Married With Teacher

Married With Teacher
Besok Pakai Bodyguard, Ya!


Benar dugaan Ghea. Jika dirinya akan berakhir seperti di dalam drama china itu. Ahhh Ghea kan jadi nyesel udah nonton drama seperti itu di depan Pak Gery. Mana Ghea sampai bilang, andai Pak Gery itu seperti aktor Yang yang dalam drama yang ia tonton. Sialan kan jadinya.


Kini kepala itu tengah bersandar pada dada bidang dan polos sang suami. Seraya memainkan jari telunjuk di atas dadanya. Membuat pola abstrak disana.


Sedangkan Pak Gery duduk. Menyandarkan punggung pada hearboad. Tangan kanannya memainkan ujung rambut Ghea.


"Ghe," panggilnya setelah hening beberapa saat.


"Hem." Ghea hanya bergumam tanpa menghentikan kegiatan jarinya bermain di dada Pak Gery.


"Kata Adi, waktu di kasir resto kamu ketemu sama cewek yang waktu nyenggol kamu di rumah sakit itu, ya?"


"Hem." Ghea bergumam lagi. Matanya sudah sayu bersama mulutnya yang menguap. Ghea menutupi itu dengan tangan yang menganggur.


"Kok gak cerita?" Suara Pak Gery sedikit bergetar. Seperti ada rasa takut yang menghimpitnya lagi.


"Lupa aku, Mas." Dia menguap lagi. Matanya seperti sudah tidak sanggup untuk terjaga.


"Terus waktu kamu di gerbang sekolah, itu kamu ngomong sama siapa, hem?" Pak Gery menjeda kalimatnya. "Mulai saat ini kamu harus hati-hati, ya, sama cewek atau orang yang gak kamu kenal! Aku takut, Ghe. Aku khawatir!" Pak Gery mengingatkan. Tangannya itu tidak berhenti menguyel-nguyel ujung rambut Ghea.


"Ghe, kalau misalnya kamu pake bodyguard aja gimana?" tanyanya kemudian.


Ghea tidak menjawab. Dia hanya diam saja.


"Ghe," panggil Pak Gery lagi. Menghentikan kegiatan bermain dengan ujung rambutnya. "Ghea!"


Merasa tidak mendapat jawaban dari sang istri, pun Pak Gery menegakkan punggungnya. Tangannya menahan kepala Ghea. Lalu menunduk, melihat wajah sang istri yang ternyata matanya itu sudah terpejam.


Pak Gery terkekeh. Ia menggelengkan kepalanya pelan. Bisa-bisanya dia ngomong sama angin. "Dasar! Suami lagi ngomong malah tidur." Pak Gery berujar seraya memindahkan kepala Ghea ke atas bantal dengan sangat hati-hati. Takut jika Ghea akan terbangun lagi nantinya.


Pak Gery menarik selimut sampai sebatas dagu Ghea. Menutupi seluruh tubuh polos itu. Di usaplah kening lalu tangannya ditarik sampai ke atas kepala Ghea. Pak Gery melakukan itu berulang-ulang bersama matanya tak lepas memandang wajah cantik Ghea.


Wajah yang sejujurnya selalu membuatnya damai dan tenang jika di pandang. Pak Gery mengagumi wajah ini. Wajah yang dari dulu tidak ada yang berubah.


Senyumnya, dan bola matanya yang indah yang mampu memagnet hati Pak Gery agar tidak berpaling dari Ghea sedari dulu sampai detik ini dia menjadi istrinya.


"Aku sayang kamu, Ghe." Lalu di kecuplah kening Ghea sangat lama.


**


Tengah malam Ghea terbangun dari tidurnya. Perutnya mendadak lapar. Kemudian ia membangunkan Pak Gery yang terbaring di sampingnya.


"Mas." Di guncangkannya lengan kokoh itu. "Mas," rengeknya lagi saat mata orang terkasihnya itu tidak kunjung terbuka.


"Mas, aku lapar." Ghea masih mengguncangkan lengannya.


Pak Gery hanya menggeliat pelan. Lalu membalikan tubuhnya menjadi memunggungi Ghea, seraya menarik selimut yang hanya sebagian menutupi tubuh polosnya itu.


Ghea mendengus kesal. Tak henti-hentinya ia terus mengguncang lengan berotot Pak Gery. Namun percuma saja. Ghea baru tahu jika suaminya ini ternyata sulit sekali untuk dibangunkan.


Ghea menyerah. Turun dari kasur, memunguti pakaiannya untuk ia kenakan kembali.


"Dasar! Tidur aja udah kaya beruang kutub gitu. Ganteng-ganteng, tapi susah dibangunin. Ck, nyebelin." umpat Ghea dengan kesal sembari memakai celana tidurnya. Setelahnya Ghea berjalan ke arah pintu yang tertutup. Laparnya sudah tidak dapat ia tahan lagi.


Namun, Ghea hanya diam berdiri di sana. Ia ragu untuk turun. Rasa takut mendominasi dirinya. Kemudian wajahnya ia alihkan pada Pak Gery yang tidak bergerak sedikitpun. "Aahhh, Mas Gery." Ghea menghentakan kakinya. Berjalan kembali menghampiri sang suami yang sedang tidur miring.


Ghea duduk di sisi ranjang. Mengguncangkan bahu Pak Gery seraya memanggil-manggi namanya. Namun tetap saja, tak ada pergerakan darinya.


Ck, Pak Gery ini benar-benar sudah seperti beruang kutub. Yang jika ada kebakaran atau maling di rumahnya saja ia tidak akan sadar sepertinya.


Ghea mendekatkan wajahnya, meniup wajah Pak Gery. Dan hanya di balas geliatan pelan darinya.


Ghea mulai kesal. Mana perutnya sudah sangat lapar lagi.


