Married With Teacher

Married With Teacher
Mesum Sama Istri Sendiri Apa Salahnya?


"Hem." Pak Gery bergumam. "apa, sayang?" Dan panggilan itu rasanya membuat kedua lutut Ghea mendadak lemas.


Duh, jika tadinya Ghea ingin merajuk lagi. Setelah mendengar sapaan sayang itu mendadak kalimatnya tertelan kembali. Ghea jadi salah tingkah sendiri. Ia tersenyum dengan kedua bibir yang terlipat dalam. Juga wajahnya yang menunduk. Tubuhnya juga bergerak ke kanan dan kiri. Membuat Pak Gery menaikan satu alisnya bersama ekspresi wajah yang aneh. Sedetik kemudian ia tidak peduli lagi dan kembali tangannya memilih-milih sabun dan shampo yang tersusun di rak-rak toko.


"Kamu suka shampo ini gak?" Pak Gery bertanya. Tangannya mengambil satu produk shampo yang terkenal. Ia baca, tuh, tulisan yang ada di belakang produk. Lihat ekspayernya juga. Namun, tak ada juga tanggapan dari Ghea. "Ghe," panggilnya, kemudian menoleh. Eh, Pak Gery malah melihat Ghea yang senyum-senyum sendiri gak jelas.


Menggelengkan kepala, Pak Gery akhirnya memasukan beberapa shampo ke troli. Bodo ah, nanti Ghea bakal suka apa nggak wanginya. Yang jelas, tuh, Pak Gery udah nanya sama dia kan. Tapi malah gak dijawab.


"Eh, Mas, tunggu!" Ghea baru sadar saat gagang troli yang sedang dipegangnya diambil alih oleh Pak Gery. Kemudian ia menyusul Pak Gery yang sudah melangkah lebih dulu sambil mendorong troli. Sesekali matanya abu-abunya itu melihat-lihat produk mandi yang tersusun rapi di rak-rak toko. Tangannya juga tidak lepas mengambil, memilih-milih setiap produk.


"Ishhh … kok kamu ninggalin aku, sih?" ranjuknya manja bersama bibirnya yang mengerucut gemas. "Eh, Mas, kamu buat apa beli shampo banyak-banyak?" Ghea bertanya saat matanya tidak sengaja melihat ke dalam troli. Yang ternyata Pak Gery memasukan botol shampo bukan hanya satu atau dua. Tapi pas Ghea hitung ada 10 botol shampo yang sudah masuk.


"Kenapa, kamu gak suka shampo yang ini? Kalau gitu tuker aja lagi!" jawabnya. "Mau yang mana shamponya?" Pak Gery bertanya. Namun, tubuhnya membelakangi Ghea. Cowok itu sibuk banget memilih perlengkapan mandi yang lainnya. Perasaan disini yang lebih teliti belanja itu Pak Gery, deh, bukan Ghea.


"Bukan gak suka. Tapi ini shampo buat apa beli 10 botol kaya gini?"


"Buat keramas," katanya.


"Iya, aku tahu buat keramas. Tapi itu kok banyak banget belinya?." Lalu Ghea menjawab bersama dahinya yang terlipat dalam.


"Takut nanti kehabisan stock di rumah." Ia menyahut lagi.


"Ini bukan kaya mau stock pribadi. Tapi udah kaya mau jualan di warung aja, deh. Simpan lagi aja, ya. Nanti kalau abis kan gampang tinggal beli lagi." Ghea memberi saran sambil mengambil botol shampo untuk disimpan lagi ke rak toko. Yang disisain di dalam troli hanya dua saja.


"Eh, jangan!" Pak Gery mencegah. "Udah semuanya aja itu masukin! Kenapa mau disimpan lagi? Uang aku juga gak bakal habis cuma buat beli 10 botol shampo," ujar Pak Gery. Boleh, lah, sombong sedikit.


"Ishhh, jangan aneh-aneh, deh!" Ghea kesal karena botol-botol shampo yang mau disimpan Ghea kembali ke rak malah diambil lagi oleh suaminya itu. Lalu kembali dimasukan ke dalam troli.


"Gak aneh. Kan buat stock. Biar kalau kehabisan ada cadangan," ujar Pak Gery. Dan sepertinya ia baru saja menemukan sabun mandi yang wanginya segar. "Kamu suka wangi vanilla atau lemon?" Eh malah nanya wangi sabun dia ke Ghea.


