
Tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan Gery. Dia tidak sanggup melihat sang wanita terbaring di ranjang rumah sakit dengan berbagai selang terpasang di antara tubuh. Cowok itu meneteskan air mata. Kedua tangannya tergantung di samping tubuh, ia buru-buru menghapus air bening itu di pipi.
Tirai berwarna hijau dibuka lebih lebar lagi. Dokter Gita keluar dari sana, menghampiri Gery kemudian. Sembari dibuka kaos tangan karet oleh tangannya yang lain. Dan dada Gery semakin bergemuruh hebat. Sesak dan sakit dalam waktu bersamaan.
Ketika mata yang sudah memerah itu menangkap wanitanya diam dalam lemah. "Ibu, tetap fokus sama suara saya, ya, Bu!" Samar-samar pula Gery mendengar suster di samping Ghea terus mengajaknya bicara. Berusaha agar Ghea tetap merespon dengan baik.
Gery menggigit bibir dalam. Menahan agar isakan tidak keluar lalu terdengar oleh wanitanya itu.
Dokter Gita menatap wajah rapuh cowok itu. Lalu menghela sebelum mengatakan hal yang seharusnya dokter katakan.
"Pak Gery," tegur dokter Gita. Gery mengalihkan atensi kemudian. Cowok itu bergumam dalam hela nafas yang sesak.
"Saya harus bicara pribadi dengan anda," katanya dengan wajah dan tatapan serius.
"Di sini aja bisa, Dok?" Berharap sang dokter menjawab 'ya' atau setidaknya mengizinkan Gery tetap tinggal di sana untuk mengawasi Ghea dengan tatapan.
Terlihat Dokter Gita yang berfikir sebelum kemudian menganggukkan kepala. Namun, mengajak Gery bicara menjauh dari ranjang Ghea. Menuju dinding pojok sebelah kanan.
Jantung Gery berdetak begitu kencang. Was-was menunggu Dokter Gita mengatakan sesuatu padanya.
"Sebelumnya saya sudah sering katakan bukan, jika rahim istri anda bermasalah." Dokter Gita memulai. "Bu Ghea harus segera melakukan operasi cecar. Selain tumor yang menghalangi jalan lahir, bayi di dalam rahimnya juga tidak bisa kami selamatkan."
DEGH …
Gery harap pendengarannya masih berpungsi dengan baik saat dokter mengatakan kejujuran pahit yang membuat kakinya lemah. Sukmanya seakan melayang lalu tubuhnya limbung. Tangan Gery refleks berpegangan pada dinding dengan satu tangan yang lain meraup wajahnya kemudian menyugar rambut. Memalingkan itu dari tatapan dokter Gita yang tidak lepas darinya.
"Ma-maksud, Dokter … gimana?" Cowok itu mencoba menahan beban di atas kakinya berpijak. Berharap ia salah dengar. Namun, justru kalimat dokter Gita selanjutnya membuat Gery bangun dari dari sebuah kenyataan yang menghimpitnya. Lagi dan lagi.
"Detak jantuk bayi Bu Ghea sudah tidak terdeteksi lagi. Begitu juga dengan organ vitalnya. Itu tandanya bayi anda telah meninggal di dalam kandungan." Setelah tadi dokter melakukan cek USG dan lain-lainnya pada kandungan Ghea.
"Rahim Bu Ghea juga terpaksa harus kami angkat karena terjadi kerusakan oleh tumor itu sendiri."
Dan demi semesta! Nyawa Gery benar-benar terlepas kini. Rasa sakit bagai dicabutnya nyawa, ia merenggut rambut menggunakan kedua tangan. Kelopak terpejam lalu tubuhnya berpaling menghadap dinding, membenturkan dahi pada tembok bercat putih dengan kedua tangan semakin kasar meremat rambut. Menyembunyikan setiap tetes air mata dari dokter Gita yang hanya bisa menepuk sisi bahu cowok itu.
"Sabar, Pak Gery!" Hanya itu yang bisa dokter katakan sebelum melanjutkan kalimatnya. "Anda harus segera menandatangani berkas untuk menyetejui tindakan. Agar kami bisa sesegera mungkin melanjut tindak pasien!"
"Dokter … dokter, pasien yang baru datang, tekanan darahnya meninggi." Suster memberitahu. Dokter mengangguk untuk kemudian membalikan tubuh. Meninggalkan Gery yang sedang bertarung dengan hatinya.
Sekarang apa yang harus Gery lakukan? Menandatangi surat persetujuan dengan kehilangan sang calon bayi. Dan jika tidak pun, bayi itu sudah tidak bernyawa di dalam rahim wanitanya.
Ia membalikan tubuh, menyeka air mata yang menderas. Menyugar rambut lalu berjalan untuk menghampiri Ghea.
"Mas," panggil Ghea dengan suara lemah. Tangan yang terpasang jarum infus itu bergerak. Lalu, Gery sesegera mungkin meraihnya. Menggenggam tangan itu dan mengecup punggungnya.
