
Jari mereka saling terjalin untuk menguatkan satu sama lain. Dengan Ghea yang terbaring dan Gery berdiri di satu sisinya. Sedangkan di sisi yang lain dokter Gita berdiri. Mengarahkan transducer di atas perut Ghea. Seketika detak jantung kecil pun terdengar nyaring.
“Lihat deh, Pak Gery…” Transducer itu turun dan berhenti tepat di bawah perut Ghea, menekan di antara bawah pusar dan atas bukit keindahan miliknya.
“Ssshhh… Aduhh…" ringisan itu terdengar saat Dokter Gita menekan alat tersebut.
Gery auto membungkuk. Mengalihkan atensi dari dokter pada wajah Ghea yang berubah merah. “Ghe?!" panggilanya sembari mengencangkan jalinan di tangan Ghea untuk kemudian jempol itu mengusap lembut punggung tangan berjari lentik Ghea.
“Anda bisa lihat di bagian bawah sini?!” tanya sang dokter pada Gery yang auto mendongak, menatap layar monitor yang terletak di sisi lain kepala Ghea. “Di sini ada benjolan. 97%, kemungkinan besar ini adalah tumor.” Dokter Gita melanjutkan sembari menjauhkan transducer itu dari perutnya. Setelah menyimpan di tempatnya lagi, tangan bersarung putih karet itu mengelap perut Ghea menggunakan tisu.
Dunia Ghea benar-benar hancur mendengarnya. Ia sama sekali tidak menyangkan hal sebesar ini akan terjadi padanya. Sungguh pun jeritan tertahan itu ingin Ghea luapkan. Namun ditahan Ghea. Hanya jemarinya saja mencengkram seprai putih di sebelah kanan seerat-eratnya. Wajahnya ia palingkan ke satu sisi untuk tidak melihat wajah Gery yang tidak melepaskan jalinan jemari mereka.
Justru Gery semakin mengencangkan jalinan itu. Memberi kekuatan padanya, meyakinkan Ghea bahwa mereka bisa menghadapi ini semua.
“Tapi, kenapa itu bisa terjadi, dok?” tanya Gery, suaranya serak menahan getaran hebat di dadanya.
Getaran kristal di kelopak mata yang mencoba ingin mendesak ke luar.
Dokter Gita duduk di kursinya. Tangan kanan yang sudah polos itu bergerak, mengisyaratkan Gery dan Ghea untuk menempati kursi di seberang meja persegi panjangnya.
Tentu Gery membantu Ghea beringsut dari kasur untuk kemudian keduanya duduk. Demi apa, Gery tidak melepaskan jalinan jemarinya dari Ghea walau sedetik saja.
“Tumor tumbuh karena bisa saja Bu Ghea ini pernah mengalami benturan,” jelas dokter Gita memulai. “Apa sebelumnya Bu Ghea pernah mengalami terjatuh?” tanya sang dokter itu sembari menautkan semua jari di atas meja. Pun dengan duduknya bertegak santai. Seolah ini sudah biasa bagi sang dokter. Tidak ada raut cemas atau pun tegang sekali pun untuk menjelaskan semuanya pada sepasang suami istri di hadapannya.
Kepala Gery menoleh pada Ghea bersama satu kalimat yang meluncur serak dari bibir merahnya. “Tidak, dok,” kata Ghea.
Terlihat dahi dokter Gita mengerut. Memiringkan kepala ke satu sisi. “Atau mungkin anda pernah mengalami satu benturan keras di perut? Eum… Atau di sekitar area sensitif anda, mungkin?”
Menggeleng lah kepala Ghea spontan. Karena seingatnya ia tidak pernah mengalami hal itu. Selain waktu—
“Istri saya pernah mengalami kecelakaan mobil lima tahun yang lalu,” ujar Gery mengingatnya. “Apa mungkin, kejadian itu bisa menjadi penyebabnya, dok?”
“Mungkin saja…" Kepala dokter Gita mengangguk pelan. “Mungkin saat kecelakaan itu ada benturan hebat di perut atau vaginaa Bu Ghea.”
Gery membenarkan dalam hati, karena ia menyaksikan sendiri bagaimana kecelakaan tragis sampai mobil yang terguling-guling pun.
Bukan hanya benturan hebat di perut saja pasti, sungguh pun dengan beberapa organ vital Ghea yang rusak dan harus melakukan operasi selama berjam-jam.
Gery mengingat kembali hal-hal menakutkan demikian.
“Tapi, ada cara untuk memusnahkan tumor itu dari ramih istri saya, kan, dok?” Wajah Gery serius. Geraman di sana pun membuat dokter Gita menarik satu sudut bibir.
Dan Ghea…
Oh wanita yang malang itu hanya diam menggigit bibir. Jeritan sesak di dadanya seolah ingin cepat-cepat keluar melawan bumi. Melawan segala arus yang menghimpit pusat itu. Dan ia ingin berteriak untuk meluapkan segala emosi. Sungguh, perutnya melilit akibat menahan serangan nyeri.
