Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 58


Gery tidak pernah merasa jantungnya semendebarkan ini. selain, ketika dirinya untuk kali pertama lagi bertemu Ghea di bioskop. Dan selain ketika bibirnya akan mengucapkan ikrar janji suci pernikahan bersama wanita ini.


Wanita yang sekarang sedang Gery dorong duduk di kusri roda.


“Kita mau ke mana, sih, Mas?” pertanyaan itu lolos dari Ghea yang terus menerka-nerka di dalam kepala, kemana Gery akan membawanya?


Perasaan campur aduk membuat Gery tersenyum di belakang wanita itu. Berjalan sambil mendorong kursi roda melewati koridor panjang rumah sakit. Ghe menolehkan kepala ke belakang sembari mendongak. Kerutan di dahi serta tatapan di bola mata hitamnya menusuk penuh curiga pada lelaki itu.


“Kamu mau lihat dia, kan?” Ditundukan tatapan Gery sesaat, senyumnya tersungging indah untuk Ghea lihat.


Kembali Ghea memalingkan wajah. Menatap jauh ke depan lorong yang sepi. Pandangannya kosong sesaat. Kelopak itu pun mengkristal. Ya, Ghea harus melihat wajah dia seperti apa dulu sebelum ia nantinya tidak akan pernah melihat wajah malaikat kecilnya itu.


Rasa sakit muncul lagi di relung hati. Mengingatkan Ghea pada satu kenyataan yang sulit untuk dihadapi sebenarnya. Wajah tertekuk itu menunduk. Berhasil meloloskan cairan keluar dari retina. Membasahi pipi kemudian jatuh mengenai tangan Ghea yang saling terjalin di atas pangkuan.


**


Gery berhasil mengejutkannya. Membuat kedua bola mata hitam Ghea bergoyang gelisah. Penasaran. Namun, setidaknya ada setitik harapan yang muncul saat Gery justru membawanya masuk ke dalam ruang yang bertuliskan NICU.


Sungguh pula, dada Ghea berdentam hebat saat tangan besar Gery melewati wajahnya. Menarik knop pintu ke bawah, membukanya kemudian. Pun secara perlahan.


“Kenapa kita ke sini?” tanya Ghea. Kedua alisnya menukik. Dengan tangan Gery kembali mendorong kursi roda lebih masuk ke dalam sana.


Gery tersenyum di belakangnya. “Bayi Airin ada di sini,” jawab Gery.


“Lalu?” Tatapan Ghea bergoyang hampa. Jika bayi Airin selamat, kenapa bayinya tidak? Demi semesta! Pertanyaan itu muncul dengan sendirinya.


Itu adalah sebagai bentuk emosional sesaat manusia. Selalu bertanya perbandingan yang hanya Tuhan saja yang mengetahui jawabannya.


“Kamu mau, melihat dia?” Gery lalu beranjak. Ia tertunduk di depan pangkuan wanita itu. Menggenggam kedua tangan yang terjalin di atas pangkuan, tatapan Gery sedikit mendongak untuk memberikan tatapan teduh padanya.


Selain segala rasa yang mencuat di relung hati—yang selalu Ghea tahan untuk tidak mengungkapi. Sungguh, dengan beraninya rasa iri pun malah hadir membakar relung hati itu.


Iri pada Airin. Jika Airin pernah berkata pada Ghea, bahwa Airin iri padanya karena kehidupan Ghea yang sempurna. Sekarang, kata itu tidak bisa lagi membuat Ghea bangga.


Benar adanya, jika Tuhan itu Maha Adil dari segala yang adil.


“Lihat siapa?” Getaran suaranya tidak dapat Ghea sembunyikan. Ia menjepit bibirnya kemudian.


Sungguh pula, demi semuanya. Gery malah melihat kelopak itu mengkristal. Gery tahu akan menyakiti Ghea dengan membawanya ke ruangan ini. Tapi, kehidupan mereka ada di dalam sana.


