Married With Teacher

Married With Teacher
3


.


.


.


Tok..tok..tok..


"Permisi pak ini saya Melisa" Teriak Melisa dari luar.


"Masuk" perintah Keland dari dalam.


Saat Melisa membuka pintu itu kini ia bisa melihat wajah Keland yang menampilkan ekspresi yang entah bagaimana wajah tampan itu sangat menakutkan menurut nya.


Jika saja Keland tak bersikap begitu dingin dan tegas pastikan Melisa akan menggodanya saat ini juga, tapi ralat... sepertinya dialah yang akan tergoda. Oh lihatlah gurunya itu saat ini begitu menggiurkan. Jas yang tadi sempat Melisa lihat ia pakai saat dikelas bak seorang CEO kini sudah tersampir di sandaran belakang kursinya menyisakan kemeja merah serta dasi hitam-dongker garis-garis yang masih melekat indah di tubuhnya menampilkan otot-ototnya yang jelas tercetak jelas disana. Astagah itu sangat menggoda membuat Melisa meneguk liur nya kasar.


Namun kemudian ia tersadar setelah Keland mengeluarkan suaranya yang begitu dingin


"apa kau akan terus berdiri disana? Duduk" perintahnya membuat Melisa mendekat kikuk kemudian duduk di kursi depan meja Keland.


Pria itu kini menatapnya penuh intimidasi.


"Mati aku" batin Melisa sambil menundukkan kepalanya takut.


"Apa kau tau kesalahanmu?" Tanya Keland tajam.


"Tau pak" lirih Melisa.


"Katakan"


"Sa..saya tadi me..memeluk bapak" jawabnya takut plus malu sangat malu.


"Hanya itu?" Melisa menatap Keland bingung, apa lagi salahnya?


"Kau sudah terlambat di jam saya masuk, dan saya paling anti dengan orang yang tidak disiplin, setelah kau masuk... kau menerobos tanpa permisi dan tak merasa bersalah, kemudian kau semakin membuat saya jengah dengan sikap tidak tau malu mu ketika kau memeluk guru mu. Kau fikir sekolah itu tempat konser? Mengapa kau bersikap sangat tidak sopan seperti itu? Sepertinya memang tatakrama anak-anak di sekolah ini semakin menurun" jelas Keland panjang lebar membuat Melisa semakin menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Campur aduk rasa yang ia rasakan sekarang.


"Maaf pak... saya tidak akan mengulanginya" ujar Melisa sangat menyesal.


"Panggil orang tua mu besok" seketika mata Melisa membola kaget. Astagahh bagaimana ini? Mati dia, bisa-bisa ia dibunuh ayahnya astagahh mati dia...


"Pak..jangan...pak... please saya mohon jangan pak...saya berjanji tidak akan melakukannya lagi. Saya janji..." janji melisa sambil membentuk tangannya huruf v.


"Keputusan saya sudah bulat, besok panggil orang tua mu" seketika mata Melisa berkaca-kaca. Tak tahan lagi kemudian tangisannya pun pecah. Membuat Keland mendengus kesal. Ia tau Melisa pasti berpura-pura agar dia memaafkannya. Tapi keputusannya sudah bulat, entah apapun yang dilakukan gadis tersebut.


"Sekarang keluar. Saya tidak mau melihat kau pura-pura menangis di depan saya" Melisa terkejut mendengar tuduhan keland. Gurunya itu benar-benar tak memiliki nurani. Jujur saja ia memang menangis betulan saat ini. Ia tak pura-pura, ia sangat takut pada ayahnya yang begitu tegas. Jika saja ayahnya tau ia membuat masalah dan dipanggil kesekolah bisa mati dia. Tapi sepertinya pria muka karet ketat itu tak akan perduli.


🛤🛤🛤


Di jalan melisa tampak kacau saat ini. Ia tak tau harus bagaimana menjelaskan pada ayahnya jika saat ini ia mendapat masalah disekolah. Melisa bahkan tak ada niat untuk memanggil taksi agar pulang. Ia malah sengaja berjalan kaki agar ia semakin lama sampai di rumah. Ia masih pusing memikirkan apa yang harus ia katakan pada ayahnya.


Melisa adalah anak tunggal. Ibunya meninggal ketika melahirkannya dan sejak saat itu ia tak memiliki ibu lagi. Ia bahkan tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Tapi ia bisa tau jika ibunya sangat cantik saat ia melihat foto ibunya yang banyak kemiripan diantara mereka.


