
"Coba, deh, pin-nya tanggal lahir yang punya ATM itu!"
Eh, siapa dia? Kok so tahu banget, ya?
Heran dong Ghea, siapa, sih, nih cewek? Kenal juga nggak perasaan. Malah so tahu lagi. Bikin tambah kesel aja.
"Siapa, ya?" Ghea bertanya sambil mendongak. Melihat wajah cewek yang so akrab itu. Eh tapi tunggu, kok Ghea kaya pernah ketemu. Tapi di mana, ya?
"Eh, kok kamu, sih? Masih inget gak? Kita pernah ketemu di rumah sakit beberapa hari yang lalu. Waktu itu aku gak sengaja nyenggol bahu kamu. Inget?" Alih-alih menjawab. Cewek itu malah mengingatkan Ghea. Bertanya padanya masih ingat atau tidaknya.
Ghea memutar bola mata. Mengingat. Siapa, sih, nih, cewek. Ghea lupa lagi. Gak inget, ah, pokoknya. Dan masa bodo juga kan.
"Gak heran, sih, kalau kamu gak inget. Kan ketemunya juga cuma selewat doang, ya."
Ghea menanggapinya hanya dengan seulas senyum malas saja.
"Mbak, gimana? ini bayarnya? Mau pake debit ap tunai, Mbak?" Itu si Mbak kasir, sumpah gak sabaran banget, ya.
"Astaga, Mbak. Sabar napa, sih, Mbak. Ini gue belum keluar. Belum nanya sama yang punya pinnya berapa." Kemudian Ghea menoleh keluar lagi. Dimana Pak Gery masih di posisinya. Menelepon.
"Eh, kenapa gak coba sama tanggal lahir pemiliknya aja!" Saran cewek so kenal itu lagi.
"Iya, Mbak. Coba aja dulu, deh, Mbak. Dari tadi Mbak mau bayar lama banget. Apa jangan-jangan iya, ya, mbaknya niat gak mau bayar? Mau nipu, ya, Mbak?"
"Sembarangan aja kalau ngomong. Mana ada tampang cantik kaya gue mau nipu. Gak ada, ya. Gue anak orang kaya kalau perlu lo tahu.
"Yehh, Mbak, kalau mau nipu yang kerenan dikit dong! Halu banget sih. Mbak-mbak. Alasannya itu udah gak asing lagi kali, Mbak. Banyak yang alasan kek gitu. Tapi ujung-ujungnya, ya, nipu."
"Wahhh … sialan. Sembarangan banget lo ngomong. Lo, tuh, musti tahu dulu siapa gue, ya? Perlu gue sebutin siapa gue? Heuh?"
"Mana sini KTP, Mbak. Biar saya tahu siapa mbaknya!"
Mampuus kan, KTP sama kartu-kartu Ghea kan disimpan di dompet. Dan sekarang dompetnya itu ketinggalan di rumahnya.
"Ada. KTP gue-"
"Aduh, mana sini ATM-nya?" Cewek yang so tahu dan so kenal sama Ghea itu malah merebut paksa ATM yang ada di tangannya. "Nih, Mbak. Coba pin-nya." Kemudiam cewek itu menyebutkan tanggal lahir Pak Gery yang menjadi pin ATM-nya.
Transaksi berhasil.
Ghea dibuat bingung. Wajahnya menoleh bersama perasaannya yang tak menentu. Alisnya mengerucut. Siapa, nih, cewek? Ini kebetulan atau memang sebenarnya cewek ini kenal Pak Gery? Kenapa bisa nebak pin ATM dengan tanggal lahir Pak Gery? Dan itu tepat banget.
"Nih, Mbak. Dari tadi kek mbaknya dengerin Mbak cantik ini. Gak bakal lama kan?" Mbak kasir itu kembali memberikan ATM pada Ghea.
Ghea menerimanya dengan ekspresi wajah yang masih bingung campur heran.
Sedangkan di luar sana, Pak Gery sepertinya sudah selesai bicara di telepon. Terlihat dia memasukan handphone ke dalam saku celananya. Lalu berjalan, kembali masuk lagi ke dalam resto karena melihat kok Ghea belum keluar-keluar juga dari tadi. Padahal cuma bayar doang kan? Tapi lama. Dipikir Pak Gery, istrinya itu malah makan lagi.
"Ghe," tegur Pak Gery. Menepuk bahunya. Sehingga Ghea menolehkan wajahnya refleks. "Udah?" tanyanya. Pun Ghea mengangguk seraya celingukan. Mencari-cari cewek tadi yang entah kemana tiba-tiba menghilang dari hadapannya. Udah kaya jelangkung aja. Datang gak diundang pulang tak diantar.
"Ya, udah, yuk! Apa mau pesan makan lagi buat di rumah?"
Ghea diam. Ia tidak menjawab. Justru matanya masih terus mencari sosok makhluk cewek tadi. "Kemana dia?" Gumamnya seraya mengedarkan pandangannya ke kanan dan kiri. Pokoknya ke segala arah. Ke setiap penjuru restoran. Namun, Ghea tetap tidak menemukannya.
