Married With Teacher

Married With Teacher
Genting Banget


Karena tidak mendapat jawaban dari dalam sana, Pak Gery segera mencari kunci cadangan di dalam laci bufet yang terletak di sudut sebelah kiri lantai atas.


Membuka laci tersebut, tangan kekar dengan urat-uratnya yang terlihat menonjol meraih beberapa kunci yang berada dalam satu. Itu semua adalah kunci cadangan setiap ruangan yang ada di dalam rumah itu.


Pak Gery menilik-nilik beberapa kunci yang sekarang ada di depan matanya. Kemudian setelah ia mendapatkan kunci yang dilihatnya cocok, ia segera memasukan ke lubangnya. Dan suara kunci terbuka pun membuat perasaan Pak Gery sedikit melega. Ia embuskan nafas panjang lewat mulut bersama bahunya juga yang ikut turun.


Pak Gery memutar handle, lalu mendorong daun pintu berbahan jati dengan ukiran minimalis di sana.


Hal pertama yang Pak Gery lihat saat tubuh itu masuk ke dalam kamarnya, ia melihat tubuh Ghea yang bergetar ketakutan. Ia duduk meringkuk. Kedua kakinya ditekuk bersama wajahnya yang menunduk. Keningnya sampai menyentuh kedua lutut itu. Juga kedua tangannya menutup kedua telinga. Seolah Ghea tidak ingin mendengar suara apa pun. Karena saat suara pecahan kaca dan bel yang berbunyi membuat dirinya takut.


Apa mungkin Ghea trauma hanya karena suara itu?


Pak Gery dengan cepat menghampiri Ghea seraya memanggil namanya. “Ghe! Hey, ini aku udah pulang,” katanya pelan seraya mendaratkan tangannya pada bahu Ghea.


Ghea refleks mendongak saat merasakan sentuhan di bahunya. Ia melihat tubuh suaminya yang menjulang. Pak Gery terbitkan senyum menenangkan pada Ghea. “Mas?” Ghea segera melingkarkan kedua tangannya pada perut Pak Gery dengan lingkaran sempurna. Juga pipinya yang ia tempelkan pada perut sixpack Pak Gery, “Aku takut, Mas. Kamu lama banget kembalinya, sih?” ungkap Ghea masih dengan sisa isak tangisnya.


Pak Gery mengusap belakang Ghea sebelum ia labuhkan kecupan lama di puncak kepalanya. “Maaf,” ucap Pak Gery sesaat setelah melepas kecupan itu.


Pak Gery tidak ingin bertanya pada Ghea ‘kenapa’ karena tanpa bertanya pun Pak Gery sudah tahu saat melihat kotak hitam dengan boneka beruang berdarah di depan rumahnya. Namun, Pak Gery belum mengecek keseluruhannya, hingga dia belum tahu jika kaca rumah di halaman belakang telah pecah.


“Mas, aku …, aku, itu,” suara Ghea seakan tercekat. Ia seolah tidak dapat berkata apa pun pada Pak Gery saat ini. Ia hanya mendongak menatap wajah Pak Gery bersama lelehan air mata yang menganak sungai di pipi mulusnya.


Dari atas Pak Gery dapat melihat wajah Ghea yang merah, hidung kembang kempis dan matanya yang sembab. Mungkin Ghea sudah terlalu lama menangis. “Ssstttt. Kamu gak usah jelasin apa-apa dulu sama aku! Gak usah ngomong apa-apa dulu! Tenang dulu, oke!” Karena Pak Gery tahu itu perbuatan biadab siapa. Lalu ia arahkan jari telunjuknya untuk menghapus sisa air mata di tulang pipi Ghea. Menangkup kedua sisi wajahnya, Pak Gery berikan Ghea kecupan di keningnya dengan lembut.


Mata Ghea terpejam bersama dadanya yang bergetar. Ia rasakan ketulusan dari kecupan sang suami.


“Tapi kamunya gak papa kan? Gak ada yang luka atau apa gitu?” tanya Pak Gery sembari melihat tangan Ghea, lalu bahu, punggung dan seluruh tubuhnya tak lepas dari sesi ceki-ceki Pak Gery.


Ghea meraih tangan Pak Gery lalu menggenggam tangan itu. “Aku gak papa, Mas. Aku cuma takut aja. Tadi …”


“Sssttt. Udah, ya. Aku cuma takut kamu kenapa-napa aja kok. Khawatir aku, tuh, sama kamu, Ghe. Pas tadi aku lihat handphone banyak banget miskolan dari kamu gak aku jawab. Itu aku lagi beli bakso buat kamu. Maaf, ya, kamu lama nunggunya. Itu si abangnya tadi banyak yang beli,” jelas Pak Gery yang intinya ingin menenangkan Ghea, agar istrinya itu tidak mengingat kejadian barusan.


Ngomong-ngomong soal bakso, tadi Pak Gery menyimpan baksonya dimana, ya? Kok ia jadi lupa?


“Oh, ya, dari tadi kamu belum makan pasti kan? Ya udah aku ambil baksonya dulu, ya! Kamu di sini aja, biar aku yang bawa baksonya ke sini,” kata PAk Gery walau sebenarnya ia lupa menyimpan baksonya itu dimana. Antara masih di mobil atau di meja sofa ruang tengah.


“Jangan lama-lama, Mas!” Karena perut Ghea sudah merasa lapar pake banget. Mana tadi dia capek udah nangis kejer.