"Lemon." Ghea menjawab malas sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Ih, kamu, tuh, gak nyambung, ya. Ini shampo-"


"Aku sukanya vanilla." Sela Pak Gery cepat sambil mencium wangi vanilla dari produk sabun yang sedang ia pegang.


Gak nanya!


Ingin sekali Ghea menjawab kalimat seperti itu. Kesal banget, serius. Ditanya apa jawabnya apa. Terus malah main sela-sela ucapan lagi. Kan kesel pake banget.


"Ya, udah, vanilla aja kalau gitu!" Akhirnya malah jawaban seperti itu yang keluar dari mulut Ghea.


Kemudian Pak Gery memasukan 2 botol sabun dengan wangi vanilla. Ia kembali mendorong troli yang diikuti Ghea dari samping.


"Ini kamu beli sabun cuma 2 botol?" tanya Ghea yang dijawab anggukan oleh Pak Gery. "Gak salah?" tanyanya lagi.


"Gak." Pak Gery menjawab. Tangannya meraih pasta gigi. Kemudian memasukan beberapa biji ke dalam troli. Heran lagi Ghea. Karena di dalam troli yang paling banyak itu shampo. Sabun cuma 2 botol dan pasta gigi juga sama.


"Gak seimbang, Mas."


"Seimbang."


"Seimbangnya dari mana?"


"Ini shampo pasti sering banget dipake. Terus bakalan cepet abis. Bisa aja kan keramasnya tiga hari sekali?" ujarnya aneh. Udah kaya minum obat belum, tuh, tiga kali sehari.


Yang ada juga tiga hari sekali.


Ghea berdecak kesal. Gak ngerti lagi, deh, sama ucapannya Pak Gery itu. Serius.


"Kamu emang sehari tiga kali keramas, ya?" Ghea bertanya polos. Tangannya memasukan lulur mandi ke dalam troli. Asal masuk aja sebenarnya.


Buat apa coba beli sabun lulur? Orang Ghea gak suka luluran. Mandi pake sabun aja udah cukup menurutnya.


"Bukan aku. Tapi kita. Jadi aku sengaja stock banyak shampo. Takut kehabisan." Serius, ini gak ngerti lagi gimana Pak Gery ngomong.


"Maksudnya?"


Pak Gery memutar tubuhnya. Awalnya ia sedang menghadap rak-rak toko. "Pengantin baru, tuh, udah gak aneh kalau keramas tiga kali sehari. Bahkan ada yang lebih," ujar Pak Gery seraya melingkarkan kedua tangannya penuh pada leher Ghea.


Aneh gak, tuh. Sikapnya setelah menikah kaya bukan Pak Gery banget. Yang lebih anehnya cowok itu dengan sengaja sambil menaik turunkan kedua alisnya. Apa coba maksudnya? Ghea tidak mengerti.


"Emang iya?" tanya Ghea mengerutkan bibirnya. "Aku kaya baru dengar, deh."


Ah, sumpah ini Ghea semakin gak mengerti.


Pak Gery melanjutkan mendorong troli. Seraya perlengkapan mandinya sudah lengkap masuk ke troli, cowok itu beralih masuk ke lorong rak toko bagian perlengkapan rumah lainnya. Meninggalkan Ghea yang sepertinya mendengarkan saran sang suami untuk bertanya pada sang Mama.


Ditempelkannya lah handphone miliknya ke telinga kiri. Ghea sedang menelepon Mama Sora. Sambil kakinya melangkah membuntuti Pak Gery yang tangannya itu cekatan banget memilih peralatan rumah yang belum di punyanya.


"Halo, Ma," sapa Ghea saat panggilan di seberang sana menjawab.


"Iya, Ghe, kenapa?"


Sebenarnya Ghea ragu untuk bertanya pada Mama. Tapi ia penasaran juga.


"Ma, aku mau nanya," sahutnya. Sesekali Ghea menoleh ke arah Pak Gery yang sibuk banget memilih beberapa perabot rumah tangga. Sumpah, itu Pak Gery kaya tau banget barang apa-apa aja yang dibutuhkan di rumahnya.


"Nanya apa? Hem?"


"Ma, emang iya, ya, kalau pengantin baru keramas, tuh, suka tiga kali sehari? Itu udah kaya minum obat aja tau gak, Ma?"


Di samping Ghea, diam-diam Pak Gery menguluum senyumnya. Ia ingin sekali tertawa. Tapi tahan. Takut kepalanya ditimpuk Ghea pake spatula yang tersimpan di rak toko.


