Married With Teacher

Married With Teacher
Tiga Cowok Berbeda Karakter


Obrolan-obrolan tiga cowok dengan beda karakter yang sudah sangat mapan itu berhenti saat pintu kamar ruang kerja Ilham terbuka dari dalam. Ghea keluar dari sana. Menguap, mengucek kedua matanya. Rambut sedikit berantakan namun masih terlihat sangat cantik di mata Pak Gery.


Awalnya Ghea bingung saat ia terbangun dari tidurnya. Ia sadar jika itu bukan kamarnya lalu beranjak untuk mencari tahu dimana ia sekarang berada.


“Udah bangun?” Pertanyaan pertama Pak Gery sambil menghampiri saat melihat Ghea yang seperti kebingungan. Kemudian bibirnya mendarat di kening Ghea dengan sangat lembut. Membuat Ghea risih dan kedua cowok yang sedang duduk di sofa hanya tersenyum tanpa arti saja.


“Dimana, sih, ini?” Mengedarkan pandangannya pada setiap penjuru ruangan yang begitu asing di matanya. Sejurus kemudian melihat dua orang cowok yang sedang duduk di sofa. Ghea mengenali satu cowok itu. Yang tak lain Adi. Namun, keningnya mengerut saat pandangannya melihat cowok asing yang duduk di samping Adi.


“Hai, Ghe? Dah bangun, ya?” itu Adi yang bertanya. Ghea mengangguk sebagai bentuk jawaban. Pandangannya masih mengarah pada Ilham yang kini menampilkan senyum manis padanya.


“Hai?” Say halo Ilham pada Ghea sambil melambaikan tangannya.


Ghea tersenyum canggung pada Ilham sembari kepala yang mengangguk pelan.


Ngomong-ngomong soal Ilham. Dia adalah sahabat baik Pak Gery selain Adi - sang sepupu tentunya. Ghea tidak mengenalnya, tentu saja, karena saat mereka menikah, Ilham yang kebetulan sedang berada di luar negeri. Ini adalah pertemuan pertama Ilham dan Ghea.


“Dia Ilham,” gumam Pak Gery yang melihat kerutan di kening Ghea. Bagai tahu isi dari kepala cewek itu. Jika Ghea benar ingin bertanya 'siapa dia' namun Pak Gery lebih dulu mengatakannya.


“Ohh …” Ghea menaik turunkan kepalanya. “Hai,” jawabnya dengan kembali menyapa. Tak lupa senyum khas selalu terpancar dari bibir indah merah alaminya. “Betewe kita dimana, Mas?” Lalu atensi Ghea beralih pada sang suami yang refleks wajah Pak Gery menoleh padanya.


“Butik gue, Ghe. Gimana? Keren gak?” Mengapa malah Ilham yang menjawab? Lalu satu pukulan di belakang kepala Ilham Adi layangkan. “Nyaut aja lo, Hamid!”


“Sirik aja perasaan lo sama gue? Dengki banget, sumpah.”


“Dihhh … gue kagak dengki, ya, sama orang kek lo.”


Ghea terkekeh melihat perdebatan Adi dan Ilham yang menurutnya sangatlah lucu. Sedangkan Pak Gery merotasikan kedua bola matanya. Lalu Pak Gery melemparkan sebuah pulpen pada kedua cowok itu setelah sebelumnya Pak Gery ambil benda panjang itu dari atas meja kerja Ilham. Hingga membuat kedua cowok yang sedang beradu argumen itu berdecak menoleh ke arah Pak Gery.


“Berisik lo berdua. Mending lo keluar deh dari sini! Beli makanan atau minuman atau apa kek buat gue sama Ghea!” Lelah mendengar perdebatan yang tidak jelas apa yang kedua cowok itu perdebatkan, lantas Pak Gery menyuruh mereka untuk keluar. Lupa ternyata suami Ghea ini jika dirinya sekarang ini sedang berada dimana.


“Elah … ngomong seenak jidat aja lo, Ger. Pake nyuruh-nyuruh gue segala. Lupa, sekarang lo sedang berada di daerah kekuasaan siapa?” Tantang Ilham berdiri, melipat kedua tangannya didepan dada.


Ck. Pake bawa-bawa daerah kekuasaan segala lagi. Lupa aja Ilham itu jika Pak Gery pun menanam saham di butik Casmira miliknya. Menyebalkan!


Pak Gery memutar bola matanya. “Lupa, kalau gue tamu di sini? Gue mau beli baju-baju lo padahal. Ingat ya, tamu dan pembeli itu adalah raja. Yang seharusnya lo layani raja dan ratu lo ini!”


“Ada ya, raja songong kayak lo.” Ilham rupanya tak ingin kalah. “Ghe, lo kok bisa mau, sih, dikawini sama cowok kayak dia?” tanya Ilham pada Ghea.


