Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 6


Ini tidak seperti pagi biasanya yang selalu cerah bersama cahaya matahari pagi yang selalu memberikan kehangatan pada tubuhnya. Pagi ini, cahaya itu seolah bersembunyi di balik mendungnya awan. Namun, itu semua tidak membuat semangat sang lelaki tampan tetap bekerja untuk memenuhi kewajibannya. Selain memberikan nafkah batin, Gery tentu harus memenuhi satu kewajiban yang ini, bukan? Memberikannya nafkah lahir untuk sang wanita tercinta.


Sebuah mobil sedan hitam masuk ke dalam pekarangan gedung pencakar langit. Lambang sebuah perusahaan terpampang sempurna dengan hurup abjad besar di atas tengah gedung tersebut. Sehingga orang-orang dapat mengenal nama perusahaan itu.


Gery keluar dari mobil sedan hitam itu ketika pintu sudah terbuka dari luar. Ia lalu memberikan senyum ramah pada security sambil mengancingkan jas abu yang terlihat mengkilat melekat di tubuh sempurnanya. “Makasih, Pak," ujarnya sebelum kemudian berlalu dari sana yang dibalas anggukan kepala dari orang berpakaian serba hitam itu.


Walau hari terlihat mendung, tetapi bagi siapa saja wanita yang melihat langkah gagah dari seorang Gery Mahardika Putra mungkin akan menjadi cerah. Karena dari setiap langkahnya membuat setiap pasang mata tertuju mengarah padanya. Ketika pintu kaca besar terbuka secara otomatis cowok itu pun masuk yang langsung disambut menganggukkan kepala dari salah satu security yang berjaga di pintu masuk itu.


“Maaf, Pak,” ujar Niar—seorang resepsionis mendekat. Menghampiri sang bos ketika akan melewati meja di depan itu.


Langkah Gery tentu berhenti. “Ada apa?” tanyanya lelaki itu dengan alis yang saling bertaut.


“Ada seseorang yang sedang menunggu Bapak.” Niar menunjuk pada sebuah sofa yang terletak di sudut lobi. Pot besar berwarna putih yang tertanam bunga anggrek di samping kiri sofa tersebut membuat sudut lobi itu terlihat semakin cantik dan menarik.


Kepala Gery menoleh ketika Niar menunjuk sofa itu dengan jari jempolnya. Seorang wanita memang tengah duduk merapatkan kedua kakinya bersama kedua tangan yang berada dalam pangkuan. Terlihat kesepuluh jarinya itu saling tertaut. Pun dengan gestur tubuh yang tidak diam seolah wanita itu tengah merasakan kegugupan yang luar


biasa. Sesekali kepala wanita itu menunduk lalu terangkat lagi hanya untuk menoleh ke arah luar dari balik kaca besar yang jelas hanya menampilkan pemandangan orang-orang yang berlalu lalang saja.


Sebuah suara deheman besar membuat tubuh wanita itu refleks berdiri. Lalu tersenyum canggung pada Gery yang kini berdiri beberapa langkah di depannya. “Selamat pagi, Mas—eh, Pak,” ralatnya menggigit ujung lidahnya sendiri karena telah menyapa Gery dengan panggilan ketika dua kali ia mengucapkan terimakasih padanya saat cowok


itu sudah menolongnya.


“Airin.” Sapa Gery seperti biasa, ia akan selalu menampilkan raut wajahnya yang dingin namun tetap terlihat


ramah.


Wanita yang disapa Airin itu menganggukan kepala samar. “I—iya, Mas.” Airin meringis sambil menggigit ujung lidahnya lagi. “Aduhhh …” lalu cewek itu menggaruk pelipisnya yang tentu saja tidak gatal. “Maksud saya, Bapak,” ralatnya bersama jari-jarinya yang saling tertaut di depan rok lipit berwarna hitam selututnya itu dengan keringat dingin yang sudah terasa lengket akibat dirinya yang terlalu gugup.


“Oke, Airin, kamu bisa langsung temui Adi, sekretaris pribadi saya. Dia nanti yang akan langsung interview kamu. Kamu naik aja ke lantai delapan. Di sana kamu bisa tanyain di mana ruangan Adi!” Airin mengangguk. Sepertinya cewek ini bisa langsung paham apa yang dibilang oleh cowok di hadapannya. Hingga tak butuh buang-buang waktu lagi Gery berlalu meninggalkan Airin yang masih berdiri di atas kakinya.