Tidak bersuara lagi, Gery berdiri dengan tidak melarika tatapan dari puncak kepala Ghea. Wanita itu menunduk. Seakan tidak ingin berada di dalam ruangan tersebut.


“Mas,” gumam Ghea saat kursi roda itu bergerak maju. Tentu Gery sang pelaku itu.


“Kita akan tetap melihat dia meski kamu menolak.”


Ghea berusaha menguatkan hati. Meremat semua jari. Perasaannya gelisah, hampa bahkan kosong itu juga hadir di dalam sana.


Ia menjepit bibir sebelum berkata, “Tapi yang aku mau bukan melihat bayi Airin, Mas.” Ghea menarik nafas. “Aku mau lihat wajah anakku." Ghea menekan suara. Berucap dalam satu tarikan nafas. Berharap, jika ia berkata demikian, itu tidak membuat Gery sakit hati.


Mungkin Gery hanya ingin membuat perasaan Ghea tidak benar-benar kosong dengan berniat membawanya melihat bayi Airin. Namun, yang dilakukan lelaki itu justru sebaliknya.


Gery tidak mengidahkan. Kedua tangannya terus mendorong kursi roda. Sampai kursi roda itu berhenti di depan salah satu inkubator.


Gery berdiri di samping kursi roda Ghea kemudian. Menenggelamkan kedua tangan ke dalam saku. Tatapannya tertuju pada bayi yang berada di dalam inkubator itu. Sungguh pun, kedua sudut bibirnya tertarik memberikan senyuman indah.


“Kamu suka dia?” tanya Gery tiba-tiba. Tanpa melarikan sedetik saja tatapannya dari bayi itu. Juga, senyumnya menjadi bertambah lebar. Ada kilat binar juga di bola mata abunya.


Demi apa! Berbeda dengan Ghea yang justru menangis. Meski tidak ada isak yang terdengar, Gery tahu saat pandangannya menoleh, menunduk ke kedua tangan Ghea. Tangan itu berkeringat. Gery juga tahu jika Ghea kacau oleh perasaan.


Wanita itu tidak menjawab pertanyaannya.


Diembuskan Gery nafas lalu ia mengeluarkannya lewat mulut. “Huh.”


Ditekuk pula kedua tungkai bawah Gery. Berjongkok di samping kursi roda. Bola mata abu itu tetap tertuju pada sang bayi yang tidak bergerak di dalam sana.


Hidung terpasang ventilator, Feeding tubes (selang makanan) juga dipasang di salah satu lubang hidung. satu lengannya juga terdapat selang infus. Bahkan pula selang-selang elektrokardiograf terpasang di area dada bayi yang tengah terlelap itu.


Tidak tega melihatnya. Kepekaan Ghea dan Gery akan alat-alat itu yang pasti terasa menyakitkan pun sungguh membuat jantung mereka ditikam benda keras.


Bayi itu … Ya ampun, benar-benar kasihan.


Tangan kanan Gery bergerak gemetar untuk kemudian menyentuh bagian kaca inkubator yang menjadi dinding boks. Ada dua lubang di sisi dinding kaca inkubator tersebut. Gery ingin memasukannya untuk menyentuh. Namun, lelaki itu tidak berani tentu saja. Takut tidur bayi tersebut akan terganggu.


“Siapa bilang kita akan menemui bayi Airin? Hem?” ucap Gery tiba-tiba sekali. Membuat jantung Ghea berdetak dari yang semestinya. Refleks pula kepalanya menoleh. Rambut panjang Ghea yang terurai sedikit bergoyang karena gerakan tiba-tiba di kepalanya itu. Dahi mengerut dalam dengan ujung kedua alis menyatu di antara pangkal hidung.


“Maksudnya?”