“Ada tiga cara," jawab dokter Gita. “Kemoterapi, radioterapi dan operasi.” Dokter Gita mengatupkan bibir sejenak, melihat ekspresi raut dua manusia di hadapannya yang tiba-tiba saling melempar pandang. Seolah kilatan mereka saling bicara, bertanya satu sama lain ‘tindakan apa yang harus diambil’.
“Tapi, saya sarankan untuk melakukan operasi saja, mumpung tumor itu masih kecil dan akarnya belum menyebar ke sel-sel yang lain.” Saran dokter itu mengganggu pikiran Ghea tentu saja. Karena jika Ghea memilih melakukan operasi untuk pengangkatan tumornya, itu artinya—
“Dan dengan berat hati… kandungan anda harus digugurkan—“
“Tidak!!!” tegas Ghea. Matanya berkilat-kilat marah. Emosi dan hancur dalam waktu yang bersamaan.
“Ghe—“
“Kamu jangan bicara jika untuk menyuruh aku menggugurkan kandungan ini, Mas! Aku sama sekali gak mau ngebunuh anak aku sendiri.” Sela Ghea begitu cepat dan spontan. Membuat Gery mendesah lalu mengatupkan bibir.
Sekoyong-koyong berbagai emosi Ghea sudah mencapai level tertinggi dan mendidih membakar jiwa juga raganya. Wanita itu telah melupakan sopan satun di depan orang lain, dengan cara meninggikan suara di depan dokter Gita. Namun, Ghea tidak peduli. Karena hidup anak—yang belum ia lihat wajahnya pun akan dipertaruhkan. Demi kesembuhannya.
Tidak!!!
“Jika pun, anda memilih untuk kemoterapi atau radioterapi… Sama saja, Bu Ghea. Kami harus melakukan pengangkatan janin anda lebih dulu. Apalagi janin anda masih terlalu dini untuk menerima semua pengobatan. Karena tidak memungkinkan untuk anda melakukan pengobatan sementara kandungan anda sendiri belum memungkinkan kuat. Anda perlu tahu jika pengobatan tumor atau kanker pada wanita hamil, itu semua mengandung resiko dan akan mengakibatkan kelainan pada bayi anda nantinya.”
“Kalau begitu jangan lakukan apa pun pada saya jika itu bisa membunuh bayi saya!”
“Tapi jika tidak ada tindakan, tumor itu akan membesar dan bisa saja akarnya menyebar—“
“Saya tidak peduli!” Ghea menyela dengan cepat dan tegas. Melepaskan jemari yang sedari tadi saling terjaling dengan Gery hanya untuk menyentuh perutnya. Seolah Ghea melakukan perlindungan pada anak dalam rahimnya itu. “Saya tidak peduli dengan keselamatan saya. Jika pun saya nantinya akan mati karena penyakit ini, saya akan tetap mempertahan janin ini sampai lahir.” Kata-kata Ghea begitu serius. Ia menoleh pada cowok di sampingnya.
Sungguh pun dengan Gery. Ghea tahu jika suaminya tidak setuju dengan semua ucapan penuh tekanan yang sudah terlanjur keluar dari bibir penuh emosi.
Tekanan di rahang dan garis bibir seksi itu menunjukannya. Bahwasannya, apa yang dikatakan sekaligus diinginkan wanita itu bisa membuat Gery kehilangan Gheanya serta anak mereka dalam satu waktu.
“Jawaban dan keinginan saya akan tetap sama meski dokter berulangkali menyuruh saya melakukan itu!!!” Keukeuh Ghea keras kepala.
Gery mendesah. Memejamkan kelopak mata sekejap. Semua jemari lentik dan panjang itu saling terjalin satu sama lainnya untuk ia jadikan topangan kening dengan kedua siku bertumpu pada atas meja sang dokter.
Hatinya bergemuruh sesak. nafas di paru-parunya seakan tidak mampu berproses dengan baik. Meski begitu, meski tangan serta kakinya ingin menghancurkan barang dan semacamnya, Gery harus bisa mengendalikan diri. Mengendalikan emosi.
Nafas diembuskan Gery pelan dan kasar. “Ghea…” Punggung itu Gery tegakkan untuk menatap Ghea bersama derai air mata yang tanpa Ghea minta pun sudah lolos dari pelupuk.
Dengan penuh permohonan dalam tatapan, Gery bergumam pelan. Mengambil kedua tangan Ghea untuk ia genggam. “Aku mohon… Lakukan apa yang dokter Gita katakan—“
“Kamu sudah tidak waras, Mas! Kamu gila—“ Ditarik Ghea kedua tangan dalam genggaman tangan besar itu refleks. Bisa-bisanya Gery menyuruh Ghea menggugurkan anaknya hanya untuk kesembuhannya.