**


Dipercepatlah langkah kaki Gery menuju ruangan di lantai yang sebenarnya sama dengan lantai ruang kerja Adi. Ia tadi sengaja menyuruh Airin untuk mengunjungi ruangan Adi sendiri karena ia tidak ingin ada terjadi kesalah pahaman di kantornya sendiri. Apalagi dengan Adi yang diam-diam curiga padanya.


Semalam Adi mengirim pesan pada Gery ketika ia ingin memejamkan mata sehabis bermain-main mesra dengan Ghea.


“Lo ngerekrut sekretaris baru, cewek lagi. Bukan lagi ada main-main kan sama dia? Atau jangan lo ada main panas-panasan lagi?.”


Langsung aja Adi menghajar Gery dengan sederet kalimat yang membuatnya membelalakan kedua mata hingga rasa kantuk akibat capek itu lenyap entah kemana.


“Awas ya, kalau sampe lo ada main di belakang Ghea!”


Ancam Adi di pesan keduanya itu.


Gery memutar kursi kebesarannya itu menghadap kaca jendela dengan kedua tangan yang ia simpan di tangan kursi. Menatap kosong pada langit dengan awan yang mulai berubah warna dari mendung kini menjadi biru cerah. Tidak mungkin Gery melakukan hal menjijikan seperti itu. Punya cewek lain selain Ghea—istri yang paling ia harapkan dan paling ia inginkan, oh rasanya untuk membayangkannya saja Gery tidak pernah apalagi terbesit dalam pikirannya. Gery masih waras tentu saja. Apalagi saat ini Ghea tengah mengandung buah cintanya.


Jika pun Ghea tidak sedang hamil, seumur hidupnya Gery tidak akan pernah melakukan hal itu.


Menyandarkan belakang kepalanya pada sandaran kursi , Gery menarik nafasnya sebelum ia memutar lagi kursi itu menghadap meja kerja lalu menegakkan tubuh, meraih satu map berwarna biru muda kemudian membukanya. Membaca, mempelajari lebih dulu isi tulisan di dalam map tersebut sebelum ia membubuhkan tanda tangan di sana.


Berbeda dengan Gery yang mulai serius dengan pekerjaannya.


Adi di dalam ruangannya menampilkan wajah masam. Melipat kedua tangannya di atas dada sambil berjalan memutari tubuh seorang wanita. Airin.


Ya, wanita itu bernama Airin. Ia kembali merasa kegugupan yang amat teramat sangat hebat dari awal masuk ke ruangan Adi sampai di detik ini ketika Adi tidak mengeluarkan suaranya. Dan justru cowok itu hanya seperti sedang menilik penampilannya saja.


“Ekhem.” Kemudian Adi berdehem dengan suara setengah tercekat sebelum suami Indah itu mendudukan dirinya di kursi kerjanya.


“Jadi nama kamu Airin?” tanya Adi saat ia membuka berkas lamaran kerja milik Airin yang tadi sempat cewek itu berikan pada Adi.


“Kamu kenal di mana sama Gery?” Alih-alih memberikan pertanyaan seputar pekerjaan atau pengalaman pekerjaan Airin misalnya, Adi malah memberi pertanyaan yang mungkin bagi Airin itu tidak ada sangkut pautnya.


Tapi, bagi Adi ... ya beda lagi urusannya. Bagaimana dengan Adi yang curiga pada sepupunya itu. Ck. Menyebalkan memang.


“Eh—“ suara Airin tercekat bersama wajah mendongak menatap Adi. Tenggerokannya mendadak kering. Ia pun harus beberapa kali menelan saliva untuk memulihkan suaranya itu. “Ma—maksud Bapak?” Memberanikan diri untuk bertanya kembali pada cowok yang menurut Airin ini sangat menyebalkan. Meski Airin sadar jika wajahnya tampan.


Sial.


“Ck. Di tanya malah balik nanya.” Seraya berdecak, Adi menarik punggungnya untuk bersandar pada sandaran kursi. Dengan santainya Adi menatap Airin sambil memainkan sebuah pulpen di tangannya. “Kamu gak mungkin bisa direkrut jadi sekretaris Gery kan kalau awalnya kamu gak kenal sama dia?”


Airin menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, sebelum menjawab pertanyaan yang dilemparkan padanya ini. “Eumm … saya … saya juga gak tahu, Pak, kenapa Mas—“ Adi kontan saja menatapnya tajam dengan dahi yang mengkerut. “Maksud saya Pak Gery—“


“Mas?” ulang Adi seraya menegakan tubuh lalu membawa kedua tangannya untuk ia lipat di atas meja tanpa sedikit pun memutuskan pandangan intimidasi pada Airin. “Kamu udah kenal lama sama Gery? Sampai panggilannya begitu terdengar sudah seperti sangat dekat.”


