Married With Teacher

Married With Teacher
Beruntung


...Tidak ada yang lebih beruntung dari hal apa pun selain aku memilikimu....


...Gery Mahardika Putra...


...****...


"Terserah, ya, kalian mau ngomong apa pun. Hina apa pun. Cibir apa pun. Atau menyatakan hal apapun tentang saya. Terserah. Saya tidak peduli sama sekali,” ungkap Pak Gery dengan sangat coolnya. Masih menyimpan kedua tangannya di dalam saku celaka. Dan jangan lupakan tatapan matanya yang menghunus tajam ke depan tanpa rasa gentar sedikitpun.


Sedangkan dengan Ghea yang semakin mengeratkan lingkaran tangannya pada Chacha. Bersama kening yang terlipat dalam dan bibir bawah yang ia gigit. Sungguh, Ghea tidak tenang. Takut jika Pak Gery akan mengatakan hal yang macam-macam kemudian bertingkah diluar nalarnya.


Oh ya ampun. Kepala Ghea sampai berpikir sejauh sana. “Cha …,” lirihnya dengan suara yang bergetar.


Chacha hanya mengelus tangan Ghea yang melingkar dan mengerjapkan matanya saat pandangannya bertemu dengan pandangan Ghea. Sebagai isyarat. ‘jangan khawatir!’ pada cewek itu.


“Tapi gue tetep aja takut, Cha.” Helanya seraya menatap punggung Pak Gery.


Kepala Pak Gery menoleh sesaat pada Ghea. Lalu saat itu Ghea menggerakan mulutnya. Ia berkata ‘jangan’ pada Pak Gery dengan gerakan bibirnya itu.


“Tapi.” Saat mengatakan kata itu, Pak Gery kembali mengalihkan pandangannya ke depan. “Jika saya dengar sekali lagi saja dari mulut kalian.” Ada jeda sebentar sebelum Pak Gery melanjutkan lagi kalimatnya. “Menghina. Mencibir, apalagi mengatakan hal yang kurang ajar terhadap Ghea, saya tidak akan segan-segan untuk menendang kalian dari sekolah ini. Dan …” Lalu kedua tangannya itu beralih terlipat di depan dadanya. Mengangkat wajahnya tinggi-tinggi.


“Saya akan mem-black list nama kalian sehingga kalian tidak bisa mendaftar lagi ke sekolah mana pun. Dan Universitas mana pun.”


Kontan saja mereka yang mendengar kalimat yang meluncur dengan ringannya dari mulut Pak Gery membuka rahangnya lebar-lebar. Termasuk dengan Ghea yang refleks menutup mulutnya yang terbuka.


apa-apaan sih Pak Gery itu?


Duh rasanya Ghea ingin sekali menegur. Namun takut nantinya akan memperkeruh suasana yang sedang menegang ini. Ghea resah. Jika saja bisa, Ghea lebih baik tenggelam ke dasar bumi yang paling dalam. Ghea tidak ingin Pak Gery bertindak berlebihan. Tidak. Ya Tuhan …


“Terutama dengan kamu.” Pak Gery menunjuk satu cewek yang tadi memberi ucapan pedasnya pada Ghea itu dengan dagunya. “Bukan Ghea yang akan di DO oleh pihak sekolah.” Kaki panjang Pak Gery melangkah dua langkah. Mendekat pada cewek dengan wajah yang kini sudah merah padam. Bukan malu. Namun matanya memancarkan amarah. Bersama kedua tangan yang berada di sisi tubuhnya mengepal dengan kuat.


Pak Gery menarik satu alisnya tinggi-tinggi. “Tapi kamu!”


Tangan cewek itu semakin mengepal sampai buku-buku kukunya pun memutih.


“Kamu mau kemana?” tanya Chacha pada Ghea saat cewek itu akan melangkah ke arah Pak Gery yang sedang saling menatap sengit dengan cewek itu. Mungkin Ghea akan menghentikannya atau apa itu lah.


“Cha, gue harus hentikan Mas Gery,” kata Ghea berusaha untuk melepaskan cekalan dari tangan Chacha.


“Kamu lebih baik disini dulu! Biar Pak Gery yang selesaikan semuanya.”


Setelah itu, Ghea bisa apa selain hanya menurut pada Chacha.


“Atas dasar apa anda mengatakan hal itu pada saya? Memangnya anda siapa? Kepala sekolah saja hanya diam kan tidak bicara apa-apa. Lah anda yang hanya seorang guru biasa ingin mengeluarkan saya dari sekolahan ini." Dia terkekeh. “Seolah anda ini pemilik yayasan saja. Cih.”


