Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 48


Airin ingin menghilang sekarang juga. Untuk itu, ia pergi dari sana dengan Ghea yang mengejar. Sedangkan Gery, cowok itu diam di tempatnya bersama tatapan Wira Adiguna yang menuntut penjelasan.


Tatap keingintahuan Wira, mengapa Gery mengenal putri dan bahkan tidak memberitahukannya ketika mereka yang sering bertemu untuk bisnis.


“Om… saya—“


“Kita bicarakan ini di tempat lain, Ger,” kata Wira membalikan tumbuh dan berlalu dari tempatnya yang sekarang mendapat tatapan bertanya dari semua orang. Dengan Gery yang mengikut dari punggung Wira Adiguna tentu saja. Mengesah frustasi. Merapatkan jas terbuka oleh kedua tangan. Belum lagi fikirannya kacau akan tatap permusuhan dari Nandan Lesmana yang sedari tadi memberikan seringai iblis menakutkan.


Namun, jangan lupakan jika Nandan tidak tahu bahwa Ayahnya memiliki seorang putri yang sudah ia tiduri.


Oh ****!


Dibalikkan tubuh Nandan. Berjalan mengikuti langkah Ayahnya kemudian.


**


“What?! Papa tidak serius dengan pertanyaan Papa, kan? Wanita itu bukan adikku, kan, Pa?! Oh ... astaga, apa jadinya jika aku punya adik perempuan dari wanita tua lain?!” Dan adik perempuan yang sekarang sedang ia kejar.


“Jaga bicara kamu, Nandan!”


“Pa—“ Bola mata berkilat marah Nandan berotasi.


Dilihat Gery setiap gerak-gerik Nandan dengan wajah menunduk tetapi kelopaknya terbuka waspada. Kedua tungkai terbuka dan semua jemari saling tertaut di delahan tungkai itu dengan kedua siku bertumpu pada paha.


“Kamu boleh keluar jika tidak suka dengan pembicaraan Papa dengan Gery mengenai Airin, Nandan!”


Dipandangi Gery oleh Nandan dengan tatapan yang mampu Gery artikan. Jika tidak salah lihat, Nandan memberinya tatapan mengancam. Tapi, itu tidak berlaku untuk Gery.


Disatukan kedua ujung alis Gery. Saling tertaut dalam bibir terkatup rapat. Sementara otaknya mengingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Nandan lesmana di restoran hotel Raffles ini beberapa waktu lalu bersama Airin yang mengecup pipinya tiba-tiba. Membuktikan pada Nandan bahwa Gery adalah pacarnya, agar Nandan berhenti mengganggu Airin.


Alih-alih berhenti, Nandan justru mencari tahu lewat orang dengan cara membuntuti kehidupan Airin.


“Lalu, bagaimana dengan Nana? Ibunya Airin, Ger? Apa dia baik-baik saja? Tinggal di mana mereka sekarang?" Sederet pertanyaan yang sudah lama sekali berkeliaran di benak Wira, sekarang meluncur bersama pundak yang merosot. Seolah beban dari kesalahan serta penyesalannya ikut memudar.


Sebelum menjawab, Gery menarik nafas dalam. “Di belakang perumahan yang saya tempati, Om—“


Wira terlihat senang. Bibir keriput itu tersenyum lega. “Ah … syukur jika seperti itu. Lalu, apa Airin sudah menikah? Saya melihat Airin sedang hamil besar? Dan, siapa pria yang menjadi suaminya, Ger?”


Punggung Gery menegang. Tatap matanya bertemu tajam dengan Nandan yang duduk di depannya—di single


sofa—santai bersama kaki Nandan menyilang. Pun, punggung yang jatuh bersandar pada sandaran sofa nyaman dengan kedua tangan terlentang di sepanjang sandaran sofa. Angkuh. Seolah, Nandan memposisikan dirinya adalah sang pemilik ruangan.


“Oh, ya, bagaimana Ibu—“


“Ibu Nana sudah meninggal empat bulan lalu,” kata Gery menyela cepat. Air muka Wira berubah merah.


Merah karena marah pada dirinya sendiri. Diraup wajah Wira yang sudah penuh air mata. Rasa penyesalan mencuat tiada henti. Pria paruh itu berusaha agar tidak menjerit. Memendam tangis dalam benak bersama wajah menengadah dan kelopak terpejam. Sementara air mata terus membanjir.