Spontan Airin mengangkat wajahnya, menatap Adi yang masih memusatkan diri padanya. “Sa—saya …”


“Dari tadi kamu kayak orang gagu. Ngomong yang jelas bisa kan? Seakan pertanyaan saya itu sangat sulit untuk kamu jawab.”


Sumpah demi apa pun, Airin merasa dongkol. Baru kali ini ia mendapatkan interview kerja tapi seakan sedang di introgasi saja. Jika bisa dan Airin tidak membutuhkan pekerjaan yang lebih layak, cewek itu tidak akan menerima tawaran tempo lalu dari Gery.


“Kamu gimana mau jadi partner kerja saya, kalau jawab pertanyaan saya pun tidak bisa jawab. Ck," decak Adi tersenyum miring.


Entah Airin dapat keberanian darimana hingga matanya menatap Adi balik dengan tegas. “Sebelumnya saya minta maaf. Saya pikir pertanyaan yang anda berikan pada saya sudah termasuk pertanyaan yang bersifat pribadi, yang tidak ada sangkutpautnya dengan sebuah pekerjaan. Jadi saya pikir, saya tidak perlu menjawab pertanyaan yang anda berikan, bukan?”


“Well.” Adi menyimpan pulpen yang sedari tadi dimainkannya dengan tangan. Lalu ia kembali menatap berkas yang ada di atas meja tepat di depan matanya ini. Membuka lembaran itu lalu dahinya berkerut ketika melihat sebuah alamat yang tertulis di sana. Alamat yang tak lain tempat tinggal Airin yang ternyata berada di belakang kompleks perumahan Gery. Astaga! Ini sangat tidak mungkin. Kecurigaan Adi semakin bertambah pada sepupunya itu.


Adi kemudian mengangkat lagi wajahnya. Menatap Airin dengan dada yang bergemuruh.


“Kamu yakin mau menerima tawaran Gery sebagai asistennya?” Adi melihat kedua alis Airin yang tertaut. Sepertinya cewek itu bingung dengan pertanyaan Adi.


“Maksud anda?”


“Kamu belum punya pengalaman kerja sebagai asisten loh. Sedangkan di perusahaan ini …” Adi mengedikan bahunya. “Ya, seharusnya tanpa saya jelaskan tentang bagaimana kinerja orang-orang yang bergabung dengan Putra Grup ini, tentu kamu sudah harus tahu kan bagaimananya?”


“Disini tidak ada data tentang pengalaman kerja kamu,” sahut Adi seraya membuka setiap lembar demi lembar berkas lamaran yang Airin berikan padanya. Meski tidak dapat Adi pungkiri jika nilai-nilai Airin sangat memuaskan.


Dan Airin merutuki dirinya sendiri. Ia ingin marah. Tetapi bukan pada Adi, melainkan pada dirinya. Airin selalu bersikap insecure menyangkut soal pekerjaan. Ia sangat tahu diri untuk tidak membeberkan pengalaman pekerjaannya yang hanya sebagai seorang penari di salah satu club malam di Jakarta. Sudah cukup untuk ia menerima penghinaan dari orang-orang yang menganggapnya rendahan. Atau bahkan murahan.


Dan jika Airin memberikan data tersebut di berkas lamarannya, Airin yakin Adi juga akan


sama menganggapnya sebagai cewek yang demikian.


To be continued ....


Note seizy :


Well, mamen. Maaf selalu telat updatenya. gak setiap hari juga. Tapi makasih aku ucapkan untuk semua yang masih mau nyasar di cerita sederhana yang aku buat ini.


Anw masih aku ingatkan juga buat teman-teman yang suka baca di aplikasi orane alias watt-pad, jangan lupa kunjungi akun aku Seizy Kurniawan. Di sana aku juga coba publis cerita loh. Belum rame. Huhuuu.


But, its ok. Namanya segala sesuatu butuh proses ya. Seperti di rumah ini, aku masih dalam tahap proses dan selalu belajar ingin memberikan tulisan yang baik untuk semuanya. Meski susah juga. Hihiii


Anw, jangan lupa tetap jaga kesehatan ya, mamen. ILY.


Seizy kang ngetik amatiran yang sayang kalian tanpa batas.