
Apa harus seperti ini sebuah kehidupan? Yang terkadang apa yang tidak ingin terjadi harus terjadi? Seperti pernikahan Ghea dan Pak Gery saat ini. Kenapa harus ada badai disaat sebuah letupan kebahagiaan bersemayam? Harusnya pernikahan ini gak terjadi. Harusnya Ghea gak menerima perjodohan ini. Harusnya Ghea sadar saat Pak Gery memberikan sebuah map yang bertuliskan sebuah perjanjian.
Ngomong-ngomong soal perjanjian yang Pak Gery tuliskan jika Ghea tidak boleh meminta cerai darinya. Ghea mengingat itu. Jelas saja. Tapi juga Ghea tidak mau membuat dirinya sendiri terkhianati. Membuat dirinya merasa tersakiti. Ghea pernah bilang kan jika dirinya benci sebuah kebohongan? Ghea benci jika dibohongi.
Ghea mengayunkan tangan kanannya untuk mengetuk pintu berbahan jati dengan ukiran indah di depannya. Ya, Ghea baru saja turun dari taxi lalu menginjakan kakinya di teras rumah orang tuanya.
Dari dalam seseorang membuka daun pintu itu. “Non Ghea,” sahut Bi May setengah sadar karena dia baru bangun dari tidurnya saat mendengar bel pintu berbunyi.
Bi May mengucek mata dengan tangannya. “Ini Non Ghea kan?” Takut saja jika di depannya ini adalah hantu. Pasalnya Ghea datang saat jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Dimana semua penghuni sudah terlelap dalam mimpinya.
“Iya, Bi.” Ghea menjawab dengan lesu.
“Kenapa Non datang malam-malam? Mas gantengnya dimana? Non sendiri?” Bi May bertanya sembari berjalan di belakang Ghea.
“Bi, buatkan aku susu, ya!” Mengalihkan pertanyaan Bi May itu lebih baik karena asisten rumah tangganya itu terlalu kepo.
**
Di dalam kamarnya, Ghea meringkuk di atas kasur yang sudah lama ia tinggalkan itu. Setelah tadi ia sempat meneguk satu gelas susu yang dibuatkan Bi May. Ghea mencoba memejamkan matanya walau tidak bisa. Ia tidak boleh larut dalam semua ini. Ghea harus yakin juga jika dirinya bisa menghadapi cobaan di depannya. Dan harus bisa menghadapi takdir apa saja yang akan datang menghampirinya.
Pagi itu, Ghea terbangun karena mendengar ketukan pintu kamarnya dari luar. Mengerjapkan-ngerjapkan matanya dalam tubuh yang masih tertutup selimut.
“Ghea … buka pintunya! Kata Bi May kamu semalam pulang sendiri? Kenapa? Kamu ada masalah sama Nak Gery, ya, Ghe? Ghe …, Ghea!” Mama Sora berteriak nyaring dari luar sana sambil mengetuk-ngetuk pintu berbahan jati itu.
Jujur saja Ghea malas harus menjawab semua pertanyaan dari mamanya itu. Ia belum siap untuk bercerita apapun pada siapapun. Lantas ia menulikan pendengarannya lalu kembali menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Ini masih terlalu pagi. tapi di luar kamar itu mamanya sudah terdengar heboh saja.
Sedangkan di belahan tempat lain.
Dari semalam mata cowok itu tidak terpejam barang sedetik pun. Ia masih mencerna apa yang terjadi dalam hidupnya, cinta dan rumah tangganya. Pak Gery tahu ini memang kesalahannya karena tidak jujur. Tubuhnya terduduk di atas lantai. Bersandar pada sisi sofa dengan kedua tangan memeluk koper besar yang tidak dibawa oleh Ghea. Ia tidak merubah posisinya sejak Ghea keluar dari dalam rumah. Sambil menggumamkan, memanggil-manggil nama Ghea dengan bibir yang bergetar. Lalu setetes air mata jatuh membasahi tulang pipi. Ia tidak sanggup untuk kehilangan Ghea. Benar-benar tidak sanggup.
“Gery.”
Adi langsung menghampiri Gery dan berjongkok di depan cowok itu. “Lo ngapain duduk di lantai, sih, Ger? Terus ini koper siapa?” tanya Adi meminta jawaban padanya. Karena setelah ia mengantar Pak Gery semalam, cowok itu langsung berlalu. Pak Gery yang menyuruhnya. Memaksanya.
“Ghea pergi, Di.”
pak Gery tidak bisa menyembunyikan tangisannya lagi. Ia memeluk koper besar di hadapannya dengan sangat erat seolah itu adalah Ghea nya.
