
Pagi itu sebelum berangkat ke sekolah Reza pergi ke rumah Ghea lebih dulu. Pagi ini ia harus bisa mengungkapkan isi hatinya pada Ghea. Perasaannya yang terus mengganjal membuat cowok itu tidak bisa tidur semalaman.
Dan di sinilah Reza sekarang. Di depan dua daun pintu rumah berbahan kayu jati dengan ukiran indah di sana.
Reza mengepalkan tangannya untuk mengetuk. Namun belum juga kepalan itu sampai mengetuk daun pintu, dari dalam sana pintu sudah terbuka dan menampilkan sosok cantik dengan balutan seragam sekolah di depannya.
Reza nyengir. "Pagi," sapanya pada sang pemilik rumah. Sedikit kaku.
"Kamu?"
Dan entah kenapa ada rasa geleyeran aneh pada pendengaran Reza saat Ghea menyapanya dengan sapaan 'kamu'.
"Eh, maksud gue, lo ngapain pagi-pagi ke sini?" Ralat Ghea seraya maju beberapa langkah untuk keluar dari rumah. Lalu keduanya berdiri jauh dari depan pintu.
"Jemput lo," ujar Reza bersama cengiran kakunya. Karena selain ingin menjemput. Pun Reza ingin bicara serius pada cewek itu. Ia tidak ingin menundanya lagi.
"Hahaha ... tumben amat lo mau jemput gue? Biasanya juga kalau gue lagi nunggu bus, lo sengaja ninggalin gue." Ghea nampak memicingkan matanya curiga. "Wo wo woooo jangan-jangan ... lo." Lalu wajahnya maju untuk menilik sesuatu dari ekspresi Reza.
Auto wajah Reza mundur. "Ja-jangan-jangan apa maksud lo?"
"Ck, lo pasti ada maunya kan, jemput gue? Ngaku lo?" hardik cewek itu melipat kedua tangan di depan dada.
"Eng-nggak. Nggak ada maunya gue, sumpah!" Mau gue cuma lo nerima perasaan gue, Ghe. Tapi kayanya itu mustahil. Tambah Reza dalam hati.
"Boong banget lo. Kok gue gak percaya, ya, lo cuma mau jemput gue?"
Reza diam. Mungkin ini saat yang tepat untuk ia utarakan. "Iya. benar," ucap Reza mulai serius.
"Nah, kan benar. Udah to the point aja. Gue ada piket, nih, takut kena hukum Pak Ghani nantinya!" Karena semenjak ada Pak Gery, Ghea selalu tepat waktu tiba di sekolah. Dan ia juga sudah tidak sering dihukum seperti dulu lagi. Ternyata tanpa sadar, Pak Gery juga membawa dampak positip pada cewek selebor itu. Sedikit demi sedikit Ghea bisa merubah sikapnya tidak seselebor dulu.
Sebelumnya Reza menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia hembuskan dengan kasar. Ia merogoh handphone yang tersimpan di saku jaket. Membuka aplikasi galeri dan langsung menunjukan satu foto pada Ghea tanpa ba bi bu lagi.
Auto membuat Ghea membelalak mata kaget. Ia rampas handphone Reza. Menilik foto itu dengan mata yang membola. "Lo dapat foto ini dari mana?" suara Ghea meninggi.
"Kita gak usah bahas foto itu dulu, Ghe. Yang mau gue tahu dari lo ..., lo ada hubungan sama Pak Gery?" tanya Reza serius. Tak lupa ia juga menyiapkan hati dari semua yang akan Ghea ucapkan sebagai jawaban untuknya. "Ghe? Lo ada hubungan sama Pak Gery?" ulangnya sekali lagi. Lalu tangan kekar itu tergerak untuk meraih satu tangan Ghea yang terlipat. Sehingga kedua tangan itu mengurai dari lipatannya. Dan betapa sangat sesaknya dada Reza ketika melihat jari manis Ghea sudah tersemat cincin - yang ia lihat di perhiasan toko beberapa hari yang lalu. "Ini," ucap Reza.
Ghea melihat ke arah tangannya yang sedang dipegang Reza. Lalu matanya melihat pada cincin pertunangan itu dan beralih pada wajah Reza bergantian. Auto melepaskan genggaman tangannya dari Reza. Namun cowok itu menahannya dan tidak melepaskan tangan Ghea.