**


Setiap tarikan nafas yang dikeluarkan Airin penuh sesak. Jalan-jalan yang kakinya lalui seakan menekan dirinya untuk tetap melangkah yang tidak tentu arah. Pandangan kosong. Bibir terkatup rapat. Langit di atas kepalanya semakin menunjukan hitam pekat. Tidak ada bulan, tidak ada bintang yang menjadi hiasan indah di atas gelap itu. Tubuhnya hanya bermandikan cahaya dari lampu-lampu hias jalan, menggantung di sekitaran gedung.


Airin menyeka air mata yang menderas tiada henti. Hidupnya sudah hancur karena lelaki berengsek itu. Sekarang pun dirinya bertambah hancur ketika mengetahui fakta bahwa Nandan adalah saudaranya. Dan yang lebih parah lagi, anak yang sedang ia kandung adalah hasil hubungan dengan saudaranya sendiri. Hidup memang semenyedihkan itu untuk Airin lalui.


“Rin…” Ghea memanggil langkah cepat di belakang punggunya. Mengikuti. “Kamu gak papa, kan?" Disentuh Ghea bahu Airin lembut.


“Maaf, Bu. Saya ingin sendiri dulu,” katanya membalas tatapan hitam pekat milik Ghea.


“Tapi, Rin, saya tidak mungkin meninggalkan kamu dengan keadaan kamu sekarang ini.” Demi apa! Ghea benar-benar merasa tidak tegak meninggalkan Airin seorang diri. Apalagi dengan keadannya yang seperti seseorang ingin mengakhiri hidup. Segera dicengkram lengan Airin oleh tangan Ghea ketika wanita itu ingin menghindar. “Rin…" sambil memanggil nama wanita menyedihkan itu penuh permohonan, agar Airin mendengarkannya.


“Terimakasih Bu Ghea sudah mengkhawatirkan saya. Tapi, saya tidak perlu itu dari anda.” Garis bibir Airin menekan keras. Ghea mengerutkan dahi. “Saya bisa menjaga diri saya sendiri, Bu.” Airin melanjutkan sembari berpaling, melangkah mendahului Ghea.


Ghea tidak mengerti mengapa Airin bersikap demikian pada dirinya. Apa yang salah dengan wanita itu?


Ditarik Ghea lengan Airin cepat untuk kedua kali. “Airin!”


Terlihat dari bahu Airin naik untuk selanjutnya ia keluarkan nafas yang kasar. “Bu—“


“Saya mengerti apa yang kamu rasakan saat ini, Rin. Saya—“


“Anda tidak akan mengerti, Bu Ghea!” Airin menyela cepat bersama intonasi suara meninggi. Kedua matanya bergoyang mengitari sekitaran.


“Hidup anda sempurna,” kata Airin random. Bibirnya tertawa hambar. “Anda punya keluarga utuh. Suami yang juga sangat mencintai anda.” Ditatap Airin wajah Ghea dingin. Air mata tentu saja mengalir dari kelopak wanita itu. “Tidak seperti saya yang hidup saja harus dititipkan pada suami orang.”


“Maksud kamu ngomong seperti ini apa?” Kedua ujung alis Ghea menyatu. Sungguh pula otaknya tidak bisa mencerna kalimat Airin sebaik mungkin.


“Tadi Bu Ghea bilang bahwa anda mengerti apa yang saya rasakan, bukan?” Pertanyaan Airin membuat Ghea semakin bingung. Ghea tidak mengangguk atau pun menggeleng. Bicara pun tidak. Karena pernyataan Airin selanjutnya membuat tubuh Ghea seakan berputar oleh hantaman keras.


“Kalau begitu, saya ingin suami anda!” Kelopak Ghea terbuka sempurna. Terkejut. “Anda mengkhawatirkan saya dan mengerti—”


PLAKKKK


Sebuah tamparan keras melayang ke sisi wajah Airin hingga wajah dengan pipi sudah merah itu terlempar ke samping. Tangan Ghea bergetar setelahnya, ia refleks menampar sisi wajah Airin. Dadanya kembang kempis dan perutnya tiba-tiba merasa nyeri.