“Bisa lah. Kalau cinta tuh gak pandang bulu, Mas.”


Ilham pikir, Ghea tidak akan menjawab. Ilham pikir Ghea akan diam saja dibecandain seperti itu. “Hahaha ternyata lo asyik juga, ya. Gak kayak suami lo yang tembok gitu.” cibir Ilham terkekeh.


“Walau tembok juga banyak yang naksir dia tuh, Mas,” kelakar Ghea menaik turunkan kedua alisnya seraya bibir mencebik lucu. Menggoda Pak Gery yang tidak menggubris. Diam dengan wajah tanpa ekspresi.


sejujurnya diam Pak Gery bukan tidak ingin ikut bercanda dengan Ghea atau Adi dan Ilham. Kepala Pak Gery hanya sedang dirundung kebimbangan. Rencana party yang akan dilangsungkan nanti malam bersama teman-temannya takut gagal untuk memancing ‘dia’ agar keluar dan menampakkan diri di depannya.


“Betewe, Mas, Chacha kemana?” tanya Ghea yang sesaat melupakan bodyguardnya itu.


“Chacha siapa?” Belum juga Pak Gery menjawab pertanyaan Ghea. Ilham sudah menimpali.


Pak Gery berdecak. “Aku suruh dia nunggu di depan.” Lebih memilih menjawab pertanyaan sang istri daripada menjawab pertanyaan Ilham. Dan itu membuat Ilham berdecak keras. “Dasar bucinnnnn!” Lalu Ilham keluar mengajak Adi untuk membeli cemilan dan minuman. Membiarkan sepasang suami istri itu untuk berduaan saja di dalam ruangan.


Setelah kepergian kedua cowok itu Pak Gery mendudukan bokongnya di sofa panjang dengan santai. Ghea menghela nafas sebelum ia protes pada sang suami yang tidak membangunkannya tadi. Pun Ghea yang tidak tahu jika ia tidur sudah berapa lama di dalam kamar Ilham.


“Mas, kamu kok gak bangunin aku, sih?” kesal Ghea ikut mendaratkan bokongnya di samping sang suami. “Malu tahu ihh tidur di ruangan orang.” Gerutu Ghea bersama wajahnya yang memberengut masam.


Pak Gery menoleh, menatap Ghea dari samping. Kemudian sudut bibirnya tidak bisa jika tidak untuk ia tarik. Hati dan Feeling Pak Gery kembali berdesir. Semua rasa takut dan segala macam rasa di dalam hatinya kembali mencuat.


Takut jika yang ia lakukan tidak akan berhasil. Takut jika semua yang ia lakukan hanya akan sia-sia dan justru akan membuat Ghea celaka. Semua ketakutan Pak Gery hanya ia berikan untuk Ghea seorang. Sebelumnya ia tidak pernah takut untuk menghadapi hal apapun. Hidup sendiri di luar negeri tanpa keluarga sudah ia jalani. Menghadapi kerasnya dalam dunia bisnis, menghadapi semua pesaing-pesaing yang bisa saja mereka menjadikan musuh jika mereka kalah memenangkan tender. Namun, kali ini berbeda. Ini seperti tantangan baru dalam hidupnya. Tantangan yang bisa saja berakhir patal untuk Pak Gery atau pun Ghea.


“Ih, Mas … kenapa ngeliatin aku kaya gitu, sih?” Ghea menyimpan telapak tangan di pipi Pak Gery hanya untuk memalingkan wajah suaminya yang menatap Ghea dengan tatapan yang tidak terbaca.


Pak Gery terkekeh meraih tangan Ghea yang masih menempel pada pipinya lalu membawa tangan itu ke dalam dekapannya setelah sebelumnya ia kecup punggung tangan sang istri.


“Kamu kenapa, Mas?” tiba-tiba saja pertanyaan random Ghea membuat leher Pak Gery seakan tercekat. Dipikirnya, Ghea dapat membaca situasi dari raut wajahnya. Namun, tidak. Bukan itu. Ghea hanya ingin menggoda suaminya saja. Lalu Pak Gery hanya mampu menggeleng. Ia berikan lagi senyum tulus pada Ghea.


“Betewe, Mas, kamu ngapain ngajakin aku ke butik mahal ini? Itu tadi Mas Ilham itu, benar pemilik butiknya?” tanya Ghea. pak Gery mengangguk. “Iya.”


“Ohhh …”


Kemudian untuk beberapa saat hening mengambil alih suasana di ruangan itu, bersama tangan Pak Gery yang tidak melepaskan genggaman tangan Ghea.