Disentuh Gery tangan Ghea untuk digenggam sebelum wajahnya mendongak menatapi Ghea dengan sayu. Menyoroti Ghea dengan kilat harapan di sana. Posisi lelaki itu berubah. Begitu pula dengan menggeser kursi roda Ghea. Hingga saat ini keduanya saling berhadapan. Beradu tatapan.


“Huh.” Jantung yang berdebar pula lah yang membuat lelaki itu menarik nafas dalam. Kemudian tatapannya beralih pada Ghea lagi.


“Bukan bayi Airin, Ghe.”


Kedua alis Ghea semakin menukik tajam. Pun dengan kepala yang mengedik. Seakan bertanya lewat sorot tatap matanya ‘lalu, bayi siapa itu?’


“Awalnya aku gak percaya saat Dokter Gita mengatakan bahwa ‘dia masih ada’.” Dan, pandangan serta wajah Gery fokus pada bayi itu. Lagi. “Namun, keraguan aku baru benar-benar hilang setelah aku melihat ‘dia’ dengan nyata. Di sini. Di depan mata kepala aku sendiri.” Embusan nafas Gery keluarkan lewat mulut. Seolah dengan itu, dengan melihat ‘dia’ (bayi itu) rasa sesak di dada benar-benar telah musnah. Malah berganti dengan rasa debaran yang membuncah di jiwanya.


Ghea diam mendengarkan. Setia menunggu penjelasan.


Tanpa mengalihkan tatapan, Gery bicara. “Namun, hati aku sakit saat mendengar penjelasan dokter jika ‘dia’ trlahir dengan kelainan di paru-parunya. Neonatal respiratory distress syndrome penyebab ‘dia’ harus ada di sini.”


“Tunggu, Mas. Aku belum ngerti. Kamu bicarain bayi ini. Sedangkan aku sendiri tidak tahu ini bayi siapa jika bukan bayi Airin.” Sungguh pula Ghea tidak dapat mencerna perkata yang keluar dari mulut lelakinya ini. Sulit untuk Ghea mengerti. Atau memang karena perasaan dan logikanya yang masih belum sinkron?


Gery terkekeh kemudian, sambil menundukan kepala.


“Mas!” Ghea memanggil. Jenis panggilan mengejar akan suatu jawaban serta penjelasan.


“Dia bayi kita, Ghe. Anak kita.”


DEGH …


Tengkuk Ghea mengejan. Punggung terasa lemas dan berakhir bersandar di sandaran kursi roda. Air matanya sudah tidak terbendung lagi. Jantungnya berdebar. Bola matanya bergoyang menyesuaikan. Ghea membuka mulut dengan nafas yang keluar dari sana. Rasa asin dari air mata terasa di lingualnya.


“Ka—kamu … maksudnya … Mas, dia—“ Bibir bergetar itu bahkan membuat cara bicaranya berantakan. “Ini aku gak bisa ngomong.” Ditarik nafas Ghea sesaat untuk kemudian ia embuskan lewat mulut.


Gery hanya terkekeh dan tersenyum melihat ekspresi dari wanitanya ini. Sesaat, membuat ia gemas sendiri untuk melihat wajahnya yang seolah terbakar sekaligus banjir oleh air mata berlinang.


Kepala Ghea menoleh ke inkubator itu. Meloloskan tangan yang digenggam untuk kemudian menopangkan telapak tangan pada kaca inkubator. Seolah dengan itu, tangan Ghea dapat menyentuh permukaan kulit sang bayi. Bibir Ghea tertarik indah. Juga air mata yang terus lolos melewati pipi. Jenis air mata haru serta bahagia.


“Hai.... Anak Bunda,” ucapnya pelan penuh perasaan. “Terimakasih udah bertahan. Kamu bayi yang hebat, sayang.”


Ruang itu berganti hening. Tidak terdengar suara dari suara kedua manusia yang sedang merasa berbahagia itu, selain dentang jam dan suara dari alat EKG saja yang memekak telinga.