"Ya, ampun, Ghea-Ghea. Kamu kalau polos jangan kebangetan dong!"


Itu Mama Sora malah tergelak di ujung sana. Ghea mengernyit. "Kenapa Mama malah ketawa? Apanya yang lucu coba? Kan aku nanya serius." Ghea mengerucutkan bibirnya. Membuat perut Pak Gery semakin tergelitik. Duh, rasanya gak bisa lagi, tuh, Pak Gery menahan gelakan tawanya. Tapi ia tetap menahan dengan melipat bibirnya dalam-dalam.


"Abisnya kamu lucu, sih. Nih, ya, Ghea pengantin baru itu lagi demen-demennya keramas. 10 botol shampo aja bisa langsung abis, Ghe, kalau sering main-main dikasur."


"Maksud Mama apa, sih. Aku gak ngerti?"


"Emangnya kenapa, sih?" Mama Sora bertanya seraya terkikik lucu.


"Sini biar aku ngomong sama Mama!" Pinta Pak Gery mengulurkan tangan. Meminta handphone itu pada Ghea.


Tidak bisa menolak, Ghea memberikan handphonenya dengan terpaksa. Wajahnya sudah berubah sangat kesal.


"Ma," sahut Pak Gery saat menempelkan handphone itu ke telinganya. Ia tiba-tiba saja menjauh. Seakan obrolannya dengan Mama mertua tidak mau didengar oleh Ghea.


Ih, Ghea kan jadi sebel. Ia mengumpati cowok yang menjadi suaminya itu. Seraya tangan yang tidak punya mata itu begitu saja memasukan perabot dapur ke dalam troli. Mulutnya juga tak berhenti bergerak. Mengomel.


Pak Gery, tuh, sengaja emang beli shampo banyak-banyak. Ya, ngerti sendiri, lah, ya, kalau pengantin baru itu kaya gimana? Lagi seneng-senengnya ngabisin shampo emang. Nanti lama-lama produsen shampo bisa kasih Pak Gery penghargaan, deh, jika sekali beli shampo sampai 10 botol gitu.


Tak lama Pak Gery kembali menghampiri Ghea. Sepertinya teleponan sama Mama Sora udah. Kemudian menyodorkan handphone itu pada pemiliknya lagi.


"Udah? Ngomong apa aja, sih, sama Mama? Kok sampe ngejauh gitu?" Penasaran. Jadi Ghea bertanya. Sambil memasukan handphone itu ke slingbagnya.


"Udah." Pak Gery menjawab singkat.


"Ngomong apa aja?"


"Banyak."


"Iya. Banyak, tuh, apa?"


Ini serius, Pak Gery bikin Ghea kesel melulu, deh.


"Kata Mama cepet abisin shamponya. Udah gitu cepet kasih Mama cucu!" Pak Gery menjawab enteng bersama kedua sudut bibir yang tertarik membentuk sebuah senyuman. Yang sebenarnya hanya bercanda saja, sih. Para orang tua juga tahu jika pengantin baru itu akan menunda momongan.


Ghea menatap Pak Gery horor sambil mengerutkan bibirnya. Ghea mengerti sekarang kenapa suaminya itu lebih memilih banyak membeli shampo daripada sabun.


"Kenapa? Hem? Abis belanja kita abisin langsung stock shamponya, ya!" Ia menaik turunkan kedua alisnya. Seringai jahat pun terlihat dari bibirnya.


Refleks Ghea memukul bahu Pak Gery. "Ih, kamu, itu, mesum banget sumpah." Tidak bisa lagi jika Ghea harus menyembunyikan wajah meronanya itu. Ghea tambah malu, sumpah demi apapun, saat ini Ghea ingin tenggelam saja ke dasar bumi.


Pak Gery terkikik lucu melihat wajah itu. Jujur, dia suka. "Mesum sama istri sendiri kan, apa salahnya?" Lalu merangkul bahu Ghea dengan tangan yang ototnya menonjol seraya satu tangan mendorong troli lagi. Mereka melanjutkan belanjanya. Sekarang yang dituju, giliran mencari sayur dan buah juga bahan makanan untuk diisi di kulkas.


TBC


Dudududu ... maafkeun telat Up. Because ada sesuatu dulu. wkwkakak. Yang gabung gc seizyll pasti tau dong ya. ahahaaa