Pak Gery heran melihat Ghea yang seperti sedang mencari seseorang. "Kenapa? Cari sesuatu atau siapa?" tanyanya. Ghea mengerjap. "Heuh?" Ghea belum fokus ke Pak Gery. Matanya masih fokus mengedar.
"Cari apa, sih, Ghea?" Pun Pak Gery ikut mengedarkan pandangannya.
"Astaga. Kok aku bisa ngasih dompet yang itu ke kamu, sih?"
Hah, emang Pak Gery punya dompet berapa biji?
"Ya mana aku tahu. Kamu sendiri kan tadi kasih dompet itu ke aku?"
Ternyata itu dompet Pak Gery yang lain. Dompet yang sesungguhnya itu masih terkantongi di dalam saku celana formalnya. Tadi Pak Gery lupa saking buru-burunya mengangkat panggilan masuk.
"Tapi bayarnya udah kan?"
"Ya udah. Cuma tadi aku sampe debat dulu loh Mas, sama Mbak kasirnya. Disangkanya aku tuh mau nipu lah, bohong lah. Kesel kan aku, tuh. Mana ada, sih, cewek cantik, tampang kek aku ini mau nipu. Halu banget tau gak, sih, Mas, mbaknya. Ngeselin."
Oh ya amun, ini Ghea kok malah jadi ceramah gini, sih?
"Ya, udah, yuk pulang!" ajak Pak Gery. Membalikan tumit kemudian melangkah ke pintu restoran.
Sesekali Ghea masih mengedarkan pandangannya. Siapa tahu makhluk kasat mata itu muncul lagi. Namun, tidak. Ghea tidak menemukan jejak cewek itu.
Siapa, sih, cewek itu?
Ghea menggeleng samar. Menghalau semua asumsi-asumsi buruk. Ah mungkin cewek itu cuma asal tebak doang. Pikir Ghea.
**
Setelah sampai rumah, Ghea naik ke lantai atas. Menuju kamarnya. Lalu mandi dan berganti pakaian. Satu pekerjaan lagi yang akan menguras tenaganya. Dapur. Ghea harus membersihkan dan membereskan kekacauan yang terjadi pagi itu di dapur.
Malas sebenarnya Ghea, tuh. Tapi ini kan juga termasuk kewajibannya. Mengurus rumah. Masa harus minta Pak Gery yang beresin, sih? Gak mungkin kan, kayanya? Apalagi dari setibanya di rumah, Pak Gery terlihat sibuk dengan handphonenya. Kadang nelpon, mengotak-ngatik dan kadang marah-marah gak jelas sama orang di ujung sana. Membuat Ghea jadi ngeri sendiri jika melihat Pak Gery yang sedang serius gitu.
Pas Ghea sampai di dapur. Takjub dong dia. Ghea berdecak aneh. Matanya pun sampai tak bisa ngedip.
Ghea melangkah ke wastafel dapur. Jari telunjuknya menyentuh keramik. Kinclong banget. Lalu wajahnya menoleh ke setiap arah. Ghea melihat kompor yang ada di ranjang wastafel. Kaya berubah gitu. Pas tadi pagi kompornya masih yang biasa. Kok sekarang berubah jadi luar biasa. Bahannya jadi kaca dengan dua tungku dan yang bisa ditanam. Pokoknya beda banget sama yang tadi pagi.
Ghea menoleh lagi. Mengedar, menilik, menyentuh. Pokoknya itu dapur udah cakep banget lah. Udah rapi, udah bersih. Gak kacau seperti tadi pagi yang abis kebakaran. "Ini Mas Gery yang beresin?" ucapnya seraya tersenyum kagum. "Itu cowok, sumpah, banyak kejutannya." Dan tidak terduga juga apa yang dilakukan suami Ghea itu.
Keluar dari dapur, Ghea berjalan santai seraya meneriaki nama Pak Gery. Ghea lihat ke taman belakang, gak ada. Ruang tengah dan tamu juga gak ada. Mungkin di kamar kali, ya? Lalu Ghea bergegas menaiki setiap undakan tangga.
Sampainya di depan pintu yang berwarna coklat berbahan kayu jati dengan ukiran minimalis di daun pintunya, tangan Ghea memegang handle. Siap untuk memutarnya. Namun Ghea urungkan.
"Jangan ganggu gue, sialan!
Dipikir Ghea, Pak Gery lagi bicara sama siapa? Kok kedengarannya kasar banget.
"Harusnya lo itu mati aja. Gak pantes lo hidup!"
Ghea tambah penasaran.
Memutar handle, Ghea mendorong daun pintu sampai terbuka lebar. "Mas," tegur Ghea.
Pak Gery yang saat itu memunggunginya, berbalik. Menurunkan tangannya yang sedang mengapit handphone, Pak Gery gelagapan. "Hey, Ghe. Kenapa?"
TBC
Niat mau malam du Up. Tapi daku malah ketiduran. hahahaa