Married With Teacher

Married With Teacher
Jangan-jangan Ini Modus


Deheman keras itu membuat semua murid yang sedang ber heboh ria tadi, dengan cepat berlari ke tempat duduk masing-masing. Berbeda dengan Ghea yang berekspresi santai dan kalem seraya berucap, “syukurin!” dengan kedua sudut bibir yang tertarik lebar.


“PR kalian!” Belum juga sampai ke meja kekuasaannya di depan sana, Pak Gery sudah membuka suara datar dan beratnya itu. Seneng banget sumpah buat anak-anak di kelas itu merasa jantungan.


Lantas satu persatu mereka maju ke depan. Menyimpan buku PR nya di atas meja persegi bertaplak kain polos berwarna grey tua.


Pak Gery menghitung semua buku. Ia mengernyitkan keningnya saat masih ada buku yang kurang belum terkumpul. Mendongakan wajahnya, Pak Gery melihat di depan sana Ghea sibuk mengubek-ngubek dalam tasnya. Mencari buku PR yang Pak Gery maksud.


“Ghea!”


Sekarang syukurin itu berhak dilontarkan pada siapa ketika Pak Gery menegurnya? Cowok itu pasti sudah tahu jika PR Ghea belum terkumpul. Atau memang cewek itu tidak mengerjakannya?


Dan sial. Ghea memejamkan  matanya erat sesaat. “Iya,” sahutnya mendongak pelan.


“Mana buku PR nya?” Sangat bisa menjaga profesionalisme dalam mengajarnya, wajah itu terlihat datar dan sedikit menakutkan.


Awas aja nanti di rumah. Ghea bergumam dalam hati bersama wajahnya yang memberengut malas.


“Kayaknya ketinggalan, M- Pak.” Hampir saja cewek itu menyapanya dengan kata Mas. Pun ia segera meralatnya dengan  gigitan lidah di ujung kalimat.


“Ketinggalan? Kok bisa? Atau itu cuma alasan kamu aja, karena gak ngerjain PR yang saya berikan?”


“Itu-”


“Ngapain aja kamu di rumah? Nggak belajar karena sibuk nonton drakon?”


“Drakor, Pak! Astaga pake salah nyebut lagi.” Ghea menyela lalu meralat ucapan Pak Gery. Auto setiap bibir di kelas itu menguluum senyumnya. Ingin menertawakan tapi tidak ingin berakhir dengan hukuman.


Pak Gery berdecak malu. “Iya, itu pokoknya lah. Mau drakor, mau dracin atau apa lah itu. Kamu sudah melalaikan PR dari saya.”


“Sekarang sebagai hukumannya--”


“Hukuman?” Padahal itu juga karena kamu yang gangguin aku mulu sampai aku lupa ngerjain PR. Lagi pula tahu sendiri gue kemarin abis kena teror karena siapa juga padahal. Tambah Ghea dalam hati yang tentu saja tidak ia ungkapkan di depan kelas.


“Iya, hukuman.” Hukuman sesungguhnya nanti malam. Timpal Pak Gery dalam benaknya. “Catat sejarah halaman 132 bab 2 di depan sampai bab 7 kemudian kamu jelaskan!”


“What the j-” pekik Ghea tertelan saat melihat sorot mata Pak Gery yang seperti akan memakannya saja. “Maaf, Pak.” Lalu menunduk takut-takut.


“Ayo. Sekarang! Nunggu apa lagi? Nunggu sampai jam istirahat dan jam pelajaran pertama selesai?” Tanpa melihat ke depan dan malah mengetikkan beberapa kata di handphonenya. Di atas pahanya.


TING!


Astaga Ghea lupa untuk mensenyapkan handphonenya  sampai terdengar bunyi pesan masuk pada handphone yang ia kantongin di saku roknya. Ghea menggerutu dalam hati. Dipikir bakal kena dua kali hukuman, nih.


“Suara handphone siapa itu? Tolong! Saya sudah katakan jika di dalam kelas jangan pernah menyalakan handphone kalian! MEngerti gak? Apa harus saya kasih tulisan ‘dilarang menyalakan handphone di dalam kelas’ atau bagaimana cara agar kalian bisa ingat?”


Entah guru yang terkenal killer itu sengaja mengirim pesan pada Ghea atau bagaimana? Yang jelas saat ini ia malah menyuruh orang yang menyalakan handphonenya untuk membuka pesannya. Aneh gak tuh?


