Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 47


Pameran itu sudah berlangsung meriah ketika Gery memasuki aula pameran dengan Ghea yang menggapit lengan kirinya. Dinding serta langit-langit di dekor begitu mewah. Beberapa lampu kristal menggantung menghiasi langit aula. Ghea tersenyum menyukai dekorasi menakjubkan untuk di pandang. Walau hanya pameran lukisan saja, tetapi dekorasinya sebagus dan seelegan ini. Ghea jadi berfikir untuk merayakan acara syukuran anaknya setelah lahir nanti di hotel ini. Pasti akan lebih super mewah lagi.


“Suka?” tanya Gery menoleh. Menarik kedua sudut bibir untuk menyunggingkan senyum pada wanita yang tidak melepaskan menggapit lengannya ini. Ghea sedikit mendongak pandangan. Membalas senyum menawan Gery dengan sebuah anggukkan. Meski kaki jenjang dan putih mulus wanita itu terbungkus sepatu hak setinggi delapan senti, itu tidak mengimbangi tinggi tubuh pria tampan berbalut tuksedo silver mengkilat.


Bukan hanya dirinya saja yang memakai tuksedo. Pria-pria lain rupanya sama. Selain memamerkan lukisan-lukisan seni yang indah dan mahal, rupanya, acara ini juga untuk beramal dengan cara melelang mahakarya dari seniman ternama.


Seniman itu menghadirkan anggota terkaya serta terkenal atas golongan-golongan tertentu seaentero Jakarta.


Pandangan Gery mengedar. Pria-pria bertuksedo dan wanita-wanita bergaun mahal berkilau membaur, minuman berwarna serta rasa enak di lidah ada di tangan masing-masing, bergerak mengitari pajangan dan membuat tanda dalam katalog mereka. Adapun dengan mereka, para wanita-wanita dari kalangan masing-masing perusahaan yang hanya berkumpul membentuk sebuah lingkaran kecil sambil berdiri, memamerkan tas branded dan segala bentuk kemewahan serta kekayaan.


Langkah Gery berhenti. Tangannya berjabat dengan seorang pria dari perusahaan lain—yang Gery tahu dari perusahaan properti lain— sambil menyunggingkan senyum. Bukan senyum persahabatan, akan tetapi senyum sebagai seorang rival dalam dunia bisnis.


“Wow... Pak Mahardika Putra rupanya hadir bersama dua orang wanita sekaligus. Ah apa keduanya ini istri-istri anda, Pak?” kalimat itu meluncur tidak berfilter. Bibirnya menyeringai. Dan kedua tangan lelaki itu masih saling berjabat.


Gery tidak menjawab. Untuk apa?


“Hallo… saya—" ketika pria itu melepaskan jabatan dari tangan Gery, uluran tangan itu bergeser tepat ke depan Ghea. Bermaksud untuk mengenalkan dirinya sendiri sebelum suara barinton tegas mendahuluinya.


“Maaf, kami ingin melihat-lihat lukisannya,” ujar Gery melepas lingkaran tangan Ghea di lengannya untuk kemudian tangan cowok itu merangkul pinggang Ghea posesif. Seposesif-posesifnya.


“Ah … ya, baik. Silahkan Pak Mahardika Putra.” Pria menyebalkan di depannya ini lantas menurunkan tangan dan mengantonginya ke dalam saku celana formal berbahan katun mengkilat. Menyamarkan style tersebut, menyembunyikan kekesalan pada Gery tentu saja. Namun begitu, bibir pria itu masih tersungging senyum yang dipaksakan.


“Satu hal yang harus anda ketahui. Jika pun saya menggandeng tiga perempuan sekaligus, itu bukan urusan anda.” Dilangkah kaki Gery yang ketiga, ia berhenti untuk kemudian berbalik menghadapi pria arogan yang sekarang memberi tatapan jengkel padanya. “Dan wanita ini—“ Mata Gery menunjuk pada Airin yang berdiri tepat di belakang punggung Ghea. “—bukan istri saya!” Tekannya sembari menatap tajam pada pria bertuksedo sama sepertinya.