Lalu cewek itu menggerakkan jari telunjuknya. Menyimpan itu di kening Pak Gery. Menekannya sebelun ia turunkan jari telunjuknya itu untuk mengikuti garis hidungnya yang mancung. Lalu, mengusap garis bibir Pak Gery. Menekannya kuat di bagian sana. Sampai Pak Gery menggerakkan kepalanya.


Ghea terkikik seraya menggigit bibir bawahnya. Seru juga mengganggu suaminya yang sedang terlelap itu.


Setelah Ghea puas dengan bibir Pak Gery. Jari telunjuk itu turun ke dagunya. Menekan bagian itu sebelum Ghea menjawil dagu manis itu.


Ghea gemas. Rasanya ingin menggigit saja dagu itu.


"Ck, Mas. Bangun dong! Temenin aku saur!" ujarnya. Kali ini Ghea membangunkan beruang kutub tidurnya itu dengan menempelkan hidungnya ke pipi Pak Gery. Lalu mendekatkan bibirnya untuk membisikan seauatu.


"Sayang, main lagi, yuk!" Bisiknya. Namun penuh dengan nada sensual sampai dalam tidutnya itu Pak Gery merasakan bulu-bulunya berdiri.


Pak Gery menggerakan tangannya untuk mengusap telinga. Namun bukannya telinga yang terusap malah kepala Ghea yang kena timpukan. Mungkin dipikirnya Ghea itu nyamuk kali, ya?


Tapi mikir juga, mana ada nyamuk di kamar itu?


Ah dasar Pak Gery.


"Aw …" pekik Ghea merasakan sakit karena timpukan itu.


Lalu Pak Gery mengerjap. Sadar. Mendengar ringisan dari istrinya itu.


"Ghe, kenapa?" Masih tersisa rasa ngantuk, Pak Gery bangun bersama mata yang mengerjap pelan.


"Kamu pikir aku nyamuk apa, sih, Mas? Main timpuk-timpuk kepala orang aja." Decaknya seraya mengusap-ngusap kepala yang terkena timpukan tangan Pak Gery.


"Heuh?" Sepertinya Pak Gery masih belum sadar betul. Ia mengerutkan keningnya lalu mengurut kerutan itu.


"Ihhh, Mas. Udah lupain aja. Sekarang kamu bangun! Temenin aku ke dapur! Aku lapar."


"Emang jam berapa, sih, sekarang?" tanyanya Pak Gery sambil menyandarkan punggung serta belakang kepalanya pada hearboad. Matanya terpejam sesaat untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih tersisa.


Ghea melirik ke arah jam yang menggantung di dinding kamar. "Jam satu, Mas," sahutnya. "Udah, ih, ayo temenin aku ke dapur!" Ghea merengek sambil menarik-narik tangan Pak Gery.


Pak Gery terlihat menghela nafas. "Mau apa, sih, Ghe, ke dapur malam-malam?"


"Aku lapar!"


**


"Pelan-pelan makannya! Bisa kan?"


Setelah Ghea mengutarakan laparnya pada sang suami. Pak Gery pun terpaksa bangun untuk menemani Ghea makan. Bukan hanya itu saja. Pak Gery juga membuatkan Ghea mie instan. Karena tidak ada makanan yang tersaji di dapur itu.


Pak Gery benar-benar sosok suami yang uwh buat Ghea. Karena ia tidak dibiarkan untuk menyentuh kompor. Bukan tanpa alasan. Pak Gery takut dapurnya yang baru itu akan dibuat hancur lagi oleh Ghea. Ck.


"Lapar aku, tuh, Mas." Seraya melahap mie itu. Menyeruput menggunakan bibirnya. Pak Gery hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.


"Bener, nih, Mas gak mau?" tanya Ghea menawarkan. Kepalanya menunduk. Namun matanya mendongak menatap Pak Gery yang duduk di seberangnya.


"Gak!" Jawab Pak Gery masih dengan memperhatikan Ghea makan. Kedua tangannya ia simpan di atas meja makan. Sesekali Pak Gery minum air putih hangat yang sudah ia tuangkan ke dalam gelasnya.


"Enak loh, Mas," celetuknya saat sudah berhasil mie itu ia telan. Lalu meneguk air putih yang ada di samping mangkuk.


"Hem."


Untuk beberapa saat Pak Gery membiarkan Ghea makan mie dengan lahap. Dan kiranya mie dalam mangkuk Ghea sudah habis, Pak Gery baru mengeluarkan suaranya lagi.


"Ghe." Setelahnya ia berdehem. Setengah takut dan ragu untuk mengutarakan isi hatinya yang sempat tidak Ghea dengar karena cewek itu keburu tidur.


"Hem. Kenapa, Mas? Udah ngantuk lagi, ya?" Ghea meneguk air minumnya. Lalu mengelap bibirnya dengan tissue. Perutnya sudah kenyang. Jadi ia akan kembali mengajak Pak Gery untuk tidur. "Ya udah, yuk!" Ajaknya. Lalu bangkit.


"Eh, Ghe, tunggu!"


Sontak tubuh Ghea yang sudah berdiri siap untuk melangkah. Ia urungkan. "Kenapa, Mas? Kamu sekarang lapar?" Lantas Ghea duduk lagi setelah melihat gestur tubuh Pak Gery yang seolah menyuruhnya seperti itu.


"Eum, Ghe," ragu Pak Gery untuk mengungkapkan keinginannya.


"Ya." Serunya, lalu Ghea meneguk air minum di dalam gelas.


"Mulai besok kamu pake bodyguard, ya!"


Uhuk uhuk uhuk


TBC


Guys follow Ig aku seizyll_koerniawan atau gabung grup chat aku biar bisa tahu info aku update atau ada cerita baru dari aku.