Sejak ibunya meninggal pun ayahnya memutuskan untuk tak menikah lagi. Ayahnya benar-benar sangat mencintai ibunya. Ia bangga dengan kesetiaan ayahnya. Ia ingin suatu saat nanti menemukan pria seperti ayahnya. Meskipun ayahnya terbilang tegas dan berwajah datar serta tak terbantahkan, tapi Melisa tau jika ayahnya sangat menyayanginya. Tak pernah sekalipun Melisa merasa kekurangan kasih sayang orang tua. Ayahnya sudah seperti ibu juga baginya. Ayahnya begitu mencintainya sampai ia merasa tak membutuhkan seorang ibu mana pun lagi karna ia sudah merasa memiliki segalanya dengan memiliki ayahnya.


Karna itulah Melisa selalu berusaha menuruti semua keinginan ayahnya karna ia tak mau membuat ayahnya sedih. Ia tak mau membuat beban ayahnya bertambah, dimana ayahnya sekarang adalah CEO di perusahaannya sahabatnya. Sudah pastilah ayahnya menanggung beban yang begitu berat. Makanya ia selalu berusaha menjadi anak yang baik.


Tapi apa yang akan terjadi bila ayahnya tau ia dipanggil karna dia berulah? Memikirkannya saja sudah membuat Melisa hampir menangis ketakutan. Takut ayahnya marah, takut ayahnya kecewa dan lebih takut lagi ayahnya akan sakit karnanya. Karna ia tau akhir-akhir ini ayahnya sepertinya kurang sehat. Ia takut ayahnya kenapa-kenapa.


Tapi bagaimanapun ia harus memberitahu ayahnya. Ia sudah ikhlas jika ayahnya marah padanya lalu mengurangi uang jajan bulanannya. Asalkan ayahnya baik-baik saja ketika ia beritahukan nanti.


🏡🏡🏡


Melisa sampai di rumah. Ia menatap rumahnya takut. Kini sudah pukul 18.00 dan ia sudah terlambat 2 jam. Ia tau pasti ayahnya sudah pulang kerja. Huftttt.... ia benar-benar sudah siap terkena amukan ayahnya.


Namun saat ia ada di dalam ia melihat para pembantu sibuk di dapur. Ada apa? Mengapa mereka begitu sibuk? Dimana ayahnya? Melisa tak menghiraukan mereka. Sekarang yang terpenting adalah ayahnya. Ia harus memberitahu ayahnya. Segera saja ia melangkah menuju kamar ayahnya. Dan yah, dia menemukan ayahnya disana. Ayahnya tampak bersiap-siap. Mau kemana ayahnya? Mengapa ia berpakaian rapih dan sopan begitu?


"Ayah" panggil Melisa. Jantungnya sudah berdegub kencang.


"Ahh melisa akhirnya kau datang juga. Dari mana saja kau? Dari tadi ayah menelfon tak tak kau angkat" seketika Melisa merasa bersalah. Ia sengaja mengabaikannya karna ia belum siap bicara dengan ayahnya tadi.


"Maaf yah, tadi Melisa kerja kelompok jadi hp Melisa silent" jelasnya membuat Harry ayah Melisa mengangguk mengerti.


"Baiklah, sebaiknya sekarang kau bersiap. Ada tamu yang akan datang ke rumah makan malam bersama kita" perintah Harry membuat Melisa gusar. Ia harus mengatakannya sekarang juga. Ia takut jika menunggu saat acara selesai ia akan jadi ragu lalu tak jadi mengatakannya. Mumpung dia sekarang sedang mode berani, ia harus mengatakannya.


"Ayah... aku mau mengatakan sesuatu"


"Nanti sayang, sebaiknya sekarang kau bersiap-siap" perintah Harry namun Melisa tak mau bergerak dari tempatnya membuat Harry menatapnya heran. Harry memincingkan alisnya bertanya dalam hati ada apa dengan Melisa? Harry bisa melihat putrinya sepertinya sangat serius.


"Katakan..."


"Aku..aku......" gugup Melisa membuat harry semakin curiga.


"Melisaa membuat masalah di sekolah hingga membuat guru Melisa marah. Guru Meli mau ketemu sama ayah besok disekolah, maaf kan aku ayah.. maafff" jelas Melisa sangat cepat.


Harry menatap Melisa horror. Belum pernah putri nya tersebut membuat masalah dan baru kali ini. Masalah apa yang dibuat oleh Melisa?


"Mengapa kau jadi keterlaluan Melisa? Kau membuat ayah kecewa, sepertinya memang keputusan ayah sudah tepat untuk menjodohkan kamu dengan anak rekan bisnis ayah. Dia yang akan mengajari mu nanti, ayah sudah tua dan tidak sanggup mendidik mu lagi" ujar Harry berhasil membuat Melisa terkejut luar biasa.


Apa kata ayahnya tadi? Menjodohkan?? Astagahhh....