Pria tersebut bernafas kasar. Mendengus meremehkan. Lalu, tangan Gery turun dari merangkul Ghea. Menggapai tangan kecil Ghea yang menggantung di samping tubuh untuk digenggam Gery. Seolah memberi perlindungan padanya dari tatapan predator pria-pria semacam rivalnya itu.


“Kamu kasar banget, sih, Mas,” ujar Ghea saat sudah menjauh. Berdiri menghadap cowok yang sekarang mengantongi kedua tangan ke dalam saku celana.


Dan Airin masih membuntutinya. Merasa udara Gery benar-benar tidak bebas.


“Lagi juga kamu ngapain ajakin orang lain buat gabung, sih, sayang?! Lihat! Orang lain jadi menyangka aku seorang pria yang serakah, kan?!”


Ghea mengerti maksud Gery. Tatap matanya menoleh pada Airin kemudian. Diembuskan nafas Ghea berusaha santai dan tenang. Lidahnya tidak bergerak lagi untuk menjawab. Yang dikatakan Gery memang benar adanya.


“Ya udah, sih, Mas, gak usah masukin ke hati. Mereka kan gak tahu yang sebenarnya aja. Kalau Airin—“


“—Rin, kamu bisa tidak buat tidak gabung dengan kami?!” Malah cowok itu menyela kalimat Ghea. Beralih bicara pada Airin yang merasa tidak enak sekaligus hancur dalam wkatu bersamaan.


“Masss—“ suara Ghea terdengar merengek. Gery tidak mengidahkan. Bahkan cowok itu berpura-pura tidak mendengar.


Wajah Airin mendongak. Hanya sedikit tapi, untuk melihat tatap bola mata Gery yang sedingin es itu. “Baik, Pak,” ucapnya memenuhi permintaan sang pria yang dikagumi dirinya.


“Airin…” panggil Ghea saat tumit Airin berbalik.


“Sayang … udahlah, biar Airin berbaur dengan yang lain aja!”


Airin mendengar karena langkahnya yang pelan masih berada tidak jauh dari Gery yang mengusirnya secara halus.


“Tapi Airin gak kenal siapa-siapa di acara seperti ini. Dia pasti gak bakal ngerasa nyaman, Mas.”


“Ya, terus … kalau kamu tahu sendiri ini bukan tempatnya, kenapa kamu nyuruh aku agar Airin ikut? Hem? Come on, sayang… Airin itu hanya sekretaris biasa. Dia berbeda dengan kita, Ghe.”


Airin meremat sisi dress yang ia kenakan malam ini begitu kuat. Dress terbaik menurutnya yang ia punya. Matanya memanas. Hatinya begitu terluka oleh perkataan Gery. Alih-alih sakit hati Airin justru membenarkan itu.


Lalu, telinganya menangkap kalimat Ghea dengan jelas. “Sejak kapan kamu ngebedain derajat orang, Mas?”


“Sejak kamu yang selalu ngebela Airin. Dan memasukan dirinya ke dalam rumah tangga kita.”


Selanjutnya, batin Airin yang tersiksa. Bagai ditusuk duri sembilu. Rohnya seakan lepas melayang dari jasad. Dan Airin melihat roh itu menertawakannya. Airin membalas roh itu dengan tawa hambar menyedihkan.


Airin tidak percaya akan kalimat menyakitkan itu terucap dari mulut Gery dengan pedas. Padahal Gery tahu sendiri jika cowok itu yang ingin membantunya. Airin tidak memaksa jika saja Gery menolak permintaan Ibu Nana sebelum beliau menutup mata.


Siapa, sih, yang mau hidup seperti Airin?


Sendiri… Tidak disukai banyak orang dan orang-orang menganggap dirinya wanita tidak baik dengan bukti perutnya membesar tanpa sebuah ikatan pernikahan dan seorang suami. Ia menyesali itu.


Andai waktu dapat Airin putar kembali. Ia akan menghantamkan pisau atau pedang sekaligus ke leher Nandan Lesmana—cowok yang membujuknya untuk berhubungan cinta. Alih-alih terperangkap oleh bujuk rayu mulut manisnya untuk kemudian menanggalkan semua pakaian di depan mata iblis cowok berengsek itu.