Sumpah. Jangan dijadikan contoh prilaku yang tidak baik ini! Karena ini benar-benar sikap yang tidak terpuji.


“Saya memang pemilik yayasan sekolah Garuda ini. Jadi, saya berhak memutuskan, melakukan apapun itu yang bisa mencoreng nama baik sekolah. Termasuk dengan siswi yang tidak tau sopan santun seperti kamu. Yang bisanya hanya mencibir dan menghina orang lain tanpa tahu dengan kebenarannya.”


Waw waw waw …


Kabar ini mungkin wajib untuk menjadi trending topik di forum sekolah. 


“Apalagi kamu sudah mengatakan wanita yang menjadi istri sah saya dengan kata yang tidak baik dan kamu tidak mengetahui faktanya, bukan?” Pak Gery kembali lagi membuka suara setelah tidak ada lagi yang berkasak-kusuk.


“Aduhhhh …” Ghea menekuk wajahnya. Memejamkan matanya erat seraya menggigit bibir dalamnya kuat. Untung saja tidak sampai berdarah.


Jadi apa mungkin ini alasan mengapa Pak Gery tidak ingin hubungannya dengan Ghea diketahui? Apa Pak Gery sudah memprediksikan semua keadaan ini? Lalu begitu saja cowok itu membuat surat pra pernikahan? Agar Ghea tidak mendapat bullyan.


“Mana buktinya jika Ghea memang benar istri sah anda dan cewek yang ada di dalam itu bukan istri anda?” Maksudnya menunjuk pada Chacha.


“Bukti?” Pak Gery tersenyum devil. Tentu saja cowok itu dengan senang hati akan menunjukkan padanya dan pada semua orang.


diambillah handphone yang ada di saku celananya. Membuka aplikasi galeri sebelum kemudian menunjukan foto akadnya pada cewek itu.


Kasak-kusuk itu kembali terdengar. Mereka sekarang percaya jika Ghea adalah istri sahnya Pak Gery karena difoto itu nampak Ghea yang sedang memakai gaun pernikahan dan Pak Gery yang berdiri di sampingnya.


“Rez, jadi Ghea beneran udah married?” tanya Tama pada Reza yang berdiri bersedekap dengan pandangan yang tak tentu entah memandang kemana. Dan itu tidak lepas dari pengamatan Ocy yang sedari tadi berdiri di samping Reza.


“Iya.” Reza mengangguk lemah.


“Busettt, si Ghea beneran udah jadi bini orang sekarang. Ya salam.” Tama menyenggol bahu Reza sampai tubuh cowok itu bergerak ke depan. “Lo tahu udah lama? Kenapa kagak kasih tahu ke gue kuda? Gila-gila …” Tama geleng-geleng kepala tidak percaya.


Dan Reza hanya diam tidak bersuara lagi. Lalu tubuhnya berbalik. Reza berlalu dari kerumunan itu.


Dan kembali lagi pada Pak Gery yang kini memasukkan handphonenya itu ke dalam saku celananya.


“Pak, lalu cewek yang itu siapa?” tunjuk salah satu siswi yang matanya mengarah ke dalam ruangan. Tepatnya pada Chacha.


Pak Gery memutar kepalanya. Tahu pertanyaan apa yang dimaksud oleh siswi itu. Lalu menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari Ghea. “Dia Chacha, bodyguard Ghea.”


“Cha.” Pak Gery memanggil. Chacha melangkah mendekat dan berdiri di samping Pak Gery.


Mengerti arti panggilan itu, Chacha pun menjelaskan dengan pelan. Jika dirinya bukan istri Pak Gery yang sebagaimana mereka ketahui. Namun dia hanya seorang bodyguard yang disewa Pak gery untuk menjaga istrinya.


Mereka semua diam. Tidak ada yang buka suara lagi. Juga dengan guru-guru yang ada di sana hanya diam tidak percaya jika Pak Gery ternyata adalah anak dari pemilik yayasan. Beberapa guru memang sudah mengenal sosok pemilik yayasan karena Papa Dika sering diundang jika ada acara-acara tertentu. Namun, mereka tidak tahu jika Pak Gery adalah putranya.


“Semuanya sudah jelas kan? Jadi saya harap kalian tidak menghujami Ghea lagi dengan kata-kata yang kurang ajar!” Saat mengatakan kalimat itu mata Pak Gery mengarah pada cewek bermulut pedas tadi yang hanya diam menundukkan wajahnya. Malu atau menyesal mungkin. “Apalagi mengatakan jika istri saya adalah seorang pelakor. Karena itu tidak benar. Ghea istri sah saya.” Tekannya sekali lagi.


...****...