“Kamu tidak serius mengatakan itu pada saya, kan? Kamu hanya lagi bingung, Airin.” Tangan bekas menampar wajah Airin mengepal erat di samping tubuh. Menahan dorongan agar Ghea tidak melakukan hal itu untuk kedua kalinya.


Segera ditahan Airin sakit di sisi wajah, mengepalkan kedua tangan untuk menahan agar ia pun tidak membalas. Ditegakkan Airin kepala itu menghadap Ghea. Namun, tatap mata Airin berpusat ke belakang punggung Ghea, bersama suara tawa menyakitkan.


“Apa kelihatannya wajah saya sedang bercanda?”


Ghea tertawa kecil. Tidak percaya akan apa yang keluar dari mulut wanita itu. “Jadi, saya salah membawa kamu dalam kehidupan kami?”


“Ya!” Jawab Airin terlalu cepat. “Sekarang saya minta dengan sangat. Pergi dari sini!” tekan Airin mendorong bahu Ghea. Sementara itu matanya terus berpusat ke belakang punggung Ghea. Lalu diedarkan setelahnya. “Pergi, Bu Ghea! Saya tidak butuh anda. Karena anda juga tidak mungkin, kan, mengerti dengan kehidupan saya sesungguhnya?!”


“Airin, kamu apa-apaan, sih?” ucap Ghea saat dirinya terus didorong Airin. Tetapi dengan pelan dan tidak menyakiti Ghea sama sekali.


“Pergi, Bu Ghea! Saya mohon!”


Ghea mengibaskan tangan Airin yang terus melakukan dorongan kecil itu. “Saya tidak akan pernah memberikan apa yang sudah menjadi milik saya. Termasuk suami saya! Tapi saya tidak akan meninggalkan kamu sendiri dan dalam keadaan kamu seperti ini, Airin. Dan jangan mengusir saya!”


Ditarik nafas Airin lelah untuk kemudian ia keluarkan lewat mulut. Menyugar rambutnya yang panjang ke belakang dengan kedua mata waspada sambil mengedar samar.


“Terserah anda, Bu Ghea.”  Airin memutar tubuh lalu pergi dari sana. Langkahnya cepat dan itu membuat Ghea terus dilada kekhawatiran luar biasa. Meski gelombang kemarahan dalam diri Ghea tidak bisa dipungkiri karena berani sekali Airin ingin memiliki suaminya.


Ghea berdecih. Menatap punggung Airin yang masih terlihat oleh matanya. Kaki Airin terus melangkah sampai di pinggiran jalan raya. Lalu, kelopak Ghea terbuka dengan bola mata yang hampir keluar. Dilihatnya Airin yang ditarik oleh seorang lelaki berkacamata hitam dan berjaket kulit hitam, ke dalam sebuah mobil dengan pintu belakang terbuka.


“Airin!!!” Ghea memanggil dengan suara keras. Menyerupai teriakan. Ghea panik tentu saja. Kepalanya mengedar mencari bantuan. Tapi, sayangnya di sana tidak ada siapa-siapa untuk dimintai tolong.


Dilihat Ghea lagi tubuh Airin menggelinjang untuk menolak dan berusaha melawan. Tapi, sia-sia saja, kekuatan Airin bagaikan seekor rusa yang sudah berhasil ditembaki pemangsa. Lelaki tidak dikenal itu berhasil menarik tubuh Airin masuk ke dalam mobil.


“Airin!” Ghea terus memanggil. Ketika dilihatnya mobil itu melaju, tangannya dengan cepat merogoh hand phone di dalam cluth. Sambil berjalan segera pula Ghea menghubungi nomor Gery yang entah berada di mana.


.


.


.


To be continued


Dear kamu


Terimakasih untuk kamu yang masih menunggu cerita ini.


Terimakasih karena sudah memberikan semangat lewat komentar maupun likenya.


Itu sangat mengapresiasi saya untuk tetap bertahan menyelesaikan cerita ini. Meski saya tahu betul, kamu lelah karena menunggu ini terlalu lama.


Semoga cerita ini masih diterima dengan baik dalam keadaan apapun.


Entah itu konflik yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan kamu, atau pun dengan segala bentuk yang lainnya.


Saya ucapkan mohon maaf. Dan terimakasih sudah terus menemani saya hingga hampir di penghujung cerita.


I Love You so much.


Penulis Amatiran


Seizy yang sayang kalian tanpa akhir.