“Tapi kamu yang memulai kan, Mas? Kamu juga yang bilang jika Airin itu putri dari—“


“Aduhh…” Suara pekikkan Airin yang lemah mengundang setiap pasang mata menoleh padanya dengan tatapan ‘siapa dia?’ termasuk tatapan Ghea dan Gery beralih pada wanita itu. Menghentikan argumen sengit di antara keduanya.


“Maaf… Saya tidak sengaja,” ucap Airin menunduk membersihkan cairan berwarna yang membekas di dressnya. Inilah akibat karena Airin terlalu mencuri dengar obrolan Ghea dan Gery. Jadilah demgan ketidaksengajaan Airin menyenggol bahu seorang pria paruh baya yang kebetulan minumannya tumpah dari gelas berkaki yang sedang pria paruh itu pegang.


“Maaf, Pak. Saya betul-betul tidak sengaja,” ujar Airin untuk yang kesekian kali.


“Rin, kamu gak papa?” Disusul oleh suara dari samping tubuhnya, bersama tangan Ghea membantu membersihkan dress Airin menggunakan tisu yang sebelumnya ia ambil dari cluth.


Kepala Airin menggeleng lemas. “Tidak papa, Bu. Terimakasih,” kata Airin pada Ghea. Ditegakkan kepalanya kemudian sambil berucap, “maaf, sekali lag—“ kalimat itu menggantung. Detik itu juga tubuh Airin benar-benar melayang, Kedua tungkai rasanya tidak bertulang. Lemah bagai jelly kenyal. “Ayah…” panggil Airin dalam hati.


Setetes cairan bening lolos dari pelupuk kemudian. Airin langsung mengusapi itu buru-buru.


“Rin, bener gak papa? Perut kamu gimana? Ada yang sakit atau nggak kita ke dokter aja, ya?!" tanya Ghea setengah panik. Alih-alih menjawab Airin justru mengikuti pandangan pria paruh baya yang ia senggol tadi menurun ke perut besarnya.


Gery menyusul bersama perasaan kacau. Ia berdiri di belakang punggung Airin yang menegang. Mata Gery berkilat-kilat membaca situasi apa yang akan terjadi selanjutnya. Digigit bibir bawahnya sebelum menjiilati benda kenyal itu.


“Airin Adiguna?!" Panggil pria paruh baya di hadapannya dengan suara lirih dan sebuah penyesalan. Hati Airin kembali diremat. Kali ini kuat. Sangat kuat. Memory masa kecil menyakitkan berputar bagai roll film sedang menayangkan sosok gadis kecil berambut panjang melangkah mengikuti jejak Ibunya menyeret koper besar. Mencari perumahan walau itu kecil untuk keduanya tinggal. Dan menangis menjerit memanggil sang Ibu saat Ayah tirinya memukuli Ibu tanpa ampun.


Cairan kristal itu semakin meluncur deras. Dadanya seakan terhimpit oleh reruntuhan gedung-gedung bertingkat. Dan rasa dendam mencuat ketika suara familiar terdengar dari belakang punggung Wira Adiguna—Ayah Airin.


“Papa sedang apa di situ? Direktur hotel Raffles ingin bertemu katanya.”


Wira Adiguna membalikan tubuh. Memandangi anak lelaki yang dibanggakannya.


Gery mendesaah frustasi. Apa yang selama ini disembunyikannya—karena permintaan terakhir Ibu Nana—akhirnya terkuak.


Permintaan Ibu Nana agar Gery menjaga Airin serta agar Airin tidak bertemu lagi dengan sang Ayah. Bila perlu Ibu Nana ingin Gery menyembunyikan sosok Airin dari pria-pria tidak berprasaan semacam Nandan Lesmana—pria yang sekarang justru bertatap muka dengan Airin—berdiri di hadapannya.


.


.


.


To be continued…


Nah kan nah kannn...


Udah gini gimana lagi, Rin?