“Iya.” Pak Gery mengangguk bersama tangan kanan yang mengusap belakang kepalanya. Dia tuh lagi mikir, lagi bertanya-tanya. Dimana baksonya?


Begitu Pak Gery sudah berada di lantai bawah, ia bukannya mencari bakso, justru merogoh handphonenya lalu mendial nomor sang sepupu.


**


Di tempat lain, Adi yang sedang bersama Indah pun berdecak kesal saat benda pipih miliknya bergetar di atas meja.


Indah yang sedang bergelayutan pada tangan Adi, menegakkan punggungnya, melihat gawai Adi dengan layarnya yang kerlap-kerlip dan tertera nama Gery is calling di layar itu.


“Di, Gery.” Beritahu Indah karena Adi yang tidak menggubris dan malah asik bermain game di handphonenya yang lain.


“Kenapa lagi, sih, Ger? Demen banget lo gangguin gue? Lagi nanggung pelepasan, nih, gue.” celetuk Adi terkekeh yang spontan tangan Indah memukul bahu sang kekasih.


“Kamu, tuh, kebiasaan deh kalau ngomong. Jaga dong omongannya, Di!” Adalah Indah yang tidak terlalu suka pada kata-kata Adi yang selalu nyeleneh itu. Namun Adi hanya terkekeh lagi mendapat omelan dari Indah. Katakan saja Adi sudah terbiasa mendengar omelan dari sang pacar. Atau bahkan Adi mungkin sudah sangat hafal dengan kata-kata omelannya Indah.


Adi tidak tahu saja jika di seberang sana Pak Gery tengah kalut. Bagai sedang menyetrika baju, Pak Gery terus mondar-mandir tidak karuan. Sesekali juga Pak Gery meremass rambunya kasar.


“Di, pokoknya, nih, ya, sekarang lo harus cari bodyguard buat Ghea! Cewek, ya, Di! Besok harus udah kerja pokoknya! Gue gak mau ambil resiko apa pun, Di. Pokoknya besok harus udah ada di rumah gue! Kalau gak, lo tahu kan konsekuensinya? Lo bakal kehilangan jabatan lo. ya. Di!”


Sumpah, Pak Gery jika sudah menginginkan sesuatu harus segera dituruti. Seakan yang ada dipikirannya itu mudah. Bagai membalikan telapak tangan mungkin saking mudahnya. Contohnya saat ingin menikahi Ghea saja, harus sekarang juga. Oh astaga.


“Canda kali lo, Ger? Ah elu mah suka gitu kalau nyuruh gue. Harus pake kudu elu mah. Besok aja, deh, Ger gue carinya. Besok sore udah ada di rumah elu deh. Janji gue. Ya?”


“Gak bisa, Di. Lo pokoknya carinya sekarang! Gak bisa besok apalagi kalau datangnya besok sore. Gak mau gue, Di,” kukuh Pak Gery seraya melangkah ke arah luar, mencari bakso di dalam mobil karena di atas meja sofa ruang tengah tidak ada. “Ini darurat banget, Di, Pokoknya wajib, nih, gak boleh gak!” Lalu tangan Pak Gery menekan kunci mobil. Dan suara bip bip pun terdengar dari alarm mobil Pak Gery. Pertanda jika kuncinya sudah terbuka.


“Ya Allah, Ger, sewajib apa, sih? Yang wajib banget itu shalat lima waktu, Ger! Bukan mencari bodyguard!” Adi semakin frustasi menoleh pada Indah seolah ia ingin berbagi keluh kesahnya pada sang pacar. Indah hanya mencebikkan bibirnya. Meledek Adi.


“Iya, gue tahu juga kali yang itu mah. Udah, deh, pokoknya ini genting banget. Nanti gue ceritanya, ya. Pokoknya tugas lo sekarang cari bodyguard buat Ghea! Cewek, ya, Di. Awas aja kalau cowok. gue pecat lo, ya!” ancam Pak Gery yang hanya ditanggapi kekehan kecil di ujung sana oleh Adi. “Udah gue tutup dulu.”


Lalu Pak Gery menutup panggilan sambungan selulernya secara sepihak. Membuka pintu mobil, dan benar saja. Baksonya yang terbungkus lagi plastik hitam tergeletak di atas jok mobil sebelah kursi kemudi. Pak Gery mencondongkan tubuhnya untuk mengambil itu. Kemudian kembali menegakkan punggungnya saat bungkusan bakso itu sudah ada di tangannya, Pak Gery kembali menutup pintu mobilnya lagi.


TING!


Saat kakinya akan melangkah, satu pesan masuk.


Pak Gery membuka chat yang masuk ke dalam aplikasi chatnya. Mengernyitkan keningnya saat membaca pesan itu.


“Berengsekkk. sialan!” umpat Pak Gery sembari menendang ban mobil yang tidak bersalah


+6285778899xxx


Uuunnyyyhhhh … yang segitu khawatirnya sama istri tercinta. Apa teror aja gak cukup, ya, buat kamu nyerah?


TBC


Guys sehat-sehat ya kalean. Maafkeun aku telat pake banget up-nya. Aku abis beresin dulu cerita aku yang satu. wkwkwk.


Btw doakan aku aja ya semoga aku sehat. Dan terus bisa menghibur akak akak semua. wkwkw


Jangan lupa tambahkan favorite ya kak, jika suka ceritanya biar langsung dapat notif jika ada update terbaru!


Jangan lupa vote dan kasih dukungan cerita ini biar aku tambah semangat berkaryanya.


salam silaturahmi dari aku


Seizy.