Adi tidak tegak melihat sahabat sekaligus sepupunya itu terlihat rapuh. Ia mengepalkan tangan yang berada di samping tubuhnya. Mencengkram kuat bahu Pak Gery dengan tangan yang lain. Terlihat jelas saat ini sorot mata itu memancarkan aura menakutkan. Seolah Adi siap menghabisi siapa saja yang membuat Pak Gery seperti sekarang ini.
“Sekarang gue harus apa, Di? Gue gak bisa kehilangan Ghea. Gue gak sanggup, Di. Gak sanggup,” ujarnya ditengah isak tangisnya.
Adi diam sebentar sebelum ia ingat satu hal.
“Ger, lo masih simpan surat perjanjian itu kan?” tiba-tiba saja Adi bertanya demikian yang refleks wajah Pak Gery mendongak lalu mempertemukan matanya dengan mata Adi. Pak Gery mengangguk. Adi menepuk bahu cowok itu lalu tersenyum menyeringai.
“Lo tenang aja. Ghea gak mungkin minta cerai dari lo. Selagi surat perjanjian itu masih aman.”
Karena sesungguhnya adanya surat perjanjian itu bukan ide Pak Gery melainkan ide gila dari Adi.
“Yang sekarang harus kita lakukan adalah menemukan cewek sialan itu. Sebelum dia bertemu dengan Ghea dan bicara macam-macam sama Ghea." Tumben nih otak Adi gak eror.
**
Ghea turun dari mobil yang sudah terparkir mulus di parkiran sekolah. Mengedarkan pandangannya, Ghea takut dirinya akan bertemu sang suami. Atau bisa jadi suaminya itu akan muncul tiba-tiba lalu membawa dirinya pergi.
Oh tidak!
Apa yang sedang Ghea pikirkan? Tidak mungkin Pak Gery akan menculiknya kan?
Dan apa Ghea melupakan sesuatu?
Rasanya percuma juga jika saat ini dirinya menghindar, toh di dalam kelas juga ia akan bertemu dengan suaminya itu kan?
Namun, setidaknya di dalam kelas Pak Gery tidak akan berbuat macam-macam padanya. Setidaknya di dalam kelas Pak Gery akan fokus mengajar menatap setiap buku pelajaran dan bukan menatap dirinya, kan?
Itu adalah harapan Ghea saja saat ini yang masih belum bisa menatap wajahnya.
Dengan langkah yang terburu-buru Ghea berjalan melewati setiap koridor gedung sekolah itu. Kepalanya sesekali celingukan ke kanan dan ke kiri. Ghea benar-benar menghindar. Tapi tunggu, tadi bukankah Ghea tidak melihat motor Pak Gery? Berarti aman bukan? Cowok itu belum datang atau berharap saja biar gak datang sekalian.
Langkahnya memelan sambil menghembuskan nafasnya tenang. Namun, saat Ghea kira ia aman, dari ruang kosong yang tengah Ghea lewati tiba-tiba tangannya tertarik sebelum tubuhnya juga ikut tertarik dan masuk ke dalam ruangan kosong itu.
“Ehhh …” Ghea memekin tertahan.
Begitu Ghea masuk ke dalam, pintu ruangan itu ditutup dengan hentakan keras oleh seseorang. Ruangan tanpa cahaya. Auto membuat Ghea berteriak kencang. Udah pernah bilang belum sih kalau cewek itu takut dengan kegelapan?
“Siapa, sih, lo? Bukain ini pintunya! Kenapa pake dikunci segala sih? Oy bukain dong!” Ghea menggedor daun pintu itu dari dalam. “Eh lo jangan jahil kaya gini dong! Sumpah gue takut ini. Gak lucu, ya. Bukain, oy …! Jangan bikin gue mati di ruangan sialan ini dong! Please buka!”
Kepalan tangan Ghea terus menggedor daun pintu itu. Tubuhnya bergetar bersama isak tangis yang terdengar. Lagi juga kenapa gak ada yang denger sih? Anak-anak pada kemana coba? Ini masih lama kan bel masuknya?
Sembari terus merapalkan doa, Ghea bermonolog dengan dirinya sendiri. Berharap ada orang yang membukakan pintunya.
“Please siapapun di luar tolong buka pintunya! Jangan kunci gue di sini!”
Detik demi detik Ghea semakin susah untuk bernafas. Dadanya sesak. Pun dengan keringat dingin yang tiba-tiba membanjir muncul di dahinya. Pelipis dan Ghea semakin merasa takut menghimpitnya.
TBC
Hey kalian.
iya kalian dapat salam dari Pak Gery yang lagi patah hati. hihiii
...follow ig aku buat tau cerita terupdate aku...
...maacihhh...
...sayang kalian banyak...
Seizy
si penulis amatiran yang bangun tidur langsung keinget sama Pak Gery. hihiii