“Za, lo mau kemana sih?” Dengan nafasnya yang tersenggal, Ocy menyamakan langkah kakinya dengan Reza yang berjalan dua langkah lebih lebar dari langkah kaki Ocy.


“Za …,” panggil Ocy lirih seraya menahan tangan Reza.


Reza mendesah berat. “Cy, gue harus cari tahu siapa orang yang udah nyebarin foto-foto Ghea sampai Ghea kena masalah kaya gini.”


“Za, tunggu!” Tangan Ocy kembali menahan. “Za, masalahnya kan udah clear. Jadi buat apa lo cari pelakunya? Udah lah.”


“Gak bisa gitu, Cy,” sahut Reza pelan.


Karena jika Rza tidak mencari tahu siapa pelaku itu kemungkinan besar Ghea akan menyalahkannya. Dipikir Ghea nanti dialah yang menyebarkan foto Pak Gery menciumnya. Walau Reza tahu sendiri jika Ghea sudah menghapus foto itu dari handphonenya. Tapi kemungkinan Ghea curiga sangatlah besar. Bisa juga kan Reza punya copyannya.


“Za …” Panggil Ocy lagi yang tidak digubris sama sekali oleh cowok itu. Dari tempatnya Ocy memejamkan matanya erat dan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


...****...


Di sisi lain.


“Pak Gery, saya benar-benar minta maaf atas kejadian yang tidak mengenakkan ini,’ sahut Pak Kepala sekolah yang merasa bersalah karena tidak bisa menjaga rahasia dengan baik.


Sebelumnya Pak Gery sudah memberitahu Pak Kepsek tentang dirinya dan Ghea dan Pak Gery berpesan jika jangan sampai ada yang mengetahui soal ini.


Namun, nasi sudah menjadi bubur. Dan tidak bisa dikembalikan lagi seperti semula. Apalagi menjadi beras.


Selanjutnya Pak Kepsek mengalihkan tatapannya pada Ghea yang tidak bergeming di tempatnya. “Saya juga minta maaf sama kamu, Ghe,” kata Pak kepsek tulus.


Ghea merasa ini ada yang salah. Jika biasanya Ghea yang akan selalu minta maaf pada Pak kepsek karena sering berbuat ulah, kini malah sebaliknya. Duh Ghea merasa gak enak hati ini.


“Eh, kenapa Bapak minta maaf? Harusnya yang meminta maaf itu saya sama Pak Gery yang buat kekacauan di depan ruangan Bapak.”


Pak Gery menoleh pada Ghea. Cewek ini kenapa jadi berubah 180 derajat, sih? Gak biasanya yang akan selalu merasa menang.


“Tapi saya--”


“Pak, walau Pak Gery adalah putra dari pemilik yayasan ini. Saya tidak mau menyalah gunakan statusnya. Karena bagi saya, di sini saya adalah siswi yang harus belajar dengan sungguh-sungguh dan menghormati Bapak.” Ghea menarik kedua sudut bibirnya lalu menoleh pada Pak Gery yang duduk di sampingnya. “Mungkin Pak Gery memang suami saya. Tapi jika itu sedang berada di rumah. Dan di sekolah, Pak Gery adalah guru saya yang harus lebih saya hormati karena sudah memberikan ilmu pada saya dan teman-teman saya.”


Uh Ghea … manis banget sih dia.


Dapat dari mana ngomong-ngomong kalimat itu?


Pak Gery membalas senyuman Ghea sebelum ia menyentuh tangan cewek itu. Pak Gery bangga padanya. Ia benar-benar tidak salah untuk memilih Ghea sebagai pendampingnya.


“Saya juga mau minta maaf sama Bapak karena sudah sering banget buat ulah. Selalu bikin Bapak dan guru-guru yang lainnya kesal sama kelakuan saya. Hehehe …”


Pak Kepsek mengangguk bersama senyum yang terbit di bibirnya. “Pantesan aja Pak Gery ingin mengikat kamu secepat itu walau kamu masih sekolah juga.” Lalu kekehan pun terdengar di ruangan kepala sekolah yang hanya ada mereka bertiga. Sedangkan yang lain sudah kembali ke tempatnya dan Chacha yang kembali ke mobil saat kehebohan itu sudah benar-benar clear.


...TBC...


Maaf ya alloh kalau ini kurang ajep gitu. Hihii Tapi semoga aja pada suka di bab ini ya. Aku bingung soalnya. Ini aku cuma ngetik ngetik gitu aja. Hehe maaf ya gengssss.


Seizy


Si penulis rengginang yang lagi rebahan. Capek. Siangnya abis nyuci karpet. hihiiiii