"Aku di sini, sayang." Punggung tegap itu membungkuk untuk kemudian memberikan kecupan sekali lagi di punggung tangan. Tatapannya naik. Sungguh pula, Gery tidak tegak melihat wajah kesakitan itu. Dikecup kening Ghea kemudian. Lama. Bahkan sangat. Dipejamkan Ghea kelopak mata saat Gery melabuhkan kecupan cinta.
"Mas…" Ghea memanggil lagi. Gery bergumam. "Kamu nangis?" Tanyanya sembari menghapus jejak basah di pipi cowok itu menggunakan jari jempol.
Digelengkan Gery kepalanya lalu mengecup pangkal telapak tangan Ghea. "Nggak, sayang," jawabnya kemudian. Padahal, bukan hanya ingin menangis saja. Jika saja ia tidak peduli, cowok itu rasanya ingin menjerit. Ingin meluapkan segala bentuk rasa yang singgah di dalam sanubari.
Hancur, berantahkan, hatinya bagai terkoyak. Bergemuruh dengan rasa itu. Rasa yang amat sangat tidak ingin Gery rasakan.
Kehilangan bukan hanya sekedar rasa biasa yang singgah. Namun, justru rasa terlalu luar biasa itu seakan melumpuhkan semua sendi tubuh Gery. Kewarasannya seakah dicabut paksa dan kegilaan semakin dekat dekang akal sehatnya.
Jika saja Gery boleh meminta pada Tuhan. Biarkan dia yang menggantikan kematian anaknya. Dari pada Gery harus melihat separuh dari raganya merasa terluka bahkan lebih dari kata itu.
Tidak tahu Gery harus mengatakan hal apa dan bagaimana caranya memberitahu Ghea bahwa bayi di dalam kandungannya sudah tidak lagi bernyawa.
Tuhan sungguh baik memberikan cobaan pada dirinya.
Coba urutkan cobaan apa saja yang sudah Gery lalui. Dari mulai harus menerima kenyataan bahwa Ghea menderita tumor di rahim. Lalu Papa Jordan yang meninggal. Dan detik ini, cobaan itu kembali Tuhan kasih padanya.
Suatu kiamat besar baginya harus--mau tidak mau-- menerima kenyataan pahit yang satu ini.
"Mas…" panggil Ghea lagi karena Gery yang diam dan hanya menatap matanya saja dengan dalam.
"Hemm…" gumamnya sebagai responsif pada wanita itu.
"Aku gak papa loh, Mas. Kenapa kamu malah nangis terus, sih?" Ungkapan Ghea yang justru semakin membuat air mata Gery merembes keluar dari kelopak semakin deras.
Dihapus lagi oleh Ghea pipi basahnya itu. Menggelengkan kepala kemudian. "Kamu hari ini cengeng banget. Jelek tau, sayang," ujar Ghea sembari menarik kedua sudut bibir indah.
"I'm fine, baby." Suara Gery begitu serak. Sungguh. Sekarang cowok itu benar-benar tidak bisa menyembunyikannya kesedihannya lagi.
"Kamu mau berjanji satu hal sama aku, Mas?"
"Hem. Kamu mau apa? Aku bakal penuhi semua permintaan kamu."
"Janji?"
"Ya."
"Janji ya Mas sama aku, kalau seandainya hanya salah satu di antara kami yang harus diselamatkan." Ghea menjeda untuk kemudian menarik nafas. "Kamu harus selamatin anak kita!"
Demi semesta dan seluruh isinya. Hidup Gery hari ini hancur. Sehancur-hancurnya. Lidahnya seakan tidak bisa bergerak. Digigit bibirnya bersama kedua rahang yang mengeras. Wajah wanitanya itu … Ya Tuhan … Gery tidak sanggup untuk melihat kesedihan dan kerapuhannya.
Bisa dibilang, Ghea baru sembuh dari keterpurukan atas meninggalnya Papa Jordan. Justru sekarang, Ghea harus mengalami hal serupa lagi.
"Mas, janji kamu, ya?!"
Tersentaklah Gery dari lamunannya. Ditatap mata hitam pekat itu semakin tak karuan. "Sayang…" Lidah pun terasa kelu untuk jujur.
"Janji, ya, Mas!"
"Ghe … Aku----"
"Permisi, Pak Gery. Anda ditunggu di bagian administrasi." Lalu, saat Gery ingin mengatakan jika ia tidak akan berjanji dan tidak bisa memenuhi permintaan wanitanya, suster menghampiri. Memberitahu sekaligus menyela. Suster itu kemudian mengecek tekanan darah Ghea. Lagi. "Sebentara lagi Ibu Ghea akan operasi caesar. Anda harus mengontrol emosi dan pikiran anda, Bu. Biar tekanan darahnya tidak naik terus. Ya!"
"Operasi caesar, sus?"
"Iya, Bu," kata suster itu menjawab sembari mengecek semua alat-alat yang terpasang di antara tubuh Ghea.
Ghea sempat heran karena dokter Gita tidak mengatakan hal apapun padanya. Dilirik Gery oleh bola mata hitam itu. Kepala Gery mengangguk tanpa bersuara.
"Kamu janji kan Mas sama aku?!"
Aku gak bisa, sayang...
.
.
To be continued...