"Lepas, Za!" Karena Ghea merasa risih.
"Gak, Ghe! Lo harus jawab dulu pertanyaan gue! Kalau emang lo ada hubungan sama Pak Gery, oke, fine. Gue gak papa. Gue akan ngerelain perasaan gue asal lo bahagia." Jujur namun sangat menyakitkan. "Gue udah suka lama sama lo. Gue udah sayang lama sama lo. Dan gue." Ada jeda dari ucapan cowok itu. Menahan nafas sesaknya untuk beberapa saat. "Gue udah cinta lama sama lo. Dan jujur, gue gak rela kalau lo sama Pak Gery. Tapi, jika emang lo bisa bahagia sama Pak Gery. Gue bakal berusaha lepasin lo, Ghe." Lanjut Reza kemudian. Sorot matanya yang teduh membuat perasaan Ghea menjadi tidak enak.
Pasalnya Reza dan Ghea sudah berteman lama. Dan Ghea tidak menyangka saja jika Reza akan jujur padanya. "Za." Lirih Ghea berucap. Ada kilat rasa bersalah di sorot mata indah itu.
"Gue gak minta lo untuk jadi pacar gue kok, Ghe. Gue cuma mau ungkapin aja rasa ini sama lo. Karena jujur, merasakan perasaan ini sendiri, tuh, menyakitkan."
Ya, tentu saja. Berapa lama, sih, Reza memendam cinta itu sendiri untuk Ghea?
"Za, gue ..."
Entahlah, apa yang harus Ghea jawab. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain, "maaf," sahut Ghea menatap mata Reza penuh sesal.
"Gak. Lo gak perlu minta maaf sama gue. Lo gak ada salah kok. Tapi kita masih bisa berteman kan? Gue gak mau setelah lo tahu perasaan gue sama lo, lo jadi benci gue dan gak mau berteman lagi sama gue, Ghe."
"Lo ngomong apa, sih, Za." Ia pukul pelan dada Reza sebagai bentuk jika Ghea tidak mungkin menjauhi Reza hanya karena cowok itu mengungkapkan isi hatinya. Apalagi mereka berdua sudah berteman sejak zaman SD dulu.
"Masih temenan kan kita, Ghe?" tanya Reza dengan senyum rikuhnya. Walau sakit, merelakan orang yang kita sayang adalah hal yang tepat. Karena bahagia bukan hanya memilikinya saja. Namun merelakannya juga. Asal dia bahagia walau bukan sama Reza, cowok itu rela.
"Iyalah. Lo itu temen dunia akhirat gue, Za." Lalu keduanya tertawa. Reza masih dengan menggenggam tangan Ghea. "Jadi benar, lo sama Pak Gery?" Mata Reza menunduk. Melirik cincin Ghea tanda ia bertanya. Apa hubungan itu sudah seserius yang Reza pikirkan?
"Lo jangan bilang sama siapa-siapa, ya! Jangan jadi ember bocor lo. Gue takut doi marah. Karena doi gak mau orang lain tahu."
"Loh kenapa?"
"Eum ... gak tahu pasti, sih, gue." Ghea menjawab bersama kedua bola mata yang berputar. Gak mungkin kan Ghea mengutarakan semuanya pada Reza? Apalagi jika Reza tahu kalau ada tiga poin yang membuat Ghea harus menutupi hubungannya.
"Tapi--" Apa gue harus jujur sama Ghea kalau Yura juga sebenarnya tahu foto itu. Dan- ah, tapi kayanya gak usah, deh. Lagi pula Yura udah janji kan gak akan bahas foto itu lagi.
"Gak papa. Ya udah berangkat yuk. Katanya tadi lo ada piket?"
"Eh, bentar-bentar!" Ghea menahan langkah Reza. Lalu cowok itu berbalik lagi setelah tadi melangkah ke arah motornya. "Napa lagi?"
"Handphone lo," ujar Ghea menunjukan handphone Reza yang masih ada di tangannya.
Ternyata Reza adalah sosok cowok yang pelupa.
"Sini!" Pun Reza mengulurkan telapak tangan.
"Jawab gue dulu. Dari mana lo dapat foto ini?" sergah Ghea dengan horor sambil jempolnya menekan tombol delete. Lalu seketika foto itu terhapus dari aplikasi galeri.