“Setelah operasi pengangkatan tumor ini, anda masih bisa hamil kok, Bu Ghea,” ujar dokter Gita. Memberi harapan yang sempat lenyap itu.
“Jawaban saya masih tetap sama, dokter!” Mungkin saat ini kerasnya batu kalah dengan kerasnya pendirian Ghea. Ia bangkit. “Permisi.” Tanpa terduga, wanita itu berlalu dan punggungnya hilang dari pandangan Gery ketika pintu ruang dokter Gita tertutup.
Bagaimana bisa Ghea melakukan itu? Sementara kehadiran buah hati di dalam rahim sudah ia tunggu-tunggu sejak lama. Ia tidak ingin kehilangan anugerah yang sudah Tuhan titipkan pada rahimnya. Meski ia harus kehilangan nyawa sekalipun, ia tidak akan melakukannya. Mengaborsi anaknya demi kesembuhan? Sama saja dengan ia bunuh diri secara perlahan.
Ghea menyusut bulir-bulir yang membanjiri pipi. Berjalan di koridor rumah sakit dengan tungkai yang sudah tidak sigap untuk menyusuri. Melewati beberapa orang yang melihatnya dengan penuh keheranan. Tetapi, Ghea tidak mau memperdulikan mereka.
Jantung Ghea berdegup begitu kencang sampai dadanya sakit. Ia putus asa.
Memanggil taksi dengan lambaian tangan yang sudah tidak bertenaga.
Taksi yang baru menurunkan penumpang seorang wanita dengan perut besar. Wanita hamil itu sedang ingin memeriksakan kehamilannya atau sedang ingin melahirkan, Ghea tidak ingin tahu soal itu. Justru yang menggangu pikiran Ghea adalah seorang pria yang memapah wanita hamil yang terlihat bahagia itu. Bersama dengan suaminya.
Melihat sepasang suami istri begitu bahagia. Mereka tertawa dengan tangan sang pria yang memegang bahu dan perut sang wanita.
Ghea merasa iri. Kenapa Tuhan begitu baik memahami ketidak inginannya?
Ketidak inginan kerapuhan ini. Sedangkan mereka terlihat begitu sempurna hidupnya. Meski Ghea lihat mereka dari orang yang mungkin jauh dari kemewahan.
Tuhan begitu adil.
Tubuh rapuh dan hancur itu masuk ke dalam taksi yang tadi Ghea panggil. Bersamaan dengan melajunya taksi, Gery keluar dari gedung berdominasi putih. Mengedarkan pandangan sambil berjalan. Mencari-cari sosok yang Gery khawatirkan tentu saja.
“Ghe, kamu pergi ke mana?” Suara kepanikan Gery luar biasa, sembari menempelkan benda canggih pada telinga. Menghubungi Ghea yang tiba-tiba menghilang darinya.
Panggilan itu tersambung. Namun, sedetik kemudian suara operator auto menyahut dari seberang sana.
“Sht!” umpatnya bersama geraman.
TO BE CONTINUED …
Jadi ini teh gimana, ya?
Tenang-tenang dulu mamen …
Ghea hanya kaget aja kok. Dia gak akan kabur. Paling kalau kabur ke ranjangnya bersama Mas Ger.
Anw, aku pening sih sebenarnya. Penyakit Ghea ini ada beberapa peneliti di luar negeri yang mengatakan jika pengobatan kemo atau radioterapi untuk ibu hamil bisa saja dilakukan. Tapi itu pas setelah trimester pertama. Dan bayi sudah cukup kuat. Terus disini kehamilan ghea kan masih tahap-tahap awal.
Dan info yang aku dapatkan juga untuk yang mengalami kanker payudara atau sejenis tumor lainnya.
Terus ada sumber juga yang mengatakan jika menjalani pengobatan pada ibu hamil yang kehamilan masih awal, lebih baik dilakukan aborsi untuk mencegah bayi menjadi cacat atau kelainan lainnya.
Eh tapi maaf loh kalau ada salah-salah atau gemana pun itu. kasih tahu ya, soalnya aku kan gak ngerti sama sekali sama hal begituan. Hihiii (dua jari terangkat sambil nyengir)
Tapi, nih, ya, pengalaman yang aku lihat. Om aku (ALM) punya kanker. Beliau pernah kemo sama radioterapi. Sampai gak kuat juga dan akhirnya dipanggil oleh yang maha kuasa. (AL-fatihah buatmu OM)
Dan aku ngebayangin aja, ini gimane dengan Ghea kalau jalani diantara dua pengobatan itu di waktu hamil, gitu…
Coba bayangin…
Ya pokoknya kalau ada salah salah maaf aja, siapalah aku yang hanya sebatas kang ngetik amatiran.
NO COMENT JAHAT!!!
Karena hati aku mudah rapuh. Serapuh Ghea saat ini.
Nanti aku share di IGS aku seizyll_koerniawan beberapa sumber yang aku dapetin itu ya, mamen. jangan lupa follow.