Ditarik Ghea cairan di hidungnya. Menyusut air mata menggunakan telapak tangan kemudian. Menolehkan tatapan penuh pada Gery yang masih dalam posisi sama.


“Tapi, Mas, kenapa bisa dia dinyatakan men—“


Melanjutkan pun Ghea tidak sanggup. Hatinya seakan diremat kuat jika Ghea kembali mengingat bahwa bayinya telah meninggal. Bahkan mengucapkan dari mulutnya saja Ghea tidak bisa.


“Ada kesalahan teknis saat Dokter Gita memeriksa kondisi terakhir kamu. Dia bilang alat USG yang dipakainya itu tidak akurat, hingga mengatakan jika bayinya sudah meninggal dalam kandungan.”


Ghea sedikit membuka mulutnya. “Kok bisa?” Ia bertanya mengejar. Kegeraman pun ikut terjalin di antara salah satu rasa itu.


Diembuskan Gery nafas lembut. Tangan besar itu pun menghapus cairan di pipi yang masih ada. Seenggaknya Gery sekarang dapat melihat  wajah Ghea sudah tidak semurung tadi. Ada binar di wajah yang Gery rindukan itu.


Bibir Gery melengkuk ke bawah sembari kedua bahu mengedik. Jari lentiknya juga ikut bergerak menyelipkan rambut Ghea yang menempel di pipi. “Sekarang aku gak peduli soal itu.” Dirangkum pipi Ghea oleh tangan besar lelakinya. Bahkan pula, tangan besar Gery mampu membungkus semua satu sisi wajah cantik itu. “Yang aku pedulikan hanya kamu dan anak kita selamat.” Bibir seksi nan tebal itu tersungging membentuk senyum indah.


Melihat senyum di wajah lelaki itu, seolah Ghea tengah menikmati senja di sore hari. Indah dan menyenangkan. Ikut pula Ghea membalas tersenyum. Dadanya bergetar oleh rasa berbeda. Satu sisi wajah yang dirangkum itu mengejar telapak tangan Gery agar tetap diam di pipinya dalam waktu yang lebih lama. Karena Ghea menyukai itu. Membuat kehangatan dari sentuhan telapak tangan Gery, menjalar ke semua syaraf-syaraf di seluruh tubuh Ghea.


Sampai getar dari hand phone Gery membuyarkan semuanya kemesraan serta kebahagiaan yang sedang tercipta.


“Ck!” Decakan kesal itu keluar dari bibir tebal Gery. Dijauhkan tangan dari pipi Ghea, merogoh saku celana dengan posisi masih berjongkok di hadapan Ghea. Dengan cara Gery yang sedikit menarik punggung ke belakang serta satu lutut yang menekuk ia sentuhkan ke lantai.


Pesan itu dari Adi.


Demi semesta!


Gery benci pada sepupunya ini. Betapa pula, Adi selalu mengganggu moment Gery saat bersama dengan Ghea. Haruskah, Gery berikan surat peringatan pada sang sepupu berengseknya itu?


“Kenapa, Mas?” Ghea terkekeh pelan melihat wajah memberengut itu. Dialihkan Ghea wajah serta tatapan penuhnya pada sang bayi kemudian.


“Adi,” jawab Gery memberitahukan sembari tangan membuka aplikasi chat di hand phone. Seketika, wajah memberengut itu berubah mengeras. Demi apa, kedua rahang Gery ikut pula mengetat.


.


.


TO BE CONTINUED ...


Note Seizy :


Masih ada satu bab lagi menuju ending ya guys.. So, aku mau di bab ini likenya banyakin. wkwk dan pada keluarkan komentar terbaiknya. Maaf pula jika masih ada banyak kesalahan di tulisan.


Yukkkk menuju ending, komentarnya yang lucuuuu. Gaskeun atuh akak ihhh


Jangan lupa Fallow Ig penulis ya. @seizyll_koerniawan buat tahu infoh cerita yang lain. dan siapa tahu dapat infoh cerita baru di sana. Love you...