"Eum ... anu, itu gue-" Reza mendadak blingsatan. Jujur aja kali, ya, kalau gue yang ambil foto itu?
"Lo mergokin gue sama Pak Gery, ya?" tebak Ghea dan itu benar.
Bukannya menjawab, Reza justru cengengesan memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.
Ketengilan cowok itu masih saja sama. Tidak berubah.
"Wah wah ... parah lo. Jadi lo nguntitin gue sama Pak Gery?"
"Sorry!" cicit Reza bersama wajah tengilnya.
"Dasar lo. Awas tapi, ya, kalau sampai anak-anak di sekolah tahu! Kalau anak-anak pada tahu, nih, ya orang pertama yang gue cari adalah lo!" Ancam Ghea memelototkan kedua mata bersama jari telunjuk yang mengancam wajah Reza.
"Iya. Janji, gue. Tapi, lo bahagia kan, Ghe?" Reza tiba-tiba bertanya demikian.
"Za, kalau boleh jujur, dari pertama kali gue ketemu Pak Gery, jantung gue udah kecantol sama dia." Akunya dengan malu-malu. "Hati gue, tuh, udah kaya lama banget kenal sama dia." Jujurnya pada Reza.
Walau sakit, tapi Reza berusaha untuk tetap merelakan. "Cie ... kenapa lo gak jujur, sih, dari awal ke gue kalau lo udah kesem-sem sama Pak Gery. Kalau gue tahu, nih, dari dulu. Gak mungkin kali gue terus memendam cinta sama lo dalam hati. Gue mungkin bakal cari cewek lain, yang lebih aduhai dari lo." Canda Reza sambil mencolek dagu Ghea.
"Lo gak usah cari yang lain. Sebenarnya, ada kok cewek yang mau sama lo."
"Siapa emang? Ocy?"
"Lah, kok lo tahu?"
"Tahu lah. Kan gue cenayang."
"Terus kenapa lo gak coba jalin hubungan aja sama Ocy?"
"Lah, kan lo tahu gue sukanya sama lo." Reza menjeda. "Tapi itu sebelum gue tahu milik orang lain. Setelah ini, gue bakal coba deket sama Ocy," ungkap Reza.
Oke. Ini saatnya untuk move on. Lupakan rasa masa lalu. Dan Reza akan mulai melihat perasaan orang lain di sana yang diberikan untuknya.
"Good. Pokoknya lo juga harus bahagia, Za, walau bukan sama gue." Lalu Ghea menepuk bahu Reza. "Ternyata gue semenarik itu, ya, sampai lo aja demen sama gue." Ghea terkekeh. Tapi kenapa tidak dengan Pak Gery? gumamnya dalam hati - yang masih Ghea tahu Pak Gery tidak suka padanya.
Lantas setelah itu keduanya pergi ke sekolah bersama.
Dan tanpa Ghea maupun Reza lihat. Dari sana, dari luar gerbang rumah Ghea. Seseorang dengan wajah merah padam. Mata memancarkan amarah besar. Rahang mengetat bersama kedua tangan yang mencengkram bundaran setir dengan kuat. Melihat intraksi antara Reza dan Ghea. Dari Reza menggenggam tangan Ghea. Lalu keduanya tertawa dan Ghea yang memukul pelan dada Reza pelan. Itu sangat terlihat manis di mata seseorang itu.
Intraksi Ghea dan Reza bagaikan dua sijoli yang lagi dimabuk cinta.
Sampai pada Ghea yang naik ke atas motor Reza. Kemudian Reza mengendarai motor itu melewati mobil yang menepi di sana.
"Berengsekkkkk!" umpat orang di dalam mobil itu dengan kasar. Memukul bundaran setir hingga kepalan tangan itu terasa ngilu.
Pak Gery menggeram marah. "Pa, malam ini juga aku mau nikahin Ghea!" Lalu berbicara dengan sang Papa lewat telepon.
TBC
Pak Ger segampang itukah lo nikahin anak orang? Hey musti urus-urus surat ke KUA dulu kali Pak Ger. Oh ya ampun.. gak sabaran MP kali lo ya? wkakakaa
Di bab 40 siap siap digendol suaminya, ya. Mau bikin part yang sesuatu hahahaha