery kursi untuk kemudian ia duduk di sana. “Masih tidur, Ma,” jawabnya sembari membalikan piring yang menangkup di hadapannya.
Mama Dian mengangguk. Mengerti. Garis bibir yang sama indahnya dengan Gery itu terangkat sebelum dilipatkan Mama Dian bibir itu ke dalam.
“Kenapa, Ma, senyum-senyum?” Papa Dika yang melihat lantas bertanya. Menatap wajah Mama Dian yang pagi ini terasa berbeda. Tersirat sejuta bahagia yang tidak dapat Mama sembunyikan dari Papa mau pun putra semata wayangnya yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah.
“Nggak …, semalam Mama mau ambil minum ke dapur—“ sontak Gery mendongakan pandangan. Melihat raut wajah Mama lalu beralih pada Papa yang duduk di kursi utama meja makan. —tapi gak jadi. Takut. Ada suara aneh.” Mama Dian tertawa. Lagi-lagi kepalanya menggeleng.
Dikerutkan Papa Dika kening itu hingga terlihat beberapa lapisan. Namun tangannya membalikan posisi piring untuk kemudian diisi dengan nasi. “Suara aneh apa, Ma?” ditanya lah Mama Dian oleh suaminya.
Mungkin saat ini jika dilihat wajah Gery sudah merah padam. Jantungnya berdetak tidak tentram. Berpikir secara logis, bisa-bisanya Mama Dian mendengar suara yang seharusnya hanya didengan oleh Gery saja. Ah, atau mungkin Mama melihat juga saat dirinya mengekspos tubuh istrinya itu di meja makan ini yang sekarang sedang ditempati sarapan olehnya dan orang tuanya.
Oh My God.
Bolehkah Gery sekarang memberikan umpatan nakal pada Ghea yang menggoda dirinya lebih dulu sehingga Gery tidak bisa menahan libidonya untuk menyerang wanita yang masih terlelap itu?
“Kayak ada benda jatuh gitu. Tapi Mama gak tahu apa. Mama keburu takut. Gak jadi deh ambil minumnya. Terus buru-buru balik lagi ke kamar,” kata Mama Dian. Gery mendengar itu barulah bernafas lega. “Tapi, nih, Pa. Saat tadi Mama bangun, buah-buahan dalam wadah udah jatuh aja ke lantai.” Lanjut Mama Dian kemudian.
Gery menggigit pipi dalamnya. Ini sih ulah tangan Ghea pasti yang menjatuhkan wadah hingga isinya tergeletak di atas lantai. Gery ingat saat sebelumnya ia menahan tangan Ghea semalam itu, ia sempat mendengar barang jatuh. Dan tidak tahunya wadah buah. Ruangan gelap, sih, jadi Gery tidak lihat kalau di atas meja makan itu ada wadah yang berisi buah-buahan. Lalu malah melanjutkan aksinya.
“Maling bukan, ya?” Papa Dika bertanya. Dialihkan atensi itu pada Gery yang memasukan satu sendok nasi ke dalam mulut. Pura-pura aja makan. Pura-pura acuh. Tidak mendengar lebih baik sepertinya.
“Masa, sih, Pa, di rumah kita ada maling?” Kening Mama Dian mengerut. Heran sekaligus resah. Takut jika apa yang diasumsikan Papa Dika benar adanya.
“Coba Mama tanya sama penjaga rumah. Cek. Ada barang yang hilang gak? Terus cek CCTV juga—" Lagi-lagi Gery harus mendongakan pandangan dengan hati berdebar. Ia lupa jika sebagian ruangan di rumah Papa Dika ini terpasang CCTV. "—Siapa tahu memang ada maling. Biar mereka yang jaga lebih waspada.”
“Ekhem …” Gery berdehem. “Eum, Pa. Biar aku aja yang cek,” ujarnya. Tentu saja karena Gery tidak ingin ada yang tahu aksi panasnya semalam dengan Ghea. Di meja makan. Ya walau hanya pemanasan. Tapi tetap aja, itu sebagian dari rahasia kamar suami istri.
Nah, gimana jadinya yang Gery lakukan ini?
Apa masih bisa dibilang rahasia dalam kamar?
Kepala Papa Dika mengangguk. Menyetujui.
“Ger, nanti di kantor kamu temui Papa di ruang metting, ya. Ada yang ingin Papa omongin sama kamu,” katanya sebelum Gery bangkit dari duduk. Dianggukan Gery kepala. Lalu melangkah ke ruang CCTV untuk menghapus rekaman dirinya tadi malam saat beraksi panas dengan Ghea.
TO BE CONTINUED ...
Note seizy :
Aku terbakar. Panas. Gosong. Jadi abu sekalian. Tapi da aku mah apa atuh? Hanya kang ngetik amatiran yang anu ....
Tak ada habisnya aku ucapkan rasa terimakasih aku buat semuanya yang masih stay di dalam cerita ini.
Buat pengagum rahasia Pak Gery dan Ghea juga aku ucapkan thank. Walau kalian masih malu-malu untuk utarakan komen NEXT di kolomnya komentar.
Mulai sekarang ayo dong jangan jadi sang misterius lagi. Karena aku bisa mati penasaran. Lalu gentayangan.
Seizy kang ngetik amatiran salam beribu debar.