“Masjid kali, Pak, dilarang menyalakan handphone demi ketenangan untuk beribadah,” celetuk salah satu murid cowok yang langsung mingkem saat sadar mata Pak Gery menatap horor ke arahnya. Yang lain seperti biasa hanya menahan tawanya saja.


“Maaf, Pak,” katanya seraya menundukkan wajah dan pandangan yang sesekali mencuri pandang ke arah Pak Gery.


“Ayo, nonaktifkan handphone kalian jika masih ada yang menyala! Sebelum saya menghukum kalian yang tidak bersalah juga!”


Serem amat sumpah. Yang nggak salah juga selalu kena semprot saat salah satu dari mereka membuat kesalahan.


Ghea mengerutkan wajahnya ketika mengklik tombol buka yang terpampang di handphonenya.


G


Ini hanya hukuman main-main aja, sayang. Hukuman yang sebenarnya nanti di rumah!


**


Setelah mencatat apa yang disuruh Pak Gery pada Ghea di whiteboard, lalu Ghea menjelaskannya secara rinci tentang sejarah penjajahan Indonesia. Pak Gery diam-diam mengagumi murid sekaligus istrinya itu. Di dalam diri Ghea yang susah diatur dan terkadang suka seenak jidat melakukan sesuatu, namun Ghea punya otak yang cerdas di atas rata-rata.


“Udah, Pak.” Ghea memberikan buku tebal yang ada di tangannya pada Pak Gery yang langsung diterima oleh tangan kekar cowok itu.


“Oke.” Pak Gery bangkit dari duduknya. Berjalan pelan ke depan lalu berhenti di depan meja Ghea. Menyimpan kedua telapak tangan di sisi meja itu. “Jadi apa yang kalian bisa simpulkan dari pelajaran sejarah di bab ini?” tanya Pak Gery dengan mata mengedar.


Salah satu dari mereka angkat tangan. “Supaya kita bisa menjadikan contoh, Pak.”


“Contoh apa?” Mata Pak Gery memandang ke arah murid yang mengangkat tangannya tadi.


“Contoh. Supaya kita bisa seperti pahlawan-pahlawan terdahulu yang kuat, gagah dan berani, Pak. Apalagi soal kejantanan, Pak.”


“Kejantanan?”


“Iya. Kejantanan dalam memproduksi anak, Pak.”


Dan mereka satu kelas pun tidak bisa jika tidak membuka suaranya. Tergelak dengan tawa yang membahana. Sampai-sampai ada pula yang memukul-mukul meja. Apa lucunya coba?


Braakkkk!


Gebrakan meja auto membuat gelak tawa mereka berhenti. Mengatupkan bibir dengan rapat seraya menundukan pandangannya. Namun, masih ada seseorang yang masih membuka rahang dengan suara yang keras memekik telinga.


“Ghea Virnafasya, bersihkan ruangan saya saat jam istirahat!”


Mulut itu langsung terdiam auto. Ia membelalakan mata tidak percaya. “Apa, Pak? Yang benar saja. Waktunya istirahat gak boleh diganggu gugat, Pak. Apalagi disuruh bersihin ruangan Bapak. Gak bisa, Pak! Saya ogah.” Ghea menggeleng. “Ahhh, atau jangan-jangan Bapak mau modus, ya, Pak, sama saya?” Mengarahkan jari telunjuk Ghea pada wajah Pak Gery dengan diputar-putar. Mendongak. Pun dengan wajah yang meledek suaminya itu menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi.


Sesaat Pak Gery gelagapan. Namun, ia sebisa mungkin menetralkannya dengan cepat. “Ehkmem. Kamu?”


“Hayooo, ngaku aja, Pak! Gak boleh main modus-modusan sama murid sendiri. Gak baik loh, pak! Nanti istrinya marah loh. Nanti ditinggal istrinya loh kalau main-main di belakang!”


Ini apa maksudnya?


Ghea lagi menyindir, mengancam, atau apa?


Pak Gery menghela. Ia memijat pangkal hidungnya. Kepalanya merasa pening mendadak.


Ghea tersenyum jenaka. Yes. Ghea berhasil menyudutkan Pak Gery. Karena Ghea mengerti kenapa Pak Gery menyuruhnya membersihkan ruangannya dengan dalih ia dihukum. Padahal jika iya, Pak Gery bisa menghukum Ghea dengan cara lain. Membersihkan toilet, misalnya.


TBC


Maaf kalau awkward guys. Nikmati dan enjoy!


Seizy


Si penulis amatiran yang lagi kepengen naikin berat badan.