“Ghe, nanti malam Ilham mau ngadain party kecil-kecilan gitu sama teman-teman aku yang lain. Kamu ikut, ya!” Dusta pak Gery. Yang nyatanya bukan Ilham yang mengadakan party itu. Namun, ini adalah inisiatif dirinya untuk melancarkan semuanya. Menyelesaikan segala teror yang tidak akan ia biarkan terjadi untuk yang kedua kalinya.


Ghea diam sebentar. Ingin menolak. Karena ia juga punya rencana dengan Chacha. Rencana untuk mengetahui rahasia apa yang disembunyikan Pak Gery darinya. Tapi sepertinya ini adalah waktu yang tepat dan sangat kebetulan sekali. Selain berparty, pun Ghea bisa mencari tahu bersama dengan Chacha. Ya, benar. ini adalah kesempatannya.


“Oke. Tapi aku mau Chacha ikut, ya, Mas!” pinta Ghea pada Pak Gery dengan wajah memelas.


“Tentu saja. Chacha harus jadi orang yang selalu ada di belakang kamu.”


**


Di sisi lain.


Adi dan Ilham baru saja kembali dari minimarket yang ada di seberang jalan. Sekantong kresek putih dibawa oleh Adi. Beberapa cemilan dan minuman kaleng mengisi kantong kresek putih itu. Keduanya berjalan memasuki gedung butik. Sesekali keduanya berbincang tidak penting. Bercanda dan terkadang nama Pak Gery mereka selipkan di dalam obrolan hanya untuk sebagai cibiran saja.


Saat Adi dan Ilham sampai di depan pintu masuk, Chacha datang dari arah kanan. Entahlah cewek itu sudah dari mana. Karena pas Adi dan Ilham keluar untuk ke minimarket Chacha tidak berada di sana. Lalu Chacha menyapa Adi karena sebelumnya mereka bertemu sebelum Chacha datang ke rumah Pak Gery.


“Pak Adi,” sapa Chacha menganggukan kepalanya sopan.


“Hei, Cha? Lo dari mana?” Pun Adi menjawab dengan bertanya. Sedang Ilham yang berdiri di samping Adi hanya menatap pada Chacha dan penampilan cewek itu. Di mata Ilham, Chacha begitu sangat berbeda dari cewek-cewek yang lain.


“Habis cari toilet, Pak.”


“Oh …” gumam Adi sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya. Kemudian wajahnya tanpa sengaja menoleh pada Ilham dan malah mendapati cowok itu yang tengah menatap Chacha tanpa berkedip.


“woyy, iler lo keluar tuh!” Adi menyenggol tangan Ilham. Menyadarkan cowok itu dari lamunannya.


“Ck, paan dah? Rese bet sumpah.” decak Ilham yang merasa terganggu. Lalu sedetik kemudian mengusap belakang kepalanya salah tingkah.


Adi hanya terkekeh bersama bibir bawahnya yang maju. Mencibir sang direktur butik Casmira itu. Lalu tanpa diduga Ilham mendekatkan wajahnya pada Adi. “Siapa, Bro? Kenalin ke gue napa!” Bisiknya yang mendapat kekehan kecil dari Adi.


“Ketahuan banaget lo jomblonya, Man.” Adi mengucapkan kalimat itu dengan keras hingga membuat wajah Ilham memerah. Malu. Pasalnya interaksi kedua cowok tidak luput dari pengamatan Chacha.


“Bodo lah. Pakta gue emang kek gitu. Harus mengakui kan? Daripada lo udah punya Indah masih kicep sama cewek lain. Untung aja gue kagak kasih tahu si Gery dan Indah. Kalau si muka triplek itu tahu, beuh … bisa mampuus kan lo.” Ilham masih dengan nada berbisik.


“Sialan lo.” Adi menyerah. “Eh, betewe, Cha, kenalin, ini Hamid temen gue sama Gery juga."


Chacha hanya tersenyum.


“Sialan emang lo, main ganti nama orang aja. Gak, bukan. Nama gue bukan Hamid. Gue Ilham. Tau nih, si Adi demen banget panggil gue pake nama kek gituan. Udah bagus juga nama Ilham, pake diganti segala. Kagak ngehargain orang tua gue banget yang udah kasih nama sebagus itu sama gue,” kelakar Ilham sambil mengulurkan tangan kanannya untuk berkenalan dengan Chacha. Gak lupa juga senyumnya tersungging dengan sangat manis. Semanis permen.


Dasar. Cowok itu memanglah sesuatu. Demen banget nyerocos.


Chacha tersenyum simpul. Menerima uluran tangan Ilham seraya berujar, "Chacha."


TBC


Maaf ya kalau ini kurang ngefeel. Gaje atau apalah apalah gitu. Tapi jangan ditulis di komentar ya. Karena aku baperan. Ahahahah (just kidding)


Seizy


Si penulis amatiran yang lagi nungguin sedekah susu


...follow Ig aku @seizy_koerniawan...